
Kira dengan hati-hati menuntun langkah Nyonya Darmawan menyusuri koridor di mana kamar Viona berada. Sesekali Kira tersenyum melihat Nyonya Darmawan yang tak mampu menyembunyikan perasaan gugupnya.
Kira berhenti, ketika koridor itu mencapai ujungnya. Dengan pelan dia mengetuk pintu bercat putih kelabu.
"Ini Kira," Suara Kira nyaring membentur tembok koridor yang terang benderang karena seluruh lampu yang menempel di lubang tepian langit-langit ini menyala.
Kira mendorong pelan pintu yang tidak berderit sama sekali, ke dalam ruang kamar yang redup. Setelah memberi isyarat kepada Nyonya Darmawan agar menunggunya di luar barang sejenak.
"Boleh ku nyalakan lampunya? Apa kau tidur?" Kira masih berdiri di muka pintu, tetapi sebagian tubuhnya sudah masuk ke dalam kamar, tangannya masih memegang besi kokoh yang menempel di pintu.
"Aku tidak tidur, hanya saja, aku takut ada orang yang tahu kamar ini ada penghuninya," Jawab Viona lemah, dia berdiri menyangga perutnya, samar-samar dia mengusapnya.
Kira membulatkan bibirnya, tanpa suara. Dia maju selangkah, mengamati seluruh ruangan kamar, yang sepertinya kedap akan hawa dari luar. Kain-kain penutup jendela itu tampak tebal dan kokoh, membentengi angin yang sedianya berhembus semilir. Kira sedang menyusun kalimat yang tepat, dia sudah hapal dengan dekorasi kamar yang seluruhnya hampir sama persis.
"Ada apa? Aku sudah makan, dan obatnya sudah ku minum, kau tidak perlu mencemaskan aku! Aku bukan anak kecil yang harus di suruh-suruh atau di ancam! Aku melakukannya dengan kesadaranku sendiri," Ucap Viona datar. Wajahnya mengeras sepersekian detik, merasakan intimidasi kehadiran Kira yang seakan menilai.
Kira tersenyum, "Aku membawa seseorang! Ku rasa dia sudah terlalu lama menungguku di luar."
Kira melangkah mundur, hingga ujung pintu. Lalu, dengan sangat hati-hati, Kira membuka sebelah tangannya, mengisyaratkan Nyonya Darmawan masuk.
Hening, saat ketiganya berada dalam satu ruangan yang sama. Hanya saling tatap dalam diam, bahkan helaan nafas Nyonya Darmawan terdengar begitu nyaring di telinga Kira.
"Mami sudah kenal dia kan?" Kira menyentuh lengan Nyonya Darmawan yang kaku, sebab beliau menggenggam tas tangannya dengan kuat, seakan tas itu adalah kekuatan untuk menopang tubuhnya yang bergetar hebat.
Hening, tak ada sahutan dari keduanya. Mereka masih tenggelam dalam keterkejutannya. Kira mengela nafas, lalu mengambil langkah menuju pintu dengan lembut.
"Mami," Lirih Viona, saat pintu di belakang Nyonya Darmawan menutup pelan. Viona gugup setengah mati, kejutan dari Kira membuat dia terguncang. Sekuat tenaga dia memaksa tubuhnya berdiri tegak, mengabaikan tusukan-tusukan nyeri bak jarum menghujam perut bagian bawah, merembet hingga ke punggung. Pikirannya sibuk menerka-nerka tentang apa yang ada di pikiran wanita tua di depannya. Cemas dan takut, tapi sudah terlanjur. Dia tidak bisa menghindar.
"Benarkah kamu Viona?" Tanya Nyonya Darmawan gemetar. Satu per satu pertanyaan tumbuh bak jamur di musim hujan, memenuhi kepalanya. Wanita tua ini bingung, pertanyaan mana yang harus di dahulukan.
Viona mengangguk pelan, meski ingin sekali dia menggeleng. Di bawah temaram lampu kamar, Viona tak bisa melihat dengan jelas, bagaimana ekapresi Nyonya Darmawan.
Seakan ada alarm dalam diri Nyonya Darmawan, ia ingat betul apa yang di ucapkan Kira padanya. Nyonya Darmawan memutar otaknya, agar pertemuan ini terkesan tanpa rencana.
"Sayang, Mami rindu sekali denganmu. Kamu sehat kan?" Nyonya Darmawan berusaha mengabaikan rasa penasaran dan juga senang, dia bersikap seolah dirinya merindukan wanita itu. Sikap yang elegan dan natural.
Viona membuang nafas, meski sedikit terseok, dia melangkah pelan menyambut Nyonya Darmawan. Lega. Setidaknya belum. Sebentar lagi pasti dia akan mendapatkan pertanyaan menyelidik dari Nyonya Darmawan. Tetapi, sekarang, mendapat sambutan layaknya dua orang yang memendam rindu, itu terasa lebih baik dan nyaman.
"Hati-hati, Sayang. Duduklah, tidak baik berdiri terlalu lama," Nyonya Darmawan menuntun Viona ke sisi ranjang.
Viona tertegun, suaranya tercekat di tenggorokan. Saat ucapan Nyonya Darmawan mengingatkannya pada seseorang.
Nyonya Darmawan dengan lancang mengusap perut Viona, sehingga membuatnya berjingkat. Buru-buru Nyonya Darmawan menarik tanganya,"Maaf, Mami tidak bermaksud mengejutkanmu! Sudah berapa bulan, Sayang?"
"Enam bulan, Mi. Kurang lebihnya," Viona tersenyum lemah, wajah pucatnya terbias samar, namun nampak jelas di mata Nyonya Darmawan.
"Menurut Mami, dia laki-laki, dilihat dari bentuk perutmu yang bulat," Nyonya Darmawan menyipit, seperti memindai. "Dia akan menjadi penjaga Mamanya."
Mata Viona mengembun, terharu. "Benarkah itu, Mi?"
"Benar, Sayang. Mami ingat saat Mami mengandung Evan dulu," Ucap Nyonya Darmawan menerawang.
"Stevan maksud Mami?" Viona menegaskan. Telinganya sedikit tertusuk saat nama Evan di sebut. Hatinya merasa sakit.
"Iya, Stevan," Nyonya Darmawan tersenyum. "Kau masih ingat?"
"Ya, Mami pernah cerita beberapa waktu lalu. Saat itu, aku tidak terlalu serius mendengar Mami," Jawab Viona jujur. Dulu, dia merasa sebal ketika mendengar Nyonya Darmawan bercerita panjang lebar tentang anaknya.
"Kau ini, nakal sekali! Kau tidak takut melewatkan sesuatu dari cerita Mami tentang Stevan," Nyonya Darmawan mengusap pelan pipi Viona yang terasa dingin.
"Tidak juga. Mami bisa menceritakan lagi tentang Stevan sekarang. Viona akan mendengarkan, sekarang Viona tidak punya hal untuk di pikirkan atau membuat Viona tidak fokus, Mi," Viona merekahkan senyumnya, tangannya membingkai tangan Nyonya Darmawan. Menekannya lembut.
"Mainlah ke rumah Mami, ajak gadis kecil itu juga. Pasti akan menyenangkan," Wanita tua itu tak melepaskan senyumnya barang sejenak. Ada perasaan bahagia tapi juga takut. Takut akan pemilik isi rahim itu. Tetapi, dia tergesa-gesa membuang pikiran tak mengenakkan, baginya, jika benar Kristal adalah cucunya, hidupnya akan lebih berarti, setidaknya Evan meninggalkan penghiburan untuk lara hatinya. Dia akan punya tempat untuk melabuhkan rindu dan kasih sayangnya.
"Kira sudah cerita pada Mami?" Binar itu menyurut turun, "Mami sudah tahu semuanya?"
"Tidak juga! Mami jatuh cinta pada anak gadismu, saat melihatnya tadi, dia sangat manis! Kira hanya bilang Mama Kristal ada di sini. Dan, Mami tidak tahu, Mamanya Kristal itu kamu!" Ucap Nyonya Darmawan kalem, Kira benar, Viona sangat sensitif, bahkan dengan perkataan sesederhana itu. Tetapi, jika dia menunggu Viona bercerita, dia khawatir tak akan punya cukup waktu. Mendekati Viona pelan-pelan adalah solusi terbaik, meski harus lebih sabar dan banyak mengalah.
Viona terdiam, memandangi Nyonya Darmawan yang masih menatapnya intens. "Mami tidak benci padaku? Atau menuduhku menelantarkan Kristal?"
Viona masih terpaku, namun senyum penghiburan terbit di sudut bibirnya. Entahlah, sebelah hatinya masih belum bisa diajak berdamai. Masih banyak ragu di dalam hatinya yang belum menemukan jawaban.
"Mami menunggu kabar baik darimu, Sayang. Jangan biarkan Mami menunggu terlalu lama," Nyonya Darmawan menyentuh pelan lengan Viona, mengusapnya dengan lembut.
Pada akhirnya, Nyonya Darmawan belum mendapat apa-apa. Melihat betapa rapuhnya wanita itu, membuat Nyonya Darmawan mengerti akan sikap tegas Tuan Dirga, dan sikap hati-hati dari Kira. Nyonya Darmawan kecewa dan ingin menyerah namun, mengingat mata gadis kecil itu, kembali membangkitkan harapannya. Bukan tidak, hanya belum.
Nyonya Darmawan memutuskan untuk tinggal lebih lama menemani Viona, meski hanya hal-hal kecil yang dia bicarakan, tetapi itu membawanya lebih dekat dengan Viona. Dan, juga mungkin, cucunya.
***
Koridor yang tidak terlalu panjang itu, begitu sunyi, hingga suara derap sepatu hak di kaki Kira merayap memenuhi dinding koridor. Dengan senyum terkembang, Kira melangkah lebih cepat untuk mengadu kepada suaminya. Tetapi, tiba-tiba, lampu koridor padam, saat Kira nyaris sampai di ujung koridor.
Kira memekik pelan saat sebuah tangan membekap mulutnya, dan menekannya ke dinding. Kira mengerjap dalam gelap, namun, dia sangat mengenal aroma wangi ini.
Tanpa meminta izin atau berbasa basi, pemilik tangan itu mengganti telapak tangannya dengan bibirnya yang lembut dan penuh. Menerkam dengan ganas, tapi penuh perasaan. Seakan kehabisan candu, dia menghisap dan mencecap dengan rakus. Kira tersenyum dalam hati, dan mulai membalas suaminya. Ahh.
Dinding koridor seakan geram, dia hanya memantulkan suara khas keduanya yang larut dalam buaian. Ingin rasanya, dinding itu meminta tangan, untuk menyalakan tombol lampu, agar bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.
Harris menekan dirinya lebih dalam dan semakin condong. Bergantian ke kanan dan ke kiri, menilas lagi bagian yang di rasa belum tersentuh olehnya. Desahan tertahan di kerongkongan, meski sesekali lolos dengan merdu. Membuat detak jantung mereka semakin tak beraturan. Tangan Harris sudah melayang kemana-mana, menimpakan bara untuk membuat api semakin kuat menyala.
Tangan Kira melingkar di pinggang suaminya, sesekali menekan dengan kuku-kukunya, saat tak mampu menahan perasaan yang menjalar hingga ke ujung jemarinya.
Hingga beberapa waktu berlalu, Kira meniti naik dengan pelan, mendorong lembut dada yang menghimpitnya. Paru-parunya seperti mengkerut sebab kehabisan stok udara.
Sedikit menghisap, Harris menyudahi ciumannya dengan tidak rela. Ibu jari Harris mengusap bibir istrinya yang sudah berantakan akibat ulahnya.
"Kau membuatku gila, Sayang. Kita selesaikan sekarang," Harris menarik paksa istrinya ke kamar di sebelahnya.
"Yang, jangan. Aku ngga mau terlihat berantakan," Kira menarik tangannya, meski tak bergeming sama sekali.
"Aku akan bermain rapi, Sayang," Harris yang sudah berhasil menarik tubuh istrinya itu, mendorong pelan pintu kamar yang segera menjeblak terbuka. Gelap.
Tetapi,
"Ma! Mama di sana?" Suara Jeje membelah kesunyian koridor yang gelap.
"Sial," Harris mengumpat dalam hati.
"Yang, bagaimana ini?" Kira berbisik, sepertinya Jeje hanya berjarak beberapa langkah dari mereka. Mereka berdua membeku saling berpelukan.
"Apa kita punya pilihan?" Jawab Harris dengan berbisik pula.
Kira segera membebaskan diri, lalu melangkah pelan dengan debaran yang masih tak beraturan. Selain akibat ulah suaminya, juga kerena nyaris ketahuan Jeje.
"Ma! Mamakah itu?" Panggil Jeje saat dirasa dia mendengar derap langkah sepatu mendekat padanya.
"Iya, Sayang. Jeje kenapa nyari Mama?" Samar-samar Kira melihat siluet tubuh anaknya yang tertimpa temaram cahaya di ruangan seberangnya.
"Mama sendirian? Papa mana? Tadi Jeje lihat Papa kemari?" Jeje melongok ke belakang Mamanya, cahaya yang minim membuat Jeje kesulitan memindai.
"Mama di sini mengantar Oma ke kamar Tante Viona. Jeje kan lihat tadi! Papa mungkin ke ruangan lain, Sayang," Kira membalik badan Jeje dan menggiringnya menuju cahaya.
Di belakang, Harris menahan nafas selama Jeje dan Kira masih di koridor. Begitu langkah mereka menjauh, Harris menyalakan kembali lampu di koridor itu. Batinnya masih mengutuk, karena hasratnya tidak mendapatkan pelampiasan.
"Sial,"
•
•
•
•
Happy Reading, 🥰😘