
Harris melepaskan jas yang di kenakannya dan melemparkan ke sembarang arah. Lelah tentu saja di rasakannya mengingat jadwal yang padat saat berada di luar negeri. Ya, Harris menyelesaikan semua pekerjaannya, sehingga tidak sampai satu minggu dia di negeri orang. Bukan saja karena rindu, cuaca yang tidak menentu di luar negeri, membuatnya khawatir tidak akan segera bisa pulang. Selain itu, masih ada beberapa agenda yang menunggu di selesaikan di dalam negeri.
Rumah terasa sepi tanpa suara ketiga anak sambungnya. 5 hari berjauhan dari mereka, rasanya sudah seperti setahun. Apa mereka masih sekolah? Selama di luar negeri, Harris memang tidak bisa menghubungi rumah, alasannya hanya satu, sibuk. Dan juga perbedaan waktu.
Harris merebahkan tubuhnya di ranjang, tempatnya berbagi cinta dengan Kira. Aroma khas wanita yang selalu di rinduinya menusuk ke dalam indera penciumannya. Memejamkan mata, membiarkan wangi tubuh kekasih hatinya merenangi seluruh jiwanya.
"Kemana dia?," Gumam Harris, tanpa membuka mata. Harris memang sengaja tidak memberi tahu siapapun kalau dia pulang hari ini. Harris ingin mengejutkan istri dan anak-anaknya.
Harris beranjak bangun, segera menyegarkan diri sekedar melepas lelah. Hatinya tahu harus kemana. Menemui kekasihnya.
Harris keluar kamar saat badanya sudah segar dan wangi. Siapapun pasti akan terpesona melihat aura yang di pancarkan lelaki ini. Ah, indahnya pahatan agung Yang Maha Kuasa.
"Sayang," Panggilan manja itu. Bukan, itu bukan kekasihnya. Seketika, senyum yang terukir di bibir indah itu, sirna. Berganti dengan raut wajah dingin dan menakutkan.
Harris menoleh ke sumber suara. Namun, dia sama sekali tidak menatap wajahnya. Wajah yang sangat tidak di harapkannya.
"Ada apa?," Suara dingin yang sarat keengganan meluncur dari bibirnya.
"Kau mau makan?,"
Harris berdecih, seperti mendengar suara cicak yang mengganggu tidurnya.
"Tidak." Harris segera pergi meninggalkan Viona.
"Sayang, kau mau kemana?," Viona setengah berlari mengejar Harris. Mencoba meraih tangannya, namun segera, Harris menepisnya. Seolah nyamuk yang menghisap darahnya.
"Bukan urusanmu," Harris berhenti, tetapi dia tidak menoleh bahkan melirikpun tidak, ke arah Viona yang kini berada di sampingnya, menghadap Harris. Seolah, melihatnya akan menyakiti matanya.
"Sebegitu bencinya kamu padaku, Ris? Apa kurangku padamu? Aku bahkan rela menghamba padamu, apa kau tidak akan memaafkan aku?," Mata Viona berkaca-kaca, menahan setiap sakit yang menderanya kini.
Harris membasahi bibirnya, yang seakan kering. Membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba merasa dahaga. Mencoba sabar menghadapi wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
"Aku tidak membencimu, hanya saja, aku bukan Harris yang dulu, yang rela menjadi budakmu, yang bersedia mati untukmu," Harris menelan salivanya kembali seakan berbicara dengan Viona menguras persediaan cairan di tubuhnya.
"Kau tanya apa kurangmu? Kau pikir selama ini kau punya kelebihan? Kau selalu kurang di mataku, kau terlalu meninggikan dirimu, seakan kau berharga. Jika kau tidak mau menghamba padaku, pergilah dari sini, aku tidak akan mengejarmu," Harris menatap nanar wajah ayu di hadapannya. Wajah yang kini berurai air mata.
Viona merosot, seakan kakinya kehilangan tulang, tubuhnya kehabisan energi sekedar untuk berdiri. Bersimpuh di kaki Harris, meratapi nasibnya.
"Berhentilah merengek, jika kau ingin tetap tinggal di sini. Aku rasa aku sudah cukup bermurah hati padamu," Harris melangkah meninggalkan Viona yang masih meratapi kemalangannya. Dia tidak menyangka, Harris akan berubah begitu cepat.
Tidak ada gunanya dia bermain peran, dia sudah tidak di inginkan, sekarang, dia hanya perlu menebalkan muka berjalan di rumah ini. Mau bergantung kepada siapa? Karirnya? Sejak dia hadir, bahkan tak seorangpun mau mempekerjakannya. Viona berdiri memandangi mobil yang Harris kendarai, hingga lenyap dari pandangannya.
Harris menuju rumah mertuanya, yakin istrinya ada di sana, namun ketika dia menghentikan mobilnya di halaman, dia sedikit ragu. Halaman tampak kotor, dan rumah sepi, tirai-tirainya tertutup, kosong. Harris mencoba membuka pintu, mengetuknya, barang kali mereka tidak mendengar. Tetapi hingga Harris mengelilingi rumah ini, dia tidak menemukan siapapun.
Panik. Gusar. Harris meraup wajahnya dengan kasar, menyisir rambutnya, setengah menarik, sekali lagi menatap rumah ini, sebelum pergi meninggalkan halaman.
Tempat demi tempat yang biasa di kunjungi Kira, dia jelajahi satu persatu, namun dia tidak ada di semua tempat itu. Harris memukul setir mobilnya, hingga tangannya terasa sakit. Air matanya mulai membasahi pipinya, dia mulai ketakutan akan kehilangan wanita itu.
Johan, kelelahan karena kurang tidur selama berhari-hari, semula akan merebahkan badannya, namun raungan singa menggelegar di sambungan ponselnya, mengurungkan niatnya. Meski kesal, dia segera bergegas ke tempat dimana mereka berkumpul.
Kediaman Tuan Dirga mendadak riuh, semacam orang mengadakan hajatan, namun semua orang di sini, bermuka suram dan tegang. Di dalam rumah, semua berkumpul, Rina, yang terakhir kali bersama Kira tidak tahu menahu dimana majikannya berada, karena Kira hanya bilang akan ke rumah orang tuannya. Dan, Agus, dia sedang pulang kampung, dan tidak bisa di hubungi. Semua orang berada dirumah Harris di tanyai satu per satu namun, mereka hanya tahu, majikannya sedang dirumah orang tuannya.
Harris meraung, menggusur barang-barang di meja Papanya. Tanpa bisa mencegah, seakan tahu tabiat buruk anaknya, Tuan Dirga hanya membiarkannya. Tuan Dirga sendiri juga bingung, kemana menantunya pergi. Sementara Harris berpikir, Kira pergi karena ada Viona, tetapi, bukankah dia yang memintanya agar Viona tinggal?. Harris tergugu, pria kuat itu, menangis karena seorang perempuan.
Asisten Toni, dan beberapa orang pakar sedang sibuk menatap layar berkedip di hadapannya. Wajahnya tegang, seperti hendak di eksekusi. Hidup dan mati mereka, tergantung pada di temukan atau tidaknya wanita kesayangan bosnya.
"Tuan, Nona Kira terakhir melakukan transaksi di sebuah toko baju di kota S, dan ponselnya terakhir di gunakan di terminal bus kota S sekitar 3 hari yang lalu," Ucap Asisten Toni, dengan wajah datar ciri khasnya.
Harris segera bangkit, "Aku berangkat ke sana Pa, tolong kabari aku jika ada informasi lebih detil."
Pesawat yang membawa mereka ke kota S, mendarat dengan selamat di bandara kota S. Rombongan berjumlah 10 orang itu, segera menaiki mobil yang telah menunggu mereka di luar bandara.
Harris masih terlihat cemas dan lelah, dia kurang tidur beberapa hari ini. Dan sekarang, matanya enggan sekali terpejam. Menelisik setiap sudut jalanan, barang kali dia menemukan istrinya sedang berjalan di trotoar.
Harris menuju titik paling jauh, dimana lokasi terakhir Kira melakukan penarikan uang. Jauh sekali keluar kota S, melintasi pegunungan dan jalan yang berliku. Hingga hampir 4 jam lamanya, mereka menyusuri jalanan, sampailah Harris di sebuah kota kecil. Bingung. Tidak tahu harus kemana.
"Tuan, istirahatlah sebentar, ini hampir malam, saya yakin, Nyonya hanya, pergi mengunjungi saudaranya, bukan meninggalkan anda," Johan mencoba menenangkan Harris yang tampak gusar.
Harris mendesah pasrah, dia memang merasa lelah. Mereka akhirnya menginap di sebuah hotel di tengah kota, yang sejuk ini. Sementara, anak buahnya sedang mencari keberadaan istrinya di kota ini.
Matahari bersinar tanpa malu-malu, geliat kota kecil ini mulai terasa sejak subuh hari, pasar tradisional mulai sibuk dengan aktifitasnya.
Seorang wanita, memarkirkan sebuah mobil bak terbuka di parkiran pasar tradisional. Bersama seorang pria berusia 25 tahunan, dan seorang wanita seusia ibunya, dia melenggang ke dalam pasar tanpa ragu.
Memakai celana pendek selutut, kaos dan topi juga tas kecil menyilang di dadanya, tubuh tingginya mendominasi pasar yang sarat dengan pengunjung. Kehadiran wanita itu menyedot perhatian terutama kaum adam.
Kira membaca apa saja yang di pesan oleh Bude nya. Dia bersama Ardi, anak dari wanita yang bersamanya tadi, mengangkut barang belanjaan ke dalam mobil. Sementara, Ibu Ardi masih berbelanja.
"Maaf," Cicit Kira yang tidak di gubris sama sekali oleh Harris. Tangannya saling meremas, saking takutnya.
Harris tiba di parkiran Hotel tempatnya menginap. Sekali lagi, Harris menyeret Kira ke dalam hotel. Beberapa orang melongo dan ada pula yang curiga. Mungkin saja ada kasus penculikan atau kejahatan terhadap wanita.
Johan, yang mengetahui Bosnya telah menemukan wanitanya, segera melapor ke Asisten Toni. Dan meninggalkan bosnya menyelesaikan urusannya. Johan memilih melanjutkan tidur, tubuhnya masih terasa lelah.
Harris menutup kasar pintu hotel, tanpa melepaskan istrinya yang merepet ketakutan.
"Sayang, maaf, aku belum mengabarimu, ponselku hilang di bus, dan aku kira kau baru akan kembali beberapa hari lagi," Kira memeluk suaminya yang masih di depan pintu.
"Apa kau menggodaku?," Harris tersenyum penuh arti. "Baiklah, karena kau sudah memulainya, sebaiknya kita selesaikan sekarang."
"Eh," Kira tak bisa lagi menyelesaikan ucapannya. Kini tubuhnya berada dalam kekuasaan suaminya. Kira mendesah pasrah, dan menikmati perlakuan suami yang sangat di rindukannya. Dering ponsel tak menghentikan niat Harris untuk tetap menjelajah.
"Sayang, ah, ponselku-berbunyi, mungkin itu, ah, Bude," Kira terbata-bata berusaha menghentikan Harris yang sudah setengah jalan menjajah dirinya.
"Jawab saja," Harris memejamkan mata, menyusuri aliran kecil sungai.
Kira menarik dirinya menjauh, namun Harris mengikuti kemana tubuh Kira mendarat, menjawab panggilan dari Budenya. Pasti mereka kalang kabut kehilangan dirinya.
"Nduk, kamu di mana? Ardi bingung nyari kamu, bisa-bisa, di amuk oleh Pakdemu, kita nanti, Nduk!," Suara nyaring Bude menggema di telinga Kira.
"Bude sama Ardi pulang saja dulu, Kira baik-baik saja, Bude. Ada suami Kira di sini," Kira berusaha berbicara senormal mungkin. Menahan suara terkutuk yang membuat siapa saja salah paham.
"Walah, bojomu nyusul ning kene, Nduk? Yo wis, ndang di ajak bali, Bude pengin ngerti bojomu, Nduk," Bude berteriak lagi, kali ini kegirangan karena akan bertemu menantu adiknya.
(Walah, suamimu menyusul ke sini, Nak? Ya sudah, segera pulang, Bude ingin melihat suamimu, Nak,")
"Nggih, Bude," Bude mematikan sambungan ponselnya sepihak, sehingga Harris segera menyerbu Kira kembali.
"Kita harus segera pulang, Mas, mereka pasti cemas," Kira menahan tangan Harris untuk mendapat perhatiannya yang sejak tadi fokus bergerilya.
Harris mendongak, "Tergantung kamu, kalau kamu bekerja sama, kita akan cepat selesai."
Kira mendengus, memang ada lagi yang harus di lakukan selain berkerja sama?, pikir Kira. Harris menarik sudut bibirnya sebelum kembali berenang di sungai berliku di hadapannya.
Timbul dan tenggelam, namun mereka berdua tidak berhenti, hingga nafas mereka hampir habis. Sungai ini benar-benar membuat Harris lupa diri. Hingga hari menjelang sore mereka baru meluncur ke desa di mana orang tua Kira berasal.
"Apa masih jauh, Yang?," Harris membelai lembut rambut Kira yang berada dalam pelukannya.
Kira memicingkan mata, "Iya, ini baru seperempat jalan, masih sangat jauh," Kira memejamkan mata lagi, tubuhnya remuk redam, seakan tenaganya terkuras habis.
"Aku lapar, Yang, kita berhenti dulu ya, kau pasti juga lapar?," Harris mengecup kening istrinya.
Kira mendesah, lalu bangkit dari sisi Harris,"Di depan ada rumah makan, menunya ikan bakar, mau?."
"Apa sajalah, yang penting kenyang," Jawab Harris. Dia terlihat sangat lelah, dan suara dari perutnya, menandakan dia benar-benar tidak bisa menahan lapar lagi.
"Kok kamu bisa nemuin aku di pasar tadi sih?," Kira tiba-tiba ingat, bagaimana dia bisa menemukannya. Padahal, dia tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya.
"Tanya Johan saja, dia yang menemukanmu tadi," Jawab Harris enteng.
"Kalau begitu, kamu ngga nyari aku dong?," Protes Kira. Wajah lelah itu, seketika merengut dengan bibir yang maju beberapa inci.
"Iya, Nyonya, Tuan hanya tidur sejak kemarin," Johan ikut mengkompori keributan di antara mereka.
"Sembarangan, aku lah yang panik seharian, dan TIDAK TIDUR, catat," Protes Harris. Dia menendang jok mobil yang di duduki Johan. Membuat Johan sedikit bergoyang. Namun, Johan hanya tertawa.
"Bohong, Nyonya Bos, Tuan makan dengan lahap dan tidur dengan nyenyak," Sambung Johan. Melihat wajah Bosnya yang merengut kesal, membuat Johan senang.
"Maaf Tuan, aku tidak bisa merebut wanita ini, jadi aku hanya bisa membuatmu marah," Batin Johan
"Aku bersumpah, akan memecatmu sepulang dari sini," Sekali lagi, Harris menendang belakang jok mobil, dan Johan sekali lagi bergoyang lebih keras. Seperti tawanya yang kian kencang.
"Oh ya, nanti di rumah Bude, jangan panggil nyonya atau tuan, oke, nanti kita kena pajak tambahan," Ucap Kira mengalihkan pembicaraan, ketika mereka berdua saling ejek bisa-bisa nanti saling lempar sepatu jika tidak segera di tengahi.
"Apa itu pajak tambahan?," Tanya Harris, dahinya sampai berkerut, saking bingung dan heran.
•
•
•
•