Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Belum Bukan Tidak


Dingin.


Meski dia tetap saja heran dengan keajaiban tubuhnya. Dia masih bisa bertahan tanpa makanan dua puluh empat jam. Pernahkah engkau berharap bahwa esok kau tidak membuka mata lagi? Tetapi, selalu saja, kehidupan menginginkan balasan yang sepadan atas semua tindakan buruk kita di masa lalu.


Mata menciut sebab kelopak mata yang menggusur manik matanya, perlahan terbuka. Aneh sekali. Dia merasa segar. Otot-ototnya memang masih terasa kaku, dan mengejang ketat, rasanya kakinya tidak bisa di tekuk. Semalam, usai di bawa ke balik jeruji besi, dia di tinggalkan begitu saja tanpa kejelasan. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia bisa di seret kemari. Protes? Dia enggan melakukannya.


Dentang-dentang besi yang di pukul berulang, membuat telinganya dengung. Sel besi yang mengerangkengnya, bergetar, saking kerasnya pukulan itu. Melisa mengangkat kepalanya dari bantal yang di buat dari outer yang di gulung. Ada dua orang wanita lain yang berpakaian minim bersandar di pagar besi menjulang menembus langit-langit.


Melisa beringsut bangun dan menekan tubuhnya ke dinding. Dia sama sekali tak berani melihat wanita yang memukul-mukul besi itu. Entah dari mana dia punya batang besi sekitar sejengkal itu. Ujungnya terlihat lancip dengan karat memenuhi seluruh batangnya.


Melisa membeku saat sorot mata itu perlahan bergerak ke arahnya. Kejam. Wajah itu tidak menunjukkan emosi sama sekali. Tangannya mengisyaratkan agar Melisa mendekat.


Melisa menunduk, memutus kontak mata yang terlanjur bertaut. Mau tak mau dia berdiri dan mendekat. Melisa mulai belajar dari pengalamannya, jauhilah musuhmu, setidaknya kakinya tidak mampu mencapaimu.


"Lo orang baru?" Wanita itu menegakkan tubuhnya yang semula bersandar jeruji besi kokoh, sebelah tangannya di sudutkan di pinggang.


Melisa mengangguk, meski dia tidak mengerti apa maksudnya. Tapi dia benar-benar baru. Baru berada di balik penjara yang mencekam. Tercekat. Dia bahkan belum membasahi tenggorokannya sehingga rasanya masih saling merekat.


Wanita itu mencibir, dan matanya tak henti memperhatikan Melisa. "Lo wanita kaya agaknya? Lo bunuh orang?"


Wanita itu mengubah sikap tubuhnya, kini, bersedekap.


Melisa menggeleng, rambutnya yang acak-acakan ikut bergoyang. Meski dia bukan orang baik, membunuh orang terlalu kejam untuk di pikirkan.


"Lo bisu? Gelang-geleng doang dari tadi?" Wanita itu mendekat, tapi Melisa mengambil langkah ke belakang. Gemetar.


"Lo takut sama gue?" Melisa ketakutan ketika wanita itu melihatnya dari dekat, mengelilingi wajah Melisa. Seolah-olah ingin menerkamnya. Sisa-sisa parfum khas ini sangat di kenal Melisa. Mungkin mereka berdua punya cerita hidup yang sama.


"Lo ngga usah takut sama gue! Gue ngga bakal nyakitin lo! Lagian gue cuma sebentar di sini!" Wanita itu mundur dan kembali bersandar di jeruji besi.


Belum sempat dia menjawab, seorang pria memakai seragam berwarna cokelat muda, berjalan ke arah pintu jeruji.


"Saudara Melisa, silakan anda ikut dengan saya," Perintah pria itu tegas usai membuka lebar pintu jeruji.


Melisa mengerjap bingung. Namun, dia sedikit lega. Walau bisa di bilang di dalam sana, dia merasa lebih aman.


Melisa mengait kedua tangannya di depan tubuhnya, mau tidak mau dia mengikuti pria tegap itu. Kaki yang putih mulus itu, sedikit kotor. Terbalut sempurna celana plisket semata kaki yang di pinjamnya dari temannya. Telanjang, Melisa berjalan tanpa alas kaki. Entah di mana alas kakinya jatuh atau tertinggal. Tasnya juga masih berada di tangan para polisi itu. Kusut, tanpa merapikan rambut dan badannya terasa lengket.


"Mas Rian," Melisa sangat bersyukur. Saat mendapati suaminya duduk di sebuah bangku. Dia nyaris melompat saking girangnya. Seakan menemukan cahaya di dalam pekatnya malam. Suaminya masih peduli padanya.


Melisa ingin memeluk suaminya itu. Namun, begitu Melisa mengulurkan tangannya, Rian memalingkan wajah. Dan tangannya yang semula berada di atas meja, segera di turunkan pun dengan tubuhnya yang sekarang duduk dengan tegak. Rian memperlakukan Melisa layaknya setumpuk kotoran. Jijik.


"Mas," Lirih Melisa dengan kecewa. Sakit. Lebih sakit dari ribuan anak panah menembus tubuhnya. Lebih sakit dari pada di hempaskan Kira menabrak trotoar jalan yang kasar.


"Aku ke sini hanya untuk satu hal! Cukup jawab dengan jujur dan jangan mempersulit keadaan!" Ucap Rian tegas. Dia hanya melihat Melisa sekilas. Dia takut akan merasa iba pada wanita itu.


Melisa semakin merana. Namun, dia tidak mau lagi mengharap suaminya mau menoleh padanya. Di usapnya air mata kekecewaan yang membuatnya rapuh.


"Katakan saja, Mas!" Ujar Melisa penuh ketegasan. Kedua belah tangannya saling meremas di bawah meja.


"Kau yang mengambil uang di brankas Ayah?" Tanya Rian usai memantapkan hatinya. Memasang benteng tinggi mengelilingi hatinya, sebelum menatap calon mantan istrinya.


Sejenak Melisa terkesiap. Matanya melebar sempurna. Saat tuduhan serius suaminya merambat ke telinganya. Namun, sesaat kemudian Melisa terkikik, lalu meledakkan tawa, hingga Melisa menengadah. Tawanya menggema di penjuru ruangan itu, bahkan Rian sampai keheranan. Dia tidak tahu apa yang membuat wanita itu tertawa sampai sekeras itu.


"Mas, apa aku bodoh? Jika aku mengambil uang Ayah, apa aku masih berada di kota ini?" Ujar Melisa di tengah tawanya. Dia sampai memukul meja dan memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Dia kesulitan menahan tawa.


Jadi karena ini aku berakhir di sini? Gumam Melisa dalam hati. Sudut batinnya mengembangkan senyum sinis.


"Jika aku mengambil uang Ayah, mungkin saat ini aku tidak berada di sini, Mas! Aku tidak akan kelimpungan mencari rumah tinggal! Aku tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini, Mas!" Ucap Melisa datar. Tetapi tangannya meremas meja di hadapannya. Marah.


Rian tertegun. Sekali lagi, dia menelisik ke dalam mata yang melebar penuh amarah yang tertahan. Mata itu menatapnya dengan berani.


"Jangan tanyakan padaku siapa yang mencurinya! Yang pasti itu bukan aku! Aku tidak memintamu percaya, Mas. Tapi tidak masalah bagiku meski aku akan membusuk di penjara!" Melisa bangkit dan berlalu dari hadapan suaminya yang masih terpaku di kursinya.


***


"Yang, kau yakin membelikanku makanan sebanyak itu?" Tanya Kira pada suaminya yang membawa rombongan kecil sekitar 4 orang dengan bawaan yang berbeda.


"Iya, ku rasa kau butuh asupan makanan yang cukup," Harris mengulurkan tangan pada istrinya yang terkejut dengan kedatangannya.


"Tapi, Yang! Meski aku banyak makan, tapi ini berlebihan!" Protes Kira di bawah lengan suaminya.


Harris mengecup bibir yang suka demo itu. Sedikit lama, membuat 4 OB itu menutup mata. Sebelah. Sayang momen seperti itu untuk di lewatkan. Mereka berempat mengumpat dalam hati di waktu yang sama, saat deheman dari ambang pintu, mengacaukan adegan langka itu.


Mereka segera meninggalkan ruangan ini usai meletakkan kotak-kotak berisi makanan dan camilan itu. Canggung dan salah tingkah. Di bawah tatapan membunuh dari Johan, mereka menunduk dalam.


Harris, seperti biasa, dia acuh saja dan duduk dengan kaki saling menumpu. Sedangkan Kira sudah bermandi rona merah di wajahnya.


"Kau kenapa? Ada yang salah?" Tanya Harris pada Johan yang masih memandang galak pada dua orang itu.


"Saya mohon dengan sangat, Tuan dan Nyonya untuk menjaga sikap di hadapan lelaki polos seperti OB tadi! Mereka pasti akan penasaran dan tidak tahan untuk tidak mempraktekkan usai melihat aksi kalian!" Ucap Johan penuh permohonan, mewakili isi hati OB tadi. Dan, hatinya tentunya! Huft.


"Kenapa kau yang marah? Mereka biasa saja sepertinya!" Harris mengendikkan bahu. Dia tidak merasa berbuat sesuatu yang salah.


"Karena aku mengerti perasaan mereka!" Jawab Johan sebal. Dia masih mengerutkan wajah dan masih berdiri di depan pintu.


"Mengerti apa?" Pertanyaan Harris yang sedikit meninggi menampar mulut Johan. Dia seakan tersadar, bahwa dia mengungkapkan perasaannya sendiri.


"Mati gue!" Johan langsung membekap mulutnya, sambil berpaling.


"Bukan apa-apa, Tuan! Silakan lanjutkan acara makan siang kalian! Saya akan ke kafetaria saja!" Ucap Johan menahan malu. Sebelum ngacir dibawah pandangan membunuh dari Harris.


Harris berdecak kesal. "Sok tahu."


"Yang, aku bagi sama Dinda ya? Aku ngga habis makan sendirian!" Ucap Kira tanpa menoleh ke arah suaminya. Kira menelan ludah saat melihat aneka makanan jepang. Kira bahkan mencecap-cecap, seakan makanan itu sudah berada di dalam gigitannya.


"Bagi sama pak satpam sekalian saja sana!" Harris merengut kesal saat mendengar ucapan Kira.


Sontak Kira menoleh, saat dirasa suaminya sedang kesal dengan permintaannya.


"Kau pikir itu untukmu sendiri? Aku juga belum makan siang tadi!" Harris menarik satu kotak nasi gulung yang di potong-potong dengan berbagai isi.


Kira nyengir, membuat hidungnya sedikit naik, "Aku ge er ya? Kirain buat aku sendiri tadi! Jangan marah dong!"


Kira menjawil janggut runcing itu, berulang-ulang.


"Suapi aku kalau begitu," Harris menyerahkan sumpit yang baru di buka dari plastik.


Kira mengecup sekilas sudut bibir yang masih sedikit kesal itu. Lucu. Gemas. Kira menggeram dalam hati, pengen banget rasanya menggigit pipi suaminya yang bersih mulus.


Harris menahan sisi kanan, mulai dari depan telinga hingga belakang telinga. Menyela helaian rambut yang di ikat asal agar tidak mengganggu saat makan. Menikmati hidangan pembuka, sebelum makan siang yang sebenarnya.


Entahlah, dia seperti merindukan istrinya sepanjang pagi. Seperti ada debaran-debaran yang aneh, seperti lidah api yang menyalat-salat, membakar seluruh isi hatinya. Mengganjal, menginginkan sebuah pengungkapan.


Ah, Kira meremas sumpit yang baru saja di terimanya. Sebelah lagi berpegangan, jika arusnya terlalu deras, dia sudah siap menarik suaminya ke daratan.


"I love you, Sayang!" Ucap Harris saat keduanya saling menjauh. Kedua tangannya menekan kedua belah pipi istrinya, mengusap pelan dengam kedua ibu jarinya. "Aku sangat mencintaimu!"


Kira mengulas senyum, "Aku melihat semua cinta untukku, Sayang! Aku tak pernah meragukan besarnya cintamu!"


Bahkan angin yang bertiup tahu. Bahkan udara yang berhembus dari rongga dadanya mengatakan itu. Bahkan, dengan melihat sekilas, dua manusia itu tak mampu di pisahkan, kecuali oleh takdir.


"Mbak," Panggil Dinda. "Eh, maaf, maaf,"


Dinda langsung balik kanan, dan kabur. Malu. Dia serasa lalat pengganggu.


"Dinda," Panggil Kira, usai menurunkan tangan suaminya. Memohon pengertiannya, mengakhiri waktu penuh luapan, asmara.


Kira berjalan ke pintu dengan cepat, dia tahu, Dinda hanya bersembunyi di balik tembok, bukan benar-benar pergi.


"Maaf, Mbak," Dinda menangkup kedua tangannya di depan dada. Kantung plastik berlogo merah bergoyang-goyang, di kaitan telunjuk dan jari tengah Dinda.


"Ngga apa-apa, kamu ngga melakukan kesalahan! Tadi ada debu di mataku, dan suamiku hanya meniupnya!" Ucap Kira menghibur Dinda yang sepertinya merasa sangat bersalah. Dan, takut.


"Oh ya, ini pesanan Mbak Kira! Dan," Dinda merogoh kantung di dalam blazernya. "Ini kembaliannya,"


"Buat kamu saja!" Kira mendorong lagi uang yang di sodorkan Dinda. "Makasih ya, Din!"


"Mbak, tapi ini masih banyak lho, dan juga,"


"Udah, ambil saja!" Kira mendorong tangan Dinda lebih jauh ke arah dada.


"Makasih, Mbak! Dinda turun dulu, kalau butuh apa-apa bilang Dinda saja! Oke!" Dinda merasa tidak enak, tapi Kira meyakinkan bahwa itu tidak apa-apa.


Kira mengangguk sebelum melangkah lagi ke dalam ruang kerjanya.


Kira merasa kecewa, dia sebenarnya sudah sedikit berharap dan senang saat tamu bulanannya lewat sehari, bahkan dia sudah membeli beberapa testpack. Tetapi, beberapa saat lalu, sepertinya tamunya, datang benar-benar tanpa di undang.


"Kenapa? Ada yang salah?" Harris bangkit menghentikan suapannya. Saat melihat wajah istrinya sangat murung dan sedih. Bahkan matanya berkaca-kaca. Setelah kebahagiaan melimpah ruah, dia kembali membawa awan gelap di pelupuk matanya.


Kira menengadah, mengedipkan kelopak matanya berulang, mengusir kesedihan yang mengambang di permukaan bola matanya. "Bukan apa-apa, Yang!"


"Kau bisa berbohong pada Dinda, tapi tidak dengan suamimu ini, Sayang!" Harris menuntun Kira ke sofa, meletakkan istrinya dalam rengkuhannya. "Karena isi kantung ini?"


Ya, meskipun Kira menyembunyikan kebutuhan bulanan wanita di balik tubuhnya. Tapi logo dari merek itu terjiplak jelas di kantong putih susu, memperlihatkan isinya.


"Maaf, Yang!" Kira menatap mata suaminya sebelum menangis di ceruk leher suaminya. Dia sangat sedih, setelah suaminya mengungkapkan perasaannya. Dia merasa sangat bersalah, sebab belum bisa memenuhi harapan suaminya. Harapan yang selalu ikut mengalir di setiap usapan di bagian tengah perutnya. Dimana, kehidupan baru berawal.


"Hei, jangan menangis!" Harris berusaha menarik tubuh istrinya yang seperti melekat padanya. "Sayang, apa kau yang menentukan jadi tidaknya benihku di sana? Bukan, Sayang! Bukankah kau punya Tuhan Yang Maha Segala-galanya? Apa kau mau jadi manusia yang meragukan Tuhan-mu?"


Seketika, Kira menghentikan tangisnya, tutur lembut suaminya menyadarkan siapa dirinya. Manusia lemah. Tak punya daya dan kuasa.


"Jangan sedih, jika belum jadi, artinya aku harus lebih keras berusaha! Menggempur benteng penghalang yang di pasang tubuhmu! Anggap saja, kita gagal di percobaan pertama! Kau tenang saja, aku punya pabrik benih yang tak pernah kehabisan bahan! Mengerti?"


Harris menyibak surai-surai lembut kebelakang telinga. Berusaha menyakinkan dan menenangkan istrinya yang galau, karena merasa gagal dalam menjalankan tugasnya.


Harrispun sama kecewanya, tapi, dia tidak ingin membuat istrinya lebih terbebani dengan kesedihan suaminya. Siapa yang tidak menginginkan keturunan? Tak seorangpun di dunia. Tapi, siapa yang ingin kekasih hatinya terluka dan sedih karena buah cinta yang di inginkan suaminya tak kunjung tiba.


Dia butuh dukungan, bukan hujatan. Dia butuh rengkuhan dan dekapan untuk menenangkan, bukan di punggungi dan di sudutkan. Menikah bukan untuk mendapat keturunan semata, tapi menyatukan cinta dua mahkluk bernama manusia.


Belum bukan tidak.


β€’


β€’


β€’


β€’


Nanggung kalau harus jadi dua bab, satu aja tapi panjang beut. πŸ₯°


Happy reading All😘😘😘


Sambung lagi besok yah😘😘