Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
On going or going on?


“Mau ikut ke kantor ku?” Harris memutar kepalanya ke arah Kira. Setelah perdebatan tentang hukuman usai, meskipun tak ada kata sepakat di antara keduanya.


“Tidak,” Jawab Kira acuh.


“Pasti membosankan” gumam Kira.


“Turun!” Seru Harris.


“Kau menyuruhku turun?” Kira menatap Harris. Kejam sekali, pikir Kira.


“Kalau tidak mau ikut ke kantorku ya, turun,”


“Kau kejam sekali, memangnya aku mau melakukan apa di kantormu?” Kira menghadap Harris yang tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang di pegangnya.


“Kau bisa mengelap kaca mulai lantai paling atas,” Jawab Harris acuh.


“Apa kau sudah gila?.” Kira tak bisa lagi berbicara lembut dengan suaminya yang menyebalkan itu. Kira memukul lengan Harris, walaupun sakit Harris hanya bergeming.


Harris menangkup kedua pipi Kira dan memutarnya ke luar kaca mobil.


“Kau sudah sampai di kafemu, makanya jangan melamun terus,” Harris berbicara di belakang kepala Kira, suaranya yang lirih hanya mampu di dengar oleh Kira sebagai bisikan tak jelas. Atau desahan.


Lagi, kelakuan Harris membuat Kira mendesis. Membeku, dan mau tidak mau menikmati. Namun, sedetik kemudian dia berhasil menguasai dirinya kembali. Segera, ia kembali ke mode normal, dan segera turun. Tidak, sebelum Kira melihat senyum penuh ejekan dari bibir penuh milik Harris.


Kira membanting pintu dengan kasar. Membuat Harris tertawa lepas. Menggoda Kira adalah kesenangan tersendiri buatnya.


Sepanjang jalan, Harris tak henti mengukir senyuman di bibirnya. Sesekali mengetuk kaca, dan mengigit bibir. Tak jarang pula, dia memperlihatkan barisan gigi putihnya.


Johan, memperhatikan itu semua melalui pantulan kaca kecil di depannya.


“Usia anda berapa, Tuan?,” Tanya Johan tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan yang ramai lancar.


“Apa kau petugas sensus penduduk?,” Harris seketika kembali ke ekspresi normal.


“Saya perlu memastikan sesuatu,” Johan melirik Harris melalui kaca spion.


“34 sebentar lagi, ada apa?,” Harris menanggapi Johan dengan serius. Dia berpikir ada sesuatu yang penting berhubungan dengan data dirinya.


“Sepertinya, anda mengalami masa puber yang terlambat,”


Harris mencondongkan tubuhnya ke depan, lebih dekat dengan Johan sebelum sebuah pukulan mendarat mulus di lengan kirinya.


Johan meringis menahan pukulan Harris yang tidak main-main. Johan bahkan tidak bisa merasakan lengannya beberapa saat.


“Apa aku terlalu tua untuk jatuh cinta lagi?,” Teria Harris, tanpa menyadari apa yang di ucapkan.


“Anda mengakuinya, Tuan?,” Johan masih meringis namun kini senyum terselip di antara kesakitan itu.


“Siapa bilang? Aku kan hanya bertanya,” Harris mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil yang mulai di aliri tetesan air hujan.


“Saya juga hanya bertanya, Tuan. Mengapa harus marah?,”


“Diam, suaramu membuatku sakit telinga,” Potong Harris cepat. Manik mata hitam itu menatap Johan dengan tatapan membunuh.


Johan segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Di susul tangan kirinya, seperti menutup resleting di atas mulutnya.


Sementara di kafe Ivy, Kira malah uring-uringan sekembalinya dari sekolah anaknya.


“Kenapa sih, Ra?,” Ivy menghampiri Kira di pantri, sedang mengambil air minum.


Kira mendesah, sebelum menenggak habis air putih di gelas yang di pegangnya, dia benar-benar di buat jengkel dengan kelakuan Harris. Sampai dia bingung mau mulai dari mana. Tidak mungkin kan, dari acara peluk-pelukan yang nyata-nyata di lakukannya. Apa kata Ivy, nanti.


“Lagi kesel sama Tuan Hakim, sukanya memvonis orang tak bersalah, dengan hukuman yang tidak masuk akal!,” Jawab Kira dengan penekanan di setiap katanya.


“Dirga Junior?,” Kira mengangguk. “Memangnya kamu salah apa?,”


“Gara-gara pingsan kemarin, dan jika aku tak memakai ponsel darinya,” Kira menunjukkan ponsel pemberian Harris.


“Ya udah, pake aja. Gitu aja ribet,” Jawab Ivy enteng.


“Iya di pakai sih, okelah. Tapi ujung-ujungnya, dia bilang ini tidak gratis,” Kira menirukan ucapan Harris, sehingga membuat Ivy tertawa.


“Apa dia tidak punya uang? Atau memang sengaja memerasku, agar aku berhutang padanya, dan terus bisa menindasku, begitu?,” Suara Kira naik satu oktaf.


“Bahkan pabriknya dia bisa beli, Ra. Kau itu yang bodoh dan tidak peka,” Ivy menimpuk kepala Kira dengan buku menu yang sejak tadi di pegangnya, saking gemasnya.


“Awh, apaan sih?,” Kira mengusap kepalanya yang sakit. Kira merengut kesal kepada sahabatnya ini.


“Kalian itu sudah menikah, tidak gratis yang di maksud bukannya dia mau di bayar pake uang, tapi pakai ini, ini dan ini,” Ivy menunjuk dada, jantung dan menabok p***** Kira dengan keras.


“Awwh, sakit Vy, kenapa sih mukul-mukul orang sembarangan?," Kira mengusap bagian belakang tubuhnya yang dipukul Ivy.


" Biar sadar, kayaknya kamu masih pingsan," Jawab Ivy santai.


"Masa iya, sih, Vy. Aku ngga percaya, deh," Kira memandangi Ivy, lalu ke badannya sendiri.


“Dengerin ya, Ra. Kamu udah punya pengalaman buruk bercerai, kamu mau jadi janda lagi?,” Kira menggeleng.


“Makanya, belajar dari pengalaman itu, sekarang kamu harus pandai merawat diri, jaga penampilan, apalagi sekarang kamu bukan Kira yang dulu, Kira yang bodoh. Ngerti?,” Ivy menyudahi ceramahnya.


“Tapi,-“


“Ikut saja, jangan membantah.” Potong Ivy cepat. Ivy sudah menduga jika Kira akan menolak, tapi kali ini Ivy harus memaksa Kira. Ivy tidak ingin sahabatnya menyia-siakan apa yang sudah di dapatnya. Jika Harris belum mencintai Kira, setidaknya Harris sudah menginginkannya. Cinta bisa datang belakangan, menurut Ivy.


“Gita, aku keluar dulu,” Tanpa menunggu jawaban Gita, Ivy sudah melesat keluar dengan menyeret Kira bersamanya. Ivy akan menyulap Kira menjadi wanita yang cantik untuk Harris. Wanita yang tak akan di lupakan oleh Harris.


Di rumah keluarga lain, tepatnya di kediaman Atmaja. Riana sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Dia ingin melaporkan tindakan kakaknya kepada sang Ibu.


Rumah sore itu sangat ramai, karena persiapan penyambutan Melisa yang akan pulang esok hari. Ada beberapa orang pekerja sedang menata kamar agar si bayi bisa tetap satu kamar dengan Ibunya. Seorang babysitter yang sepertinya baru di perkerjakan hari ini, sedang menata baju bayi di lemari. Rian memang baru membeli beberapa keperluan bayi menjelang persalinan, dan karena persalinan Melisa dua minggu lebih awal, maka semua serba mendadak.


Riana mencari ibunya, biasanya jam-jam seperti ini, Ibu berada di kamar.


“Bu,”


“Ada apa, Ri?,” Ibu yang semula berbaring kini bangun dengan susah payah.


“Kakak, Bu. Dia marahin aku hanya karena aku makan di tempat wanita kampungan itu bekerja,” Riana memanyunkan bibirnya beberapa senti. Membuatnya tampak seperti bebek.


“Kamu itu di bilangin hati-hati, jangan sampai kakakmu tahu, bisa-bisa kita yang dapat masalah, Ri,” Ibu menampik pelan tangan Riana.


“Yaa, aku ngga tau kalau Kakak akan ke sana, Bu,” Riana mengusap bekas pukulan ibunya.


“Jangan ke sana lagi dalam waktu dekat, kita bisa membalasnya lain kali,”


“Kesel banget sama dia, Bu. Dia semakin berani sama kita. Ihh,” Riana menggeram tertahan.


“Sudah, sudah, lain kali kita buat perhitungan sama dia,” Bisik Ibu di telinga Riana.


“Kapan Melisa pulang, Bu?”


“Besok sore katanya.”


“Kakak sekarang dimana?.”


“Mungkin masih di rumah sakit, ada apa?.”


“Mau minta uang jatah dari Melisa, untuk wanita kampungan itu,” Riana merendahkan suaranya, takut ada yang mendengar.


“Melisa kan di rumah sakit, pasti Kakakmu sudah memberikan secara langsung,”


“Gawat, Bu. Bagaimana kalau wanita itu memberitahu Kakak, kalau uang jatah darinya tidak pernah sampai,” Riana meremas tangannya yang tiba-tiba berkeringat dingin.


“Salahkan saja Melisa, kan yang pegang uang Melisa,”


“Iya, ya Bu” Riana tersenyum.” Bu, tau ngga?, uang itu sebenarnya hanya separuh dari jatah yang sesungguhnya, artinya, Melisa juga menggunakannya, kan Bu?,”


“Iya, benar. Dan Wanita bodoh itu yang akan di marahi habis-habisan oleh Kakakmu,” Mereka berdua terkikik.


Wanita berhati culas itu sebentar lagi akan memperdayai Melisa, seperti saat memperdayai Kira. Namun, baik Ibu, Riana, dan Melisa tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka ke depannya.


Sekarang, mereka sedang menikmati manisnya buah kejahatan. Tetapi, jika tidak percaya karma itu ada, maka percayalah pada azab pedih Tuhan, yang tidak pernah tidur mengawasi setiap makhluk yang berjalan di Bumi-Nya.


Setiap penderitaan dan sakit hati yang di alami oleh seseorang, pasti akan meninggalkan bekas. Dan bekas itu yang akan menjadi cambuk untuk lebih baik lagi di masa datang. Entah itu dia memilih berdamai dengan masa lalu atau membalas apa yang terjadi padanya, semua adalah pilihan. Dan takdir yang menentukan.


Karma bahkan belum menyentuh mereka.


.


.


.


Episode karma akan di mulai nih, tapi nunggu Kira seneng dulu yah, biar ngga sedih terus Si enengnya. Kan kesian😭😭


Jangan lupa, yang belum angkat jempol, sekrol lagi ke atas, jempolin author banyak-banyak!❤


Yang ingin komen, juga boleh 🥰


Yang mau Vote, alhamdulillah 🥰💕


Yang sudah Vote, Kamsahamnida, 🙏😘


Yang mau nimpuk keluarga Rian secara online juga boleh 😅


Pokoknya yang dukung author, yang baca ceritanya author, love you, kalian semua.


Terima kasih, 🥰🥰