Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Oaseku ( Pov Rian)


Aku merenungi ucapan Kira, sepanjang perjalananku menuju rumah. Benarkah apa yang dia ucapkan tadi? Jika selama ini uang yang seharusnya di berikan kepada Kira, tidak pernah sampai padanya?


Selama aku menikah dengan Melisa, Melisa yang mengatur keuanganku. Memang, jika di banding Kira, Melisa lebih boros dan kami sering keteteran. Melisa lebih senang makan di luar daripada memasak sendiri. Menyukai barang-barang yang harganya di luar jangkauanku. Suka sekali jalan-jalan, dan berkumpul dengan teman-temannya. Bukannya aku mengeluh, dulu, gajiku lebih dari cukup, bahkan dengan ketiga anakku selama bersama Kira. Sedangkan sekarang, aku malah sering meminta bantuan Ayah untuk menutup kekurangan pendapatanku. Aku malu, tapi aku tidak punya pilihan. Beruntung Ayah tidak terlalu mempermasalahkan.


Walaupun begitu, aku selalu mengingatkan Melisa untuk memberikan jatah untuk anakku. Jika aku boleh jujur, Kira adalah wanita terbaik untukku, tak pernah mengeluh, dan sederhana. Tetapi, entahlah, aku sendiri bingung dengan pemikiranku dulu. Aku menganggap kesederhanaan Kira adalah aib bagiku. Melihat istri teman-temanku yang selalu tampil paripurna, aku merasa malu, hanya Kira yang berpenampilan biasa saja. Aku menjadi bahan ejekan teman-temanku. Kira menolak jika harus mengeluarkan uang untuk merias diri di salon sebelum pergi ke sebuah acara. Kami sering bertengkar karena masalah ini.


Sejak Jen dan Jeje lahir, aku enggan sekali mengajaknya ke acara-acara penting. Apalagi, sejak kenal Melisa, yang cantik dan anggun. Aku semakin enggan dengan Kira. Hubunganku dengan Melisa merembet ke hubungan yang lebih dalam, kami saling memuaskan satu sama lain. Lebih buruk lagi, aku mulai mencintai Melisa, saat Kira masih menjadi istriku. Berbagai cara, kulakukan untuk menutupi perselingkuhanku. Namun, Melisa malah berusaha memberitahu Kira, hingga Kira mencurigaiku. Hari-hari kami, semakin suram, karena terus bertengkar, dan akhirnya kami bercerai.


Belajar dari itu, walaupun Melisa banyak kekurangan, aku berusaha memakluminya. Menerima dia apa adanya. Meskipun, hatiku selalu membanding-bandingkan keduanya. Aku masih sangat mengharapkan Kira, berharap dia belum mendapatkan penggantiku. Menyesal memang datang terakhir.


Pertemuanku yang pertama setelah satu tahun perpisahan kami, mungkin sangat mengejutkan baginya. Aku tak berharap dia akan langsung memaafkan aku. Aku sudah menduga, dia akan marah padaku. Tetapi, aku yakin dia akan memaafkan aku, jika aku mengatakan yang sebenarnya.


Dan, hari ini aku kembali menemuinya, mengumpulkan seluruh keberanian dan menebalkan muka. Awalnya, aku ingin minta maaf atas kejadian kemarin, tetapi, melihatnya tersenyum, membuat perasaanku kacau. Kira sekarang lebih menarik dan modis, walaupun dia tidak memakai make up. Aku seperti menemukan oase, menemukan kembali separuh jiwaku. Perasaan yang sama, saat aku memintanya menjadi milikku seutuhnya.


Mendapatkannya bukan hal sulit, hanya saja, bagaimana dengan Melisa? Wanita manja itu, pasti akan memarahiku habis-habisan. Seperti kemarin saat aku melarangnya menyakiti Kira. Melisa mengamuk tak terkendali, menuduhku masih mencintai Kira. Semua itu, benar, tapi aku tak mungkin mengakuinya, bukan?


Aku sangat mengkhawatirkan anak dalam kandungannya. Aku berusaha sabar dan mengalah. Inilah karma ku, membuang sutra demi secarik perca.


Aku mengatakan kembali dengan Kira adalah sesuatu yang mudah. Rupanya aku salah, dia menjadi berbeda sekarang. Mungkin sakit hati yang menderanya berkali-kali, membuatnya menjadi wanita yang kuat. Dulu, menyudutkannya, demi memuluskan rencanaku dengan Melisa, adalah cara ampuh untuk membuatnya menurut padaku. Membuatnya merasa bersalah, akan menyurutkan amarahnya. Tetapi, kini malah aku yang tertampar oleh ucapannya. Kini, akulah yang harus menelan kepahitan, di tuduh tidak menafkahi putraku. Menumpuk kebencian dan dendam di hati wanita yang sangat ingin kumiliki, sekali lagi.


Aku tak berdaya, melihat Melisa dengan perut besarnya. Aku ingat Kira saat mengandung si kembar, perutnya 2 kali lipat lebih besar dari pada perut Melisa, tapi dia sama sekali tidak mengeluh. Melisa meringis, menahan sakit di pinggangnya. Aku tak tega mengusiknya dengan bermacam prasangka.


"Sayang, kamu kenapa?" Aku menghampirinya. Wajahnya pucat dan keringatnya bercucuran memenuhi wajahnya.


"Mas, perutku sakit, apa sudah waktunya ya, Mas?" Melisa terlihat ketakutan.


"Kita ke dokter saja ya, biar di periksa kembali" Seingatku masih 2 minggu lagi sampai pada hari persalinan. Tetapi, aku tidak mau ambil resiko dengan keselamatan mereka berdua.


Segera kugendong Melisa yang badannya 2 kali lipat lebih berat sekarang. Tanpa pamit, aku segera ke rumah sakit.


"Sabar ya, Mel. Kamu harus kuat demi anak kita" Aku mencoba menenangkan Melisa yang mulai gelisah di tempat duduknya.


"Kamu ngga tau rasanya sih, makanya bilang sabar. Sakit banget ini, Mas" Melisa kesal karena aku terus menyuruhnya bersabar. Apa lagi, jalanan macet, Melisa semakin kesal. Berkali-kali dia mengumpat, berteriak, memukul-mukul jok mobil dengan tinjunya. Aku hanya bisa menggenggam tangannya, mencoba menguatkan melalui sentuhan.


Lagi- lagi, aku membandingkan Kira dengan Melisa. Kira tetap tabah dan sabar menunggu Excel lahir. Untuk si kembar, karena posisi mereka melintang, dokter menyarankan untuk Operasi Cesar.


"Maaf sayang, aku lapar jadi kurang fokus" Aku berdalih agar Melisa tidak semakin marah padaku.


"Nyetir yang bener, ini bawa dua nyawa" Ucapnya ketus. Dan ya, sepertinya dia mengalami kontraksi, sehingga dia berteriak lagi.


"Mas, sakit banget, kenapa sih ngga kamu aja yang melahirkan?" Teriaknya. Air matanya mengalir deras, seolah tak mampu menahan sakit.


"Kok ngomong gitu? Kemarin siapa yang ngebet pengen cepet-cepet punya bayi?" Aku mengelus lengannya. Aku harus tetap fokus mengemudi, tapi aku juga tidak bisa konsentrasi jika teriakan Melisa sudah seperti Tarzan.


"Diam, Aaaarrrggghh....Saakkiiiit" Kali ini lenganku menjadi sasaran cakarannya. Aku hanya diam menahan sakit, jika aku protes pasti dia akan berteriak lagi.


Akhirnya sampailah kami di Rumah Sakit. Semua karyawan Grup WD, mendapat jaminan kesehatan, termasuk anggota keluarga.


Aku memanggil petugas yang sedang berdiri di lobi Rumah Sakit. Dengan sigap mereka membawa Melisa ke ruang bersalin. Entah apa kata dokter, telingaku sudah di penuhi teriakan Melisa. Memahami kondisiku, seorang perawat memakaikan masker, jubah untuk melapisi bajuku, dan penutup kepala. Dan dalam sekali tarikan, jubah itu nyaris terlepas dari tubuhku.


Aku memegangi Melisa yang terus meraung selama di periksa. Jujur aku malu, semua orang di sini menatapku. Bahkan dokter berteriak agar Melisa bisa tenang.


"Nyonya, Anda harus tenang, kami tahu, anda sangat kesakitan, tapi jika anda terus berteriak, tenaga anda akan terkuras, dan nanti jika sudah waktunya mengejan, Anda tidak punya tenaga lagi. Saran saya, simpan tenaga anda untuk proses persalinan nanti. Ini masih sangat lama, karena baru pembukaan 2" Dokter wanita bernama Vivian itu memandangku.


"Apa artinya, Dokter" Aku mengusap-usap Melisa agar tenang.


"Pembukaan jalan lahir dihitung sampai 10, Tuan. Dan istri anda baru pembukaan 2, jika dalam beberapa jam tidak ada penambahan, kami akan melakukan induksi untuk mempercepat persalinan" Dokter Vivian menjelaskan secara rinci kepadaku. Hingga akhirnya aku mengerti.


"Baik, Dok" Aku mengangguk. Kemudian beralih ke Melisa lagi, meski tidak berteriak, tetapi dia menangis sepanjang waktu.


Kira, apa kau dulu tidak merasakan sakit? Kau hanya diam dan tersenyum ketika akan melahirkan. Kira, apa kau sekuat itu untuk menahan rasa sakit? Aku menyesal, Ra. Aku menyesal menyakiti mu dan anak-anak. Maafkan aku, Ra.


.


.


.