Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Life Goes On 2


Terinspirasi lagunya BTS yang berjudul Life Goes On.




Rian meletakkan Nisa di belakang, dan duduk di belakang kursi kemudi, di bawah tatapan penuh amarah dari Melisa.


"Rian?" Tegur Ibu hati-hati, kebetulan Ibu baru saja pulang dari rumah kerabatnya. Ibu terlihat was-was, "Ada apa, Nak? Kau mau kemana?"


"Nisa kebentur lemari, Bu! Rian tidak punya waktu untuk menjelaskan," Jawab Rian sembari menyalakan mesin mobilnya.


"Ibu ikut, Nak!" Ibu berlari kecil ke bagian belakang. Tangannya nyaris menyentuh handle pintu mobil.


"Tidak usah, Bu! Jaga Sia saja," Rian segera memacu mobilnya menuju klinik yang berada kurang dari satu kilometer dari rumah Rian.


"Ini pasti ulahmu? Iya kan?" Tuduh Ibu kepada Melisa yang masih mengepalkan tangan. Matanya masih membola dengan amarah berkilat di permukaannya, mengikuti mobil Rian yang sudah menjauh.


"Iya, kenapa Bu? Ibu mau membela pengasuh itu juga?" Teriak Melisa di hadapan Ibunya. Tangannya mengepal sempurna, geram.


"Tidak tahu terimakasih, jika tidak ada Nisa siapa yang akan mengasuh Sia?" Bentak Ibu. Keduanya sedang beradu mata, melebar sempurna dan tajam.


"Aku membayarnya, Bu! Untuk apa aku berterimakasih?" Balas Melisa tak kalah keras.


"Untuk kasih sayang yang tidak Sia dapatkan darimu! Kau tahu, Kira saja dengan tiga anaknya bisa mengurus rumah dan suaminya, dan kau? Anak masih bayi saja, sok-sokan pakai pengasuh!" Ibu mencibir, sembari meneliti Melisa dari atas ke bawah.


"Jangan sebut nama itu di depanku, Bu! Aku muak mendengarnya," Melisa meremas telinga dengan frustrasi, seakan nama itu menjadi bisul dalam telinga Melisa. Menyakitkan.


"Ibu akan terus menyebut namanya. Karena memang dia lah yang pantas menjadi istri Rian, bukan kamu!" Ibu mendorong bahu Melisa yang masih kembang kempis menahan amarah.


Napas Melisa semakin cepat, seakan ingin meledak. Wajahnya memerah akibat amarahnya yang berkumpul jadi satu. "Aaaaa, kalian semua kurang ajar!"


Prang!


Pyar!


Thar!


Ibu dan Bik Sumi berlarian ke ruang tamu. Melihat guci dan vas kesayangan Ibu sudah hancur berkeping-keping. Melisa seperti orang kesurupan. Apa saja yang ada di depannya, dilemparkan sembarangan. Bahkan ada yang mengenai kaca jendela. Beberapa luka akibat percikan dari serpihan itu mengenai kaki dan lengan Melisa. Mengeluarkan darah. Melisa masih meraung sambil menyebut nama Kira saat akan melempar barang.


"Orang gila! Pergi kau dari rumahku! Ya ampun, ini guci mahal!" Ibu tergopoh-gopoh mendekati serpihan kecil-kecil di lantai. Tak bisa dikatakan lagi betapa marahnya Nyonya Atmaja melihat semua barang kesayangannya sudah tak berbentuk lagi.


"Kau wanita kurang ajar," Ibu bangkit dengan susah payah. Tubuhnya menjadi lemah saat amarah menguasai dirinya. Sekuat tenaga dia berdiri, dan berusaha menghentikan Melisa. Namun, karena tidak waspada, Ibu terkena lemparan vas kecil dari kaca, di kepala bagian depan.


"Awh. Dasar wanita i****!" Ucap Ibu sambil memegangi kepalanya. Terasa basah dan hangat.


Melisa menghentikan aksinya, saat mertuanya merosot, terkulai lemas, dan tidak sadarkan diri. Melisa melepaskan vas kaca di tangannya, meluncur dengan cepat, dan pecah. Berhamburan.


Melisa panik, saat Bik Sumi berlari usai memanggil Mang Kusno yang berada di belakang rumah.


"Ibu, Ya ampun! Gusti! Bu Atmaja," Teriak Bik Sumi sambil menggedong Sia dengan kain jarik, di sisi kiri tubuhnya. "Pak! Bapak, cepat tolong Ibu, Ibu pingsan, Pak,"


Mang Kusno menganga, rumah yang baru beberapa saat lalu di bersihkannya sudah menjadi lautan beling. Mang Kusno masih terkejut, dengan apa yang di lihatnya. Dia membeku di tempat.


"Pak, ayo cepat! Bawa Ibu ke kamar, aku mau menghubungi Mas Rian dulu," Mang Kusno terkesiap lalu bergegas menuju istrinya yang sedang berlutut di samping majikannya.


"Hati-hati, Pak! Pelan-pelan!" Bik Sumi segera beranjak mengikuti suaminya yang tengah mengangkat tubuh Ibu Atmaja.


Melisa gemetar ketakutan, melihat darah yang tertinggal di lantai. Tubuhnya merosot, antara lelah usai mengamuk juga karena kakinya terasa sakit. Pikirannya kacau dan bingung.


Perlahan dia bangun saat di rasa dirinya sudah lebih tenang. Melisa merayap di lemari kaca, menopang tubuhnya di sana, sambi terus berjalan. Keretak beling dan serpihan guci juga vas porselain yang terinjak oleh sandalnya, seakan mengiris hati.


Tetapi, saat Melisa baru sampai di ujung tangga, Ayah mertuanya tiba dengan wajah cemas. Tubuhnya yang sudah ringkih itu terpaksa harus berlari agar lebih cepat sampai.


Ayah Atmaja yang terlihat tenang dan kalem sepanjang waktu itu, terkesima melihat pemandangan yang menyakiti mata.


"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Teriak Ayah Atmaja pada Melisa yang menekan tubuhnya ke kayu pembatas tangga. Melihat Ayah Mertuanya yang tak pernah marah itu, terlihat di penuhi emosi, Melisa ketakutan.


"Jawab? Apa kurang kami memberimu tempat di sini? Kau sudah cukup melewati batasmu! Setelah ini, pikirkan kau akan kemana! Kami tidak menampung wanita sepertimu!" Ucap Ayah Atmaja dengan wajah yang memutih. Seakan darah tidak mengaliri wajahnya.


"A-Ayah, tolong maafkan aku, Yah! Aku tidak sengaja! A-aku, ta-tadi ha-hanya terbawa emosi, Yah!" Ujar Melisa ketakutan, hingga bibir dan suaranya bergetar hebat.


Ayah yang sedianya akan melangkah ke kamar, menahan langkahnya sejenak. "Kali ini kau sudah kelewatan, Mel! Ayah sudah tidak bisa menolerir tindakanmu yang membahayakan orang lain! Bahkan Ibu mertuamu sendiri!"


"Semua keputusan ada di tangan Rian! Ayah harap kau bisa menerima apapun keputusannya," Sambung Ayah Atmaja tanpa menoleh atau melirik Melisa barang sekejap.


Melisa terpaku, pikirannya kosong, kalut dan berkabut. Terpuruk di kaki tangga. Kemana dia akan pergi? Apa yang akan di lakukannya jika Rian mencampakkannya? Tidak, dia harus memohon, menghiba dan bersujud di kaki suaminya. Melisa tidak boleh di buang. Melisalah yang mencampakkan.


Melisa segera bangkit dan membersihkan diri. Dia harus menemui suaminya, meski harus merendahkan dirinya.


***


Perlahan, kelopak mata Ibu Atmaja terbuka, lalu mengerjap. Menyesuaikan dengan cahaya yang sebenarnya tidak menyilaukan. Bik Sumi meletakkan Sia yang sudah terlelap di sisi neneknya. Tangan lembut bayi itu menimpa lengan Neneknya. Seakan membangunkan Nenek yang kini mulai menyayanginya.


"Ibu jangan bangun dulu, Ibu baru saja sadar!" Bik Sumi menahan bahu Ibu dengan kedua tangannya saat Ibu berusaha bangun. Tangan Ibu memijat pelan keningnya yang terasa pusing dan pandanganya buram. Tetapi tidak dengan ingatannya. Ibu langsung ingat pada perabotan mahal yang di koleksi selama berpuluh tahun.


"Kemana wanita itu?" Tanya Ibu pada Bik Sumi. Tatapannya benar-benar di lingkupi kemurkaan.


"Mungkin masih diluar, Bu!" Jawab Bik Sumi.


"Ibu, bagaimana keadaan Ibu?" Ayah yang baru sampai bergegas menghampiri istrinya yang terbaring lemah di ranjang.


"Ibu, baru sadar, Pak! Sebaiknya di bawa ke klinik, Nisa juga di bawa ke klinik oleh Mas Rian!" Jawab Bi Sumi. Dia sedikit menjauh dari ranjang, membiarkan majikannya memeriksa sendiri keadaan istrinya.


Ayah melihat wajah Ibu yang pucat. Darah kering masih membekas di rambutnya yang memutih di pangkalnya.


"Nisa kenapa Bik?" Tanya Ayah sambil mengusap rambut Ibu yang berantakan.


"Terbentur lemari kata Rian, Yah!" Sahut Ibu. "Ulah Melisa, Yah! Siapa lagi!" Sambung Ibu yang melihat Ayah mengernyit keheranan.


Baru saja Ayah akan menyaut, Rian masuk ke kamar dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Tanpa berucap, Rian menghampiri Ibunya.


"Kita bawa Ibu ke klinik saja, Yah!" Ucap Rian langsung mengerti apa yang sedang terjadi. Rian tidak mau ambil resiko dengan keadaan Ibunya.


"Iya, Yan! Ayah juga berpikir begitu! Ayah khawatir dengan keadaan Ibumu, Yan!" Ucap Ayah sambil memandang Ibu penuh kasih. Dan itu berhasil membuat Ibu terharu, dia merasa selama menjadi istri Ayah, Ibu belum pernah memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Istri hanya status saja, dia tidak pernah berbakti pada suaminya. Belum pernah. Ibu tergugu dalam diam.