
Banyak kata-kata kasar..... Mohon bijak dalam membaca
•
•
Harris memasang earphone yang langsung terhubung dengan Johan. Fokus.
[Tuan, mobil yang membawa Nyonya, melaju ke arah kota wisata.]
[Oke! Suruh Doni membawa beberapa orang untuk menyusulku! Apa sudah tau siapa pelakunya, Jo?]
[Belum, Tuan! Mobil itu milik salah satu jasa sewa mobil!]
[Segera hubungi aku jika ada perkembangan lagi!]
Tanpa menunggu jawaban Johan, sambungan di matikan sepihak. Harris memacu mobilnya melewati jalan lingkar luar agar lebih cepat sampai. Jalan tol? Di akhir pekan? Harris tidak yakin.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai tempat itu jika melewati jalur lingkar luar. Lalu mengambil jalan alternatif dan jalan tikus. Harris masih merekam dengan jelas rute-rute pelariannya saat masih suka kabur dahulu. Bahkan dia tahu setiap jalan menembus kemana.
***
Dalam mata yang terpejam itu, dia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Yang menjadi tanya adalah mengapa dia melakukan hal sejauh ini?
Kira mengendus bau bahan bakar yang kuat, menusuk hidung. Telinganya terasa basah. Meski masih pusing dan berat, Kira bisa merasakan bahwa dia sedang terbaring di lantai. Entah di mana dia sekarang, tetapi beberapa saat lalu, dia ingat seseorang membekap mulut dan hidungnya. Meski sempat berontak, sesuatu yang keras mendarat di tengkuknya. Ah, toilet. Pasti tidak ada kamera keamanan.
"Kenapa dia belum bangun juga?!" Seru wanita itu pada entah berapa orang.
Kira masih terpejam. Membiarkan mereka mengira dia belum sadar. Dan, setidaknya memberi waktu kepada suaminya untuk segera menemukannya.
"Kau terlalu berani, Nona! Apa kau tahu resiko besar yang akan kau hadapi jika kau sampai ketahuan?" Suara seorang pria menggema lagi.
"Si bodoh itu sudah membusuk di sini saat mereka menemukanku! Meski aku harus mengakui dia terlalu kuat untuk ku hadapi sendiri!" Ucap wanita itu.
Kira bergerak sedikit sebab merasa geram dengan perkataan itu. Tangannya terikat di belakang tubuhnya, sangat ketat dan tinggi. Ingin sekali, Kira membuka sedikit matanya. Tapi, dia takut ketahuan, sebelum suaminya lebih dekat dengannya. Tahan sebentar lagi, batinnya.
Entah juga, Kira hanya merasa yakin. Dengan apa yang di miliki oleh suaminya, dan juga koneksinya, bukan hal mustahil untuk menangkap pencuri kecil yang naif itu.
"Hei, bukankah ini terlalu lama?" Seru wanita itu lagi. Seperti tidak sabar untuk melakukan sesuatu pada Kira.
"Mungkin karena pukulan di tengkuknya yang membuatnya masih belum sadar!" Jawab yang lain.
Suara kaki kursi beradu dengan lantai, menandakan bahwa orang yang berada di atasnya sedang berdiri. Uh, dan derap langkah itu semakin dekat. Seperti tepat di depan hidung Kira. Takut? Jangan tanya, jantung Kira terpompa lebih cepat dan keras. Jika tidak beradu dengan lantai yang mampu meredamnya, detaknya sudah memenuhi ruangan ini.
Benar saja, ujung sepatu yang tumpul itu beradu dengan pipi Kira yang menyentuh lantai lembab berbau minyak pelumas kendaraan. Dingin. Dan sakit menusuk. Kira semakin merapatkan matanya, membayangkan ujung sepatu itu mengambil ancang-ancang untuk menumbuk wajahnya.
Lalu, gemericik air menimpa sisi wajahnya yang lain. Gelagapan saat air itu memasuki hidungnya. Mau tak mau dia membuka matanya pelan. Seperti baru tersadar. Dan saat matanya masih buram, wanita itu menarik rambut Kira yang basah, kuat, sangat kuat. Nyaris mencabut semuanya. Memaksanya duduk tegak.
Plak! Plak!
Tamparan tangan ringkih itu memang tidak seberapa sakit. Namun, menjalar sampai ke hati. Apalagi melihat siapa yang duduk berjongkok di depannya.
"Apa? Terkejut?" Ujung dagu Riana sedikit terangkat. Pongah. Dia merasa sudah bisa mengalahkan Kira.
Riana mendorong kepala Kira hingga membentur lantai. Riana berdiri, lalu dengan membabi buta dia menendang ulu hati Kira, dan perut atas, hingga Kira merasa sesak. Kepalanya menengadah dan kakinya yang terikat, secara refleks menekuk melindungi perut bagian bawah. Perutnya terasa kram saat menahan sakit akibat tendangan sepatu boot itu. Air matanya meleleh, memikirkan sakit di bagian bawah pusar yang kaku.
Perlahan Kira melepaskan, membiarkan dirinya rileks, agar rasa itu memudar. Keringat membajir di sekujur tubuhnya. Dingin. Di atas tubuhnya yang panas. Deru nafasnya meraup dan meniup debu-debu tak tampak di depannya. Meski begitu, dia harus siap jika Riana menghajarnya lagi. Matanya terpejam, tapi telinganya waspada. Siaga meski pikirannya kalut. Hatinya terus bergumam, memanggil suaminya dalam doa.
"Itu untuk hidupku yang seperti di neraka!" Nafas Riana tampak naik turun. "Gara-gara kamu, hidupku berantakan! Kamu!" Riana menunjuk wajah Kira yang sudah seperti kapas.
"Wanita kampungan, bukan apa-apa, tapi Ayah kandungku sangat menyayangimu! Memuji kamu siang malam! Memamerkan kepada semua orang bahwa kamu paling baik! Memintaku untuk meniru sikapmu yang rendah hati dan lembut!"
Riana menengadah, tangannya terangkat di samping tubuhnya, seakan berkata "Ayolah" dengan jengah dan bosan.
"Kau itu bodoh, Ra! Kau mudah di permainkan! Aku? Harus sepertimu? Tidak!" Riana tertawa. Mengerikan.
"Kau tahu, sikapmu yang di agungkan Ayah adalah sikap yang paling ku benci! Kenapa? Karena rendah hati dan lembut itu adalah sebuah kelemahan! Di dunia ini, yang kuat yang menang! Dan yang bodoh sepertimu, hanya akan menderita dan terinjak! Tentu kau sudah merasakan selama bertahun-tahun bukan?"
Riana terus saja mengoceh yang hanya samar-samar di dengar oleh Kira. Kira sibuk merasakan sakit tak terhingga di sekujur tubuhnya. Terlebih di bagian bawah perut yang sakitnya datang dan pergi. Menjalar hingga ke kaki, seakan mati rasa.
Lagi, Riana menarik rambut Kira. Kali ini dia menatap Kira dengan jijik dan meremehkan. Menegakkan tubuh Kira, yang seperti kehilangan tulang.
Kira mengusap pipinya yang basah dan ngilu dengan pundaknya. Hitam. Baju yang di kenakan Kira sudah tak berwarna lagi, kotor. Bahkan oli bekas itu sepertinya belum lama tumpah dan meresap memenuhi separuh badan Kira.
Kira hanya berdecih di balik mulutnya yang tertambal perekat hitam. Siapa yang takut? Bukannya dia yang takut denganku? Batin Kira.
Kira menyadarkan tubuhnya di tembok yang tak kalah lembab dan kotor. Merasa tak berdaya. Dia hanya berharap sebuah keajaiban.
Suara pintu yang bergeser ke atas, membuat semua orang membeku. Terlebih Riana yang sudah siap menyerang Kira lagi dengan sepatu bootnya. Dia langsung pucat.
Tapi, berbeda dengan Kira yang berharap itu adalah suaminya, dia memaksa matanya tetap terbuka. Mengharap itu penolongnya.
"Om?" Kelegaan terpancar dari wajah Riana. Sedangkan Kira, dia sudah pasrah mendengar sapaan Riana pada orang itu. Matanya benar-benar terpejam.
"Kurang ajar sekali kau ini, ha?" Ucap Tuan Winata di depan Riana, usai menatap Kira dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan.
"Om, aku bisa jelaskan! Ini ngga ada hubungannya dengan Om!" Riana ketakutan saat pria itu memandang garang ke arahnya.
"Tidak ada hubungannya kau bilang? Kau tahu pasti, bukan? Hari ini aku sedang membicarakan bisnis dengan suaminya, dan dia hilang di saat yang sama! Coba kau pikir lagi, Riana? Apa yang di pikirkan oleh suaminya? Akulah tersangka utamanya!" Gelegar Tuan Winata, memenuhi ruangan itu.
Riana terkesiap, dia tidak berpikir sampai ke sana. Dia hanya berpikir ada kesempatan untuk membalas Kira. Oleh karenanya, dia mencuri uang Ayahnya dan membayar tiga orang itu untuk menculik Kira. Bekerja sama dengan salah seorang karyawan resto untuk memuluskan rencananya. Membayar mereka dengan sangat mahal.
Riana ambruk di kaki Tuan Winata, meraih tangan kokoh itu, "Maaf, Om! Maafkan Riana! Riana ngga mikir sampai di sana, Om!"
Tuan Winata menghempas kasar tangan Riana, "Dengar Ri, tak peduli siapa kamu, tapi jika kau sudah membuatku kesulitan! Aku tidak bisa terus bersamamu!"
Tuan Winata berlalu begitu saja, membiarkan Riana tergugu. Di lepasnya perekat dan tali yang mengikat kedua kaki dan tangan Kira. Lalu membopong wanita yang sudah lusuh dan kotor itu tanpa rasa jijik.
"Om...!" Lirih Riana saat Tuan Winata melewatinya begitu saja. Terus memandangnya hingga tertelan gelapnya malam. Riana telah kehilangan sumber uangnya. Tempatnya bergantung dan berlindung. Riana meremas blouse yang di kenakannya, geram.
"Nona, bagaimana ini? Aku tidak mau tertangkap sebelum menikmati jerih payahku, Nona!" Salah seorang dari tiga preman itu mendekati Riana yang masih bersimpuh dengan tangisan yang berderai.
Riana mengusap airmatanya, lalu bangkit dan berjalan ke meja di mana tasnya berada. Bagaimanapun, tugas mereka sudah selesai. Riana mengeluarkan beberapa bendel uang pecahan seratus ribuan. "Kita harus bergegas. Bisa saja mereka sedang mengejar kita!"
Riana segera menyandang tasnya di belakang tubuhnya, setelah mendorong uang ke depan orang bayarannya.
"Terima kasih, Nona! Senang bekerja pada Anda!" Ucap pria itu dengan senyum kepuasan. Riana hanya membalas dengan senyum sinis.
Namun, kesenangan mereka sepertinya berakhir di sini. Karena, begitu rolling door itu terbuka, mereka di sambut sekitar dua lusin pria berpakaian gelap.
Mereka mendorong Riana dan ketiga pria itu ke dalam ruangan lagi, di bawah todongan senjata api.
"Di mana Kira?" Gelegar suara penuh amarah dari kegelapan malam.
Ke empat orang itu membeku dengan wajah memutih. Terlebih Riana, dia yang paling ketakutan.
"Jawab!" Teriak Doni yang berada di barisan paling depan. Tubuhnya memakai baju anti peluru.
"Di-dia, di bawa Tuan Winata!" Jawab Riana terbata, gugup setengah mati. Hidupnya tamat sampai di sini.
Tuan Winata? batin Harris yang berada dalam gelapnya malam. Tanpa pikir dua kali, dia berlari ke mobil mengambil ponselnya. Tangannya yang gemetar, bergerak lincah sekali di atas layar ponselnya. Namun, hanya jawaban dari operator seluler saja yang di dengarnya. Terus berulang hingga panggilan ke tiga berakhir.
Harris frustrasi. Apa lagi ini? Dia menumbuk roda dengan ujung sepatunya. Hingga terasa sakit, baru dia berhenti. Dia meraung sambil menjambak rambutnya.
"Kamu di mana, Sayang!" Rintih Harris sambil mengigit bibir. Rasa takut kehilangan membuatnya lemah dan menangis.
Sambil berkacak pinggang, Harris menghubungi Johan kembali.
[Jo, cari informasi tempat tinggal Tuan Winata! Kira bersamanya sekarang!]
[Baik, Tuan]
Harris masih berbaik sangka pada Tuan Winata, yang di anggapnya teman, sebelum nomor ponsel tak bisa di hubungi.
"Amankan mereka semua!" Perintahnya pada anak buahnya.
•
•
•
•