Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Berburu Fajar


Dengan tidak sabar, Harris membopong tubuh Kira dan membawanya ke mobil. Membiarkan ekspresi menggoda dari istrinya, menahannya sampai tiba ditempat semestinya.


"Tumben masih menahan diri," gumam Kira dalam hati, sambil terus melirik suaminya yang meletakkan tubuhnya dengan hati-hati.


"Kau pikir aku akan melakukannya di sini?" Kira menarik bibirnya kedalam saat ketahuan batinnya memggumamkan sesuatu. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, wanita nakal!"


Jemari Harris menekan tengah-tengah kening Kira, "ahh sakit Bang," Kira meringis sambil menampar tangan Harris dengan keras sebelum mengusap bekas telunjuk suaminya.


"Simpan "ahh-mu" untuk nanti, Yang....kupastikan bukan lagi desahan, tapi jeritan," bisik Harris tepat di depan ujung hidung Kira. Napas Kira tertahan sejenak setelah melihat senyum sinis Harris yang tak kunjung hilang meski kini dia sudah berjalan mengintari bagian depan mobil.


"Mati aku!" Pikir Kira sambil membenarkan posisi duduk dan seat belt-nya. "Bang, kita pulang ya, kasihan Papa momong anak-anak."


Tangan Kira mencengkeram erat sabuk pengaman yang menyilang di dadanya saat Harris mulai melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran resto. Manik mata gelap itu fokus menghadapi jalanan, mengabaikan permintaan istrinya.


Tak sampai sepuluh menit, supercar limited edition itu berhenti di basement sebuah apartemen mewah. Bersikap biasa, tapi tetap tajam, Harris keluar dari mobil dan mempersilakan Kira turun.


Usai menutup pintu mobil dan memastikan mobil kesayangannya aman, Harris menggandeng Kira menuju lift. Tampak tenang, tapi justru hal ini yang membuat Kira waspada. Semakin tenang dan diam, semakin tak bisa diterka apa yang akan dilakukan Harris padanya. Atau berakhir seperti apa. Mencari alasanpun percuma.


Kira melirik jemari kokoh yang menekan pundaknya, seolah menegaskan kekuasaan. Bahkan saat masuk lift, Harris makin erat menarik Kira merapat padanya.


Lift bergerak cepat, hingga dalam hitungan detik, pintu lift terbuka menandakan mereka telah sampai di lantai yang dituju.


Masih dalam diam, Kira manut saja kemana Harris menariknya. Sungguh bibir dan pita suara Kira tak bisa menahan rasa penasaran.


"Abang beli apartemen lagi?" Lirih Kira tanpa menghentikan langkahnya.


"Iya yang lama sudah kujual, untuk beli unit ini."


Harris berhenti di depan pintu coklat gelap mirip serat kayu yang berkilat. Setelah menempelkan access card, Harris mendorong pintu hingga terbuka.


Begitu pintu terbuka, semua lampu menyala menampilkan isi ruangan yang begitu elegan dan mewah. Meski sudah sering melihat interior berkelas, Kira masih tetap mengagumi ruangan ini. Sederhana, tapi sungguh indah dan estetik.


"Kau suka...?"


"Hemm..." kepala Kira mengangguk, dia berjalan mengintari ruangan hingga mencapai pintu kaca besar bertirai tebal. Menyibak sedikit hingga menampilkan suasana malam kota ini.


"Jadi, kita mulai dari mana? Dapur atau sofa?" Bisik Harris. Memeluk Kira dari belakang dan mulai beraksi membakar gelora. Ujung hidungnya bahkan sudah menyusuri leher bagian belakang, meninggalkan kecupan dan gigitan kecil.


"Atau di sini saja?"


Kira mengangguk pasrah, apalagi dengan Harris di belakangnya. Tanpa bisa dicegah, Harris mulai menjalankan misinya.


Bayangan keduanya tercipta jelas dipantulan pintu kaca yang sedikit tersingkap tirainya. Buku jari Kira mulai memerah saking kuatnya cengkraman.


"Kita berburu fajar bersama, Yang! Jangan pernah memintaku berhenti, istriku yang nakal!"


***


Matahari sudah meninggi, memancarkan cahaya yang menyilaukan dan terik. Namun, dua insan itu tampak tak bisa menggerakkan satu otot pun ditubuhnya. Ya, berburu fajar memang melelahkan. Menggapai surya menetas, menikmati hangat pagi yang begitu menetramkan. Tetapi kenyaataan sungguh berbalik dengan angan, keduanya justru terlelap saat fajar seharusnya menyapa bumi.


Bunyi ponsel bersahut-sahutan memaksa wanita yang tampak berantakan itu, mengenakan kemeja putih suaminya yang berada dalam jangkauan tangannya. Tubuhnya begitu polos jika selimut yang melingkupi tubuhnya lolos dari pegangannya.


Melihat banyaknya tanda di bagian depan tubuhnya, membuatnya mendecakkan lidah. Setengah ingat, tapi juga lupa sesi yang mana tanda itu dibubuhkan.


Kaki telanjangnya turun, menjuntai ke lantai. Tangannya sibuk mengancingkan satu persatu manik pipih bening yang berjejer rapi. Tubuh yang serasa ditekuk-tekuk, terpaksa harus bangun dan berjalan menuju sofa. Sudah tak karuan lagi bentuk ruangan ini, benar-benar telah terjadi perang atau gempa.


Terseok, tersuruk, gontai, kaki itu terantuk beberapa benda sebelum mencapai tepian sofa. Dengan lemah dan malas, Kira meraih ponsel dan menggeser lambang hijau sebelum melemparkan tubuhnya di atas sofa lembut dan nyaman.


"Ya," suara serak itu sepertinya mengundang keheranan dari orang di seberang sana.


"Nyonya, kami sudah menunggu anda untuk mendekor restoran anda. Apa Anda sedang tidak enak badan?"


"Begitulah," jawab Kira asal. Dia asyik memijat tengkuknya yang terasa berat.


"Baiklah, Nyonya. Anda istirahat saja, kami akan menunggu sampai anda sehat kembali. Selamat beristirahat, Nyonya."


Tanpa mematikan sambungan atau menjawab Roren, Kira melempar asal ponsel itu. Masih setengah sadar, Kira melirik jam digital yang bertengger diatas ranjang besar tempat suaminya masih tertidur.


Kira bangkit sambil menyeret langkahnya ke kamar mandi. Sesekali dia memijat kepalanya yang berdenyut nyeri. Mengumpat dan menyumpah serapah suaminya, Kira mulai ritual mandi yang terasa begitu menyakitkan. Perih di bagian tertentu.


Butuh waktu lama bagi Kira untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya. Bahkan air di bathup sudah mulai dingin. Bathrobe berwarna putih itu segera melapisi tubuhnya yang basah. Handuk kecilpun segera menutup rambutnya.


Lemari dengan ukiran kayu yang begitu indah dan rapi adalah tujuan Kira selanjutnya. Tetapi saat dibuka, hanya ada setelan dan kemeja suaminya yang tertata rapi. Apartemen selalu menjadi rumah singgah Harris saat dia butuh istirahat atau berganti pakaian.


Tak punya pilihan, Kira memakai kemeja hitam Harris yang hanya sampai di pertengahan pahanya. Tapi, Kira tak peduli.


Dengan tangan menyangga dagu, Kira menggulir layar ponselnya. Berharap papa mertua, ayah, ibu, atau Excel mengiriminya pesan. Tetapi, tak ada satupun yang singgah di sana.


"Abang, pulang yuk?" Pintanya begitu tegas, "aku kangen anak-anak!"


Harris bergerak lembut dalam tidurnya, membalik tubuh indah itu hingga menampilkan dada hingga titik pusat tubuhnya.


"Apa kau sudah cukup tidur?"


"Hemm," tetapi Kira malah merebahkan diri di sofa, menjulurkan kakinya yang terlihat mulus mengkilap.


Harris bangkit dan membersihkan diri, tubuhnya terasa lelah tapi jiwanya terasa penuh. Dengan guyuran air yang seakan melarutkan kantuk dan penatnya, Harris sudah tampak bugar dan menawan lagi.


Tanpa mengenakan busana, hanya handuk melilit pinggang, Harris kembali menggagahi istrinya yang tampak masih terkantuk-kantuk.


"Abang ih... lelah tau!"


Seringai licik kembali terukir sebelum terkaman ganas menimpa bibir yang masih polos. Tangan Kira yang mulai mendorong dada suaminya yang masih basah dan menguarkan aroma lelaki yang khas, kini tercekal diatas kepala.


Sekali lagi, sesi panas dua manusia yang saling mengungkapkan cinta terjadi. Meski tak bisa terlalu lama, Harris tetap didera kenikmatan yang selalu membuatnya ketagihan. Atau membuatnya lelah.


***


Setelah makan siang, Harris mengantar Kira ke resto yang tengah direnovasi. Mendiskusikan konsep resto yang kini tengah diminati.


"Nyonya, Anda sudah datang!" Seru Roren yang tampak begitu lega melihat kedatangan Kira. "Tuan, Anda juga datang!"


"Ren, dia masih butuh waktu untuk istirahat, bisakah kau cepat?"


"Tentu Tuan, semua bisa Nyonya pelajari di sini." Roren menunjuk benda hitam kecil di tangannya, lalu menyerahkan kepada Kira. "Telepon saya jika Anda mendapat kesulitan, Nyonya."


"Makasih, Ren."


"Tidak, Nyonya. Kami yang harusnya berterimakasih, karena Tuan Harris yang menyelamatkan restoran ini. Sebenarnya, ini adalah restoran hasil patungan dua orang teman saya, tapi bagian saya dan seorang teman saya dibawa kabur oleh James Wijaya."


"Sudahlah Ren, kau berbakat dan aku tak ragu memercayaimu di sini. Andai Papamu melihat bakatmu, dia adalah orang yang paling menyesal."


"Saya yakin, papa saya tidak punya penyesalan sedikitpun Tuan!" Mata Roren berkaca-kaca saat mengucapkan itu. Tampak sekali gurat kesedihan di wajah ayu wanita itu. "Ah, saya permisi pulang dulu, Tuan, Nyonya."


Enggan ceritanya mengundang simpati dan kesedihannya terbaca, Roren melangkah meninggalkan Kira dan Harris yang masih saling pandang.


Rorencia Putri adalah salah satu putri konglomerat ternama. Demi mewujudkan mimpinya menjadi seorang chef, dia rela meninggalkan kekayaan orang tuanya. Dicoret dari ahli waris keluarga. Roren bersekolah sambil berkerja paruh waktu. Hingga akhirnya sukses menjadi chef yang cukup diperhitungkan bakatnya.


Restoran ini buktinya, meski masih patungan, tapi Roren, James dan Lily berhasil di dua tahun pertama. Dan di tahun ketiga, James telah menggelapkan uang milik Roren dan Lily. Bahkan, Lily harus meregang nyawa saat James kabur.


"Kita juga pulang, Yang. Aku kangen anak-anak."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.