Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
SURPRISE 2


Jemari Harris sibuk mengusap bibir Kira yang berantakan akibat ulahnya. Sementara Kira bersungut sebab bibirnya terasa perih dan kebas.


Tangan Harris menuntun bahu Kira menuju sebuah meja yang hanya diisi dua gelas piala kosong yang cukup besar dan sebuah botol bersegel dengan pita berwarna merah. Harris menggeser kursi ke belakang agar Kira bisa duduk. Setelah itu, dia menuju kursinya sendiri dan mendaratkan tubuh indahnya dengan sempurna.


"Kita makan sekarang?" Harris menaikkan sebelah alisnya dan mencondongkan tubuh ke depan. Mencoba mengalihkan perhatian Kira yang masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Bahkan tanpa membalas tatapan Harris, Kira mengangguk sambil terus memindai penuh keheranan. "Memangnya makanan apa yang di sediakan resto yang hampir dua belas purnama ini kosong tanpa pengunjung," pikir Kira.


Bibir Kira mencebik, menyerah dengan apa yang sedang suaminya siapkan. Tak berapa lama, seorang pria dan dua orang wanita berjalan ke arah mereka berdua. Salah seorang wanita memakai topi koki, dan dua lainnya memakai pakaian hitam dan putih. Tampak begitu rapi dan berkelas.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Perkenalkan saya Rorencia. Saya adalah chef utama di restoran milik anda, Nyonya Harris." Wanita itu membungkuk sejenak, membuat wajah Kira melukiskan kebingungan.


"Apa maksud Anda, Nona?" Wajah Kira berpaling dari suaminya ke Rorencia secara bergantian. Tetapi Harris tak peduli, dia malah asyik menatap satu per satu hidangan yang sudah disajikan di atas meja.


"Boleh saya yang menjelaskan, Tuan?" Sepertinya Rorencia tidak begitu tega melihat calon bosnya kebingungan terlalu lama, apalagi Harris sepertinya tak punya niat menjawab rasa penasaran istrinya.


Tangan Harris terangkat ke atas, "Biarkan dia makan dulu, nanti akan saya beritahu sendiri!"


"Baik Tuan," Roren membungkuk kembali sebelum mundur seperempat langkah mundur. Membiarkan Tuan dan Nyonya-nya memulai makan malam sebelum larut.


"Makanlah dulu, Abang tahu kau sudah sangat lapar," manik mata Harris melirik perut Kira yang seolah sudah berteriak minta diisi. Senyum penuh ejekan terukir jelas di sana, apalagi saat Kira mulai menikmati sup dengan perlahan. Harris tahu, Kira memang tak sabar jika harus makan perlahan. Tetapi sepertinya, istri tercinta Harris Dirgantara ini bisa menyesuaikan diri dengan cepat.


Tak ada yang berbicara, hanya denting sendok dan piring beradu menyemarakan suasana malam. Sesekali terdengar gumaman lembut saat irisan salmon mendarat di lidah Kira. Sekali lagi Harris tersenyum, chef pilihannya sepertinya cocok dengan selera wanita kesayangannya.


Hingga menu penutup tersaji, bibir Kira masih enggan mengucap sepatah kata. Sepotong cake dengan irisan stoberi dan krim lembut diatasnya berhasil meninggalkan piring.


"Apa kau puas?" Harris masih menatap wajah istrinya dengan tangan bertumpu di atas meja yang telah bersih.


Kira meletakkan napkin dengan hati-hati setelah mengelap kedua sudut bibirnya. "Hmm...puas sekali."


"Masih penasaran bagaimana kau menjadi pemilik restoran ini? Yang bisa makan semua ini sewaktu-waktu?"


Tangan Kira berhenti mendadak saat bibirnya hampir menyentuh tepian gelas berisi cairan merah pekat.


Segera diletakkannya gelas itu, tatapan penuh minat menjurus ke arah Harris. "Abang membelinya untukku?"


Anggukan Harris membuat Kira membola. "Abang....aku ngga bisa ngurus semua ini! Anak-anakmu bagaimana?"


Harris menghela napas, lalu tangannya mengisyaratkan kepada tiga orang yang masih berdiri tak jauh dari meja. Terlebih Rorencia yang sangat berharap bisa mempresentasikan makanan yang telah dibuatnya susah payah. Meski kecewa, Roren dan dua rekannya mundur teratur sebelum lenyap dari ruangan bercahaya lilin temaram.


Mengisyaratkan Kira berdiri dan mendekat ke arahnya, Harris bangkit. Saat Kira mendekat, tangannya segera meraih pinggang kecil itu merapat. Mengalungkan tangan Kira di leher, membiarkan napas mereka saling menerpa.  Meski tanpa musik, mereka mulai bergerak seakan ada melodi tak kasat mata yang mengiringi.


"Sayang dengarkan Abang, apa abang pernah bilang untuk melakukan semuanya sendiri? Tidak kan? Kau tinggal menunjuk dan mempercayakan. Kau adalah bosnya Sayang, kau tetap menjadi ibu tapi biasakan anak-anak tidak terlalu bergantung padamu."


"Tapi Bang, aku tidak mau anak-anak kurang kasih sayang dariku jika aku juga bekerja." Manik mata Kira mendadak sendu, dia belum pernah menjalani ini sebelumnya.


"Aku juga tidak mau kemampuanmu hilang dengan mengurus anak-anakku saja. Pokoknya Abang mau, mulai sekarang kamu mengurus resto ini, tidak perlu kemari atau bekerja sendiri, cukup beri instruksi. Kau hanya perlu melihatnya sesekali. Aku yakin Roren dan beberapa orang yang dulu bekerja disini akan sangat loyal kepadamu."


Kira tak perlu berjinjit untuk mencapai bibir suaminya. "I love you, Bang."


Malu-malu Kira menatap manik mata suaminya sebelum menelusup di atas bahu suaminya. Menancapkan dagu di sana. "Apa aku bisa menolakmu sekali saja? Kau terlalu mengetahuiku luar dalam, sehingga tak ada celah untukku sekadar kabur menghindari kemauanmu."


Tangan Harris mengusap punggung Kira yang tenggelam dalam dekapan erat tubuhnya. "Kau harus menerimaku, dan aku harus tahu apa saja dalam hati dan pikiranmu."


Harris melonggarkan pelukannya, meraih bahu yang terasa begitu lembut dan kecil. "Akira Sayang, tetap cintai suamimu ini meski aku tak mampu lagi memberimu sekadar pelukan. Tetap lantunkan ucapan cinta setiap waktu meski aku sudah tahu. Kaulah satu-satunya yang bisa membunuhku tanpa senjata. Jika kau pergi maka aku ma–"


Bibir Kira sekali lagi membungkam Harris, bahkan Kira tak segan bertindak lebih berani. "Abang pikir aku sanggup meninggalkan Abang?"


Harris melengkungkan senyum kepuasan saat melihat Kira begitu serius dengan ucapannya. "Kau pasti sayang dengan uangku kan?"


Bibir Kira yang sebenarnya masih ngilu, mengeriut dalam. Wajah sendu yang begitu memabukkan itu berganti galak. Sedikit mundur, Kira melipat tangannya di dada. "Iya, aku memang sayang dengan uangmu, puas?"


Harris terbahak-bahak, tak bisa menahan laju tawanya. "Makanya mulai besok Abang kasih kamu ladang uang sendiri, selain jatah dari Abang dan Papa. Mau kan?"


"Tergantung dari jatah yang lain, jika memuaskan aku terima tawaran Abang!" Kira mendekat dan mengusap pipi hingga ke leher dengan punggung jemarinya.


"Kau menantangku?" Ekspresi penuh ejekan membuat gelora tubuh Harris meningkat. "Awas saja kalau kau sampai bilang berhenti."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.