Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Gue Nikah Cari Istri


Sementara di ruang kerja Harris, Hendra tengah menghisap sebatang rokok, mungkin itu yang ketiga.


"Kau mengotori ruanganku, Ndra! Keluar sana jika mau merokok, aku ngga mau anakku terpapar asap rokok yang menempel di bajuku," Harris mengibaskan tangannya dan menggeser tubuhnya menjauhi Hendra. Mereka duduk di sofa melingkari meja.


Hendra mendesis, "Lo sama aja dengan Vivian, ini ngga boleh, itu ngga boleh, nanti kena Almeer," Hendra menirukan logat bicara Vivian.


"Emang bener kan? Dia anakmu juga, kau mau sesuatu terjadi sama Almeer?" Harris memandang Hendra penuh keheranan.


"Kesel gua, dia cerewet sekali. Kaya gua ngga tau apa-apa gitu!" Hendra mematikan rokoknya yang masih separuh, mengadunya sekuat tenaga dengan asbak beling yang berada di meja. Menumpahkan kekesalan yang seakan tak pernah tuntas sejak menikah.


"Emang kau tidak tahu apa-apa! Jadi jangan sok tahu," Seru Harris yang ikut kesal dengan sikap Hendra yang terlalu sensitif. "Yang dilakukan Vivian untuk kebaikan Almeer. Coba kau ingat, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat bersama Almeer atau saat kalian bersama?"


Hendra terdiam, dia enggan membawa ingatannya mengingat kembali tentang do and don't ketika dia bersama Almeer, tetapi sekelebat bayangan muncul begitu saja.


"Masih ngga mau mengakui jika Almeer anakmu? Masih mau kukuh dengan ucapanmu bahwa Vivian sama aja dengan wanita lain? Yakin dia udah ngga suci lagi saat kalian melakukannya pertama kali? Yakin cuma sekali? Dan," Harris mendekat ke arah Hendra yang masih terpaku, "Yakin kau mabuk hari itu?"


Hendra terperanjat, kegugupan nampak di wajah Hendra. Namun, berbohongpun percuma, Harris mengenalnya melebihi siapapun. Hendra membenarkan posisi duduknya sambil berdehem.


"Lo emang mengenal gua banget, kenapa kita ngga nikah aja ya?" Harris memukul lengan Hendra dengan keras.


"Aku masih waras untuk membedakan nikmat dan sesat,"


Hendra terkekeh, "Gue jarang minum sejak jabatan gue naik, lebih tepatnya ngga sempat. Pas waktu di klub, gue emang sedikit mabuk, dan Vivian merayu gue duluan. Ya, gue kan normal, ya udah dia yang minta, ya gua ladenin lah!"


"Kurang ajar lo, Ndra! Udah kaya gitu, masih ngga mau ngakuin dia anak lo lagi," Harris memukul lagi lengan Hendra. Kesal dengan temannya yang seperti pecundang.


Hendra meringis, "Gue yakin, itu jebakan dia, pas gue keluar dari apartemennya, udah ada bokap gue! Langsung gue di sidang dan di ajak melamar Vivian. Emang sih, semua demi reputasi gue dan keluarga besar gue dan dia, tapi aneh aja, darimana bokap gue tahu gue di sana,"


"Apapun alasannya, lo ngga bisa seenaknya nyakitin Vivian. Lagian udah ada Almeer, dan jika lo ngga dipaksa nikah, lo bakal jadi bujang lapuk!" Harris yang kesal akhirnya kembali ke dirinya dulu. Menggunakan "lo-gue", sebagai bahasa kenegaraan saat berkumpul di luar jam kerja.


"Bukan maksud gue buat nyakitin dia, tapi gue belum bisa nerima dia. Wajar dong kalau gue butuh waktu!" Hendra menyandarkan tubuhnya sedikit keras. "Apalagi, gue ngga suka istri gue kerja, gue suka istri gue di rumah, masakin gue, ngurusin anak-anak gue, kaya istri lo!"


Harris menggelengkan kepalanya, heran dan juga bangga. Bukan hanya Johan dan Rio yang diam-diam menyukai istrinya tapi Hendra juga.


"Kalau lo pengen istri kaya gitu, nikah aja sama pembantu." Hendra membeliak, "Asal lo tahu, Kira ngga pernah masak, juga suka keluyuran. Bahkan gue suruh dia ngurus Giant beberapa waktu lalu. Gue nikah, cari istri yang mau diajak maju, yang nyenengin gue, bukan cari pembantu yang ngurusin rumah mulu. Apa gunanya lo kerja dan banyak harta kalau bini lo masih masak? Pelit lo."


Hendra mengerjap sementara Harris mengatur napas karena ia berbicara terlalu panjang dan penuh kekesalan.


"Lo tau kan Vivian itu udah menderita karena tekanan dari keluarganya. Apalagi dia pernah kehilangan kekasihnya sebelum pernikahannya beberapa tahun lalu. Masih tega lo nyakitin dia? Atau lo nunggu Vivian dan Almeer ninggalin lo?"


Hendra masih terpaku, tiba-tiba dadanya bergemuruh saat mendengar Vivian akan meninggalkan dia. Perlahan, Hendra menatap Harris yang masih memancarkan ancaman.


"Apa iya gue sekejam itu sama dia? Gue hanya menghindari dia karena kesal dengan ocehannya saja!" Ujar Hendra sendu.


Harris masih menebarkan ancaman lewat sorot matanya. Tujuannya murni untuk kebaikan Hendra dan Vivian, meski dalam hati dia juga sedikit mendapat manfaat, setidaknya Hendra bisa melupakan Kira. Hendra membasahi bibirnya yang kelu, dia masih ragu untuk membuka hatinya pada Vivian, tapi dia juga tak sanggup berpisah dari Almeer, anaknya.


***


Jamuan makan siang sengaja disiapkan untuk Hendra dan Vivian. Nina yang sekarang sibuk dengan toko online-nya, baru sempat menengok keponakannya lagi. Dia begitu terhenyak saat melihat Vivian dan Hendra.


"Nina, ayo ikut gabung sini," Ucap Tuan Dirga membuyarkan lamuan Nina.


"Iya, Paman!" Nina mengerjap kebingungan. Tapi dia tak mampu menolak.


Nina berjalan mendekati meja makan, dia duduk di sebelah Jen, satu kursi bersela dari kakaknya, "Sini Mbak, debay biar sama aku," ucap Nina saat melihat Kira tengah memangku bayinya saat makan.


"Kau makan saja, Nin. Dia urusanku," Tukas Harris cepat. Nina langsung mengangguk patuh pada iparnya.


Nina tersenyum kaku pada Hendra dan Vivian yang juga memangku anaknya, sebelum mengambil nasi dan berbagai menu yang menggugah selera. Nina menahan air liur saat melihat semur jengkol dan petai dengan sambal yang berwarna merah menggoda. Ada sate, kari, capcay, karedog, dan aneka masakan padang. Siapa yang ngabisin makanan sebanyak ini? Pikir Nina. Perlahan dia mengambil sate dan mulai memakannya. Ingin rasanya dia mengambil jengkol dan petai, tapi dia takut membuat orang lain tak nyaman saat berbicara dengannya.


"Siang semuanya," Sapaan dari Rio membuat semua orang menoleh.


Rio langsung duduk usai menyalami pamannya, dan melambai pada yang lain. Dia segera membalik piring dan mulai makan. Namun, dia tertegun sesaat ketika manik matanya bertemu pandang dengan Nina. Nina tersenyum kikuk sambil merendahkan kepalanya.


Tak ada obrolan, sampai makanan di piring masing-masing tandas. Satu per satu mereka meninggalkan meja makan, menyisakan Nina dan Rio yang sepertinya berlama-lama menghabiskan air minumnya. Nina membantu Rina mengemas piring kotor, seperti saat masih di rumah lama. Keduanya nampak akrab, karena mereka seumuran.


"Kemana saja kau beberapa bulan ini?" Suara Rio yang terkesan dingin membekukan Nina. Rina buru-buru kabur saat mendengar suara Rio yang tak bersahabat.


Nina memejamkan matanya singkat, suara itu begitu menyakiti perasaan Nina. Yang hampir delapan bulan lamanya tak pernah dia dengar lagi. Setelah dia mampu menguasai dirinya, Nina pun menoleh, "Pak Rio bertanya kepada saya?"


"Iya! Siapa lagi?" Rio menenggak air putih untuk melonggarkan tenggorokannya yang seakan kering. Sekilas dia melirik Nina yang tampak dingin dan acuh.


"Saya kemana dan apa yang saya lakukan, tidak penting kan bagi Pak Rio," Nina berbalik, dia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Nina tidak tahu kenapa Rio bertanya seperti itu. Apa dia perhatian atau sekedar basa basi, Nina tidak peduli. Melihatnya lagi, seperti berjalan diatas belati.


Ekor mata Rio mengikuti gerak tubuh Nina yang menjauh, dia mendengus kesal. "Sialan, kenapa aku kesel ya saat dia acuh padaku?" Tanpa sadar dia menggebrak meja dengan tangan terkepal.


Delapan bulan, Rio seperti orang gila. Nina tak pernah meninggalkan rumah, tapi dia sama sekali tak bisa ditemui. Sesekali Rio melihat Nina jalan dengan pria lain, dan juga Johan, namun, seketika hatinya terbakar. Dia mencoba mendekati wanita lain untuk menghilangkan bayangan Nina. Tetapi tak berhasil, yang ada, Nina selalu menghiasi benaknya tanpa bisa dicegah.