Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Apa Hamil Seaneh Ini?


Satu bulan dan merana? Itu hanya bayangan saja, nyatanya, satu bulan berlalu dengan ketegangan setiap harinya.


Sejak Kira sudah diperbolehkan pulang, Kira mulai mual dan muntah di pagi hari, terkadang malam juga. Bahkan jika sedang tidur, dia bisa mual tiba-tiba.


Satu bulan, jungkir balik dengan rasa kasihan dan tidak tega melihat kesakitan yang dialami istrinya. Tapi, bukannya merengek manja, Kira malah mengukir senyum di bibirnya yang pucat dan layu. Tapi, entah karena apa, dia merasa istrinya sangat cantik meski matanya cekung. Ada aura berbeda. Mungkin benar, wanita hamil itu cantik dan seksi.


Harris sudah rapi dan segar, ketika Kira membuka matanya lebar-lebar dengan tangan membekap mulutnya. Harris langsung menggendong istrinya yang seringan kapas ke kamar mandi, menurunkannya pelan di depan wastafel. Raut wajah Harris surut, sambil memijat lembut pangkal leher Kira.


Kira merasa lambungnya mengaduk, dan mendorong paksa isinya keluar. Tak ada apa-apa yang keluar, hanya cairan kuning yang terasa panas dan pahit melewati tenggorokan dan lidahnya. Sakit. Tangan kurus panjang dan pucat itu meraih keran untuk membasuh bibirnya. Segelas air putih hangat mengulur ke arahnya.


Kira tersenyum sebelum menenggak air itu hingga sisa setengahnya saja. Harris menyiapkan air putih hangat sebelum mandi. Ya, sebulan ini, dia menjadi suami yang mandiri dan siaga. Apapun yang istrinya butuhkan sudah tersedia di kamar, Kira sudah seperti ratu saja.


Kini, mereka pindah ke rumah megah Wisnu Dirgantara. Bukan hanya suami yang berlebihan, Papa mertuanya juga lebih mengerikan.


"Makasih, Abang!" Ucap Kira di gedongan suaminya lagi. Meski kesal, Kira memilih menurut saja. Selama suaminya di rumah, dia tinggal minta, dan dalam sekejap mata semua akan tersedia. Lebay, tapi Kira tak mau membuat suaminya kecewa dan semakin khawatir padanya.


Harris diam saja, entahlah, ini seperti ujung dari perasaan yang di tahannya sebulan ini. Harris meletakkan Kira dengan lembut di atas kasur, seakan takut Kira akan retak. Tak lupa ciuman hangat selalu di sematkan di kening istrinya.


Harris menatap miris istrinya yang seakan habis dihisap vampir, kurus dan pucat. Terlihat lemah dan ringkih. Mungkin jika terkena hentakan, tubuh istrinya akan terberai. Hentakan? Harris bahkan tak punya keinginan untuk menyentuh istrinya. Dia bahkan tak sempat berpikir ke sana. Hari-harinya dipenuhi bayangan siksaan hamil muda.


Harris menyambar ponselnya, dan duduk lagi di sebelah istrinya. Menyandarkan kepala itu di pundaknya, mengelusnya pelan.


"Abang tadi ngga olahraga dulu?" Kira mengangkat wajahnya, melihat suaminya dari bawah. Hem, indah dan memabukkan.


"Ngga, Yang! Abang kesiangan tadi!" Jawab Harris sambil menunduk, mengecup kening yang hangat itu. Sambungan telepon yang tidak di jawab itu, membuat Harris kesal.


"Yah, baju Abang kemarin udah di cuci," Kira merasa kecewa.


"Nanti pulang kerja, Abang akan olahraga," Harris kembali mengukir senyum, menatap mata yang meredup.


Apa hamil seaneh ini? Mana ada kaos penuh keringat dibawa kemana-mana? Bahkan Harris selalu tidur bertelanjang dada, demi memenuhi kemauan aneh istrinya. Harris mengira, kalau hamil hanya suka makan yang aneh-aneh. Tapi ternyata, kelakuan juga aneh.


Dan Harris mendengus sebal saat teleponnya sekali lagi tak mendapat jawaban.


Harris meletakkan ponselnya, dan menghadapi istrinya yang masih berbaring.


"Sayang, kita ke Vivian sekarang ya! Aku takut kau kekurangan nutrisi. Apalagi kau semakin pucat dan kurus,"


"Tapi Bang,"


"Biar ku bantu kau mandi dan bersiap," Harris menggulung lengan bajunya, bersiap mengangkat Kira lagi.


"Stop Bang! Jika kau terus saja menggendongku, bisa-bisa aku lupa bagaimana cara berjalan!" Kira menahan tangan suaminya, dan di jadikan pegangan saat berdiri.


"Aku masih kuat, bahkan jika harus berlari." Kira melangkah ke kamar mandi dengan santai.


Harris mendelik, "Hati-hati, Sayang! Jalannya pelan-pelan!" Harris memburu istrinya, namun Kira segera menutup pintu kamar mandi.


Kira mendesah pasrah, entahlah. Terbiasa dengan hidup sendiri, tak bergantung pada siapapun, Kira sedikit aneh saat kemana-mana menyusahkan orang lain. Tapi, mengecewakan suaminya, juga bukan hal baik saat ini. Kira mengerti benar, suaminya ingin dia dan calon anaknya baik-baik saja.


Harris mendesak masuk saat Kira baru saja menanggalkan bajunya.


"Astaga!" Seru Kira sambil menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangan yang menyilang. "Kau membuatku kaget, Bang!"


"Lama sekali mandinya, Yang!" Harris mendekat, mengambil tangkai shower dan mulai mengguyur tubuh polos istrinya. Kira menelan ludah, dan mengerjap berulang-ulang. Perlakuan lembut suaminya, diartikan lain oleh Kira.


"Abang, sudah! Biar aku mandi sendiri!" Kira menahan tangan suaminya yang mengambil botol sabun. Harris tersenyum melihat Kira yang merona di bawah titik air di wajahnya. Harris pun sama, dia bahkan sudah panas saat masih di balik pintu.


Keduanya saling pandang, tercekat, beberapa saat. Ingin tapi tidak bisa. Keduanya saling menjaga.


"Abang ganti baju sana! Baju Abang basah!" Susah payah Kira menelan salivanya. Tenggorokannya serasa sungai di musim kemarau. Kering. Dia segera membalik badannya memunggungi suaminya.


Harris mengecup rambut yang sudah basah itu,"Sabar Sayang!"


Kira memutar kepalanya, dilihatnya suaminya mengerling nakal padanya. "Abang menyebalkan!"


***


Sekali lagi, sambutan yang membuat Kira semakin kesal. Sampai di halaman rumah sakit, Kira di sambut seorang perawat dengan kursi roda.


"Ini pasti kerjaan Abang!" Kira menoleh ke arah suaminya yang menutup pintu mobil.


Harris tak menjawab, dia tahu istrinya akan keberatan. Dia segera merangkul pinggang istrinya menghampiri perawat itu.


"Bang, aku ngga mau! Aku mau jalan saja!" Kira berhenti tepat di depan kursi roda. "Suster lihat kan? Aku sehat-sehat saja!"


Perawat itu tersenyum, namun, senyumnya lenyap saat Harris menatapnya tajam. Mimpi apa aku semalam, batin perawat itu. Perawat itu tak bergerak barang sejengkalpun. Dia tidak tahu harus melakukan apa.


"Abang," Desis Kira saat Harris tak juga melakukan apapun. Dia menatap suaminya penuh permohonan.


Harris membuang nafas dengan malas, apalagi menatap istrinya yang tidak suka dengan pengaturannya.


"Baiklah, apa aku punya pilihan?"


Harris menggandeng tangan istrinya, seperti menuntunnya. Apa saja yang membuat istrinya senang, tentu itu yang akan di lakukannya.


"Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" Harris tak mampu berlama-lama menahan kesal, saat Vivian mempersilakan keduanya duduk. Seperti biasa, Harris duduk dengan kaki terlipat dan tegap. Angkuh.


Vivian melanjutkan langkahnya menuju kursi kerjanya. Dengan tenang dia duduk dan menghadapi Harris.


"Meski aku tak menjawabmu, kurasa kau membaca pesan dariku!"


Ya, Vivian juga sedang mengalami morning sickness. Sehingga dia tak sempat menjawab telepon dari teman sekaligus mantannya. Atau setidaknya Vivian menganggapnya seperti itu.


Harris membuang nafas, Vivian benar, jika dia tak membaca pesan darinya, bagaimana dia bisa berada di sini sekarang.


"Jadi, apa masalahmu kali ini, Ra?" Vivian meletakkan tangannya di atas meja, perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada wanita yang tampak cantik di bawah rona pucat wajahnya.


"Dia muntah terus, dan tidak bisa makan!" Sahut Harris cepat, sebelum Kira sempat membuka mulutnya.


"Yang hamil dia, kenapa kau yang menjawab?" Balas Vivian sengit. Dia menatap Harris jengkel.


"Kenapa? Tidak boleh? Kan aku suaminya, dan aku tahu apa yang terjadi padanya! Salah jika aku yang menjawabnya?" Harris mendelik ke arah Vivian.


Kira menggelengkan kepalanya, jengah dengan tingkah suaminya yang kekanak-kanakan. Tapi, dia bersyukur, meski tindakan suaminya berlebihan.


Harris dan Vivian saling bertukar pandang, penuh permusuhan, sebelum saling membuang muka. Harris menyilangkan tangannya di dada. Tak lupa, dagunya diangkat sedikit.


"Saya sebenarnya tak ada masalah, Dok! Meski saya mual dan muntah, tapi saya rasa ini masih wajar. Saya masih bisa makan meski masih sedikit," Ucap Kira saat dirasa keadaan ini membuatnya seperti tercekik.


"Baiklah, saya akan mengecek keadaanmu sekarang!" Ucap Vivian seraya bangkit dan memeriksa tekanan darah dan berat badan.


"Semua normal kok, hanya berat badanmu turun hampir satu kilogram," Vivian masih berdiri sambil memeriksa catatan kehamilan milik Kira satu bulan yang lalu.


"Apa tidak ada obat pencegah muntah?" Sela Harris yang masih duduk dengan sikap angkuhnya.


"Ada, tapi kurasa dia masih dalam keadaan baik!" Vivian tak mengalihkan perhatian dari buku catatan kehamilan Kira.


"Apa dia sudah besar? Bisakah aku melihatnya?" Sahut Harris lagi.


Vivian meminta Kira untuk berbaring, mengabaikan ucapan Harris. Dia mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan USG. Tanpa diminta, Harris langsung berdiri dan menempatkan diri di sisi jauh ranjang, agar bisa melihat dengan jelas calon anaknya. Pikirnya, pasti sudah besar setelah sebulan lamanya.


Begitu gel menyentuh kulit, Kira merasa nyaman sebab efek dingin dari gel itu seperti meresap kedalam kulitnya. Terlebih saat Vivian menekan-nekan bawah pusar untuk menentukan letak rahimnya dan memperjelas sudut tampilan gambar.


Tangan Vivian mulai bergerak, pelan dan seperti ada sesuatu yang bulat dan keras di sana. Kira tersenyum merasakan sensasi ini lagi. Bahagia. Terlebih, Kira merasakan rasanya menjadi wanita hamil dengan suami yang menyayangi dan perhatian. Sebelumnya, tak pernah dia dapatkan.


Vivian mulai menunjukkan beberapa bagian tubuh janin yang berkembang. Sudah tampak dengan jelas ujudnya. Meski belum terbentuk sempurna. Detak jantungnya mulai terdeteksi, degupannya seperti dentuman drum menghentak dada calon orang tua itu.


Harris mengecup bibir istrinya yang tengah tersenyum dengan mata yang mengembun. Tak ada kata yang mampu menggambarkan bagaimana perasaannya kini. Kebahagiaan yang mengguyur dengan derasnya.


Tapi, pemandangan itu membuat Vivian berkaca-kaca. Harris yang sedang menatap layar monitor tak sengaja melihat Vivian yang mengusap air matanya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, Bang!" Ucap Kira saat dia sudah turun dari bed tempatnya melakukan USG.


Harris mengangguk, "Perlu kuantar?"


"Tidak usah, aku bisa sendiri!" Jawab Kira sambil berlalu menuju toilet yang berada di bagian belakang ruangan Vivian.


"Kau kenapa?" Tanya Harris saat Kira menghilang di balik sekat.


Vivian terhenyak, tetapi dia tak berani menatap Harris. Vivian merasa Harris saat ini tengah memandangnya penuh selidik. Namun, Vivian enggan menjawab untuk menjelaskan. Lagipula, setelah mendengarnya, Vivian tahu, Harris akan merasa iba padanya. Dan dia tidak suka itu.


Harris mendekat, memandang dari dekat istri sahabatnya itu. Bahkan Harris mengguncang lengan Vivian, sehingga memaksa Vivian membalas tatapannya. "Apa yang kau sembunyikan?"


"Tidak ada! Dan kau tak usah sok peduli padaku!" Jawab Vivian sambil menampik tangan Harris yang tak bergerak sama sekali dari lengannya.


"Hendra menyakitimu?" Tebak Harris. Dia masih lekat memandang wanita itu.


Sekali lagi, Vivian menghindar, dia memilih melanjutkan pekerjaannya setelah menghempas paksa tangan Harris dari lengannya.


Harris mencekal lengan Vivian lagi, memaksa Vivian untuk menghadapinya. "Kali ini apa yang dia lakukan padamu?"


Vivian menatap Harris lekat-lekat. Kedua mata Harris yang tajam mengingatkannya pada belasan tahun lalu, saat Harris menolak perasaan Vivian.


"Bukan urusanmu," Vivian membuang muka. Entahlah, dia takut. Takut jika akan membuat masalahnya semakin membesar jika melibatkan orang lain.


"Vi, jika ada masalah, jangan kau pendam sendiri! Bicaralah, agar kau tidak merasa seorang diri! Ada aku, kau bisa cerita semuanya padaku!" Harris menahan bahu Vivian yang sudah membelakanginya.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku!" Vivian menjauh, dia memilih duduk kembali. Membiarkan matanya yang terasa basah, tanpa menyekanya.


Harris menghela nafas. Vivian bukan orang yang mudah di bujuk. Dia memang tertutup, meski tidak separah sekarang. Sedikit banyak dia tahu apa yang membuat Hendra dan Vivian menikah. Tanpa ada perasaan di antara keduanya.