Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Hanya Maut Yang Menyembuhkan


Suara binatang malam bernyanyi dengan riangnya, seolah tak ada yang bisa mengganggu alunan merdu mereka. Malam ini, angin enggan menari membuai malam, tetapi, dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang.


Sayup-sayup suara pukulan dan teriakan khas orang yang sedang berkelahi, terdengar di telinga Kira. Dengan langkah panjang seakan tak sabar, Kira mendorong pintu kaca tebal sehingga menampakkan ruangan didalamnya.


Harris yang masih kacau pikirannya, mengurungkan niatnya untuk menuju kamar. Pikirnya, istrinya masih menemani anak-anak seperti biasa. Tanpa mengganti pakaiannya, Harris menuju ruang favoritnya selama beberapa bulan ini. Ya, sejak kebiasaan makan nasi istrinya menular kepadanya, sejak saat itu pula dia harus mengeluarkan stok kalori yang berlebihan di dalam darahnya.


Harris meninju samsak hitam di depannya dengan tangan telanjang. Keringatnya membasahi rambut yang mulai menutupi keningnya. Tubuh indah itu berkilat-kilat di bawah cahaya lampu keemasan.


Kira menyandarkan tubuhnya di ujung ruangan tak jauh dari pakaian Harris yang berserak di kursi kayu bersela. Cermin besar memenuhi sisi dinding itu menampakkan bayangan yang seharusnya bisa dengan jelas ditangkap oleh Harris. Kira mengulas senyum memandangi punggung dengan lengkungan tegas di tengahnya. Bayangan manis mereka menari-nari dengan lincahnya di benak Kira, sehingga tanpa sadar Kira menarik bibirnya diantara barisan gigi.


Meski ruangan ini terasa dingin tetapi, hawa panas seolah mengungkung tubuh Kira. Setiap detik bersama, tak mengurangi perasaan yang kian menumpuk tinggi di hatinya. Dia membiarkan suaminya melampiaskan amarahnya di atas samsak tinju itu.


Harris memeluk samsak yang bergoyang kuat usai pukulan terakhir yang begitu keras. Napasnya terlihat naik turun. Lelah, tubuhnya terasa ringan. Namun, pikirannya masih buntu. Setidaknya, amarahnya mampu ia redam.


Tangan Kira mengusap tubuh berkilat-kilat itu dengan lembut. Dia mengerling suaminya dari samping, tempatnya memalingkan muka.


"Lebih baik?" Kira menarik sudut bibirnya hingga nampak barisan giginya yang bersih.


Harris perlahan melepaskan samsak dari pelukannya. Anggukan kecil darinya melegakan istrinya yang wajahnya semakin bersinar cerah saat hamil. Rona merah mengambang memenuhi pipi hingga menyusur ke bawah mata.


Kira menuntun tangan suaminya yang terlihat memerah, ke sisi dinding yang menghadap cermin. Harris yang bertelanjang dada, duduk terlebih dahulu, namun saat Kira hendak duduk di sebelahnya, Harris menariknya ke dalam pangkuannya.


"Hei, kau lelah! Jadi jangan memangkuku! Lihatlah perutku yang semakin besar ini!" Kira bersiap menggeser tubuhnya, tetapi langsung ditahan oleh Harris.


"Biar aku memangku kalian berdua sekaligus, sebelum dia nanti meronta saat berada di pangkuanku!" Harris meletakkan istrinya duduk menyamping di kedua kakinya. Mengecup bahu dari balik kain batik sesiku itu.


"Itu masih lama, dan dia akan patuh padamu, seperti Jen!" Kira meletakkan tangan suaminya di atas perut, mungkin saja si bayi mau bergerak seperti tadi. Ditatapnya manik mata suaminya yang masih memandang ke arah perutnya.


"Aku berharap dia seperti Jen," Perlahan Harris menaikkan wajahnya ke arah Kira. "Jika dia sepertiku, aku pasti dibuat gila olehnya."


Harris ingat betul saat dia memporak porandakan ruang kerja papanya. Menghamburkan mainan sehingga membuat pengasuhnya terpeleset. Menuang susu dan meratakan makanannya di meja makan. Dia ingat kejahilan kepada semua pekerja papanya. Kini, Harris merasa cemas jika masa kecilnya akan membuatnya kesusahan di masa datang. Harris bergidik ngeri.


Kira tertawa tanpa suara, diletakkan tangannya dipundak suaminya. "Jadi kau pikir Jen itu anak yang penurut? Kau tidak tahu saja bagaimana Jen saat memberontak. Jen tidak sepatuh yang kau kira, Bang!"


Harris menaikkan alisnya, keningnya berkerut, "Jen selalu tunduk denganku. Sedikit rayuan, dia akan mengikuti apa yang aku katakan."


"Kau tidak tahu saat Jen memarahi Jeje. Dia sudah seperti orang dewasa saja. Aku tidak tahu darimana gadis itu menjadi sangat galak dan agresif pada Jeje," Kira mengalihkan perhatiannya ke dinding di sisi kepala suaminya.


"Pasti menurun darimu. Kau ini sangat galak dan bodoh," Harris menjentik kening istrinya, entah kapan dia terakhir kali melakukan ini, sejak hamil dia bahkan memperlakukan istrinya bak porselain.


"Tapi kau suka bukan?" Kira mengecup kening berpeluh itu. Sedekat ini, membuat Kira bergetar dalam dada. Hembusan napas yang hangat ini sangat menenangkan.


Harris menekan punggung Kira, sehingga keduanya melekat, "Sangat suka,"


Kira memekik pelan saat membentur dada bidang itu. Harris mendekatkan bibirnya ke bibir merah muda milik istrinya. Kecupan ringan yang berakhir sedikit ganas. Namun, itu berakhir tak lama kemudian.


"Mandilah, ini sudah larut," Ucap Kira saat mereka menjauh. Kira beranjak dari pangkuan suaminya. Kira tahu, Harris menanti dirinya untuk mengatakan sesuatu perihal Viona. Tapi, itu tak dilakukannya sekarang. Dia menanti suaminya meminta pendapatnya. Baginya, apa yang dilakukan Viona bukan lagi hal yang bisa didiskusikan dengannya. Meski besar harapan Kira agar Harris mau memaafkan.


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Harris sambil berdiri. Lalu berjalan di sisi istrinya.


"Tentang Viona," Harris membalas tatapan istrinya.


"Apa pendapatku berguna di sini? Kurasa kau sudah menentukan!" Kira membuang muka dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.


Harris mengikuti langkah Kira, benarkah dia butuh pendapat istrinya? "Tak ada salahnya kau mengutarakan pendapatmu."


Kira mematikan lampu yang terang, menyisakan yang redup, dan menyambar pakaian suaminya yang berserak di kursi dekat pintu masuk. Memakaikan kemeja gelap itu ditubuh suaminya, meski gerah di luar sangat dingin. Kira tak mau suaminya terkena angin malam.


"Kau tahu kan mengapa aku susah memaafkan kesalahan keluarga mantan suamiku? Bahkan Melisa terus saja mengusikku. Mereka tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Walaupun mereka sadar betul, mereka sangat tidak adil padaku," Kira mengancingkan kemeja suaminya, mengusap pelan dada itu, dibawah tatapan intens suaminya.


Kira menaikkan wajahnya, "Viona salah sudah membuatmu sakit dan sekarat. Tapi, manusia yang mau mengakui kesalahan adalah sebaik-baiknya manusia. Bukan hal mudah melakukan itu. Butuh nyali yang besar dan kelapangan hati. Apalagi kaulah yang dicuranginya."


Harris menatap mata itu dalam-dalam. Sakitnya belum seberapa dibanding sakit batin yang diterima istrinya. Luka fisik bisa sembuh seiring waktu dan ada obatnya, luka batin kadang hanya maut yang bisa menyembuhkan.


"Bagaimana perasaanmu setelah memaafkan mereka?"


Kira tertawa kecil, "Kau ini aneh sekali, Bang! Kau sudah tahu tapi masih saja bertanya. Bukannya Abang yang meyakinkan aku untuk memaafkan mereka?"


Harris menggaruk belakang kepalanya, dia tidak melupakan itu, tapi perasaan setelah itu yang lupa dia tanyakan pada istrinya ini.


Kira melangkah terlebih dahulu, membiarkan suaminya berpikir sendiri. Namun tak lama kemudian, Harris sudah menyusulnya menuju rumah. Keduanya saling melempar senyum penuh arti. Kira enggan menanyakan apa keputusannya.


***


Kira duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya, sementara menunggu suaminya mandi. Telapak kakinya saling menumpuk dan mengayun pelan.


Kira mengangkat wajahnya saat suaminya masuk membawa aroma segar dan memabukkan. Kira memiringkan kepalanya tanpa sadar, saat suaminya berjalan menuju lemari dengan handuk melilit di pinggang.


Kira melangkah ke medekati pria itu, menyesap dalam-dalam wangi khas suaminya. Dia sangat suka. Kira memejamkan mata, menikmatinya. Hmm.


"Kau merindukanku rupanya!" Celetuk Harris di telinga Kira. Kira membuka mata dengan cepat, dan mengerjap. Wajah tanpa dosa itu sangat menggemaskan.


Harris melemparkan baju yang hendak di pakainya ke sembarang arah. Pun dengan handuknya. Lolos begitu saja.


"Kenapa kau lempar bajumu, Bang!" Kira menoleh ke arah baju yang teronggok di sudut ruangan.


"Aku tak membutuhkan baju untuk membuat jalan,"





Happy Reading🥰