
Dirgantara merasa lega melihat Kristal kembali bersama Jeje, Excel, dan Rega. Gadis itu hanya menunduk ketika menghadapi dirinya di depan kamar yang ditempati Jen dan Kristal.
"Jangan bilang sama Mama dan Ayah ya, Kek."
Dirga mendengus. Jika saja Kristal anaknya sendiri pasti sudah dimarahi habis-habisan, tetapi Dirga juga tidak bisa lunak terhadap kesalahan begitu saja. Kalau tidak, semua orang akan meremehkannya.
"Kakek memang tidak mengadukanmu pada orang tuamu, Kris. Bukan karena Kakek kasihan padamu atau tidak bisa marah karena ulahmu ini. Tetapi Kakek memikirkan perasaan mamamu. Mamamu tengah mengandung, dan jika mendengar kamu menghilang, apa coba yang dipikirkan olehnya?"
Kristal menunduk semakin dalam. Dalam hatinya, ada sedikit rasa bersalah jika mengingat mamanya. Tetapi Kristal tidak akan punya kesempatan bersama Rega jika tidak sedang berada di tempat yang jauh dari Mama Giza.
"Kau masih kecil, Kris ... masih ada banyak sekali yang harus kau kejar selain perasaan sesaat yang akan hilang tak lama lagi! Ingat, Kristal ... kau bukanlah gadis biasa yang bisa keluyuran kemana-mana. Kau adalah pewaris seluruh usaha Kakek dan ayahmu. Tidak seharusnya kau mempertaruhkan keselamatanmu dengan bertindak ceroboh seperti ini!"
Kristal menghela napas, merasa bebannya sebagai anak remaja sangatlah berat. Kata pewaris itu sungguh membuatnya tertekan. Dia hanya ingin menikmati waktu bersama kawan-kawan sebagaimana kawannya yang lain. Sejak bertemu keluarga mendiang ayahnya, dunia Kristal seakan berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kembali ke kamarmu, sekarang! Ingat, ini pertama dan terakhir kamu membuat semua orang mencemaskanmu!" ucap Dirga tegas.
Kristal tetap menunduk saat mengangguk, kedua tangannya yang semula saling mengait di depan dada kini terjatuh. Kristal memutar badannya mendekati Jen.
Tatapan Jen yang sama sekali tidak ramah dan terkesan galak, membuat Kristal kembali menelan ludah. Dia lupa masih harus menghadapi kemarahan seorang Jenny.
Jen mendelik, "lain kali, ingatkan aku agar tidak mengajakmu kemana-mana! Aku tidak mau seperti orang gila mencarimu kayak tadi!"
"Jangan dong, Jen ... aku janji gak akan begini lagi," mohon Kristal seraya meraih tangan Jen. Gawat kalau Jen tidak mau bekerja sama dengannya.
Ketika itu, Dirga masih memandang ke arah dua gadis muda itu. Jen sedikit takut melihat tatapan itu, sehingga dia menepis tangan Kristal.
"Nggak! Pokoknya aku nggak mau, sekalipun kamu janji seribu kali!" Jen memutar tubuhnya dan masuk ke kamar.
Kristal yang ketakutan segera menyusul Jen. Ini bahaya! Jen tidak akan mudah dibujuk dengan apapun jika sudah ngambek seperti ini.
Kemarahan Dirga kini tertuju pada tiga cowok yang juga menunduk ketakutan. Entah mengapa mereka merasa bersalah, walau jelas ini bukan salah mereka.
"Kalian seharusnya segera melapor pada Kakek jika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana!"
Excel menahan napasnya, menahan kemarahan yang rasanya tidak sopan bila diungkapkan di hadapan sang Kakek. Bukan soal kata-kata kakeknya, melainkan pada kebodohan Kristal. Apa gadis itu ingin menjajal kemarahan Dirgantara?
Jeje memutar bola matanya, ingin menyanggah, tetapi jelas saat Jen menelpon dia mengabaikannya. Kena juga akhirnya, keluh Jeje.
Dan yang paling merasa buruk adalah Rega. Jelas di sini dialah yang paling besar. Baik usia maupun fisik. Dia menganggap dirinya mampu melakukan tindakan yang paling benar, memutuskan sesuatu yang benar disaat yang lain berada dalam sebuah kesalahan. Dan yang dilakukan Kristal jelas salah, tetapi dia tidak berbuat apa-apa. Malah menikmati kebersamaan dengan Kristal.
"Sebagai pria, kalian harus lebih tegas dan bijak dalam menilai sebuah keadaan!" Dirga menatap tiga anak itu bergantian. "Setelah ini, kita bersiap pulang! Penerbangan diatur pagi-pagi dan kalian sudah harus siap saat Paman Toni mengetuk kamar kalian!"
Yah, ini paling baik. Mengizinkan Kristal ikut sama dengan menyusupkan bahan peledak yang sensitif terhadap sentuhan. Dirga memutuskan akan memulangkan tiga anak itu ke Indonesia dan Kristal ke Singapura. Harris benar pada akhirnya, Kristal akan membuat mereka kesulitan jika dibawa serta.
Ketiga anak itu mengangguk tanpa berani membalas tatapan Dirga. Mereka langsung berpamitan untuk kembali ke kamar.
Sementara dikamar, Jeje langsung mengumpat dan meninju bantal. Dia sangat marah pada keputusan sepihak sang Kakek yang merugikan dirinya itu. Masih ada dua pertandingan lagi yang harus ditontonnya. Dan juga, dia bertekat merebut uang yang berhasil dikeruh Excel saat taruhan tadi.
Jeje duduk tegak seraya menatap Excel yang sedang melepas bajunya. Pria berwajah datar dan begitu dingin itu membuat Jeje kesal.
"Apa?!" Excel yang tidak sengaja bertemu tatap dengan Jeje, bingung melihat ekspresi adiknya yang tampak marah.
"Bagaimana bisa kau menebak dengan benar hasil pertandingan tadi? Apa kau bekerja sama dengan mafia pengatur skor?" Jeje mendengus. Rasanya tangannya sangat gatal ingin meremas muka kakaknya yang menyebalkan itu.
"Tidak ...," jawab Excel datar, seraya mengendik. "Tapi aku yang mengatur skor pertandingan tadi."
"Damn!" Jeje mengumpat.
Excel tertawa meremehkan.
Jeje ingin memaki kakaknya, lebih dari itu. Bagaimana bisa, orang yang selama ini tampak tidak tertarik dengan dunia bola, malah mengalahkannya dengan telak. Ini tidak adil kan? Ini menyebalkan.
Sejenak Jeje menimbang, sembari terus menatap Excel dari sudut matanya. Ekspresi datar dan dingin itu tampaknya berbahaya jika dirinya terus melawan. Excel pasti punya sesuatu di balik sikap dinginnya selama ini.
Akhirnya dia memutuskan untuk tidur. Percuma juga berpikir untuk merebut uang itu kembali sekarang. Mereka taruhan dengan adil dan terbuka, jadi Excel tidak salah sama sekali. Dialah yang terlalu meremehkan.
Rega satu-satunya orang yang berwajah hampa saat ini. Dia merasa begitu bersalah sampai tidak bisa merasakan apapun. Bahkan sekalipun dia memejamkan mata, pikirannya masih terjaga.
Astaga! Kenapa semua jadi seperti ini?
Kekacauan terjadi juga pada rencana Harris. Pria itu masih marah dan langsung membawa Kira dan koper nya kembali ke Osaka. Mengcancel pesanan hotel dan semua yang berkaitan dengan rencana romantis malam itu.
Mereka tiba saat hari sudah sangat larut. Anak-anak sudah tidur menyisakan si Kembar yang masih rewel. Pengasuhnya sampai kebingungan mengatasi tingkah si Kembar.
"Aku lihat anak-anak dulu, ya, Bang," pamit Kira melihat dua anaknya masih berkeliaran di lorong hotel. Wajah Agiel tampak sembab dan Azziel terus meminta pengasuh menuju kamar yang ditempatinya bersama Harris.
Harris membuang napas. Dia marah tetapi tidak punya pilihan. Anak-anaknya begitu manja dan susah dikendalikan.
"Abang ke kamar dulu dan segera tidur. Abang sudah kelelahan seharian ini." Kira segera membukakan pintu untuk Harris, mendorong koper ke dalam kamar, dan mempersilakan Harris masuk.
"Makasih udah nemenin aku seharian ini, ya ...." Kira berjinjit untuk mencium bibir suaminya, walau sekilas. Senyumnya dikemas begitu manis, lalu mengusap lengan Harris sebelum meninggalkannya sendirian.
Harris hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Kira sangat manis. Bahkan tidak terlihat sama sekali bekas pertengkaran tadi. Wanita itu memang beda. Mudah melupakan dan tetap berbuat baik kepadanya yang jelas-jelas telah mengomel banyak-banyak.
"Gimana aku bisa marah, Yang ... kamu itu kelewat baik dan pengertian." Harris menyugar rambutnya, lalu membuang napas keras-keras.
Kira memang tidak suka memanjang-manjangkan masalah, apalagi yang sepele. Lagian, dia masih harus menghadapi anak kembar yang begitu aktif dan menguras tenaga, jadi melanjutkan marahnya pada Harris sama saja dengan menambah beban pikiran. Dia bisa makin kurus jika begitu.