Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Jangan Pergi


Melisa masih diliputi emosi sejak meninggalkan kafe. Geram karena tidak di beri kesempatan untuk membalas, kesal karena selalu kalah, jengkel karena Kira tidak bisa di tindas lagi.


Rian, masih diam membisu. Otaknya semakin kacau, masalah demi masalah muncul dalam hidupnya yang terlihat baik-baik saja. Jika dia membuka mulut, khawatir dia akan lepas kendali dan akan melukai Melisa.


"Mas, kamu kenal laki-laki tadi?," Tanya Melisa memecah kebisuan.


"Iya, kenal,"


"Kenapa kamu takut sekali sama dia? Apa karena dia lebih baik dari kamu? Jadi kamu minder?," Cecar Melisa. Dia kesal karena Rian tidak membalas Kira dan laki-laki yang mengaku suami Kira.


"Jaga ucapanmu, Mel. Aku ini suamimu, kau harus menghormati aku," Rian mulai terpancing emosinya, karena ucapan Melisa menyinggung perasaannya.


"Itu benar kan, Mas? Kau masih memiliki perasaan pada mantan istrimu, lalu ketika ada suaminya, kau memilih pergi, karena dia jauh di atas kamu, apa aku salah, Mas?," Melisa masih berkicau. Andai kicauan burung, Rian akan ikut bersiul bersamanya.


"Kau tidak tahu apa-apa, Mel. Jadi, diamlah," Rian kesal sekali. Saat suaminya bingung dengan nasib dan masa depan keluarga mereka karena menyinggung bos barunya, Melisa dengan bodohnya mendahulukan kecemburuannya.


Rian, mengabaikan ocehan istrinya, membenamkan diri dalam lamunan. Kilasan saat bersama Kira bagai kilat yang menyambar ingatannya. Kira memang masih 20 tahun waktu menikah dengannya, masih polos dan lugu. Tubuhnya kurus dan tinggi. Mata coklat, teduh dan wajahnya yang manis, tak membuat mata bosan memandang. Tetapi, pikirannya sangat dewasa. Dia tidak banyak mengeluh dan mendukung apapun yang di lakukan Rian. Merengek pun tidak, ada syukur, tidak ada ya, mencari. Telaten dan sabar, hanya saja, bila dia sudah berkehendak tidak ada yang bisa mampu melunakkan niatnya.


Rian masih bungkam hingga mobilnya berhenti di halaman rumahnya. Melisa, memandang kesal suaminya, Rian hanya geleng kepala di buatnya. Ah, Kira, aku merindukan pengertianmu, desah Rian dalam hati.


Melisa berhenti di ruang tengah, tampak Ayah dan Ibu sedang duduk santai. Ini sudah malam, dan dia baru saja pulang, melupakan kalau dia sudah memiliki tanggung jawab. Tanpa menyapa kedua mertuanya, Melisa berlalu begitu saja, menaiki tangga menuju kamarnya.


"Dasar, tidak punya sopan santun," Gumam ibu. Ayah yang mendengarnya hanya melirik sekilas, memperhatikan raut masam istrinya.


"Itu menantu pilihanmu," Sindir Ayah, tepat menghujam perasaan sensitif Ibu.


"Ayah, menyalahkan Ibu? Dia dulu tidak seperti itu!," Seru Ibu namun beliau masih menahan-nahan suaranya, takut jika Melisa masih mendengar. Netra coklat kelabu yang sudah termakan usia itu melirik waspada ke ujung tangga.


"Membuang emas, mendulang abu," Ucap Ayah pelan.


"Iya, memang mantan mantu Ayah itu yang paling baik," Ibu kesal sekali dengan suaminya. Jengkel, karena apa yang di ucapkan Ayah benar, dan dia tidak terima. Ingin rasanya membuat Melisa berjiwa seperti Kira. Tapi, Ibu belum belajar, membuat ramuan Polijus atau mempelajari ilmu menukar jiwa.


"Tidak ada duanya, Bu. Catat itu," Ayah menegaskan. Memang, Ayah tidak setuju Rian menikahi Melisa, kerena itu akan menyakiti Kira. Kalaupun mereka berselingkuh, setidaknya jangan membuat Kira semakin terluka karena menikahi sahabat istrinya. Menurut Ayah, itu setara dengan membunuh Kira perlahan. Tidak ada yang salah menikahi sahabat mantan istri selama cara mendapatkannya dengan jujur.


Rian, tak lama kemudian menyusul masuk ke dalam rumah, Ayah yang sedikit banyak tahu tentang kesulitan putranya, hanya menghela nafas, melihat wajah putranya yang kusut. Ayah menebak, mereka berselisih paham. Namun, Ayah hanya membiarkan Rian berlalu tanpa mengucap sepatah katapun. Sehingga Ibu heran di buatnya.


"Anakmu, lama-lama seperti lupa cara berbicara, Yah," Pandangan Ibu masih mengekori Rian sejauh batas penglihatannya.


"Dia sedang berselisih dengan menantumu, jadi biarkan saja dia menyelesaikan masalahnya. Ibu jangan ikut campur atau menguping pertengkaran mereka," Ayah mengingatkan Ibu. Dia tahu tabiat istrinya itu, Kira lah yang menjadi korban campur tangan Ibu. Memisahkan Kira dengan putranya, lalu mencari menantu pengganti yang membuat Ibu kecewa. Melebihi kekecewaan Ibu pada Rian saat Rian memutuskan menikahi Kira.


Kedua orang berusia lanjut itu memilih diam, suasana hangat ruang keluarga menjadi dingin, karena perselisihan mereka. Berbeda dengan suasana di sebuah kamar jauh dari rumah keluarga Rian. Kamar yang begitu ramai dengan suara candaan 3 orang anak dan pengasuhnya. Mereka bermain dan tertawa tanpa beban.


Kira mengawasi ketiga anaknya melalui celah pintu. Dia belum bisa masuk kesana karena masih harus mengurus bayi besar di kamarnya. Aturan terkini, yang kapan saja bisa di perbaharui, mengatakan bahwa, Kira tak boleh meninggalkan posnya, selama Harris belum mengizinkan. Dan si pengasuh harus bergegas, sepertinya bayinya sudah selesai mandi.


"Sudah selesai?," Tanya basa-basi. Sejak kejadian di kafe, Kira tidak berani memandang Harris. Dia terlalu malu, untuk sekedar melirik.


"Belum, aku masih berendam," Jawab Harris acuh.


"Kalau masih berendam kenapa kesini?," Kira mengangkat wajahnya. Kedua pasang mata itu akhirnya bertemu. Yang satu memuja, yang satu menggoda. Tenggelam bersama, namun hanya sebentar, Kira segera meraih ranting untuk mengangkatnya. Ugh, selamat.


"Kau sudah tau aku selesai mandi, kenapa bertanya?," Seru Harris.


"Kau mandilah, bau badanmu sudah menulariku," Harris mencium pangkal lengannya, seolah tubuhnya yang sudah wangi terkena radiasi bau badan Kira yang memang tidak ada baunya.


"Memangnya Virus," Gumam Kira. Dia bergegas menuju kamar mandi, merendam dirinya di dalam air hangat yang menenangkan. Menuangkan sabun sebanyak mungkin, dia takut bau badannya mengganggu penciuman lelaki yang selalu membuatnya mimisan.


Berbalut handuk, Kira melangkah ke lemarinya. Tetapi, sejak kapan dia mengunci lemari miliknya? Menarik-narik paksa pintu lemari, namun hasilnya nihil, namanya juga di kunci. Kira beralih ke lemari di sebelahnya, ada, tapi itu baju yang di hindarinya. Kira takut masuk angin bila memakainya. Kamar Harris selalu dingin sampai pagi, Kira tidak tahan dengan hawa dingin, itu akan membuatnya bersin-bersin.


Tidak punya pilihan, dia memakai kain tipis dan menyisakan tali di bahu itu. Dia akan meminta izin Harris untuk meminjam bajunya. Dia ingat aturan itu, jangan menyentuh ini, itu, jangan campur ini dan itu. Bla,bla,bla. Tidak mungkin juga memakai handuk saja keluar dari sini kan?


"Apa kau sedang menggodaku, Sayang?," Harris berdiri di depan pintu di mana Kira keluar. Kira melotot, terkejut.


"Ti-tidak, bukan,"


"Lalu, kenapa pakai baju seperti itu?," Harris maju, menggiring Kira masuk ke kamar ganti. Memandang Kira, dengan penuh maksud.


"Lemarinya terkunci, hanya ada baju ini. Aku tidak bermaksud apa-apa, sungguh!," Kira menunduk. Merasakan tatapan itu dalam diam. Sungguh baju terkutuk, membuatku kesulitan bernafas, batin Kira. Bukan karena bajunya sesak, tetapi tubuh di depannya yang membuatnya kehilangan nafas.


Harris menarik Kira dalam pelukan. Merasakan kenyamanan wanita yang membuatnya hilang fokus. Membuatnya melupakan sakit hati di tinggalkan. Mewarnai hari yang sepi. Menciumi rambut hitam yang masih sedikit basah dan alami.


Kira menelan ludah, kering seperti gurun. Detak jantung yang seirama dengan deru nafas ini sangat menenangkan, aroma khas tubuhnya yang memabukkan. Kira perlahan memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut bersama perasaan yang tiba-tiba mengalir deras. Kira tidak peduli lagi, jika Harris mengatakan dia menggodanya. Tidak peduli lagi, jika Harris tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Cinta yang berbalas juga sama menyakitkannya dengan jatuh cinta sendiri, tidak ada bedanya. Lebih baik cinta sendirian, tanpa dia tahu dalamnya perasaan. Jika harus meninggalkannya, setidaknya, dia pernah mencintainya tanpa harus saling menyakiti.


Kira semakin mengeratkan pelukannya, mencari tempat paling nyaman untuknya bersandar. Membiarkan dirinya memeluk dalam, menyesap aroma hingga ke dalam hati yang paling dalam.


"Maaf, kekasih Harris, aku meminjam milikmu," Batin Kira. Bibirnya mengulas senyum, mengikis jarak, memperdalam perasaan, membiarkan berlarian mengelilinginya.


Harris tersenyum, dia tahu, wanita ini membutuhkan dirinya lebih dari siapapun. Bahkan dari semua wanita yang pernah ada di hidupnya, dialah yang paling jujur tanpa berucap. Harris merasa, dia hanya tidak ingin melampaui batasannya. Batas yang di buatnya sendiri. Padahal, Harris membebaskan kemanapun, dia ingin mengepakkan sayapnya. Sekalipun, mengarungi dalamnya palung di lautan atau membubung tinggi menembus angkasa.


Dia, wanita dengan kekang tak nyata. Memulai mahligai dengan pemikiran dangkal tentang cinta. Cinta dalam harmoni yang umum. Tanpa dia sadari, cinta yang sebenarnya tidak ada, hanya ada fatamorgana. Kasihan sekali dia.


Harris melepas pelukannya, meraih dagu wanita yang enggan menjauh dari tubuhnya. Kedua netra bertemu, untuk pertama kalinya, saling menyelami. Netra hitam yang gelap, yang tak mampu di tembus oleh cahaya temaram. Tetapi, dia bisa melihat, mata berselimut kabut si mata cokelat.


Harris mengusap pelan bibir manis di depannya. Melabuhkan sekali lagi bibirnya di sana. Lebih lama. Memagut lembut, mencecap setiap perasaan yang mengalir di sana.


Kira menyambut setiap perlakuan Harris padanya. Memejamkan mata, menikmati. Mencoba menyelaraskan setiap tindakan dan perasaan yang di tujukan padanya. Namun, otaknya lelah menahan pertikaian "Ya atau Tidak". Otaknya, mengisyaratkan Kira untuk menyerah, membiarkan semua mengikuti arus, membawa mereka mengarungi sungai tanpa ujung.


Pendingin ruangan tak mampu lagi mengusir hawa panas di sini. Dia terus berhembus, menyentuh kulit, tapi di sana, seperti di bentengi lapisan tipis kabut.


Ruangan sepi ini berganti riuh, dengan deru nafas dua manusia yang saling berebut udara. Yang semula rapi kini tak berbentuk. Pagutan berganti gigitan, menyusuri setiap inci lekuk indah keduanya. Merayu, menggoda, hingga dia tak mampu lagi keluar dari sana. Membiarkan melebur bersama.


"Biarkan aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," Suara merdu bergema di ruang dengar, mengalir di setiap tetes darah di dalam tubuhnya.


Namun, tiba-tiba, Kira merasa hampa. Saat semua itu, menjauh. Meninggalkan dirinya yang sudah melayang tinggi. Kira membuka matanya yang memejam. Kira pun bangkit dari mimpinya, membalut tubuhnya, yang setengah polos. Dia kecewa.


"Jangan, pergi," Bibir terkutuk, batin Kira.


Harris menarik kedua sudut bibirnya, "Aku hanya mengunci pintu."


.


.


.


๐Ÿ Hai, readers ... author mau promoin karya author keren dan paling kece di NT nih ... Taraa ... karya Eka Pradita, dong ... siapa lagi?๐Ÿ˜„


Yuk, cus kepoin ... yang pasti bakal dimanjakan dengan tulisan yang rapi, alur cerita yang menarik, dan sudah pasti bikin penasaran ... jangan lupa mampir ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ terimakasih๐Ÿ˜