Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Anugerah Terindah


Rumah terdengar begitu riuh dari teras depan. Tawa dan jeritan mahluk kecil seakan memanggil orang tua yang masih melintasi beranda rumah. Senyum keduanya terukir, rindu yang  membuncah tersirat jelas pada riak wajah mereka.


Tangan Harris tak sabar lagi mendorong pintu dengan pelan. Terkesan mendobrak dan membiarkan pintu utama ternganga lebar. Langkahnya yang panjang menyeberangi ruang tamu dengan cepat. Bahkan Kira sampai tak bisa menyelaraskan langkah dengan suaminya.


Lagak pria keras ini seketika melunak melihat ke enam buah hatinya akur bermain di ruang tengah yang di sulap menjadi area bermain. Berantakan tapi sangat indah. Senyum begitu manis merekah penuh kebahagiaan.


"Sayang-sayangnya Mama...." suara Kira dibuat sebiasa mungkin, tetapi segerombol anak yang tengah sibuk dengan mainan itu menoleh nyaris serempak. Bahkan tiga pengasuhnya berdiri tergesa-gesa menyambut tuan dan nyonya mereka. Membungkuk sejenak sebelum kembali memperhatikan anak asuhnya.


Jen berlari mendahului rombongan untuk menabrak Papa sambung yang melebihi papa biologisnya. Menyalurkan kerinduan yang berkumpul meski belum dua puluh empat jam mereka berpisah.


"Papa pergi kok ngga bilang dulu sama Jen?" Tangan kecil Jen melingkar sekenanya, kepalanya mendongak menatap papanya yang tersenyum. Antara ingin marah tapi melihat senyum papanya, kekesalan Jen luruh berganti rengekan manja.


"Papa hanya mengurus sedikit urusan yang penting dan melibatkan Mama..." Harris merendahkan tubuhnya sejajar dengan Jen. "Maafkan Papa ya?"


"He-em," anggukan kepala Jen begitu mantap, sekali lagi memeluk Papanya dengan hangat.


Kerlingan Harris bergilir ke arah Kira, begitu mudah Jen takluk dengan ucapan Papanya. Kemudian menghadiahi putri sambung yang membuatnya jatuh sayang ini dengan kecupan di pipi dan pucuk kepalanya. Telunjuk panjang Harris menjentik ujung hidung Jen yang tidak begitu mancung.


Kira yang telah berhasil di raih oleh Jeje hanya mengendikkan bahu, apalagi Ranu mendorong paksa Jeje menjauhi Mamanya.


"Kak Je, minggil...Nanu duluan...." tangan kecil Ranu yang tak sebanding dengan kaki Jeje yang lebih besar hanya menghasilkan tepukan kecil yang membuat geli.


"Jeje ngga bertingkah kan saat Mama pergi?" Tanya Kira setelah membenamkan ciuman di kening putranya ini. Menangkup pipi Jeje yang nyengir lebar karena jawabannya sudah bisa ditebak.


Kira melepaskan tangan dan meraih Ranu dalam gendongannya. Tubuh bongsor Ranu membuat Kira meringis tertahan. Tenaganya belum sepenuhnya terkumpul, tapi tak berani menunjukkan di depan anak-anaknya.


"Mama jangan tanya sama Jeje, dia pasti ngelak!" Celetuk Jen yang merangkul Papanya dengan Agiel dalam pelukannya. Azziel yang tidak kebagian pelukan, celingukan menunggu giliran.


Decakan dan tatapan tajam penuh ancaman dari Jeje menjurus kearah Jen, tapi gadis itu tidak peduli. Di bawah perlindungan Papanya, Jen merasa aman.


Semua itu tak luput dari perhatian Kira. Excel yang sedang memeluk Mamanya mengerti benar apa yang di risaukan wanita yang telah memberinya kehidupan.


"Kakek bisa mengendalikan Jeje Ma, Mama tenang saja," tepukan di punggungnya, membuat Kira tersenyum di samping kepala putra sulungnya.


"Mama percaya dengan kalian," bisik Kira. Sebenarnya bukan itu yang menjadi perhatian Kira, tapi sikap Jen yang terlalu manja pada Papanya yang membuatnya khawatir. Harris terlalu lunak pada Jen yang bisa saja membuat Jen melunjak. Kira tak mau itu terjadi.


"Anak Mama pasti anak yang baik dan pengertian. Tidak merepotkan orang lain, benar?" Kira menepuk pipi Excel dengan lembut. Excel yang sudah remaja, tingginya hampir menyamai dirinya. Terbilang tinggi untuk remaja seusianya. Tak heran kini Excel menjadi incaran gadis seusianya. Selain itu, Excel terbilang menawan dengan hidung mancung dan sorot mata tajam. Entah itu hanya perasaan Kira atau memang Excel belajar dari Harris, tapi sikap dua pria itu nyaris serupa. Dingin dan kaku. Meski bagi Kira, Excel lebih parah.


Anggukan dan senyum mahal Excel terlihat samar, sehingga membuat Kira menghela napas. "Apa kamu tidak bahagia selama ini, Cel?" Bisik batin Kira. Tidak sekarang, Kira perlu bicara dengan Excel nanti.


Azziel menyibak kaki-kaki besar agar mendapat giliran. Ranu yang diturunkan paksa oleh Kira merengut dan beralih menuju Papanya yang sudah duduk di sofa panjang dengan Agiel bergelayut manja di dada Papanya. Langsung saja keduanya terlibat perang yang begitu sengit.


"Azziel kangen sama Mama ya? Azziel nakal ngga selama sama Kakek?" Tak ada jawaban, Azziel merebahkan diri di dada Mamanya, bermanja-manja.


Menggiring Excel, Kira berjalan sambil mengusap kepala putranya. Ada rasa bersalah yang teramat dalam kepada anak lelaki terbesarnya. Si penanggung beban berat perceraian orang tuanya. Yang paling memahami derita mamanya, saat usianya masih belia.


"Maafkan Mama, Cel. Mama berkurang waktu untukmu!" Jerit hati Kira yang terlahir di sudut matanya.


"Sebagai ganti dari Papa dan Mama karena meninggalkan kalian terlalu lama, Papa akan memgabulkan satu permintaan dari masing-masing kalian. Tapi, Papa tidak mengabulkan permintaan yang aneh dan tidak sesuai usia kalian!" Suara lembut tanpa meninggalkan ketegasan sedikitpun, membuat senyum merekah di bibir ketiga anak sambungnya. Sedangkan tiga yang lain tidak begitu peduli karena tidak begitu mengerti.


"Sekarang kita puas-puasin main, selagi Papa ngga kerja," Harris merosot dari sofa, membaur dengan anak-anaknya. Sementara Kira masih memperhatikan Excel dalam diam.


"Kak Excel, boleh minta tolong sebentar?" Pinta Kira sambil berdiri. Merasa dipanggil, Excel bangkit mengikuti Mamanya. Harris pun merasa heran dan penasaran, meski dia membiarkan istri dan anaknya pergi. Mungkin memang ada masalah, pikirnya.


"Apa yang bisa Kakak bantu, Ma?" Excel menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kamar. Ya, Kira membawa Excel ke kamarnya.


Kira berbalik menghadapi Excel dengan raut wajah tak terbaca. Takut jika selama ini dia membuat putranya terbebani.


"Apa Kakak merasa bahagia?"


Kening Excel berkerut dalam, guratan halus malah membuatnya semakin tampan. "Mama bicara apa?"


"Sayang, Mama lihat kamu jarang tersenyum dan terlihat murung. Apa selama ini, Kakak tidak bahagia?" Kira mendekati Excel, menatap mata yang masih menyiratkan keterkejutan.


"Ma..." Excel meraih tangan Mamanya, menuntunnya hingga sampai di ranjang dan mendudukkannya. Excel bersimpuh di hadapan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Maafkan Excel jika sikap Excel membuat Mama berpikir yang tidak-tidak. Excel bahagia selama bersama Mama, selama senyum Mama selalu terlukis. Bagi Excel, kebahagiaan Mama adalah segalanya."


"Tapi sayang, Mama rasa kamu terlalu kaku dan acuh. Apa ada hal lain yang kamu sembunyikan dari Mama?"


"Ngga ada, Ma. Aku rasa Mama berlebihan memperhatikanku. Dari dulu Excel begini kan?"


"Iya, tapi...."


"Ma, bukankah Excel selalu bercerita sama Mama apapun kesulitan Excel?" Sorot mata Excel penuh keyakinan. "Mama jangan berpikir aku tidak bahagia, aku selalu bahagia meski kita masih susah dulu. Mama lah sumber kebahagiaan Excel."


Tak kuasa menahan haru, Kira menubruk Excel. Tangis Kira luruh penuh syukur. Hidupnya dipenuhi anugrah meski untuk mencapai ini semua, jalan hidupnya harus penuh luka dan berdarah-darah.


Di ambang pintu, Harris mengerahkan pasukan kecilnya untuk menghujani Mama mereka dengan penuh kasih. Sejak memasuki kamar, Harris mendengar semua percakapan anak dan ibunya. Tak dipungkiri jauh di lubuk hatinya, dia merasa bangga. Bangga pada putra yang begitu tabah dan dewasa. Penerusnya. Yang akan menggantikan Harris Dirgantara, haruslah kuat dan kokoh. Layaknya gunung yang tak goyah meski badai mengguncangnya.


.


.


.


.


.


.


.


.