Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Ayam Bakar Madu


Harris terkejut, tetapi, dia hanya mengedipkan mata. Tidak seperti Kira yang langsung membola sempurna. Bahkan dia nyaris bangun, melihat siapa yang berani menganggu kebersamaannya dengan suaminya. Namun, dia belum bisa menekuk tubuhnya ke depan, sehingga dia hanya menaikkan kepalanya enam puluh derajat.


Dia langsung mendorong suaminya menjauh, saat melihat rombongan keluarganya yang datang. Kira langsung menormalkan wajahnya yang galak. Harris terkekeh geli dibuatnya.


"Masih berani marah?" Bisik Harris saat dia turun perlahan dari ranjang. Bibir Kira meliuk tajam, namun hanya sebentar, setelahnya, dia tersenyum manis saat menghadapi keluarganya.


"Hai kesayangan Mama!" Kira berseri-seri menyambut ketiga buah hatinya. Jen langsung menghambur memeluk leher Mamanya. Tangisnya pecah di sana.


"Jangan tinggalin Jen lagi, Ma!" Rintih Jen dalam tangisnya. Pun dengan kedua putranya yang juga menitikkan airmata tanpa berucap sepatah katapun.


Tak bisa di pungkiri, Kira merasa takut saat melihat ketegangan di wajah mereka. Namun, terselip rasa haru, betapa sangat disayangi dirinya.


"Ssshhh, Sayang! Mama ngga apa-apa kok!" Kira mengusap kepala anak-anaknya bergantian. Namun, tetap saja mereka belum mau berhenti menangis.


Harris yang baru saja turun dari ranjang, menyetel ranjang itu sedikit lebih tinggi agar Kira bisa leluasa melepas rindu dengan ketiga anaknya.


Tak ada yang bersuara, sekalipun Ibu yang biasanya memulai obrolan.


"Mama baik-baik saja, Sayang! Hanya sedikit," Kira menyipit, "Kurang nyaman di sini!" Kira mengusap ulu hatinya, setelah beberapa saat dan di rasa anak-anaknya sudah tenang.


"Maaf Ayah dan Ibu! Harris membuat masalah lagi!" Ucap Harris usai menyalami keduanya.


Ayah menepuk pundak Harris dengan nafas terbuang pelan. Ayah tak bisa menyalahkan Harris, jika bukan Harris, Kira mungkin tak bisa berada di tengah-tengah mereka sekarang.


"Benar dia tidak apa-apa?" Tanya Ayah pada Harris, alih-alih langsung menyapa putrinya.


"Tidak juga sih, Yah! Tapi, memang sekarang sudah lebih baik!" Jawab Harris sedikit berbisik.


Ibu meneliti wajah Kira dan menyingkap baju yang menutupi tubuh tengah Kira, dan memekik tertahan saat melihat lebam melebar di bagian perut.


"Bagaimana bisa seperti ini, sih?" Ibu menatap Harris dan Kira bergantian.


"Siapa pelakunya? Sudah lapor polisi?" Cecar Ibu yang seakan kehabisan kesabaran.


Kira mengigit bibir, enggan menjawab. Hanya keheningan diantara sorot mata yang seakan saling menuding, siapa yang berhak memberi penjelasan.


Harris maju di tengah kerumunan kecil ini. Dialah yang bertanggung jawab atas apa yang dialami istrinya.


"Maafkan Harris, Bu! Anak-anak, maafkan Papa! Maaf atas semua kelalaian Papa saat menjaga Mama!" Ucap Harris dalam dan penuh ketulusan.


Harris menceritakan semuanya, hanya dia tidak mengatakan di mana kedua orang itu sekarang. Dan melewatkan bagaimana dia memiliki sumber daya yang luar biasa untuk menemukan istrinya. Itu sangat rahasia.


Bukan lagi geram saat tahu Riana yang menculik Kira. Ayah dan Ibu sangat murka saat ini. Mereka seakan baru sadar bagaimana Kira diperlakukan selama ini di keluarga Atmaja. Kira terlalu pandai menyembunyikan penderitaannya.


"Ayah dan Ibu jangan lagi khawatir, di kehidupan Kira sekarang dan selanjutnya, akan Harris pastikan, tak ada lagi dendam masa lalu yang mengikuti!" Janji Harris di ujung ceritanya.


"Kami tak meragukanmu, Nak! Kami yakin kamulah yang terbaik untuk Kira! Maafkan kami yang membuatmu kesusahan!" Ucap Ayah yang langsung di angguki Ibu yang berkaca-kaca.


Entahlah, apa yang sudah di lakukan mereka di masa lalu atau keberuntungan macam apa yang di miliki Kira, hingga dia mendapatkan suami yang berpandangan luas dan bertanggung jawab. Juga, sangat setia. Terlalu sempurna.


Harris mengerling nakal ke arah Kira yang mencibirnya. Sekali lagi, simpati dengan mudah di dapatkan oleh Harris. Namun, Kira lega, tak ada lagi keraguan diantara mereka. Ah, selalu ada saat tenang diantara badai, bukan? Dan, ada pelangi di sela hujan.


***


Ranjang kembali berderak, saat Harris kembali menaikinya dengan sedikit tekanan. Harris sangat manja seharian ini, bahkan dia meninggalkan kantor dan meminta Papanya untuk menghandle pekerjaanya. Meski Tuan Dirga kesal karena harus meeting, saat dia ingin segera melihat menantunya, tapi, dia tak punya pilihan. Kliennya kali ini, penguasa di luar negeri. Kesempatan yang langka jika di lewatkan.


"Abang suapi ya, Yang!" Harris duduk sejajar dengan Kira dan membuka kotak makanan yang baru saja di antar Johan ke kamarnya. Ayam bakar madu, berhasil melelehkan air liurnya.


"Abang inget ngga, pas aku pingsan? Abang kasih aku makan bubur? Kenapa ngga di belikan baso atau kaya gini? Abang waktu itu juga galak banget!" Kira merengut, ingat betul saat dia di bentak-bentak sama suaminya ini.


Harris meletakkan kotak itu di pangkuannya. Dia yang sedianya menyuapkan ayam, terurung. Nafasnya terhembus pelan.


"Maafin Abang, Sayang! Waktu itu Abang masih bingung dengan perasaan Abang sendiri! Kesal sama Papa, kasihan sama kamu, dan juga masih sakit hati!" Harris menatap istrinya dengan sendu.


"Bukan maksud Abang ngga mau beliin makanan lain atau perhitungan sama kamu, tapi itu kan saran dokter!" Sambungnya lagi.


"Gini deh, sekarang, kamu mau apa? Biar Abang beliin! Atau si Baby lagi pengen apa?" Harris bergerak dalam duduknya, penuh minat agar di maafkan oleh istrinya.


Kira mengulas senyum, "Ngga mau apa-apa! Apa aja yang Abang kasih, aku makan!"


"Benarkah?" Harris mengusap pipi istrinya, dengan gemas dan sayang.


Kira mengangguk sambil menyuir ayam yang berwarna cokelat menggoda yang berada di pangkuan suaminya.


"Biar Abang saja yang nyuapi kamu, Yang! Kita makan berdua, oke!" Harris merebut ayam di tangan Kira dan menyuapkan dengan lembut.


"Bang, aku tuh bisa sendiri!" Ucap Kira di sela makannya.


"Sudah, makan dengan benar! Abang ngga-,"


"Ngga suka di bantah!" Sahut Kira dengan cepat.


Harris tertawa geli, dan menyuapkan lagi ayam bakar madu kedalam mulut istrinya dan dirinya secara bergantian. Hingga semua makanan itu tak tersisa lagi.


Kira menggeser kepalanya sedikit menjauh, agar bisa melihat wajah suaminya dengan jelas, dia tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Maksud Abang apa?"


"Yah, selama sebulan nasibku ngga jelas, merana, Sayang," Harris mendadak sendu.


Kira berdecak, dengan memutar bola matanya malas. "Abang harus sabar, kan demi anaknya Abang!"


"Tapi Yang, apa harus sebulan?" Tergambar jelas, dia sangat keberatan dengan skorsing satu bulan.


Kira enggan menjawab, dia sendiri tidak tahu. Bukankah semua tergantung pada kondisinya setelah ini?


"Bang, bisakah aku meminta bantuan Johan? Ada sedikit masalah yang harus segera di selesaikan!" Kira tiba-tiba ingat janjinya.


"Kau bisa meminta padaku! Bukan hanya pada Johan saja!" Ujar Harris sambil menggerutu, Kira selalu lupa, suaminya adalah bayi yang tak suka diabaikan.


"Baiklah, Abang yang menyelesaikan masalahku dan Johan di sini menggantikan Abang! Bagaimana?" Kira menunjuk posisi Harris, dan itu berhasil membuat Harris membelalak.


"Enak saja!" Harris ketus. Dia segera bangkit dan memanggil Johan. Kira terkikik, sambil memegangi perutnya.


***


Malam hari, Hendra dan Vivian mengunjungi Kira. Mereka baru saja tiba dan langsung menuju Klinik dimana Kira di rawat.


Vivian tampak lelah dan murung.


"Bagaimana bulan madunya, Dok?" Vivian duduk di sebelah kanan Kira.


"Yah, lumayan lah! Bagaimanapun kami belum memiliki perasaan apa-apa, jadi, ya!" Vivian memasang gestur "kau mengerti maksudku"


"Kami banyak ribut dan salah paham! Kami jalan di rute kami sendiri,"


Kira merapatkan bibirnya, dia sangat menyesal dengan pertanyaannya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana kisah mereka.


"Tidak apa-apa, ini kenyataannya! Dan, yah, mungkin harus seperti ini diriku berakhir!" Vivian tersenyum getir. Dan hampir menangis. Namun, buru-buru dia membuang wajahnya ke sisi lain.


Dua orang yang sedang bercakap-cakap di luar itu, membuat Vivian kembali lara. Entahlah, Vivian sendiri bingung. Atau dia mungkin terlalu berprasangka buruk pada Hendra. Mungkin juga dia salah menafsirkan kepanikan Hendra saat mendengar Kira diculik. Hendra bahkan membentak Vivian yang merengek agar menunda kepulangan mereka. Vivian merasa, jika Hendra hanya mementingkan persahabatannya, bukankah sudah cukup membantu dari dengan "kekuasaannya"? Jika kupingnya juga tidak bermasalah, yang di tanyakan pertama kali adalah keadaan wanita istri temannya itu.


"Aku selalu sendiri," Batin Vivian. Senyum getir kembali terukir di sudut bibirnya.


"Dokter? Anda baik-baik saja?" Kira berusaha menggapai tangan Vivian yang mencengkeram tepian ranjang dengan erat.


Seakan tersadar, Vivian buru-buru menyeka air matanya. "Ya, aku hanya lelah!"


Vivian tersenyum lemah. Dia merasa kalah. Namun juga tak mampu membenci. Wanita ini terlalu baik. Dan bukan salahnya juga. Vivian menelan dalam-dalam rasa kecewanya.


Kira mengurung semua pertanyaan yang sedianya ingin segera dia ketahui jawabannya. Namun, saat melihat Vivian kurang baik, dia memilih menekan rasa penasarannya.


Di luar, Harris dan Hendra sedang membicarakan Riana dan Tuan Winata. Berbagai pertimbangan di diskusikan keduanya.


"Aku bisa menyekap mereka sampai kapanpun! Tapi, aku takut Kira akan keberatan!" Ucap Harris sambil menekan keningnya.


"Untuk Riana, dia sudah masuk DPO, meski kau tidak melaporkan tapi, pihak kepolisian sudah menahan orang dalam yang membantu Riana! Dan untuk Winata itu urusanmu! Aku bisa saja menahannya untukmu!" Hendra memberikan pendapatnya.


"Tunggulah sebentar lagi, setidaknya biarkan dia mengucapkan sesuatu pada Riana! Dan, jika nanti dia harus di penjara, suatu saat nanti, biarkan istriku memberi wanita itu pelajaran!" Putus Harris pada akhirnya.


"Beruntung mereka, karena istrimu tidak kenapa-napa! Aku tak bisa membayangkan apa yang akan kau lakukan jika sampai dia melukai istrimu!" Hendra menghela nafas.


Harris mengangkat sudut bibirnya, "Kami hampir kehilangan bayi kami! Dan dia tidak bisa bangun sekarang! Ini yang kau bilang tidak kenapa-napa?"


Harris memandang istrinya yang tengah berbicang dengan Vivian di dalam.


Hendra terperangah, namun, seharusnya dia tidak lagi heran bukan jika Kira mengandung? Tapi, mengapa Hendra merasa kecewa? Apa yang kau harapkan, Hendra? Pikirnya.


"Selamat Bro, kau calon ayah sekarang!" Hendra segera tersadar dan mengulas senyum. Dia tidak pantas merasa kecewa.


Harris tersenyum, "Berkat istrimu juga, Bro! Semoga kau bahagia, dia wanita yang baik!"


Hendra berdecih, "Baik saja tidak cukup untuk memulai rumah tangga."


"Kau tau, aku juga berpikir seperti itu pada Kira dulu! Baik saja tidak cukup, bahkan aku ragu pada Papa! Kau lihat aku sekarang, bukan? Hati-hati, kau akan menjilat ludahmu sendiri, Ndra!" Harris menepuk bahu Hendra kuat-kuat, hingga tubuhnya berguncang dan melesak turun.


Entahlah. Hendra mengangkat bahu. Dia merasa hubungannya tak semudah Harris dan Kira.


.


.


.


.