Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Gadis Nekat


Kepulangan jenazah Reno di sambut oleh Harris dan Kira di bandara. Giza memakai pakaian serba putih dan kaca mata hitam, turun dari pesawat dan langsung menuju mobil yang berada di landasan.


"Semoga Reno tenang di surga, Giza." Kira menyambut wanita yang selama ini akrab dengannya. Pelukan Kira berikan, dan disambut Giza seperlunya.


Giza hanya mengangguk dan tersenyum lemah. Bibirnya bungkam dan sama sekali tidak mengatakan sepatah kata.


Harris belum pernah punya ekspresi selemah dan serapuh ini. Rasa bersalah itu terus saja menghantui.


"Kau boleh membenciku sebanyak yang kau mau, Giza. Biarkan Reno mengutukku dari atas sana." Harris berkata penuh emosi. Pria itu menangis kembali setelah semalam dia sama sekali tidak tidur. Hanya termangu dan terus terisak.


Giza mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Tidak mungkin dia akan melakukan itu, atau meminta sesuatu yang mengerikan kepada arwah suaminya. Cukup tahu Giza bagaimana mereka berdua begitu akrab bagai saudara sejak muda.


"Akan kulakukan jika itu maumu, Ris ...." Giza meneruskan langkah setelah sejenak memandangi sahabat suaminya itu. Terkadang, bayangan kebersamaan mereka muncul begitu saja jika melihat Harris.


Giza masuk ke dalam mobil, membiarkan Kira dan Harris memeluk Rega. Rega cukup tegar saat ini, Giza tidak perlu khawatir pada anak lelakinya itu.


Sementara Dirgantara, Johan, Viona dan kedua anaknya tiba dengan pesawat terpisah, beberapa jam setelah rombongan Giza meninggalkan bandara. Mereka langsung menuju pemakaman dimana Reno di semayamkan.


Sudah tidak tampak lagi pelayat yang datang, tetapi di sana masih ada Harris, Kira, dan anak-anak sedang menemani Giza juga Rega yang masih meratapi makam Reno.


Viona berjalan tanpa ragu mendekati pusara Reno yang diselimuti bunga. Kakinya bersimpuh, lalu meletakkan seikat bunga di depan foto Reno yang sedang tersenyum.


Giza langsung meraih bunga itu dan melemparkannya ke tanah. Mata Giza kembali marah saat menatap Viona.


"Jangan sekalipun kau berani menginjakkan kaki di sini, Viona! Suamiku tidak butuh doa atau tangisanmu ...!" raung Giza.


Rega menarik mamanya ke pelukan agar tenang, perkataan seperti itu sepertinya tidak pantas diucapkan di sini. Jika sesal tidak berguna, mungkin doa bisa menebus semua kesalahan.


"Ma ... tolong jangan berkata kasar. Redakan emosi Mama. Tidak baik kita menodai pemakaman Papa dengan keributan seperti ini. Papa pasti sedih," bisik Rega di telinga Mamanya.


Dada Giza masih naik turun menahan kemarahan, tetapi otaknya mulai mencerna ucapan putranya. Sisi hati Giza segera memohon ampun atas kekhilafan barusan.


"Maafkan Mama, Tante ...." Rega memohon maaf atas ucapan mamanya barusan kepada Viona yang sedang dibantu Johan untuk berdiri.


Mata Rega kemudian jatuh pada gadis muda yang biasanya bermain bersama Jen. Rega menghela napas. Begitu canggung suasana saat ini.


Kristal hanya bisa memandang sendu ke arah Rega. Gadis itu turut merasakan kesedihan Rega, tanpa berani mendekat dan menyampaikannya. Kristal terlalu takut pada Giza, yang disetiap kehadirannya selalu membuat Kristal seperti tak kasat mata.


"Jangan minta maaf, Rega."


Ucapan Viona membuat Rega mengalihkan perhatiannya dari Kristal.


"Tante pantas untuk tidak dimaafkan oleh mamamu dan juga olehmu. Tetapi Tante tidak akan pernah berhenti datang kemari dan terus memohon diampuni oleh papamu. Mungkin doa Tante tidak berarti, tetapi setidaknya Tante merasa sedikit lega."


Semua orang terdiam. Kecanggungan terasa sekali melebihi duka itu sendiri. Semua orang tahu bagaimana kejadian ini berawal, dan kini duka dan dendam sebagai akhir. Tetapi, tidak seorangpun bisa meredakan kebencian itu.


"Kita pulang sekarang, Rega!" Giza memutar tubuhnya tanpa berpamitan pada yang lain. Semua orangpun maklum pada sikap Giza.


"Kami permisi dulu, Paman ... Tante." Rega membungkukkan badan. "Terimakasih atas semua bantuan untuk kami dan Papa. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."


Harris maju untuk memeluk Rega. "Tolong jangan menjauh dari kami, Nak ... tetap anggap kami keluargamu."


Rega tersenyum kecil, dari sela pelukan Harris, matanya dapat melihat senyum di foto papanya seperti tertuju padanya.


"Pa, kata Papa benar. Keluarga yang Papa abdi selama ini sungguh berhati besar dan berjiwa lapang. Rega akan ingat pesan Papa agar tidak terus mendendam dan membenci. Papa benar dengan semua yang Papa katakan soal mereka."


Harris melepaskan pelukan dan memandangi wajah putra sahabatnya dengan perasaan haru biru. "Sekarang, Paman adalah walimu, jika ada apa-apa, kamu harus datang pada Paman. Paman adalah pengganti Papamu."


"Rega mengerti, Paman. Akan Rega ingat pesan Paman ini." Rega tersenyum. "Rega pamit dulu, ya, Paman. Mama bisa makin marah kalau terlalu lama menunggu."


Harris mengangguk dan membiarkan Rega pergi.


Tatapan pilu penuh air mata mengiringi kepergian Rega. Ketegaran Regalah yang membuat tangisan ini seperti tidak akan pernah reda.


Dari mobil, Rega mengawasi Kristal. Sejak tadi, gadis itu terus menatapnya. Gadis aneh yang dulu suka memandangnya, tanpa mau menyapa. Kristal bahkan lari jika dia menyapanya.


Namun, mereka sekarang cukup dekat dan sering bercerita tentang banyak hal, meski tetap harus sembunyi-sembunyi. Gadis kecil itu cukup cerewet rupanya.


"Psst ... ssstt!"


Rega terkejut mendengar desisan yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"Regaa ... Gaaa!"


Bisikan itu kembali terdengar. Kini malah memanggil namanya. Tetapi jelas itu suara seorang wanita.


Dari tempat tidurnya, Rega melompat bangun menuju jendela. Kedua tangannya menekan bingkai jendela, untuk melongok ke bawah.


"Kristal!" Mata Rega dibuat nyaris copot melihat Kristal sedang berada di halaman rumahnya, menaiki tangga untuk mencapai kamarnya.


Gigi kelinci Kristal berbehel itu menyembul, rambutnya yang ikal terombang ambing oleh angin sesekali menerpa wajah. Gadis itu kesulitan menyingkirkannya agar dia bisa menatap pria yang disukainya ini dengan jelas.


"Buruan bantu aku naik!" bisik Kristal seraya melambaikan tangan agar Rega menariknya.


Rega gugup dan sejenak menoleh ke dalam kamar. Dia takut mamanya datang dan melihat kekonyolan Kristal ini.


Rega mengulurkan tangan dan menangkap tangan kecil Kristal agar bisa naik ke kamarnya. Dalam satu kali tarikan keras, Rega berhasil menarik tubuh kecil Kristal masuk ke kamar.


"Kau nekat sekali!"


Kristal menyingkirkan rambutnya, lalu tersenyum cengengesan. "Aku takut kau terus bersedih. Jadi aku kemari."


"Kau pasti tidak bilang sama orang tuamu, kan?" terka Rega.


Ketika itu, Kristal kembali ke jendela dan melambai pada dua orang di bawah. "Kalian pulanglah, bawa tangganya pergi. Dan bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa malam ini."


Rega membuang napasnya melihat kelakuan bar-bar Kristal. Dia segera mengunci pintu dan membawa Kristal duduk di atas kasurnya.


"Nggak perlu sampai begini lah kamu ke aku, Kris ... aku baik-baik aja, kok. Malah ini akan bahaya kalau sampai orang tuamu tahu." Rega masih tidak percaya Kristal ada di kamarnya malam ini. Dia masih terlalu syok melihat betapa nekadnya Kristal untuk menemuinya.


"Selama kamu diam, kita aman, Ga ...." Kristal dengan santainya merebahkan diri di kasur Rega. Seolah menyelinap dan menyusup sudah biasa dilakukannya.


"Kau memang keras kepala." Rega menyerah. "Sekarang, kau pulanglah. Aku tidak apa-apa."


"Kau mengusirku, setelah aku susah payah naik?" Kristal mendelik kesal seraya bangkit kembali dari posisi rebahannya. Dia sudah memanjat dan kakinya terasa pegal. Bisakah pulang besok pagi saja?


"Bukan begitu, tetapi kau kemari hanya untuk melihatku kan?" Rega mulai kesal. Jujur saja dia sangat panik sekarang.


"Iya, sih ... tapi aku masih ingin disini sama kamu." Kristal merebahkan diri kembali di ranjang Rega. Dan masuk ke dalam selimut.


Rega ketar-ketir. Bagaimanapun, mereka sudah remaja dan tahu kalau pria dan wanita yang bukan keluarga berasa di dalam satu kamar. "Hei-hei, apa yang kau lakukan? Sebaiknya kau pulang saja!"


Rega menarik Kristal agar segera pergi dari sini. Tetapi Kristal memberatkan dirinya sehingga mereka terlibat tarik menarik yang cukup alot. Sampai pada akhirnya, Kristal menambah kekuatan dengan membalas tarikan Rega dengan kedua tangannya.


Rega yang tidak siap, terseret dan jatuh diatas tubuh Kristal. Remaja itu memekik keras karena tabrakan itu membuat bibirnya jatuh pada kening Kristal dengan keras. Keduanya meringis.


"Rega!"


Rega menoleh ke arah pintu, dimana suara itu berasal.


"Ada apa, Nak? Apa kau baik-baik saja?" Handel pintu bergerak naik turun dengan cepat pada detik berikutnya. Giza berusaha masuk.


Rega masih terkaget-kaget, panik, dan gugup. Dia turun dengan gerakan cepat, sehingga dia terjatuh dan menimbulkan bunyi bedebum yang keras.


"Nak! Kau tidak apa-apa, kan?" Gisa menggedor pintu dengan panik dan terus berusaha memanggil Rega.


"Nak!"


Giza mulai khawatir dan berlari ke laci dekat kamarnya untuk mengambil kunci cadangan. Dia kembali dengan langkah ketakutannya. Tangannya gemetar mencari anak kunci yang pas untuk pintu kamar Rega.


"Rega! Jawab Mama, Sayang!" Giza sudah mulai menangis saat pikiran buruk menghantuinya. Mungkin Rega terlalu sedih sampai tidak bisa mengatasinya, dan mungkin akan meninggalkan dirinya sendiri di dunia.


Ya Tuhan ....