
Diantara ribuan pasang mata, tidak ada yang menyadari bahwa sepasang mata sedang memupuk cairan bening di ufuk mata. Seiris hati yang tergores luka. Sepotong raga yang kehilangan nyawa. Dan, sekeping jiwa yang terampas belahannya.
Sejak kemunculan, wanita yang amat di cintainya di ujung ruangan, sejak manik matanya menguntit kemana merpati itu hinggap, hingga di ujung jalan, sebuah tangan menawarkan lengannya. Sebuah bahu menawarkan sandaran untuknya. Tangan yang meraih jemari lentik nan rapuh, menariknya dari jurang yang telah dia ciptakan.
Menyesal, sebuah kata yang terlalu kejam untuknya. Kata yang semakin mengiris perasaannya. Menghujam dalam, bak anak panah melesat tepat di jantungnya. Menyiksanya perlahan, membuat jiwanya berangsur mati.
Senyum bahagia keduanya, ibarat belati tak kasat mata, di lempar tepat saat tunas-tunas harapan mulai berdaun lebat. Memangkas dahan rapuh, dan layu, akhirnya mati.
Mencoba menguatkan tulang di kakinya, yang seolah merasa enggan melihat kebahagiaan itu. Mencoba tegar, saat batinnya menyesap semua rasa sakit yang ada dan terasa nyata. Entah, sakit hati itu seperti apa, dia hanya merasa, dia sudah tidak memiliki cahaya lagi dalam hidupnya. Seolah semua kini terasa hampa.
Rahang kokoh itu semakin menegang saat kedua manik matanya, sekali lagi, di seret paksa melihat kemesraan dua insan yang tengah menjadi fokus utama acara ini. Ingin rasanya dia memejamkan matanya, tapi seolah kelopak mata ini, lupa cara mengatup. Seakan tiap detik yang merajam hatinya, sayang jika di lewatkan.
Dialah pria paling egois, paling bodoh dan, dan paling hina. Egois karena setelah mencampakkannya, dia masih memaksa wanita itu menerimanya, memaksa agar kembali padanya. Hei, dia bukan wanita bodoh, Bung.
Bodoh karena demi nikmat yang menyesatkan, dia meninggalkan wanita yang telah merelakan separuh hidup, untuk mengabdi padanya. Mempersembahkan padanya tiga kehidupan yang menyemarakkan hidupnya.
Hina, ya, dialah pria hina, yang menikmati desahan haram wanita selingkuhan, dia meninggalkan manisnya surga yang di titipkan pada wanita buruk rupa yang menjelma menjadi ratu di pelukan pria lain. Bodoh bukan? Saat kau hanya perlu menempa berlian kasar menjadi berkilau, tapi kau mengais serpihan kaca yang berkilau seperti berlian.
Menangis, diatara sorak sorai kebahagiaan. Meratapi penyesalan yang seumur hidupnya, akan selalu memberi luka.
Pun dengan wanita bergaun merah marun, yang tengah memegang gelas piala. Dia mengigit bibir, menahan perih. Saat melihat pemandangan tak kalah menyakitkan baginya. Bahkan, saat Kira melangkah masuk, wanita itu sudah berurai air mata. Meski enggan mengakui kekalahan tetapi kenyataan menamparnya. Kenyataan bahwa dia sudah tidak memiliki tempat di hati pria yang di sakitinya, berulang.
Siapa yang tidak tahu, kalau dia adalah kekasih pria yang di sana, pria yang tengah berpadu pandang dengan istrinya. Semua orang di sini tahu, dialah yang selama bertahun-tahun, menjadi pendamping pria itu saat acara seperti ini. Tetapi, sekarang, pria itu dengan lantang menyebut wanita di depannya adalah istrinya, bukan dirinya.
Bukan hanya sakit, tapi juga malu. Semua tatapan sinis, mencibir, mengejek, merendahkan, kini terarah padanya. Padanya, yang beberapa saat lalu, dengan bangga mengatakan dia mengandung anak pria itu. Sekarang, dia tidak lebih baik dari seorang penjaja kenikmatan.
Dia beringsut mundur, dan semakin tertelan kebisuan. Sendiri. Dia benar-benar sendiri. Kehilangan segalanya, semuanya, bahkan tempatnya bergantung. Setengah berlari, dengan tangan menyangga perut, dia keluar dari ruangan itu. Mual, dia bahkan mengeluarkan semua yang baru saja di telannya.
Lalu lalang orang, tak di pedulikan lagi, tidak mau mengingat bahwa dia adalah pesohor. Dia terus memacu perutnya yang bergolak hebat. Polesan make up tebal itu, luntur terguyur air mata yang meluncur tak terkendali. Jalannya yang terserak tak beraturan menyusuri halaman di mana acara itu di helat. Lemas, tak berdaya, dia sudah di buang, dan tak di anggap. Tamat sudah kisahnya dengan pria kaya yang selalu memuaskan nafsu akan kemewahan-nya. Pada akhirnya, seburuk-buruknya pria, dia pasti akan memilih wanita yang menurutnya baik, atau memberinya pengaruh yang baik.
Gempita kemeriahan acara malam ini masih menggema. Memenuhi sudut-sudut ruangan yang sunyi. Riuh rendah suara dan tawa membelah tenangnya malam yang tak pernah tidur.
Harris dan Kira masih berkeliling menyapa rekan, sahabat dan juga kolega Tuan Dirga yang sengaja di undang. Tentu saja, Tuan Dirga dengan antusias memperkenalkan menantunya.
Meski lebih banyak mengulum senyum dan sedikit bercakap-cakap, tetap saja Kira merasa lelah. Sesekali, dia mencekungkan pipinya agar tidak terlalu tegang. Betisnya sudah tidak karuan lagi rasanya, penat dan pegal. Ingin rasanya melempar sepatu hak yang hanya 7 senti itu. Demi suaminya, dia menahan sakit itu.
Seperti mengerti akan kesulitan istrinya, akhirnya Harris undur diri. Mengantar istrinya duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kalau lelah jangan di paksa, kamu yang duduk, biar mereka yang mendatangimu," Ucap Harris lembut, sembari berlutut di hadapan Kira, melepaskan sepatunya.
"Hei, jangan seperti itu, malu tau, dilihat orang," Kira membungkuk, meraih kedua lengan suaminya, agar kembali berdiri.
"Diamlah, biar ku pijat sedikit kakimu," Harris menyisihkan sedikit gaun putih yang menjuntai di kaki Kira. Meletakkan kaki langsat yang berkilat tertimpa cahaya lampu, di atas lututnya, memijatnya pelan.
Kira menggigit bibir bagian dalam, dia menunduk malu, terlebih sepertinya, berpasang-pasang mata itu menatap keduanya.
"Yang, sudah, malu ah. Dilihat banyak orang, itu," Ucap Kira yang lebih mirip desisan.
Harris menarik bibirnya sekilas, "Biar saja, aku tidak peduli."
Mengikuti isyarat telunjuk Kira yang memintanya berdiri, Harris pun mengangkat tubuhnya, dan duduk di samping Kira. Benar, setiap kepala itu sedang memperhatikan mereka. Bahkan ada yang sampai lompat-lompat agar bisa memotret bosnya yang bucin.
Kira menghadap Harris dan membetulkan posisi jas dan dasinya. "Jangan menunjukkan hal-hal yang digilai wanita, Yang. Bisa-bisa, kau di goda mereka saat di kantor."
Harris sekali lagi, mengembangkan senyum merekah di taburi kepuasan. "Dan, aku tidak akan mudah tergoda. Aku lelaki setia, Yang."
Harris menarik pipi Kira agar kuciran di bibirnya bisa mengendur. "Jangan seperti itu, aku bisa tidak tahan lho,"
Kini gantian Kira yang menahan senyum, pipinya sudah membongkar rahasia hati pemiliknya. Rona itu tak pernah berbohong. Jemari Harris sudah beralih ke dagu istrinya, perlahan Harris menarik dagu itu mendekat kepadanya. Membuat mereka saling merasakan hembusan napas masing-masing.
"Tuan," Suara Johan menginterupsi. Lagi, Johan membuat Harris kesal. Harris mendesis tertahan di belakang giginya yang berbenturan ketat.
"Apa?," Sembur Harris. Sehingga Johan mundur beberapa langkah.
"Apa salahku, kali ini?," Batin Johan.
"Ada sedikit masalah, Tuan," Johan masih bertampang tanpa dosa. Sedangkan Harris sudah seperti singa yang siap menerkam.
Johan menggeser badannya ke samping, memberi isyarat kepada Harris untuk berbicara di lain tempat.
Harris yang merasa enggan, memutar kepalanya ke arah Kira yang masih menyisakan semu merah di pipinya. Kira mengangguk, memberi izin kepada suaminya dan tidak perlu mencemaskannya.
Harris mendesah, lalu mengikuti Johan berjalan menjauhi meja di mana Kira berada. Kira memperhatikan suaminya yang tengah serius berdiskusi dengan Johan. Sesekali, di lihatnya, Harris menyangga keningnya, melipat sebelah tangannya di pinggang dan juga menoleh ke arah Kira dengan senyum lemah. Kira membalas senyuman suaminya dengan senyum merekah, tanpa tahu apa yang sedang di cemaskan suaminya.
Kira memilih bergabung di meja Ayah. Papa mertuanya dan Rio sudah bergabung di sana. Mereka berbincang akrab, bahkan Ayah dan Tuan Dirga seperti sahabat lama yang bersua kembali setelah bertahun tak jumpa. Nina, yang biasanya bawel mengomentari Kira, tiba-tiba seperti lupa cara berbicara. Dia sering tergagap dan tidak fokus. Dan itu membuat Ibu dan Kira merasa curiga.
Malam semakin larut, dan tetamu sudah banyak yang meninggalkan acara. Kira mengantar anak-anak ke sebuah mobil yang akan membawa mereka pulang. Kira sudah merasa sangat lelah dan mengantuk juga sangat lapar. Nyaris hanya sepotong kue dan setengah botol air mineral yang baru saja di teguknya, yang mengisi perutnya.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, seseorang turun, dan Harris masuk menggantikannya.
"Ayo naik," Perintah Harris.
Tanpa banyak bicara Kira naik ke dalam mobil berwarna merah mengkilap. Ini mobil paling bagus yang pernah Kira lihat. Kira tak memperhatikan kemana dia akan di bawa, saking asyiknya meneliti interior mobil.
Kira terhenyak ketika belum sampai sepuluh menit berjalan, Harris sudah menepi di sebuah area parkir terbuka.
"Kok kita ke sini, Yang?,"
•
•
•
•