Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Cepatlah Besar


Sebuah mobil terparkir di halaman sebuah rumah yang terlihat rapi. Turun dari sana, seorang pria berbadan kekar, di ikuti dua orang lain yang berpostur sama.


Mereka di sambut oleh beberapa orang yang juga tengah bersiaga penuh di depan hingga ke dalam rumah.


Dia langsung merangsek masuk tanpa banyak bicara. Hingga sampai di pintu abu-abu gelap dan besar, menyaru dengan baik dengan warna dinding yang memang memiliki cat serupa. Pintu itu menggeser berat secara otomatis ketika sensor mendeteksi beban di depannya. Deraknya menggetarkan hati.


Ketika kaki melangkah masuk, cahaya benderang menyala berkala hingga ke ujung lorong. Temaram biru bersilak putih kembali lenyap saat kaki melangkah menjauh. Gelap, seakan ruang hampa di belakangnya. Jika belum terbiasa, anda pasti ketakutan. Seakan ada kegelapan yang memburumu.


Derap langkah Doni menggema ketika dia menuruni undakan yang juga mengeluarkan cahaya. Meliuk sebentar sebelum sampai di ruangan yang terang benderang. Ruangan ini berada di bawah tanah, tetapi atapnya menyembul ke permukaan tanah mirip rumah kerdil. Luas dan bersih. Juga kosong. Hanya ada kursi dan boks sebagai ganti meja.


Cahaya terang benderang ini bukan dari lampu tapi, dari terik matahari yang meluncur masuk saat atap kaca tebal menggeser terbuka. Bahkan jika tertutup akan lebih menyiksa. Terlebih, jika pendingin ruangan itu di matikan.


Di tengah ruangan itu ada dua orang yang sedang terpanggang oleh matahari di balik atap kaca yang menutup. Panas. Keduanya seakan kering. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya seakan seluruh cairan itu di peras habis. Baju mereka sudah basah oleh resapan keringat.


Doni menghela nafas, "Anda tak seharusnya mengusik singa yang sudah jinak, Tuan!"


Doni tersenyum sinis, sambil membuka penutup mulut Tuan Winata. Pria kharismatik itu meraup udara sebanyak-banyaknya. Wajahnya merah terbakar dan bibirnya kering, dan memutih.


"Aku tidak melukai wanita itu! Kalian tak seharusnya menghukumku seperti ini!" Ucap Tuan Winata terbata-bata. Tenggorokannya yang kering, terasa perih saat dia berbicara. Bahkan tak ada saliva yang mampu mengurangi rasa dahaga itu.


Doni tersenyum miring, "Secara langsung tidak, dan, belum!"


Doni menurunkan wajahnya sejajar dengan Tuan Winata yang diikat ketat di kursi besi terhubung dengan lantai di bawahnya. Doni meliukkan wajahnya dengan sinis di depan hidung besar Tuan Winata.


"Sayang sekali, Nona menyerahkan hukuman anda kepada Tuan Harris. Jadi saya rasa tidak ada keringanan dalam hal ini!"


Doni beralih ke kursi di sebelahnya. Riana duduk dengan kondisi yang sama. Doni menarik rambut Riana dan menyangga dagu Riana sedikit mencengkeram, menancapkan kukunya yang tajam.


"Nasib anda sungguh baik, Nona! Anda harus menunggu Nonaku setidaknya sampai dia melahirkan keturunan Tuan Harris, baru dia akan membalasmu! Sembilan bulan di sini, kurasa akan membuat kita semakin akrab!" Ucap Doni tegas dan penuh penekanan.


"Tenang, Nona! Kami, punya kualifikasi sendiri tentang wanita! J***** kecil seperti anda tak membuat kami tertarik! Walau kami bawahan, Tuan Harris selalu menekankan untuk tidak melecehkan sandera wanita!" Sambung Doni saat Riana membelalak lebar. Ketakutan.


"Baiklah, kurasa hari ini segera kita mulai! Pernah mendengar jika sinar matahari baik untuk kesehatan?" Doni menegakkan badan.


"Dan untuk anda Nona, orang barat menyukai kulit cokelat eksotis! Aku bermurah hati untuk membantu anda meningkatkan nilai anda, Nona!"


Doni menekan tombol dari alat kendali jarak jauh yang baru saja di ambilnya dari sebuah laci. Atap kaca itu terbuka, dan sinar matahari langsung mengguyur tubuh mereka.


"Lepaskan aku, B*****!" Teriak Tuan Winata, napasnya terengah-engah. Nyeri bagai di hujani ribuan jarum yang menancap di kepala hingga punggung pria itu.


"Oh, aku lupa," Doni menepuk keningnya. Dia mengambil boto air mineral. Lalu melangkah mendekati mereka lagi. Doni meletakkan botol air minum itu di bibir Tuan Winata. Dia menenggaknya dengan rakus.


"Anda harus tetap hidup, sampai Nona sehat lagi! Dan tugasku, memastikan kalian masih hidup!" Ucap Doni sambil menutup botol itu.


Tuan Winata menyemburkan sisa air yang masih berada di mulutnya ke arah Doni. Namun Doni hanya tertawa.


"Kau sudah minum satu botol penuh, Tuan! Jadi, kurasa sampai sore anda masih bisa bertahan,"


Doni menyodorkan botol air ke arah Riana. Riana memandang botol itu bimbang. Namun, akhirnya Riana mengangkat wajahnya, menengadah ke arah Doni penuh pengharapan.


"Wow, srigala kecil ini, kehausan rupanya!" Doni tersenyum sambil menaikkan alisnya. Penutup mulut itu di buka, dan Doni sedikit memberi efek dramatis, memainkan botol itu maju mundur saat akan dicapai bibir Riana.


Doni tertawa lagi, saat Riana mulai kesal. Dia membuang wajahnya kesamping. Hingga akhirnya Doni benar-benar membuat Riana minum. Sama dengan Tuan Winata, Riana menghabiskan satu botol penuh air. Dia minum dengan air mata berurai. Entah apa yang di tangisi, tapi, Doni tidak ingin melunak padanya.


"Selamat mandi sinar matahari, Tuan dan Nona! Sayang sekali, kalian tidak boleh ngobrol!" Doni merobek perekat dan menempelkan di bibir keduanya.


Doni tersenyum sambil melangkah naik lagi. Membiarkan matahari bercengkrama dengan mereka.


"Semoga kalian jera," Gumam Doni, sambil terus melangkah.


****


Johan dan beberapa anak buah Harris masih berjaga di sekitar Klinik. Usai mengurus Angga dan Nisa yang sudah meninggalkan Klinik saat Kira di periksa, Johan duduk di kursi panjang di selasar klinik. Meski Harris memerintahkannya untuk beristirahat, tapi, Johan memilih tetap siaga.


Rombongan kecil minus Nina, berjalan tergesa-gesa memasuki Klinik yang cukup ramai pada siang menjelang sore.


"Nak Jo, bagaimana keadaan Kira, Nak?" Ayah melangkah panjang-panjang agar segera sampai di posisi Johan yang berdiri menyambutnya. Begitupun dengan Ibu, wanita yang tampak tegar sepanjang waktu itu, menatap Johan penuh harap. Berharap kabar baik yang di sampaikan oleh Johan.


"Nyonya baik-baik saja, Yah! Sekarang Nyonya sedang beristirahat!" Ucap Johan sambil tersenyum, menenangkan Ayah yang sangat cemas.


Ayah terlihat lega, "Ayah ingin melihatnya sekarang! Di mana kamarnya?"


Bukan hanya Ayah, ketiga bocah itu tampak cemas dan tegang. Bahkan mata bening Jen sudah memerah dengan embun yang mulai menitik. Dia menempel di kaki Kakeknya. Sesekali terisak. Di sebelahnya, Kristal memegang tangan Uti.


"Mari Yah, Jo antar ke kamar Nyonya!" Johan mempersilakan Ayah berjalan lebih dahulu. Dia sendiri menggandeng Excel dan Jeje, berjalan paling belakang. Johan perlu bicara dengan keduanya.


Johan melambatkan langkahnya, Viona yang juga turut serta, mengulas senyum keragu-raguan saat keduanya bertemu pandang.


"Hai Vi," Sapa Johan sambil tersenyum. Viona membalas dengan senyum lebar. Ia segera menyusul Ibu yang setengah menantinya.


"Kami takut Mama kenapa-napa, Paman! Kami lalai menjaga Mama!" Ucap Jeje, menahan tangisnya di kerongkongan.


"Jeje harus ingat, ada Papa dan Paman Jo yang selalu menjaga Mama! Dan Mama kan Wonder Woman kalian! Kalian tidak lupa 'kan?" Johan mengusap rambut kedua bocah yang amat di sayanginya. Seperti anaknya sendiri.


"Tapi kenapa Mama masih terluka jika kalian sudah menjaganya?" Bantah Jeje. Dia terlihat sangat tidak bersahabat kali ini.


Johan tersenyum, "Maafkan Paman, seharusnya Paman hari itu ikut dengan Papa dan Mama! Setelah ini, Paman janji tidak akan mengendurkan penjagaan pada Mama!"


Jeje terdiam sesaat, dia menengadah ke arah Johan yang menunduk. Johan mengatakan, "Bagaimana" dengan alis yang terangkat.


"Sungguhkah?"


Johan mengangguk, sambil meletakan telunjuk dan jari tengah di samping pipinya, "Paman berjanji!"


***


Harris menyangga kepalanya dengan telapak tangannya. Dia tengah melukis wajah istrinya melalui lekukan hidung dan bibirnya. Menikmati benar wajah ayu yang selalu membuatnya, lupa segalanya. Tak ada yang istimewa, tapi membuatnya sekarat saat berjauhan darinya. Mata yang terpejam itu, melumpuhkannya.


Tak tahan untuk menciumnya, Harris mendaratkan lagi kecupan di sisi mata yang menyudut itu. Sungguh, rindunya tak pernah reda meski sepanjang harinya, memeluknya seperti ini.


Harris merasa sempurna, selalu merasa menjadi lelaki sepenuhnya, saat bersama Kira. Seakan menjadi rumah dan tempatnya kembali. Harris selalu suka wanita yang membagi hati dengannya, sehingga dia merasa "ada" dan berguna.


Harris menghentikan gerakan tangan di pipi bersemu biru keunguan. Ketika dilihatnya sudut bibir itu mendesis dan meringis menahan sakit. Harris mengusap pelan, bagian atas perut yang mengalami trauma. Mungkin efek obatnya sudah pudar.


"Mana yang sakit, Sayang?" Bisik Harris saat Kira mengerjap. Kira menggeleng pelan.


"Abang sudah bangun?" Suaranya serak, diikuti deheman kecil. Dia tidur terlalu dalam.


"Hem, minum yah!" Harris meraih botol dengan sedotan bengkok, dan dengan sabar menyodorkan di bibir Kira. Dia masih sibuk mengucek matanya.


Jauh sekali perjalanannya dalam mimpi. Seolah dia masih berlari dalam kejaran Tuan Winata. Lelah di kakinya terasa semakin berat. Bedanya, perutnya tak lagi mengganjal. Terasa ringan.


"Kau mirip unta yang baru saja melintasi gurun," Harris terkekeh melihat betapa rakusnya istrinya itu saat minum.


Buru-buru Kira menghentikan tegukannya, dan merengut.


"Aku hanya bercanda, Yang! Masa gitu aja marah?" Harris mengecup bibir yang mengerut itu.


"Aku akan sering marah dan ngambek saat hamil, Bang! Abang harus siapkan hati, jika sewaktu-waktu anakmu ngambek!"


"Apa ini semacam ancaman atau sebuah peringatan? Kok aku ngga takut sama sekali? Bahkan aku menunggu saat ini! Marah saja, kalau kau ingin marah! Marahi aku semaumu, Yang!" Harris terkekeh lagi.


Kira mengusap perutnya, "Sayang, dengerin Papa tuh! Papa senang kalau kamu membuatnya marah!"


"Hai Baby, cepatlah besar di perut Mama! Papa gemes mau lihat kamu di dalam sana!" Harris menumpuk tangannya di atas jemari istrinya dan menautkannya. Bergerak seirama.


Kira mendongak, melihat tetesan tinta seperti di penuhi kerlipan bintang. Seakan kebahagiaannya mengambang di sana.


"Terima kasih sudah menghujaniku dengan ribuan kebahagiaan!" Kira menarik dagunya ke atas. Ingin meraih madunya.


Harris menunduk, menyambut. Keduanya larut. Melarutkan rindu yang teramat dalam. Menuju dunia mereka sendiri.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Akira! Kau yang membuatku sempurna! Kau adalah mimpiku yang menjadi nyata!" Harris menatap dalam. Sebelum kecupan hangat dan dalam merambat menyusup. Kira memejamkan mata, dan berpegangan. Arusnya terlalu deras.


"Ekhem,"


.


.


.


.


Hai lagi, maafkan author yang baru up. Aduh pikirannya author kemana-mana nih😣


Riset sana sini. Berhubung ini udah ratusan episode, author mulai mempertimbangkan karya baru author. Semoga ini masih bisa di terima yak.πŸ₯°


Author juga merasa kalau kalian udah bosen dengan kebucinan Abang sama Mama Kira. 🀣


Author hanya ingin alurnya ngga lompat-lompatan, jadi ngga bikin bingung. Meski akhirnya, pada bingung juga.


Okey, yang mau Riana kena hukuman, mohon sabar.


Untuk semua yang masih setia sama BWW, Author ucapkan terimakasih. Love you semuanya, 😘😘😘