
Ponsel Harris bergetar saat mereka tiba di stasiun usai melakukan perjalanan menggunakan Sagano Romantic Train.
"Siapa, Bang?" Kira mengikuti gerak tangan suaminya yang merogoh ponsel dalam saku celana.
Harris melirik Kira sekilas. Menggelengkan kepala, lalu menunjukkan layar ponsel ke depan Kira.
Ketika membaca nama kontak Papa mertuanya, Kira sedikit terkejut. Pasalnya, beliau sendiri yang bilang kalau tidak akan mengganggu selama melakukan perjalanan.
"Papa, Bang ... buruan angkat."
Harris segera menjawab panggilan dari ayahnya, tetapi pria itu sama sekali tidak terburu-buru.
"Cari saja di stadion, dia pasti ada di sana!" Harris berbicara sebelum papanya mengeluarkan sepatah kata.
Doni tadi mengirimkan video, dan Kristal berada di sana. Doni jelas mengetahui rute perjalanan liburan mereka, jadi dia melapor kepada Harris, ketika mendapati Kristal di sana.
Harris segera mematikan panggilan itu secara sepihak. Tidak peduli bagaimana pria tua itu akan memarahinya akibat ketidak sopanan barusan. Toh, mereka sudah melewati sebagian besar waktu sepanjang umur mereka dengan berkelahi dan saling memaki.
"Siapa yang di stadion?" Kira mendekat, menuntut jawaban. Biasanya, Kira suka menguping, jadi dengan begitu, dia tidak perlu bertanya lagi jika suaminya itu pergi tiba-tiba tanpa pamit, atau bertindak penuh kemarahan. Harris selalu punya alasan di balik sikapnya, apapun itu. Dan Kira kadang hanya perlu mendukungnya, tanpa banyak bicara.
Namun kali ini, dia sedikit penasaran, sebab sama sekali tidak ada klu apapun dari obrolan suaminya.
"Kristal ke stadion menyusul Rega." Harris tidak membalas tatapan Kira, tetapi memandang lurus peron kosong di depannya. Seharusnya mereka sudah keluar, sebab sebentar lagi stasiun akan tutup.
"Jadi kenapa Papa sampai menelpon? Bukannya Kristal bersama Papa dan Jen?" Kira sedikit bingung.
Harris membuang napas, lalu balas menatap Kira. "Dia pergi tanpa pamit. Dan anak asuh kesayanganmu itu sedang bermain api."
"Maksudnya?" tanya Kira spontan. Jangan bilang, Kristal sedang berbuat onar di sana? Bukannya, dia sudah melarang duo gadis itu ke stadion? Pasti mereka kelahi dengan para cowok.
"Kristal suka sama Rega!" Harris menguapkan udara dengan keras dari mulutnya. "Mereka akan membuat kebencian diantara orang tuanya lebih panas dan membara."
"Tidak mungkin ...." Entah itu tanggapan atas hubungan kedua keluarga itu atau ungkapan ketidakpercayaan pada penilaian Harris. Yang jelas Kira langsung termangu.
Kira menunduk, memandang sepatu boot yang panjangnya sampai ke lutut. "Aku berharap, mereka hanya terlibat cinta monyet. Kristal terlalu dewasa untuk gadis seusianya."
"Sejak kecil, dia sudah dipaksa berpikir seperti orang dewasa. Wajar kalau Kristal lebih cepat memahami perasaan suka terhadap lawan jenis. Lagipula, Kristal sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, jadi dia mencari seseorang yang memberinya perhatian. Rega lah orang itu." Harris menjelaskan apa yang dipikirkannya soal Kristal. Dulu, Harris memang benci pada anak itu, tapi sejak mengenal Kira, dia mulai menerima keberadaan Kristal. Anak-anak selalu menjadi korban, dan orang dewasa seharusnya tidak menambahi dengan judgement yang menyakitkan.
"Jen juga tidak terlalu mendapat perhatian, tapi dia cuek pada cowok-cowok seusianya. Bukankah Jen beberapa tahun lebih tua dari Kristal? Seharusnya, Jen yang pacaran lebih dulu, bukan Kristal yang masih anak-anak." Kira mengeluh. "Apa Viona tidak mengawasinya?"
Harris mulai kesal pada Kira. Mengapa pembahasan jadi ke arah ini? Bukankah kamar hotel sudah menunggu mereka? Mengapa tidak membicarakan mau gaya apa? Pakai lingerie yang mana? Atau menanyakan; Abang, mau aku pakai kostum yang mana? Dan dijawabnya; pakai kostum anak SMA Jepang yang roknya sangat pendek, dan bajunya memperlihatkan pusar. Bukankah itu lebih menggairahkan?
"Bang?" Kira menarik mantel Harris yang tidak dikancingkan itu. Matanya menuntut suaminya menanggapi.
"Aku sedang berpikir, astaga! Kau membuat pikiranku buyar!" Harris mendengus.
"Ya, jelas ... Aku sudah capek pesan kostum-kostum seksi untuk kau pakai, tapi kau malah bahas Jen dan Kristal! Apa aku kesini hanya untuk memikirkan anak-anak saja?" Harris kesal.
Kira membeliak. "Jadi koper itu isinya mainanmu? Jadi yang kau bilang mainan itu mainan untukmu?"
Kira membuang muka, bersamaan dengan napasnya. "Hah! Kau menyebalkan sekali!"
"Aku yang menyebalkan? Kau itu yang menyebalkan!" Harris melotot. "Aku sudah ikuti apa maumu, naik kereta lambat yang bikin aku ngantuk, dan sekarang saat aku ingin kita berdua saja, kamu bilang aku menyebalkan? Kau sangat tidak adil!"
"Oh, jadi tidak ikhlas anter aku naik kereta?" Kira menatap tajam suaminya. "Aku hanya minta satu hal, dan kau mempermasalahkan? Minta balasan? Oh, aku baru sadar pria memang tidak ada yang tulus!"
"Iya, aku memang tidak tulus, aku memang minta imbalan! Juga cuma satu hal, yaitu bercinta! Tapi kau membuat semuanya sulit!" Harris melotot, bersedekap mengintimidasi dengan mendekati wajah Kira.
"Kenapa? Kau keberatan? Kau sudah lupa kau tidak mencintaiku selama sebulan ini? Kau sudah mengabaikanku dengan terus tidur dengan anak-anakmu! Kau pikir aku bisa memuaskan diri dengan guling? Atau memandangimu dan menuntaskannya sendiri? Aku sudah menahan diri untukmu sejauh itu, tapi kau malah bilang aku tidak tulus!"
Kira menatap suaminya lekat-lekat. "Kenapa jadi marah-marah? Itu yang aku urus anak-anakmu juga!"
"Lalu apa gunanya ada Sita dan yang lain? Makan gaji buta?" Harris kembali meledak. "Atau aku titipkan saja mereka ke asrama, agar kau mau memperhatikan!"
"Abang!" Kira membeliak. "Mereka masih kecil, kenapa Abang tidak pengertian pada mereka?"
"Aku mengerti, tapi bukan berarti kau sendiri yang terus mengurusi mereka!" Harris masih mengeluarkan kemarahannya. Jujur, dia sangat gelisah sebab tidak punya kesempatan sedikit lebih dekat bersama Kira. Kepalanya pening setiap hari, dia sama sekali tidak bisa keluar jika tidak dikeluarkan oleh Kira. Ini sesuatu yang menyiksa. Sungguh.
"Sorry!"
"Shut up!" bentak Harris saat seorang pegawai stasiun mendekati mereka.
"Oh, sorry, I just informed you that the station will be closed." Pria itu tampak kesal, ditukas ketus oleh Harris.
Harris terkejut, dan sedikit malu, tetapi pria yang sedang marah itu hanya membenahi mantelnya, lalu meninggalkan peron, tanpa memedulikan Kira.
Kira membuang napas, lalu tersenyum pada petugas itu. "Sorry, he's in a bad mood."
Petugas itu mengangguk, lalu meninggalkan Kira yang segera menyusul suaminya.
"Pantas dia uring-uringan terus." Kira bergumam, dia berjalan di belakang Harris, tanpa mau menyejajarinya. "Masa sama anak juga tidak mau mengalah?"
Situasinya sangat tidak terkendali karena anak-anak sedang dalam mode menempel pada ibunya. Terutama si Kembar. Kira hanya sedang menyempurnakan fase dalam kehidupan anak-anaknya. Dan ini tidak akan berlangsung lama, tetapi ini akan berguna selamanya.
"Haish!" Kira kesal sendiri. Lagian, dia tidak melihat Harris keberatan. Jadi siapa yang salah di sini? Kan biasanya juga tinggal tarik ke kamar mandi, terus celap-celup manis, kelar, kan? Apa dia hanya mau full service saja? Tidak menerima short service?
"Astaga! Kupikir, semakin tua, semakin mengerti, tapi ternyata ... malah makin kaya bocah!" Kira terus menggerutu. Memandang kesal punggung lebar yang terus menjauhinya.
Kira membuang muka, lalu bertekat dalam hati. Akan menyiksa suaminya sampai dia yang minta berhenti. Biar tau rasa dia!