Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Amazing Jeje


Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan tipis, namun harus dibayar mahal oleh Jeje. Dia mengalami cedera yang cukup parah akibat permainan kasar lawannya.


Tapi tidak ada yang bisa menghentikannya dari euforia kemenangan. Dengan kaki diangkat sebelah, Jeje berjalan ke arah mimbar kecil untuk mendapatkan medali dan tropi.


Pembawa acara terus menggemakan suara ketika masing-masing pemain dikalungi medali.


Ketika pembawa acara akan menyebutkan gelar individual, serombongan orang datang dan berbisik.


"Oh ... baiklah!" kata pembawa acara itu keras-keras. Jeje sudah tidak tahan berdiri dengan satu kaki, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke bench.


Tangan kiri pria itu melambai pada seseorang, yang tak lain adalah Darren.


Ketika sahabatnya itu tiba, Jeje berkata pelan dan sungkan. "Maaf merepotkanmu terus."


Darren mencibir penuh ejekan. "Kupikir, kakimu yang cedera, bukan isi kepalamu. Kenapa kau formal sekali padaku sekarang?"


Perubahan itu terasa sekali di telinga Darren. Jeje tersenyum kecut.


"Mama mu datang, kau jangan risau atau takut lagi. Tante Kira tampaknya tidak punya pilihan selain membiarkanmu dengan hobimu." Darren melanjutkan seraya memapah Jeje.


"Karena aku cedera saat Mama menonton, makanya aku merasa bersalah padanya. Ini yang selalu Mama takutkan." Jeje sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak cedera, tapi musuh menganggap Jeje adalah ancaman besar, jadi selain membuat Jeje berhenti, rasanya tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi.


Keras-keras pembawa acara berkata, menginterupsi ucapan Darren yang hendak membantu Jeje membebaskan rasa bersalahnya.


"... pemain terbaik ini sangat menonjol dan rasanya tidak terlalu berlebihan kalau saya menyebut dia adalah brilian di kelasnya. Jayden Jeje pantas menyabet gelar Pemain terbaik di turnamen ini. Jayden Jeje ... nomor punggung 13 dari tim under 16 Perxxxx, silakan naik ke panggung. Dan hadiah akan diserahkan oleh perwakilan federasi sepak bola kita ...."


Jeje terpaku, sementara Darren mendorong pundak Jeje.


"Je, itu namamu kan? Ayo, segera kesana!" Darren dengan semangat mendorong badan Jeje ke arah panggung.


Jeje seakan terhanyut oleh suara-suara yang mengelukan namanya dari pinggir lapangan. Perlahan bibirnya tersenyum.


"Ayo aku bantu!" Darren berkeras memapah dan membalik tubuh Jeje hingga sampai ke panggung. Di sana, dia bersanding dengan top scorer dan keeper terbaik.


Jeje memandang Darren yang sudah bertepuk tangan penuh rasa terimakasih. Tanpa Darren, Jeje tidak akan ada di sini. Darren membantunya berbohong pada Kira demi latihan. Dan tentu ditambah sedikit pengalihan dari papanya.


Ah, Papa ... Jeje tanpa sadar mencari-cari lelaki yang begitu dihormatinya itu. Rasanya penyerahan hadiah ini terlalu lama, Jeje tidak sabar ingin segera datang ke pelukan orang tuanya.


"Selamat ya, Jay!" ucap Top scorer yang berasal dari tim lawannya.


Jeje tersenyum, "selamat untukmu juga."


Mereka saling merangkul, meski anggota tim musuhnya tampak masam. Ah, mereka belum bisa menerima kekalahan rupanya.


Jeje tidak peduli, dia sudah banyak berusaha untuk kejuaraan ini. Dia hanya sedang ingin menikmati perasaan meledak di dadanya. Dia puas sekali pada pencapaian yang menurutnya luar biasa. Jeje tersenyum lebar.


Euforia belum berakhir, ketika di kamar ganti, Jeje dan seluruh anggota timnya masih merayakan kemenangan, sesekali ada interupsi dari beberapa orang sekadar meminta foto atau tanda tangan.


"Ya, boleh kalian minta—foto dan tanda tangan—sekarang, selagi mereka belum pakai pengawal. Yang di dalam itu adalah calon bintang."


Manager klub tertawa bahagia, seakan tidak ada yang mampu membendung perasaan penuh euforia ini seraya mempersilakan fans masuk bergantian.


Ketika semua orang masih sibuk, Hadi Wijaya menepuk pundak Manager dan berbisik. Sehingga manager tersebut langsung tertawa lebih keras.


"Baiklah-baiklah, Coach! Saya rasa, atasan akan dengan senang hati membicarakannya. Saya akan membuat janji dulu dengan beliau."


Mereka menjabat tangan dengan senyum penuh makna.


Kemudian selepas kepergian Hadi Wijaya, ada banyak lagi orang yang membuat manager klub tersebut seperti kebanyakan menelan zat adiktif. Dia tertawa keras.


Jeje mendapat tawaran menjadi bintang iklan untuk sebuah produk pakaian olahraga ternama, minuman bersoda yang akan mulai syuting setelah Jeje berusia 18 tahun, lalu produk ponsel selaku pendukung utama klub tersebut.


"Awalan yang bagus sekali, Jay!" Manager tersebut kembali berwajah serius ketika memperhitungkan besaran kontrak Jeje.


Senyum manager kembali terbit. Lantas dia menuju Jeje yang hanya bisa melihat perayaan dengan duduk di sebuah bangku sambil terus melayani para fans.


Jeje belum punya manager dan asisten, jadi manager tersebut mengambil alih semua keputusan Jeje. Dia tidak pernah tahu siapa Jeje yang sejak seleksi mencantumkan nama Rian sebagai orang tuanya.


"Jadi bagaimana, Jay? Kau siap ikut pemusatan latihan di skuad utama?" Manager tersebut melihat Jeje layaknya sedang menatap tumpukan uang. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Jeje yang masih sangat muda itu sudah mampu mempesona brand besar.


Yah, Jeje cukup tinggi dan tampan, posturnya sangat rupawan apalagi setelah nanti dia mulai fokus latihan. Kulit kecoklatannya akan semakin eksotis dan menarik minat brand luar negeri yang jauh lebih mahal.


"Saya harus menyelesaikan SMA, sebelum masuk ke dunia sepak bola yang sesungguhnya, Pak!" Jeje tersenyum sembari berkata. Dia sudah lebih dari cukup dengan kemenangan ini. Rencananya juga tidak sejauh itu.


"Ah, ya ... Aku setuju. Pendidikan tetap nomor satu. Tapi ...." Manager itu ragu-ragu saat melirik Jeje. "... Sementara kau ikutlah tim junior, disana banyak agenda, dan kau ada sponsor jersey dan peralatan olahraga. Bola juga bisa kau bagi untuk para fans mu biar mereka merasa dekat denganmu. Kami menyediakan beberapa koneksi agar kau bisa membintangi iklan. Dan ...."


Jeje memperhatikan gerakan tangan Manager tersebut. "Kau bisa ambil menghubungi nomer ini, dan pilihlah ponsel beserta aksesorisnya."


Jeje menerima kartu nama tersebut dan mengangguk. "Terima kasih banyak, Pak."


Manager tersenyum lalu menepuk pundak Jeje, "teruslah berlatih, Jay ... kau punya materi yang kami cari. Nanti atasan akan mengajak kalian semua bertemu jika beliau sudah pulang dari kompetisi luar negerinya."


Jeje mengangguk lalu memperhatikan lagi kartu tersebut. "Yah ... Aku akan dibunuh jika hanya ponsel saja yang aku dapatkan. Apa aku bisa minta monitor saja biar puas main PS?"


Jeje memasukkan kartu tersebut ke tumpukan barangnya di tas. Dia harus segera pulang dan memeriksakan kondisi kakinya.


Sementara, Kira telah bergabung dengan keluarga besarnya, juga Rian. Mereka terlihat sangat bahagia, meski Kira terlihat sangat khawatir pada kondisi Jeje.


Sayangnya, mereka tidak bisa mendekat lebih jauh. Harris tidak mau kalau sampai ketahuan dan membuat jalan Jeje lebih mudah. Bukan Harris tidak mau membantu, tapi Jeje harus terlihat sebagai dirinya sendiri agar karirnya langgeng. Harris sendiri mengerti, Jeje tidak suka hidupnya diatur.


"Bang, kita ke ruang ganti, yuk! Jeje pasti kesusahan dengan kondisi kakinya yang cedera."


Ketika itu, ponsel Harris berdering, jadi dia hanya mengangguk dengan isyarat meminta izin untuk menjawab panggilan.


"Siapa?" tanya Kira.


"Rumah sakit." Harris menunjukkan layar ponsel ke depan Kira, lalu menjawab panggilan tersebut terburu-buru.


"Ya ...."


Tangan Harris meraih Kira dalam pelukannya, seraya tekun mendengarkan penjelasan yang terdengar panjang dan urgent.


"Segera kabari rumah sakit di Singapura, mintakan penerbangan yang paling cepat. Jangan ambil resiko jika sudah begitu." Harris menegang kala berkata, lalu dia meminta Kira segera mengkondisikan anak-anak dan keluarga mereka.


Kira memahami benar suaminya. Jadi dia tidak banyak bertanya usai mendengar ucapan suaminya tersebut.


"Kita pulang, Mama akan menjemput Jeje ke ruang ganti. Kalian sama Kakek ke mobil dan tunggu Mama disana!" Kira menyerahkan Ranu ke pengasuhnya, lalu mereka berjalan beriringan ke luar stadion yang sudah sepi.


"Ada masalah?" Dirga bertanya pelan.


"Sepertinya, Pa ... sebaiknya jangan ganggu dia, biar tidak merusak mood nya." Kira melihat ke arah Harris dan menghela napas. Entah siapa yang dicemaskan suaminya itu, setaunya tidak ada kerabat dan saudara yang sedang sakit parah.


"Segera lihat Jeje, siapa tahu dia yang terluka." Dirga mengingatkan.


Kira tersentak, "Astaga, kenapa aku tidak berpikir ke sana."


Segera saja Kira berlari ke ruang ganti tanpa menghiraukan siapapun lagi. Perasaan khawatirnya terlalu mendominasi.


*


*


*