Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Hanya Ini Yang Bisa Kulakukan


Rega memaksakan diri untuk tegar saat melihat dokter melepas satu per satu alat di tubuh papanya. Ada rasa tidak ikhlas, tetapi kata Mamanya benar. Papanya akan semakin menderita dengan semua itu.


"Ikhlaskan Papamu, Nak. Doakan Papamu tenang di sana." Giza memeluk Rega yang terpaku tanpa bergerak sedikitpun.


Tangan Rega perlahan menyentuh tangan mamanya yang berada di dada. Memberikan usapan pelan, dan penuh perasaan seakan saling menguatkan.


"Aku ikhlas, Ma. Apapun yang terbaik untuk Papa, aku akan menerima dengan ikhlas." Air mata Rega mulai menuruni pipi, mulai deras dan dia tidak mampu menahan lajunya.


Keduanya ambruk dengan tetap saling berpelukan.


"Selamat tinggal, Papa," ucap Rega dalam hati.


Sementara, Dirga segera mengatur kepulangan Rega. Dia menghubungi Johan untuk meminta bantuan urusan transportasi.


Johan sebenarnya belum resmi memiliki perusahaan aviasi milik keluarga Darmawan, tetapi begitu mendengar kalau Reno telah meninggal, dia segera meminta satu pesawat khusus untuk mengangkut jenazah Reno kembali ke Indonesia.


Viona berpura-pura tidur saat Johan menerima kabar kematian Reno. Tetapi dia diam-diam menangis. Mungkin sesalnya tak akan bisa terbayar dengan maaf. Mungkin hidupnya tidak akan pernah lepas dari kebencian Giza dan rasa bersalah yang sangat terlambat.


"Maafkan aku, Reno." Viona menutup mulutnya menahan tangis. Sungguh, jika ada yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya, akan dilakukannya dengan senang hati.


Dirgantara baru bisa tenang setelah semuanya urusan pemulangan jenazah Reno teratasi. Dia sendiri yang turun tangan mengatur, membiarkan Asisten Toni seperti bawahan tidak berguna, sebab sebelum pria botak itu bergerak, Dirga lebih dulu menyerobot. Begitu cekatan dan sigap seakan usianya masih sangat muda.


"Saya ingin bicara, Tuan." Asisten Toni merasa jengah pada akhirnya, setelah Dirgantara menyelesaikan perintah terakhir tentang bagaimana dan dimana Giza beserta Rega akan tinggal di sisa malam ini.


Dirgantara menjauhkan ponselnya, menatap orang kepercayaannya ini tajam, tetapi sorot mata itu terlihat kalah.


"Katakan!" Dirga mengusap wajahnya, lalu duduk di kursi panjang kediaman miliknya di negara ini. Pria itu tampak letih.


"Saya akan mengundurkan diri jika anda memutuskan menikah dengan Nyonya Giza setelah ini." Asisten Toni berkata seraya menunduk. "Tanpa mengurangi rasa hormat dan terimakasih saya kepada anda, Tuan."


Dirga mengerutkan keningnya, menyimpulkan seluruh kejadian belakangan ini. Saat dia sibuk memikirkan bagaimana menyembuhkan Reno, si botak ini justru sibuk memprovokasi Harris agar mengultimatum dirinya. Begitu rupanya ... pantas Harris marah-marah tak jelas padanya.


Dirga tertawa kecil, seraya mengusap keningnya. "Jadi kau yang mengotori pikiran Harris juga?"


"Saya terpaksa, Tuan ... saya pikir anda sudah tidak bisa dikendalikan lagi, sehingga saya tidak punya pilihan." Toni menjawab penuh ketegasan, juga kemarahan. Ayolah, pikirkan betapa sulit pekerjaannya kedepan nanti jika sampai pernikahan itu terjadi. Hanya ada api dan dendam dalam hidup tuannya yang damai. Oh, juga hidupnya yang kini sedikit berwarna karena kehadiran cucu tuannya tersebut.


Dirga menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir bagaimana si botak bak robot ini berpikir sejauh itu juga ke arah itu.


"Toni ... aku bertanya berapa lama kau ikut denganku? Lalu hitung berapa lama Amalia meninggalkan ku? Ingat juga apa aku pernah mencoba menggantikan posisi Amalia di hatiku? Aku pria setia, sekalipun pasanganku meninggalkan ku lebih dulu. Sebersitpun aku tidak pernah berniat memilih atau memiliki satu saja wanita di dunia selain Amalia. Biarkan saja aku dikatakan kuno, tetapi aku hanya mencintai satu wanita, yaitu Amalia. Ibunya Harris ... ingat selalu hal itu!"


Toni menatap atasannya seraya mengerjab, "Tapi Tuan, saya melihat anda bersikap berbeda pada Nyonya Giza. Tidak seperti pada Nyonya Akira ... anda tampak seperti menginginkan."


Dirga menjatuhkan napasnya yang lelah dengan berat. "Toni ...," ucapnya pelan. Dirgantara berdiri, memasukkan tangan ke dalam sakunya.


Toni seperti tentara yang langsung memasang gesture siaga mendengar panggilan itu.


"Coba pikirkan baik-baik." Dirga menekankan. "Jika jadi aku, bagaimana kau akan menebus rasa bersalah ini pada Giza." Dirga menatap Toni penuh tanya.


Toni mengarahkan matanya ke arah pikirannya berkelana. Tetapi dia belum menemukan jawaban yang pas. Dia masih kekeh; bahwa Tuan Dirga tidak perlu sebegitunya demi Giza.


Mungkin kepala Asisten itu sedang penuh, jadi tidak bisa berpikir. Atau mulai terkontaminasi emosi asing sehingga prosesor robotiknya mulai eror. Emosi bernama cinta dan empati.


"Aku—dan kamu tentunya—tahu kalau rencana Harris telah bocor. Siapa yang membocorkan dan bagaimana bocornya rencana itu, kita tahu. Kita bisa saja memberitaju Harris saat itu, kan? Tetapi kita tidak melakukannya sebab berpikir semua akan baik-baik saja seperti biasa."


Dirga semula menatap Toni, tetapi kemudian memilih berbalik dan berjalan menuju jendela. "Ku pikir, membiarkan semua terjadi sebagaimana rencana mereka berjalan, mampu membuka mata Harris akan Viona. Aku terlalu mengambil resiko waktu itu. Aku tidak berpikir panjang dengan mempertaruhkan Reno di sana. Aku egois dengan membiarkan Reno ikut andil dalam pembelajaran yang ditujukan untuk Harris."


Dirga menundukkan kepalanya, air mata penuh sesal mulai menuruni pipi. "Aku merasa sangat bersalah karena itu. Giza benar, aku tidak bisa mengubah masa lalu. Aku yakin, Giza diam-diam tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya, tetapi membiarkan saja semua terjadi. Padahal, aku bisa melakukan banyak hal untuk mencegah itu semua terjadi."


"Kita tidak mengetahui kalau akan ada pengeroyokan oleh orang bayaran waktu itu, Tuan. Kita hanya tahu, kalau akan ada perubahan rencana. Menurut saya, waktu itu bukan salah anda sepenuhnya." Ini yang membuat Toni merasa kesalahan pada Reno tidak lah seberat yang dipikirkan tuannya.


Dirga memutar badannya menghadapi Toni. "Aku tahu semuanya, Toni. Aku seharusnya mengebom markas Martin dan membunuh Viona saat itu juga. Jika aku mau bertindak waktu itu, tidak akan membuat luka sebesar ini sekarang. Reno dan Giza akan bahagia dengan keluarga kecilnya."


Toni menunduk. Dia sadar, meski dia tahu dan terpercaya, ada beberapa hal yang tetap tersimpan rapi di hati dan pikiran atasannya ini. Tujuan tuannya melakukan itu hanya demi menyadarkan Harris akan Viona yang begitu licik, tetapi tidak pernah dia sangka, jika Reno akan terkena imbasnya paling besar.


"Saya seharusnya memahami anda, Tuan. Maafkan saya."


Dirga membuang napas, lalu kembali memandang ke arah jendela. "Aku pria jahat, Toni. Akulah yang sebenarnya membunuh Reno."


Toni menaikkan wajahnya menatap punggung yang masih terlihat kokoh itu, tidak tampak usia menggerogotinya. Bibirnya bungkam, seakan tidak bisa mengucapkan satu kalimat penghiburan untuk bosnya ini.


"Biarkan aku tetap menyayangi mereka sebagai bentuk rasa bersalahku pada mereka. Meski tidak sebanding, biarkan semuanya seperti ini. Tidak peduli kalau Giza menolaknya, aku akan tetap melakukannya dengan banyak cara."


Toni membungkukkan badan menyetujui perintah tuannya. Dia mendukung penuh, sebagai bentuk permintaan maaf atas kelancangannya membuat keadaan sedikit rumit belakangan ini.


"Anda beristirahatlah, Tuan. Biar saya yang mengurus Nyonya Giza dan Tuan Rega." Asisten itu kembali siaga dan sigap. Sepertinya nyawanya telah kembali.