Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Tiga Sisi Hati


Matahari baru saja tergelincir saat mereka melangkah tergesa-gesa ke rumah sakit. Panas mentari masa peralihan musim yang luar biasa membakar, tak menyurutkan langkah Harris dan Kira.


Di sinilah mereka sekarang, empat manusia berkumpul dengan ekspresi berbeda-beda. Viona tampak segar duduk bersandar di bed rumah sakit. Tak jauh darinya, Kira tengah menimang bayi yang berbalut kain, tengah menggeliat, mencecapi bibirnya yang berwarna merah.


Harris bersedekap sambil menatap tajam Viona. Sedangkan Johan, dia berdiri dengan perasaan gelisah. Kekalutan tampak membingkai wajah sangarnya.


Kira yang tak menyadari bahwa suasana yang seharusnya menggembirakan ini berubah menjadi penuh ketegangan. Bergantian dia melihat Harris dan Johan. Adakah masalah yang begitu serius sekarang? Karena tak tahan melihat semua ini, Kira meletakkan bayi laki-laki yang baru genap sehari ini, dengan hati-hati.


Diusapnya lengan bergelombang milik suaminya yang berbalut kemeja hitam. Kedua mata pria tinggi itu bersua dengan manik mata istrinya yang dipenuhi tanya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat tegang?" Kira akhirnya membuka suara, dia tak tahan jika rasa penasarannya tak mendapatkan jawaban.


Ditatapnya lagi Johan yang semakin terlihat pilu. Pria itu tak mampu menjawab, dia tak punya kuasa. Kira membalik badannya untuk menatap Viona, sepertinya wanita itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa, Vi? Tolong, katakan!" Kira maju selangkah mencapai kaki ranjang, dan berpegangan erat.


Viona masih terdiam, dia menggerakkan bola matanya ke arah Johan dan Harris, seolah meminta pertimbangan. Harris membuang pandangannya ke sisi lain. Sedangkan Johan benar-benar bingung.


Viona menghela napas, "Baiklah. Kurasa sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya!"


Viona sekali lagi menguatkan hatinya, diremasnya sprei berwarna biru muda itu. Ditatapnya Kira dan Harris dalam-dalam.


"Aku minta maaf sebelumnya, karena sudah membuat kalian berdua menderita sejak kehadiranku. Dan, seperti janjiku pada diriku sendiri, dan kepadamu, Ris. Aku akan meninggalkan rumah kalian, setelah bayiku lahir," Viona menyapukan pandangannya ke arah mereka bertiga.


"Aku juga dengan legowo menerima hukuman apapun, atas kerugian dan masalah yang sudah aku timbulkan. Terutama padamu, Ris!" Viona menatap Harris dengan tegar, tak ada ketakutan atau ragu dalam sorot matanya. Hatinya sudah menggenggam pasti.


Johan menggeleng samar, saat Viona hendak membuka mulutnya lagi. Dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Akulah yang membuatmu celaka beberapa waktu lalu, akulah yang memberitahu Martin bahwa kau akan melewati rute yang berbeda dari rombonganmu!" Ucap Viona mantap. Perasaannya lega seketika.


Kira menggigit bibir dan memutar kepalanya ke arah suaminya yang belum mengubah ekspresinya. Tajam dan menegang. Buku-buku jarinya mengepal di bawah lengan kekarnya.


"Jika kau sudah membuat Martin bangkrut, sekarang kau tinggal menghukumku! Aku bahkan siap untuk kau penjarakan saat ini juga, Ris!" Viona tersenyum, lalu dilihatnya lagi bayi rupawan yang tengah tertidur dengan pulasnya.


"Dia bukan milikmu. Itu milik Martin," Viona mengalihkan pandangannya ke Harris lagi.


"Setelah Martin bangkrut dan menghilang, aku sama sekali tak mendapat pekerjaan. Aku bingung waktu itu, setelah Kristal yang tidak punya ayah, haruskan bayiku ini juga tidak merasakan kasih sayang seorang ayah lagi? Oleh karenanya, aku kembali ke rumahmu dan kupikir, kau akan senang setelah aku kembali dalam keadaan mengandung. Tapi nyatanya, kau benar-benar telah menggantikan posisiku!" Viona tertawa miris.


Setitik penyesalan menggurat jelas di sudut mata Viona. Tetapi, dia bersumpah akan menguburnya dalam-dalam. Dia tak ingin lagi menjadi wanita yang buruk. Sesulit apapun, dia akan melupakan mantan kekasihnya ini.


"Aku menunggu keputusanmu, Ris. Hukumlah diriku yang tak tahu malu ini. Aku sudah membuatmu celaka tapi masih berani mengemis dan makan dari jerih payahmu," Sambung Viona saat tak ada yang menyahuti ucapannya. Bahkan Johan memunggungi dirinya. Viona hanya tersenyum singkat melihat ini.


Harris menghela napas, terdengar nyaring di telinga Kira. Meski Kira tidak menoleh, tapi Kira tahu, suaminya kini tengah diambang kemarahan yang memuncak. Dan sedang mencoba meredam amarahnya. Jujur saja, dia sangat terkejut mendengar penuturan Viona. Apalagi Harris, dia pasti merasa terhianati dan dibodohi.


Kira membalik badannya, dada bidang suaminya terlihat naik turun dengan cepat. Rahangnya yang mengeras terlihat sekali kalau dia sedang mengetatkan barisan giginya.


Kira melangkah menyisakan jarak sejengkal dari tubuh suaminya. Meski dia sudah tinggi, tapi, dia harus mengangkat wajahnya agar bisa melihat dengan jelas ke dalam manik mata suaminya. Kira menunduk untuk mengambil telapak tangan yang langsung menenggelamkan jemarinya yang lentik. Diusapnya tangan itu dengan lembut, kehangatan menjalari seluruh ruang di hatinya.


"Aku tahu Abang marah, tapi, pertimbangkan dengan hati-hati apa yang menjadi keputusan Abang," Ucap Kira pelan. "Aku tahu Abang memiliki sisi hati yang lembut."


"Jo, ikut aku," Harris mematahkan lehernya ke arah pintu. Mengisyaratkan mereka ingin bicara tanpa gangguan wanita penakluk ini.


Johan terkejut, seakan dia disadarkan dari pengaruh sihir. Hingga manik matanya membulat sempurna. Namun, dia sudah hafal dengan gestur atasannya,  sehingga dia langsung mengikuti kemana Harris melangkah.


Dalam hati Johan menimbang, sebenarnya dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak mengerti perasaannya. Johan sudah tahu sejak lama mengenai apa yang di sampaikan Viona. Bahkan dia sangat membenci Viona karena hal ini. Tapi, kemana kebencian itu menguap?


Bahkan, Johan yang kelabakan saat Viona mengalami kontraksi. Dirinya juga yang panik kesana kemari menyiapkan kebutuhan Viona untuk dibawa ke rumah sakit. Kenapa dia menjadi sangat perhatian dengan wanita itu?


Harris berhenti di selasar rumah sakit yang tampak lengang. Sekiranya tidak menarik perhatian orang yang lalu lalang. Dia membalik badannya, untuk menghadapi Johan. Tetapi, Johan rupanya masih asyik dengan pikirannya sehingga dia tidak menyadari hampir menubruk Harris.


"Perhatikan langkahmu," Seru Harris saat tubuh Johan nyaris beradu dengannya. Menyisakan jarak sejengkal saja.


Johan gelagapan saat mendengar seruan yang begitu nyaring di telingannya. Manik matanya memutar untuk menormalkan kegugupannya. Kelopak matanya mengayun naik turun, seolah menghalau ketidaknyamanan dalam hatinya.


"Maaf, Tuan," Johan bersegera menundukkan kepalanya, "Saya sedang memikirkan sesuatu."


"Sejak kapan kau berpikir sampai tidak tahu kemana kakimu melangkah? Istrimu selingkuh?" Ucap Harris masih dengan tatapan tajam. Meski perkataannya adalah sebuah candaan.


Johan mengangkat kepalanya, terheran-heran dengan ucapan atasannya ini. Bukankah dia tahu kalau Johan adalah seorang duda?


"Saya belum menikah lagi, Tuan. Mana mungkin saya diselingkuhi?" Johan menyatukan kedua alisnya, sampai kerutan di dahinya bertumpuk-tumpuk.


"Kau seperti pria yang diselingkuhi, melihat raut wajahmu yang tidak mengenakkan itu, semakin tidak enak saja kau terlihat!" Seru Harris dengan wajah masam. Tangannya yang sudah mengepal sedikit terangkat, siap melayang kepada Johan.


Keduanya beradu pandang dalam tatapan tajam, seakan saling menyelami pikiran masing-masing.


"Apa keputusan anda, Tuan?" Tanya Johan. Dia memalingkan wajah ke sisi luar bangunan rumah sakit ini. Tangannya meraih besi pembatas. Ditariknya tubuh kekar itu mendekat ke tepi, sehingga tampak olehnya bagian bawah rumah sakit ini.


Harrispun melakukan hal yang sama. "Kau tahu bukan? Aku meregang nyawa akibat ulahnya! Bukankah hal yang wajar jika aku memenjarakan dia?"


Johan terkesiap, "Tapi Tuan, apa anda tega memisahkan bayi itu dengan ibunya?"


"Dia bisa membawanya serta ke sana! Bukankah dia sudah mengakui dan menyerahkan diri?" Ujar Harris, "Aku akan menelpon Hendra agar segera mengurus ini."


Usai berkata demikian, Harris segera melenggang meninggalkan Johan yang tak sanggup mengucap sepatah katapun.


Hatinya seketika kalut, hatinya terbagi menjadi tiga sisi, atasannya, Viona dan sisi hatinya yang belum bisa dimengerti.


Untuk pertama kalinya, dia harus menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dari Harris. Entah apa yang akan dilakukan Harris padanya jika tahu bahwa dirinya sekarang di bawah arahan Toni. Si Asisten Wisnu Dirgantara.