
Menyaksikan interaksi antara Ibu dan Viona, membuat Kira garuk-garuk kepala. Bagaimana bisa, dia membenciku, sedangkan dengan Ibu dia sangat ramah dan akrab? Pikir Kira.
Hari ini, Ayah, Ibu dan Nina, sengaja mengunjungi kediaman menantunya. Untuk memastikan apa yang di ucapkan Harris semalam, adalah benar adanya. Benar, melihat kondisi wanita itu, mereka merasa trenyuh. Menurut mereka, Viona lebih pantas di sebut menderita cacingan daripada mengandung. Harusnya, tubuh wanita berbadan dua, lebih berisi. Bukan kurus kering bak tulang berbalut kulit.
"Kita selfi lagi yuk, nanti Ibu akan tunjukkan pada Ibu-Ibu kompleks, kalau Ibu ketemu kamu, Vi," Ibu terus membujuk Viona agar meladeni kemauannya.
"Apa masih ada yang ingat sama aku Bu? Aku sudah lama tidak tampil di tv."
"Ada, ftv yang kamu bintangi masih sering tayang kok," Ibu menepuk lengan kecil itu pelan, seolah takut patah.
"Masa sih Bu? Padahal aku sering dapat peran jahat lho, katanya, aku ngga pantes kalau berperan baik," Viona tertawa, mata yang biasa sayu itu bersinar-sinar. Seolah ada kehidupan yang lahir di sana. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada kerja kerasnya di hargai. Walau sekarang tidak penting lagi.
"Iya, bener. Tadi nih, pas waktu mau ke sini, kan banyak tuh Ibu-Ibu yang lagi belanja di Mamang sayur. Terus pas Ibu lewat, pada nanya, mau kemana? Ibu jawab mau ketemu Viona. Langsung pada heboh. Ya, ngga percayalah. Masa Ibu bisa ketemu artis. Tapi dengan foto ini, mereka ngga bisa berkata-kata lagi," Ucap Ibu panjang lebar, di sertai tawa, khas Ibu-Ibu kompleks.
"Nanti main ke rumah Ibu, kita adain meet and greet, Vi." Ibu masih mencandai Viona.
Perlahan senyum di wajah Viona mengendur, berangsur hilang, berganti murung. Mengingat temu penggemar, membuatnya mengenang masa-masa puncaknya. Dimana dia di puja, di sanjung, dengan sorot kamera mengarah kepadanya. Tetapi kini, tidak ada yang mau mengulurkan tangannya, atau sekedar menyapanya. Teman, rekan kerja, bahkan asistennya, meninggalkannya.
"Eh, apa Ibu salah bicara, Nak?," Ibu berbicara seolah Viona adalah putrinya. Terlebih, saat melihat perubahan di wajah Viona. "Maaf, Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Maaf."
Cairan bening mengambang di mata Viona, sebagian sudah berada di tepi sudut mata, siap meluncur. Viona menggeleng, tangannya meraih tangan Ibu yang memegang lengannya.
"Menangislah, Nak. Menangislah, jika itu membuatmu lega. Menangis tidak membuatmu terlihat lemah. Kau tahu, menurut Ibu, kau adalah wanita yang kuat," Ibu mengusap perut buncit Viona.
Viona menubruk tubuh Ibu yang semakin dekat dengannya. Memeluknya erat, menangis di bahunya. Iya, dia butuh teman, butuh tempat untuk menangis, butuh bahu untuk bersandar. Di saat semua orang memusuhinya, tetapi ada seseorang yang peduli padanya, mengerti isi hatinya. Itu membuatnya terharu.
Ibu mengusap belakang kepala hingga punggung Viona. Sesekali Ibu mencium rambut sebahu Viona. Mereka sesama wanita, tahu betul apa yng mereka inginkan. Wanita hanya ingin di dengar dan di perhatikan, terlebih, saat semua beban di tumpukan padanya.
"Kau percaya dia Ibumu, Ra?," Ayah sudah berdiri di samping Kira, entah sudah berapa lama Ayah di sana.
"Aku tidak yakin dia wanita yang sama saat mengabaikan aku kemarin, Yah," Jawab Kira tanpa mengalihkan perhatiannya dari dua wanita yang sedang berpelukan di sofa.
"Ibu bahkan bisa berakting lebih bagus dari pada seorang artis kawakan, Ra."
"Itu naluri wanita, Yah bukan akting. Ibu melakukan apa yang seharusnya wanita lakukan saat sesamanya menderita," Kira menuduk, menatap kedua tangannya yang bertaut menumpu pembatas tangga.
"Dia menderita sangat banyak, karena tekanan besar yang di terimanya."
"Iya, dan dia tidak punya siapa-siapa untuk berbagi. Semua orang meninggalkannya, hanya tersisa kami," Kira menoleh ke arah Ayahnya yang juga sedang mencondongkan tubuhnya di pembatas tangga.
Ayah membalas tatapan anaknya, yang seolah meminta penjelasan. "Apa?"
"Jadi?"
"Apa? Apa ada yang kurang jelas?" Ayah mengerutkan kening.
"Apa Ayah masih meragukan kami?"
"Ya sedikit, sebelum ada bukti bahwa Viona hanya masa lalu suamimu, Ayah masih akan meragukan kalian," Jawab Ayah puitis. Ayah tak mau menceritakan kejadian semalam kepada putrinya. Itu memalukan, meski patut di beri penghargaan. Ayah berpikir untuk menjaga itu sebagai rahasia antar sesama pria.
Huh, ini semakin sulit, pikir Kira. Jika Ayahnya semakin berlebihan akannya, tentu akan sulit bagi Harris. Sekali lagi, semua karena trauma. Waktu bukan penyembuhnya, tetapi, kita menyembuhkan diri sendiri. Meyakinkan Ayah, memulihkan kepercayaan yang pernah berbalut ragu.
"Mereka kenapa, Mbak?" Nina muncul dari sebelah kiri Ayah.
"Kau terlambat, Nin," Ayah berlalu meninggalkan mereka berdua, menuju kamar cucu-cucunya.
"Ibu punya anak lagi, Nin. Siap-siap kau akan tergantikan,"
Nina mencebik, "Ogah aku punya saudara kaya dia."
Kira mengangkat bahu. Kira tidak mau memaksa orang lain sependapat dengannya. Biar waktu yang membuktikan, pantas atau tidak seseorang itu mendapat tempat di hati kita.
Kedatangan Kira menyudahi momen haru dua wanita yang baru beberapa jam saja saling mengenal. Viona menjauhkan tubuhnya dari Ibu dengan cepat. Seolah pencuri ketahuan si pemilik rumah. Kedua tangan rapuh itu menyeka airmata yang masih menggenangi wajahnya.
"Kau sudah makan?" Tanya Kira pada Viona yang langsung mendapat sorotan tajam dari Ibunya.
"Anaknya aku apa dia sih? Kenapa Ibu malah galak padaku?," Gumam Kira dalam hati.
Viona menggeleng, "Aku akan makan sebentar lagi."
Kira melongo, Viona berkata lembut padanya. Apa matahari terbit dari barat? Pikir Kira.
***
Sekitar jam 5 sore, mobil Harris memasuki halaman rumah, namun hanya Johan saja yang turun dari mobil. Dia menenteng sebuah tas besar, di kiri dan kanan tangannya, sehingga membuatnya kesuliatan membuka pintu depan.
"Harris mana, Jo? Kok cuma kamu sendiri?" Kira yang bergegas menuju pintu, saat mendengar suara mobil suaminya memasuki pekarangan, di buat kecewa karena tak mendapati suaminya pulang.
"Suamimu masih ada meeting, ini," Johan menyerahkan tas-tas tadi ke tangan Kira. "Bersiaplah, kalian di undang ke rumah salah satu rekan Tuan Dirga. Sebagai permintaan maaf, karena tidak menghadiri undangan kalian kemarin."
"Sekarang?"
"Tahun depan," Sembur Johan. "Ya sekaranglah."
"Ngga pake ngegas kan bisa, Jo. Lagi PMS? Galak bener!" Gerutu Kira.
Batin Kira terus bergumam, meruntuki suaminya yang tidak memberitahunya terlebih dahulu. Namun, dia tetap bergegas mempersiapkan diri. Kira memakai gaun A line dress berwarna merah marun, berlengan sampai siku, dan sepatu yang haknya tidak tidak terlalu tinggi. Suaminya tahu benar, apa yang membuatnya nyaman.
Kira berjalan menuruni tangga, dan kebetulan berpapasan dengan Viona.
"Jangan membuat suamimu malu," Viona meneliti penampilan Kira yang sebenarnya cantik, hanya saja, dia perlu tambahan make up.
"Apa maksudmu?" Kira mendelik sebal. Ingin rasanya, Kira menampar mulut tajam itu dengan tas tangan yang di bawanya.
"Ikut aku," Viona berbalik menuju kamarnya. Meski sebal, Kira mengikuti Viona ke kamarnya.
"Duduklah, aku akan merias sedikit wajahmu," Viona menunjuk kursi di depan meja riasnya dengan dagunya.
"Kau yakin? Kau tidak bermaksud membuatku seperti badut, bukan?" Kira masih melayangkan tatapan penuh kecurigaan. Dia tidak akan mempercayai ular. Dan dia bukan orang yang mudah berprasangka baik pada seorang yang nyata-nyata pernah membuatnya dalam kesulitan.
Viona mendesah, "Aku akan benar-benar melakukannya jika kau tidak menurut padaku."
"Tidak usah saja, kalau begitu," Kira hendak berlalu dari sana, tetapi, teriakan Viona mengurungkan niatnya.
"Apa kau tidak bisa menghargai niat baik seseorang?"
Kira berbalik, membawa tatapan penuh kekesalan, "Kau pikir selama ini kau tidak mencurigaiku sepanjang waktu? Bagaimana rasanya, jika niat baikmu, tidak di hargai sama sekali? Sakit bukan?"
Viona membeku sesaat, tetapi dia tidak punya waktu mengakui bahwa ucapan Kira, benar. Dia tidak mau mengakui, dia salah. Viona menarik tangan Kira, dan mendudukkannya di kursi.
"Kau bisa menyalahkan aku lain waktu, sekarang lebih baik kau diam dan menurut."
Viona meletakkan apron make up di dada Kira dan mulai memoles wajah polos Kira dengan beragam alat make up miliknya. Menepuk, mengarsir, dan menguas, menarik dagu Kira ke kiri kadang ke kanan, seperti sedang mencari sudut tertentu untuk menilai hasil karyanya. Hingga di rasa hasilnya sesuai keinginannya, Viona mengakhiri tarian tangannya di wajah Kira. Terakhir dia menggulung sedikit rambut Kira agar terlihat ikal menggantung. Dan sempurna.
"Buka matamu, aku mengurangi sedikit aura jahat di wajahmu," Perintahnya dengan ketus.
Perlahan Kira membuka matanya, dan benar, dia seperti orang lain di cermin. Atau seperti dia saat berusia 20 an tahun. Segar dan bersemangat.
"Terima kasih Vi," Kira bangkit, mengulas senyum tulus pada Viona. Yang di balas dengan tatapan acuh sedikit mengejek.
"Aku berangkat dulu, kau baik-baik di rumah. Jangan lupa makan," Kira melangkah keluar kamar Viona. Mengukir senyum hingga mencapai pintu depan.
Johan mengangkat dagunya saat mendengar derap langkah sepatu beradu dengan lantai. Mengalihkan perhatiannya dari gawai di tangannya. Matanya membola sempurna, mematung, bibirnya bahkan terbuka tanpa sadar, saat melihat siapa yang sedang menuju ke arahnya.
"Ayo Jo," Kira menggoyang pelan lengan Johan. Membawa Johan menapak kembali di bumi.
"Ba-baik, A-ayo," Johan tergagap, berulang-ulang dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang seakan gersang.
Johan membuka pintu mobil untuk Nyonya-nya, tetapi,
"Tunggu, kau melupakan sesuatu," Viona melangkah tergesa menghampiri mereka, dan menyerahkan benda kecil ke dalam genggaman tangan Kira. "Kau akan membutuhkannya, nanti."
•
•
•
•