Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Janitra Ragiel & Jazziel Pamungkas


Kamar sekali lagi berpindah, kasur kini lebih mengerikan dengan dua bayi, satu batita dan satu induknya. Bonus, ada Jen dan Kristal juga Nicky yang ikut-ikutan tidur di kasur tambahan yang berada dilantai.


Harris menggaruk kepalanya, 6 bulan sudah keadaan berlaku seperti ini. Pasrah, saat Harris melihat Kira terlihat kelelahan mengurus semua bayinya.


"Abang sudah pulang?" Kira berbisik saat melihat Harris termenung menatap pemandangan indah di kamarnya.


"Hem! Lanjutkan tidurmu, Yang! Aku akan mandi! Oh ya siapkan ASI mu, nanti jika kembar bangun biar Abang yang ngurus!" Harris meletakkan jasnya di atas lemari kecil berisi pakaian si kembar.


"Sudah siap kok," Kira melihat jam, "Sebentar lagi juga waktunya menyusui kok, Bang!"


Harris hanya manggut-manggut sambil mengambil handuk dari lemari. "Tidurlah lagi, nanti aku bangunkan!"


Kira mengukir senyum, mengawasi suaminya yang melangkah ke kamar mandi. Kira merebahkan diri, sambil memandangi buah hatinya yang terlelap, namun saat hendak memejamkan mata, pintu kamar terbuka. Menampakkan sosok Excel dan Jeje yang membawa kasur lipat di masing-masing tangannya.


"Ma,Β  mau gabung sama dedek bayi, boleh?" Jeje langsung menggelar kasur lipatnya di bawah kaki ranjang. Sedangkan Excel, menggeser sofa tempat Papanya beristirahat sedikit lebih jauh.


"Seharusnya tidak boleh! Masa udah akhil baliq masih ikut tidur Mamanya!" Kira menegakkan kembali badannya.


"Malam ini saja, Ma! Besok tidak lagi!" Balas Jeje yang sudah memposisikan dirinya senyaman mungkin untuk tidur.


"Setiap malam juga bilang selalu seperti itu! Tapi buktinya apa? Balik lagi-balik lagi!" Kira merengut pura-pura marah.


"Kali ini ngga bohong, Ma! Jeje besok mau tidur sendiri dengan kak Excel! Yak kan, Kak?"


"Kau pikir aku yang merengek minta tidur di sini?" Excel merebahkan badannya, tampak sekali dia kesal dengan ajakan Jeje tidur di sini.


"Ih Kakak, kalau ngambek ngalahin Jen!" Jeje menutup kepalanya dengan selimut menghindari amukan Excel yang sekarang mudah sekali marah dan kaku.


"Cepat tidur dan jangan berisik! Kasihan adik kalian, kalau sampai keganggu tidurnya!" Kira mengambil ponsel sebab dia sudah tak lagi mengantuk. Memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya.


"Kok ngga tidur lagi, Yang? Ngga ngantuk?" Harris keluar kamar mandi dengan handuk menempel di kepalanya. Aroma segar sampo Harris merambat menuju penciuman Kira. Aroma yang membuatnya melayang.


"Iya sekalian bales chat dari Vivian, besok aku mau ke sana," Kira meletakkan ponsel dan beranjak mendekati suaminya. Mengambil alih handuk yang mengeringkan rambut suaminya.


Harris melingkarkan tangannya di pinggang Kira, "Abang, pinggangku masih lebar, jangan di pertegas lagi!"


Harris mengangsurkan hidungnya ke pipi hingga ke sudut telinga, "Aku tidak peduli Yang, ini adalah tanda betapa kau sudah banyak berkorban untukku! Kehilangan bentuk indah tubuhmu, waktumu, dan tenagamu! Aku menghargai apapun yang melekat padamu!"


"Gombal!" Kira menekan handuknya kuat-kuat.


"Beneran, Yang! Aku ngga pernah gombalin kamu! Aku cinta sama kamu, wanita banyak anak!" Harris mengecup bibir istrinya sekilas saja. Terlalu riskan dengan anak-anak berkumpul di sini.


"Biar ku sisir rambutmu, dan Abang bisa istirahat!" Kira meraih sisirnya dan merapikan rambut suaminya yang panjang ke arah belakang.


"Kenapa kau suka menyisir rambutku kebelakang sih Yang?"


"Biar gantengnya ngga ketutupan!" Jawab Kira sambil menjauh dari suaminya. Harris tergelak mendengar ucapan istrinya. Membuat bayinya bergerak dan membuka mata. Tanpa di minta Harris segera meraih salah satu bayi sementara yang lain sedang disusui Kira.


"Yang, terimakasih sudah memberiku kebahagiaan sebanyak ini!" Harris melingkarkan lengannya dipundak Kira. Mengusapnya pelan. Mereka duduk di sofa, membiarkan Ranu lelap tanpa terganggu.


"Jangan ucapkan itu lagi! Aku bahagia saat kau bahagia, Bang!" Kira melirik suaminya yang mengadu kepalanya dengan bahunya.


"Semoga kita bisa seperti ini selamanya, Yang!"


"Tentu saja! Kecuali mereka," ekor mata Kira melirik ke arah anak-anaknya berada. "Excel sudah SMP, sebentar lagi dia akan menjadi pria dewasa yang tidak suka diatur oleh kita, Bang! Mereka tak lagi bisa kita genggam!"


"Jangan pikirkan itu, jika saat itu tiba, kitalah orangtua paling bahagia!" Harris mengecup sekilas sisi kepala Kira. Menyisihkan rambut yang kini dipotong pendek di bawah telinga. Membuatnya tampak muda dan segar.


Kira menahan buliran air mata bahagia. Melihat kembali betapa beruntungnya dirinya. "Entah dengan apa aku membalasmu, Bang! Kau terlalu memanjakan aku, menghujaniku dengan cintamu! Aku hanya bisa membalasmu dengan memberimu bahagia dengan caraku!"


Harris menempatkan wajahnya di fokus mata Kira, "Tetaplah bersamaku, Sayang! Temani aku menjalani sisa hidupku!"


"Pasti Bang!" Kira menggenggam tangan suaminya. Keduanya kembali mengadu sisi kepalanya, memandang anak-anak mereka yang terlelap mengarungi mimpi.


***


Akhir pekan adalah hari libur Kira. Dia bisa menikmati waktu sekedar melepas penat dengan jalan-jalan atau melakukan perawatan. Jadilah Harris mengasuh Ranu dan dua bocah laki-laki yang mulai bergerak dengan perutnya.


Lelah, tapi Harris sendiri yang meminta. Meski Kira juga tak pernah berlama-lama meninggalkan rumah.


"Ran, ruang kerja Papa gelap lho, nanti Ranu takut di sana sendirian!" Harris menghalangi Ranu yang berlari ke arah ruang kerjanya. Mengacak-acak semua yang ada disana.


Gadis itu menatap Papanya, lalu berbalik lagi ke matras di depan televisi dimana mainan berhamburan.


Harris kembali bangkit untuk mengambil Agiel yang sudah sampai di bawah televisi. Menepuk-nepuk tembok dengan tangannya yang basah.


"Agiel sayang, kotor ini nanti tangannya!" Harris meraih Agiel dalam dekapannya menjauhkan tangan gemuk bocah itu dari mulutnya. Dengan cekatan Harris meraih tisu basah untuk mengelap tangannya.


"Santi, bawakan biskuit untuk Agiel dan Azziel," Seru Harris pada Santi yang kebetulan melintas. Lalu dia meletakkan Agiel di atas bouncer dan memasang pengaman untuk mencegahnya terjatuh.


Azziel, adik dari Agiel masih dengan tenang rebahan di atas matras dengan memainkan bola lembut di tangannya dengan gemas. Sesekali dia menjerit dan tertawa.


Harris memasangkan celemek di atas dada Agiel saat Santi datang membawa sekotak biskuit. Agiel akan tenang jika menggenggam makanan. Pun dengan saat ini, Agiel langsung diam, asyik dengan makanannya.


Harris menghempaskan tubuhnya di sofa, suhu AC diruangan ini tetap tak bisa mencegah keringatnya bermunculan. Gerah dan lelah.


Dia melirik Ranu yang asyik ngobrol dengan Rina. Sekalipun Ranu belum terlalu jelas berbicara, tapi Rina mengerti apa maksud Ranu.


"Baiklah, Ranu diam di sini, Mbak Rina ambil minum jus oyen seperti yang Ranu minta!" Rina mengusap rambut kecoklatan milik Ranu sebelum dia melangkah menuju dapur saat Ranu mengatakan "ayus, dan dus oyen"


Harris memejamkan matanya sejenak, saat dirasa anak-anaknya dibawah kendalinya.


"Ranu..." lirih Rina saat tak mendapati Ranu di mejanya. Harris pun membuka mata, bocah perempuan itu amblas entah kemana. Harris mengumpat dalam hati sambil mendengus sebal. Apalagi Azziel juga sudah bergerak sampai di bawah meja Ranu. Meraih pensil warna yang terlihat ujungnya.


Dengan cepat, Harris meraih Azziel dan menggendongnya. Tidak mungkin Ranu ke ruang kerjanya lagi, sebab tadi dia menguncinya. Harris berlari menjelajah seluruh kamar dilantai bawah, namun kosong.


Harris berlari menuju kolam renang, bisa jadi Ranu sudah berjalan kesana. Namun, sampai dapur dia berpapasan dengan Rina.


"Ranu tidak ada di halaman belakang, Tuan!" Harris membelalak, dia berlari lagi ke arah teras rumah. Azziel malah tertawa bahagia saat Harris membawanya berlari.


Nihil, Ranu tak ditemukan dimanapun, Harris mengerahkan semua orang untuk mencari Ranu. Tapi tetap saja, Ranu tidak ditemukan. Untuk pertama kalinya, dia menyesal tinggal dirumah sebesar ini.


"Kemana kamu, Ran?" Harris mengusap wajahnya kasar. Mati berdiri kalau sampai diamuk singa betina itu nanti, pikirnya.


"Doni, Don..." teriaknya memanggil Doni.


"Doni ke bandara menjemput Tuan Dirga, Tuan!" sahut Rina yang juga cemas karena Ranu belum ditemukan.


Harris mengerang frustrasi, di tambah terdengar tangisan Agiel, kepala Harris serasa mau pecah. "Rin, jaga kembar, ya! Aku cari Ranu dulu!" Harris menyerahkan Azziel dan segera mengumpulkan semua orang termasuk satpam.


Berbagi tugas mencari Ranu, sekalipun satpam bilang tidak ada siapapun yang masuk atau keluar setelah Doni meninggalkan rumah.


Harris mengusap wajahnya saat melihat mobil istrinya memasuki halaman. Manik mata Harris mengawasi tiap gerak istrinya hingga berjarak beberapa langkah darinya.


"Sudah pulang, Yang?" Harris tergagap di hadapan istrinya.


"Iya, ada apa ini kok pada ngumpul di sini?" Kira berjalan mendekati gerombolan cukup besar itu.


"Ah, tidak ada apa-apa! Kamu masuk saja, si kembar pasti haus!" Harris mendorong paksa Kira memasuki rumah. Dan memberi isyarat agar mereka mulai mencari Ranu.


Harris kembali di landa kecemasan. Bingung, kemana? Harris bergegas menuju mobil, entah kemana dia harus mencari Ranu. Namun, baru saja Harris memutar mobilnya, tampak mobil yang di kendarai Doni muncul dari arah berlawanan. Dan berhenti tepat di depan mobil Harris.


"Lihat, kau membuat semua orang panik, Ran!" lirih Doni sambil menoel ujung hidung Ranu. Diraihnya gadis kecil itu dalam gendongannya. "Maaf Tuan, Ranu tadi duduk di jok belakang tanpa sepengetahuan saya!"


Ucapan Doni membuat Harris menghembuskan napas dengan keras. "Dasar bocah tukang ilang!" Harris mengusap wajahnya, menutup mata dengan lengannya. Tertawa, lega dan juga merasa bodoh. Dibuat kelabakan oleh seorang gadis yang belum genap giginya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Akan ada beberapa bab tambahan nanti ya... extra part atau extra bab asal bukan extra joss aja yak...πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚