Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Ditempa Ujian


"Mama ingin, kelak kalian menghargai wanita. Pacar terlebih istri kalian berdua, nanti ...."


Beberapa waktu berlalu, dan Excel masih terlihat memikirkan bagaimana kehidupan papanya, dan mungkin keputusan mama dan sang adik yang masih tampak enggan memaafkan Rian.


Excel, Jeje, dan Kira sedang duduk santai di kamar yang diperuntukkan bagi ketiga balita yang begitu aktif dan meresahkan. Belum lama tiga balita itu terlelap setelah menjelajah seisi rumah tanpa memiliki rasa bosan.


"... hati wanita itu susah sekali sembuhnya jika sudah disakiti, Sayang. Bukan karena kami itu rapuh dan lemah, tapi kami diciptakan agar lebih banyak menggunakan hati dan perasaan." Tangan Kira terulur untuk menyilakkan rambut putranya yang menjuntai di dahi. "dari hati dan perasaan kami lahir kalian yang tumbuh dengan baik dan luar biasa." Sebelah tangannya lagi meraih Jeje dan disandarkan di bahunya.


"Kalian adalah anak-anak yang kuat yang ditempa dengan banyak sekali ujian hidup. Mama harap, kalian bisa mengerti kenapa mama menolak sejumlah materi yang diberikan papa, meski itu untuk kalian. Mama membesarkan kalian tanpa uang mereka saja bisa, kok ... itu seperti ganti rugi saja kalau dipikir-pikir. Dan mama rasa itu tidak perlu, mana ada kasih sayang digantikan uang? Itu tidak sepadan, 'kan?"


Excel menghela napas untuk mencoba mengerti, Jeje mencebik seolah apa yang dikatakan mamanya itu benar, dan dia sudah melakukan itu jauh sebelum ini. Seolah telah bersikap benar selama ini.


"Mama ngga coba untuk memengaruhi kalian, ya ... mama hanya menjelaskan saja, ada hal tertentu dimana wanita bisa dibilang sulit memaafkan. Ketulusan dan pengabdiannya diabaikan. Bayangkan apa yang dilewati wanita ketika dia menerima kamu sebagai pria lain yang dicintai setelah ayahnya? Bayangkan bagaimana berat orang tua melepaskan putrinya untuk pergi mengabdi padamu? Setelah kasih sayang mereka seumur hidup, dan kamu abaikan?"


Mereka terdiam, hanya gerakan kecil diatas kasur yang berasal dari si kembar yang asyik bermain dialam mimpi.


"Jadi, bagaimana kalau wanita yang menyalahi, Ma? Apa dia juga masih pantas kita hormati, en ... dihargai begitu? Mereka tidak selamanya benar, 'kan?" Jeje bertanya, sebab ia teringat pada Jen yang sungguh menyebalkan. Dia selalu benar hanya karena perempuan satu-satunya—sebelum ada Ranu. Kalau-kalau Jen salah, dia bisa memakai kata-kata yang berasal dari mamanya kini.


"Ya, wanita itu tulang rusuk pria ... jangan kamu tekan kuat-kuat, nanti patah. Beritahu saja pelan-pelan. Ingat wanita mudah tersentuh dengan kesabaran dan perhatian kecil, ngga usah kamu bentak, ngga usah kamu kasari kecuali sudah diluar batas. Tapi tetap kamu hormati haknya, kamu hargai dia sebagai apa dia dihidup kamu. Memangnya kalau mama yang salah, kamu ngga bakal hormati mama lagi?"


"E ...." Jeje tertawa bingung. "... ya, ngga gitu juga maksudnya, Ma ... maksud Jeje tuh, misalnya pacar gitu." Ia menggaruk pangkal hidungnya saking risih dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. "Kalau mama, mana mungkin ngga Jeje hormati, mama 'kan mamanya Jeje."


"Tapi bener, loh, Ma ... aku juga berpikir, bagaimana jika wanita jadi besar kepala bila tahu kita menghormati dia berlebihan?" Excel menjauhkan kepalanya. Sedikit tidak terima juga, masa apa-apa tentang wanita, pria juga inginlah, dihargai dan dihormati.


Kira tercengang, percakapan mereka jadi merembet jauh. Dia ragu kalau anak-anak remajanya ini mengerti. "Kenapa—kenapa kalian bisa berpikir seperti itu?"


Excel dan Jeje saling pandang, lalu alis mereka terangkat dengan bola mata secara bersamaan mengarah pada mamanya.


Mata Kira membeliak, menyadari dirinyalah yang sedang dimaksudkan oleh kedua anak lelakinya ini. Lalu dengan bibir terkatup rapat, ia menarik telinga kedua anaknya ini. "Kalian nakal ya, ngatain mamanya besar kepala!"


"Eh, kita bicarakan orang lain, Ma ... mama kepedean, ih! Aduh-duh-duh ...." Jeje meringis sambil menahan tangan Kira. "Ampun, Ma ... lepasin!"


Kira masih setia dengan tangan menempel di telinga anaknya. "Kualat kamu nanti, ya ... nanti kalian berdua akan tau rasanya tunduk di bawah kaki wanita-wanita kalian!" Kira melepaskan tangannya, tetapi wajahnya tang masih terlihat memendarkan kekesalan berganti-ganti menatap kedua anaknya yang memerah wajahnya.


"Ngga akan, Ma ... kami pria dengan akal dan pikiran yang sehat, ngga kaya ... em, pria yang—au!"


Jeje kembali menegang saat telinga yang satunya lagi ditarik menjauh oleh tangan yang lebih besar. "Lepasin, Pa ...," pintanya saat menyadari pria yang dimaksudkan olehnya barusan muncul dan menyiutkan bantahan yang hendak menyembur keluar dari mulutnya.


"Sudah tidak ingin dikabulkan permintaannya, rupanya, ya?" Harris menggeramkan kalimatnya agar terkesan sedang marah.


"Eh, enggak Pa ... jangan berpikir yang bukan-bukan, maksudku pria yang lain diluar sana." Ia meringis penuh permohonan ampun, sangat takut jika permintaannya tidak dikabulkan, sementara dua saudaranya yang lain sudah mendapatkan masing-masing keinginan mereka.


Kira dan Excel yang melihat itu hanya tertawa penuh ejekan. "Kapak kamu, Je ...," ujar Kira kesenangan.


"Papa, Jeje mohon, Pa ...."


"Makanya lain kali jangan berani ngatain mama yang tidak-tidak, atau kamu akan kena hukuman dari papa!" Harris melepaskan telinga Jeje.


Kan? Jeje mencebik diam-diam, padahal hanya kata-kata yang sepele, tetapi pria yang begitu tergila-gila pada wanita di depannya ini, sudah menebar ancaman.


"Papa emang hanya sayang sama mama, padahal kami kan anak-anak yang harusnya lebih disayangi dan diperhatikan. Kan tidak masuk akal namanya!" keluh Jeje.


"Ya ... memang kalian anak-anak kami, tapi kalian ngga selamanya bersama kami. Hanya mama yang akhirnya akan menemani papa hingga tua nanti, sementara kalian, begitu menemukan wanita yang kalian cinta, pasti akan meninggalkan kami." Harris berkata memang hanya untuk candaan, tetapi Excel dan Jeje memaknai semuanya lebih dalam. Terpatri di lubuk hati mereka. Mereka tertegun beberapa saat sampai tak mampu menggerakkan tubuh mereka. Apa benar akan seperti itu?"


.


.


.


.


.