
Anak-anak memang unik perilakunya, Si kembar ini seperti tidak habis energinya, sehingga Kira benar-benar dibuat kewalahan akan tingkah mereka. Ini sudah jam satu pagi, dan anak dua itu belum ada tanda-tanda mengantuk.
Mereka dengan riangnya berlarian, mengganggu pengasuhnya yang tak sengaja tertidur, dan berteriak-teriak. Kira tak henti memperingati si Kembar bila kelewatan, matanya tak pernah putus mengawasi, apalagi di tempat baru, rasa penasaran anak-anak itu semakin meluap-luap.
Kira meregangkan punggung saat lelah mengejar mereka. Hal itu tanpa sengaja dilihat oleh Asisten Tony yang kebetulan terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Melihat Kira yang sudah sangat lelah, membuat Asisten Tony iba.
"Nyonya ...." Kepala botak Asisten Tony menyembul dari balik pintu yang sedikit terbuka. "Biar anak-anak bersama saya, anda beristirahatlah!"
Kira merasa tidak enak hati, tetapi begitu Asisten Tony berjongkok di depan pintu, anak-anak langsung berhenti dan menatap Asisten Tony.
"Saya merepotkan—"
Asisten Tony mengibaskan tangannya. Sama sekali tidak merepotkan, sebab dirinya suka dengan anak-anak.
"Main sama Kakek dan Uncle Riko, yuk." Asisten Tony mengulurkan tangan untuk membujuk si Kembar. "Paman Riko punya banyak mainan yang seru di kamarnya."
Kedua bocah itu berdiri dengan spontan dan berlari menyongsong ke dalam pelukan Asisten Tony.
"Anda bisa istirahat dan mempercayakan mereka pada saya," ujar Asisten Tony meyakinkan, lalu membawa kedua bocah itu keluar menuju kamarnya yang ditempati bersama Riko.
Si kembar melambai saat keduanya berada di masing-masing pundak Asisten Tony. Kira bahkan belum sempat mengatakan apa-apa saat pria itu lenyap dari pintu.
Kira akhirnya kembali ke kamarnya, dimana Harris sudah tertidur pulas. Tentu Kira tidak berani mengomel hanya karena suaminya sama sekali tidak membantunya mengasuh anak-anak. Mungkin, Harris masih marah soal kejadian sore tadi. Bergegas Kira menuju kamar mandi dan membersihkan diri seperlunya.
Ketika Kira menyusul Harris, pria itu langsung terbangun dan duduk tegak di atas ranjang. Tangan panjang pria itu menarik pinggang Kira hingga menempel di tubuhnya.
"Abang!" Kira berteriak saking terkejutnya. "Kenapa ngagetin begitu sih?"
Harris sepertinya sudah merencanakan sesuatu sebelum ketiduran, sehingga sekarang dirinya langsung memutar kepala menghadapi Kira yang terlihat segar.
"Kau ingat untuk kembali ke kamar? Apa mereka mau kau tinggal?" Harris menahan diri untuk tidak menyebut anak-anaknya sebagai pengganggu sialan. Dia takut Kira malah marah dan dirinya gagal bahagia.
"Ya—emmph!"
Belum habis Kira berkata, Harris langsung menubruk bibir Kira lalu menciumnya dengan brutal. Harris begitu lapar dan haus akan penyatuan cinta mereka. Sehingga malam itu, Harris berniat menghabiskan Kira sampai tak bersisa.
Kira mendorong dada Harris saat dirinya merasa kehabisan napas. "Abang, aku ngantuk, badanku pegel semua dikerjain anak-anakmu, masa kamu tega—"
"Sekarang aku yang kerjain kamu, kalau ngantuk tidur saja. Aku bisa melakukannya sendiri, walau kau tidak membalasku apa-apa!"
"Hah?!" Kira bingung sendiri. Kalau begitu ceritanya, dia bukan merem karena tidur, tapi merem karena keenakan. Astaga!
Harris begitu tidak sabar, jari-jari panjangnya dengan cepat merontokkan pakaian Kira. Mata laparnya langsung menyasar dada, lalu bergumam di sana.
Kira memang sudah berumur, tetapi tubuhnya tetap sensitif jika mendapat rangsangañ di bagian dada. Ujungnya yang bulat langsung mencuat tegang saat sesuatu yang basah dan hangat bermain di sana. Bibir Kira mendesah tanpa sadar.
Harris tersenyum puas mendengar itu, kemudian mendongak, menatap Kira dengan seksi. "Nikmati saja, Sayang ... dan kau pasti tidak akan memintaku berhenti."
Kira mendesah lagi, hembusan napas Harris yang hangat membuatnya merinding. Dirinya sudah melayang dan kehilangan kendali dibawah kungkungan suaminya yang begitu perkasa ini.
Harris kembali menyerang dada yang tampak kencang ini. Harris menikmatinya begitu rakus. Tanpa Harris sadari, Kira melakukan perawatan sedikit ekstrem untuk menyenangkan Harris pada bagian kesukaan suaminya itu. Toh anak-anak sudah besar dan dia tidak lagi ingin memiliki bayi. Kira tentu tidak mau Harris kecewa, melihat bagian itu agak kendur setelah menyusui si Kembar.
"Katakan sesuatu, Sayang!" pinta Harris saat pemanasan yang dilakukannya mencapai batas.
"Abang, aku menginginkanmu ...." Kira mengatakan itu dengan geliatnya yang begitu seksi. Napasnya yang masih tak beraturan membuat Harris menyeringai.
"Hanya itu?!" Harris kurang puas tentu saja. Kira biasanya lebih nakal saat membakar gairahnya. Mungkin Kira sedang malu saja.
Kira kesal karena Harris berlama-lama di sana. Dia hanya ingin menyelesaikan tugasnya itu, lalu tidur. Tetapi Harris selalu memintanya dalam paket lengkap. Huh, fantasi suaminya ini mengerikan walau sudah tua!
Kira merendahkan suaranya, "Masuki aku, Abang ...!"
Harris menyeringai dan segera menempatkan diri, lalu melalukan apa yang diinginkan Kira dengan seringai kemenangan yang mutlak.
"Jangan abaikan Abang lagi, Sayang ... atau Abang nggak mau lagi masuk ke tubuh kamu seperti ini."
Ancaman Harris membuat Kira mendesah. Bukan khawatir atau takut, tetapi Harris menekankan dirinya langsung ke dalam, menyentak seakan tembus sampai ke ulu hati.
Harris senang sekali, lalu semakin bersemangat bermain kuda-kudaan hingga tubuhnya tak bisa bergerak lagi.
Sementara, ketika dua balita itu berlari ke ranjang yang ditempati Riko, Riko yang baru lima menit memejamkan mata, mengeluarkan desah keberatan.
"Uncle-Uncle!" panggil dua bayi itu dengan penuh semangat meski belum jelas. "Kita main mobil-mobilan."
Tubuh Riko ditegakkan paksa, lalu mengambil mainan yang dibawakan pengasuh yang selalu mengekor kemana pun perginya mereka berdua.
"Kenapa mereka dibawa kemari, sih, Pak?" erang Riko keberatan. Namanya Richardo Aru, tetapi ibunya senang memanggilnya Riko, agar lebih mudah diterima keluarga berdarah jawa sang Ibu.
"Pekerjaanmu adalah seluruh pekerjaan bosmu! Biasakan itu, Nak!" Asisten Tony langsung duduk di lantai, mengajak Azziel bermain lebih dulu, sementara Agiel masih berusaha menarik Riko agar mau turun dan bermain bersama.
Riko menyerah, tarikan Agiel pada kemejanya ini bisa merusak pakaiannya. Digendongnya Agiel, lalu didudukkan pada pangkuan saat mereka mulai bermain mobil remote yang sepertinya masih baru.
"Jika saja musuh-musuh kita melihat betapa feminin-nya kita saat ini, pasti peluru sudah mengoyak isi kepala kita, Pak." Riko bersungut, membuat Tony terkekeh.
"Kita terlihat macho dan keren. Istilahnya Hot Daddy, benar?"
"Ini melelahkan!"
"Anggap saja sedang berlatih mengurus anak sendiri, Boy!" Asisten Tony tersenyum. Senyum yang aneh, seperti sedang memikirkan sesuatu yang membahagiakan.
"Tapi kau bahkan tidak menikah, kau tidak akan punya anak! Usiamu sudah tua!" Riko mengolok dibalik fakta yang ada. Itu benar kan? Usia pria yang dianggap Riko sebagai Ayah keduanya ini, memanglah sudah sangat tua. Bisa jadi 60 an lebih.
"Tidak menikah juga tetap bisa punya bayi," jawab Asisten Tony seraya menoleh, membawa senyum yang luar biasa bahagia.
Kening Riko berkerut. "Apa Bapak sedang memikirkan kekasih Bapak yang sedang mengandung?"
"Anak kami bahkan sudah lahir?"
"Hah?!"
"Mungkin dia sudah sangat besar ...." Asisten Tony membuang muka ke depan, ke arah mobil-mobilan si Kembar yang saling beradu kekuatan. Yah, mungkin sedikit lebih besar dari mereka berdua. Mungkin ....