
Memiliki banyak anak adalah mimpi Harris, dan kini terwujud saat dia menikah dengan wanita tak sempurna ini.
Kembar saat ini sedang senang-senangnya bergerak. Meski sudah lancar berjalan, namun masih diperlukan pengawasan ekstra dari Kira juga para pengasuhnya.
Hari ini, rencananya Harris pulang lebih awal. Tak sampai satu bulan lagi, Kembar berulang tahun yang pertama yang akan dirayakan besar-besaran. Kira menolak mentah-mentah rencana perayaan ulang tahun yang baginya terlalu melelahkan. Ya, semua menerima, hanya dia saja yang tak menyukainya.
Pegawai butik yang entah dari mana asal muasalnya, serta merta mengambil ukuran seluruh anak dan Kira sendiri. Tinggal menunggu si Tuan Pemaksa datang.
"Sore, kesayangan Papa," sapa Harris saat melihat semua kesayangannya tengah berkumpul di ruang tengah.
Dimulai Ranu, di susul si kembar, merangsek ke pelukan Papanya yang sudah berlutut melebarkan kedua tangannya. Menyambut buah hatinya yang terbiasa memberinya pelukan penuh kerinduan. Saling tampar dan mendorong. Bahkan Agiel begitu agresif mendorong Ranu yang tak bergerak dari dada Papanya.
"Makanya, Agiel dan Azziel cepet besar biar bisa ngalahin Nanu!" Harris bergantian mengusap rambut gondrong kedua bocah itu. Ditatapnya bocah-bocah hasil karyanya penuh kasih sayang. Sekalipun suatu waktu dia dibuat kesal dan jumpalitan akibat ulahnya.
"Berdiri, Sayang! Kaki Papa kram!" Perlahan, bocah-bocah itu berlarian meninggalkan tubuh Papanya. Kaki kecil bocah kembar itu menghentak-hentak, dengan kepala digelengkan cepat. Ranu? Bocah sok pintar yang tiap hari merengek ikut sekolah ini menempel seperti permen karet bekas ditubuh Papanya.
Excel segera berdiri menyalami Papanya, dan segera undur diri kembali kekamarnya. Pun dengan Jen dan Jeje yang membawa masing-masing satu adik kembarnya. Menyisakan Ranu yang berpindah ke sofa sambil memainkan ponsel yang di ambil paksa dari saku papanya.
Utusan butik, yang awalnya sibuk dengan catatannya dan tidak peduli dengan si pemilik rumah, membelalak lebar. Terpesona dengan penampilan agak kacau hot daddy di depannya.
"Mbak, tolong lebih cepat ya! Saya masih punya banyak pekerjaan lain yang lebih penting!" Seru Kira yang sebenarnya dibuat kesal dengan tatapan berliur dari wanita itu.
Gelagapan, saat ketahuan mencuri meski sekedar pandangan. "Ba-baik, Nyonya. Saya tinggal mengukur Tuan saja!"
Wanita itu bergegas berdiri dengan alat ukur ditangannya, senyuman terkesan nakal terbit di sudut bibirnya. Harris sudah melepas jas yang di kenakannya, merentangkan kedua lengannya saat si pegawai itu mendekati dadanya, mengarahkan tangannya melewati pangkal lengan Harris. Sengaja berlama-lama dan gestur tubuh wanita itu terang-terangan menggoda.
"Ngga usah diukur Mbak, nanti saya kasih contoh bajunya saja! Saya ngga rela suami saya di pegang-pegang sama Mbaknya!" Kira menjauhkan tubuh suaminya yang begitu pasrah dengan apa saja yang dilakukan Kira padanya. Acuh saja ekspresi pria itu.
"Tapi Nyonya, saya-"
"Silakan Mbaknya kembali, kami sedang ada urusan lain!" Acuh Kira sambil membuang muka.
"Enak saja mau sentuh-sentuh laki orang! Mana tatapannya membuatku ingin muntah juga!" Batin Kira.
"Rina," Kira memanggil orang kepercayaannya. "Jaga Ranu, ya!" Kira menunjuk bocah itu dengan dagunya, saat wanita itu muncul di sudut ruangan. Sementara tangannya, mengait lengan suaminya yang terpahat sempurna di balik kemeja bergaris.
Pegawai butik itu mengerutkan bibirnya, kesal. Batal merasai aroma memabukkan pria kaya. "Apa hebatnya dia? Paling modal jampi-jampi,"
Tanpa permisi, wanita itu membawa pergi cibiran dan sumpah serapah kepada Nyonya rumah yang menurutnya arogan dan galak.
Kira melirik kepergian pegawai butik itu dengan sinis, dari ujung tangga terlihat jelas wajah wanita itu sangat masam. Harris yang mengerti keadaan itu, berniat menggoda istrinya.
"Senengnya punya istri yang posesif!" Harris mengangsurkan kepalanya ke ceruk leher istrinya yang bebas dari helaian rambut. Rambut pendek yang ditata lurus itu memudahkan Harris bermain napas. Mengantarkan guratan tipis gelora yang membuat seluruh porinya membesar.
"Jauh-jauh!" Kira mendorong kepala suaminya dengan telunjuknya. Sebab masih kesal juga dia takut terbawa arus permainan suaminya. Setengah berlari dia menuju ke arah pintu dan mendorongnya hingga terbuka setengah.
"Siapa yang posesif? Aku hanya tidak suka dia kegenitan sama Abang!" Kira terus berjalan menuju lemari, mengambil handuk untuk suaminya mandi.
"Kalau ngga posesif harusnya kan kamu biarin aja si mbaknya ambil ukuranku!" Harris melepaskan kemejanya dan melemparkan ke wajah Kira.
"Abang, kebiasaan ih!" Kira menghentakkan kakinya, memaku tubuhnya tak bergerak dari depan lemari. Membiarkan kemeja itu luruh dengan sendirinya. Meski tak lagi hamil, aroma parfum yang mulai luntur itu dibiarkannya berlama-lama di depan hidungnya.
"I love you, cintaku! Penguasa hatiku!" Kira terpaku diatas tumpukan otot dada suaminya setelah Harris menariknya tenggelam di sana. Hangat dan nyaman. "Mau dong, dikuasai lagi!"
Ucapan Harris membuat Kira memejamkan mata. Senyumnya tertahan rapat, menggusur ke pipinya. Apalagi tangan Harris sudah tak bisa lagi diam di satu titik bagian belakang tubuhnya. Mengembara. Hingga mencapai bahu. Menjauhkan tubuh istrinya yang menempel ketat seperti gurita. Alih-alih menjawab kemauan suaminya.
"Wah kekasihku masih suka malu kalau Abangnya minta jatah!" Harris mengusap pipi Kira yang terbakar dengan senyum menggoda.
"Jadi ngga nih?"
Harris membelalakkan matanya, "Jadi dong!"
Dengan satu langkah panjang, Harris duduk di tepi ranjang. Memperhatikan istrinya menanggalkan busananya sendiri. Meski sambil menahan malu.
Tak butuh waktu lama, Kira menjalankan tugasnya. Membagi kebahagiaan diantara langit sore yang hampir gelap. Kira benar-benar menguasai suaminya kini, membiarkannya berlutut dihadapannya.
Cukuplah, setengah putaran waktu berlarian hingga berpeluh. Kini keduanya tengah merebahkan diri sambil menunggu gelap menyapa mereka, usai membebaskan diri dari peluh yang melekat.
"Apa ada efek samping dari pil yang kamu minum, Yang?" Harris memainkan satu strip pil kecil-kecil yang sudah berkurang setengahnya.
"Paling badanku melar lagi, Bang! Sama jerawatan!" Jawab Kira acuh, dia masih asyik dengan ponselnya.
"Oh ya? Malah kulihat kamu kurusan Yang, sejak minum ini!" Harris meletakkan kembali pil itu. "Atau ngga usah konsumsi lagi! Biar kamu ngga terlalu kurus, Yang! Kita pakai cara lain!"
"Apa lagi? Ganti yang 3 bulanan? Ogah ah, nanti aku gendut, Abang ninggalin aku lagi! Cari yang seksi!" Kira merengut, masih tanpa melihat suaminya.
"Mulut kalau ngomong dijaga!" Harris menarik ponsel Kira dan meletakkan dimeja lampu. "Mau berapa kali Abang bilang! Abang hanya cinta sama kamu!"
Diraihnya tubuh istrinya. Mengecupinya berulang-ulang. "Abang bukan lelaki yang mudah pindah kelain hati dan body. Wanita yang bisa menggoyahkan hati Abang adalah wanita yang memberi kebahagiaan bukan kepuasan!"
"Aku tidak memberimu apapun selain setumpuk masalah!" Kira memutar jemarinya diatas dada suaminya. Membentuk kunci nada.
"Iya, dan itu yang membuatku berpikir ulang jika menggantikanmu! Tidurku pasti nyenyak dan hidupku pasti datar! Bersamamu, aku merasakan naik turunnya kehidupan!"
Kira tak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya. Membiarkan Harris berlama-lama berada di atas kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
.