Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Optimus Prime dan Bumblebee


Hidup selalu berpacu dengan waktu, boleh sejenak berhenti. Menikmati. Tapi, segeralah melangkah lagi. Jangan terlena.


Hari ketiga. Menstruasi yang tidak normal membuat Kira tertekan. Selain efek kekecewaan yang masih menyisakan endapan sesak, kejadian ini membuatnya sedikit khawatir akan kondisi kandungannya. Berbeda dengan yang di katakan Vivian, bahwa dia baik-baik saja. Tetapi, Vivian sedang berbulan madu saat ini. Ya, dua hari lalu Vivian menikah dengan Hendra, polisi yang di temuinya dulu usai menyelamatkan Harris.


Kira mempertimbangkan dokter yang di sarankan oleh Vivian, tapi, dokter itu masih di luar negeri. Dan baru kembali besok.


Kira menepuk keningnya, sedikit menekan. Kesal dan entah. Kira menjadi sangat sensitif dan mudah marah. Bahkan seluruh penghuni rumah, tak terkecuali Jen, juga kena semburan tajam dari Kira. Keduanya terlibat pertengkaran sengit tanpa ada yang mau mengalah.


Melihat perubahan sikap istrinya, Harris pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan dan memberi pengertian pada ketiga anaknya.


"Jeje dan Jen harus baikan! Kalian marahan sudah terlalu lama! Makanya Mama jadi kesal karena anak-anaknya yang ganteng dan cantik ini, tidak akur! Katanya, sayang Mama, kok malah membuat Mama marah?" Tutur Harris saat ke empatnya berada di dalam kamar.


Harris berlutut di antara kedua bocah itu. sedangkan Excel, dia merasa jengah juga sejak pertengkaran beberapa waktu lalu. Dan, Excel semakin heran, Papanya tidak marah sama sekali. Tetapi, Jeje seperti takut saat melihat Papanya yang masih mengukir senyum. Excel lelah menasehati kedua adiknya yang berkepala batu.


Jen masih merengut dan memasang wajah jutek, "Jeje Pa, yang mulai!"


"Kamu kan yang jatuhin Optimus dan Bee? Sampai pecah semua! Kan ngga bisa di satuin lagi!" Jeje pun masih dalam mode kesal sebab miniatur Autobot kesayangannya tak sengaja tersenggol oleh Jen. Kedua Autobot, merah biru dan kuning itu, teronggok tak berdaya di sebuah kotak. Beberapa bagiannya patah.


"Sudah! Diam, semuanya!" Suara Harris meninggi, sebelum melunak lagi. "Jeje nanti Papa belikan yang baru! Dan, Jen, kalau salah harus minta maaf! Bukan seperti ini, Sayang!"


"Bener, Pa!?" Seru Jeje. "Yang asli ya, Pa!"


"Iya. Nanti Jeje pilih sendiri. Sekarang kalian belajar sama Kak Excel! Papa sama Mama ada acara di luar! Jangan bertengkar lagi ya!" Entahlah, apa mainan itu di jual di negara ini atau tidak, itu di pikirkan lagi nanti.


"Iya, Pa!" Jawab mereka serempak. Namun, sepertinya belum berakhir permusuhan diantara keduanya.


Harris mengusap kepala kedua buah hatinya. Senyumnya terkembang sempurna. Dia segera beranjak ke kamarnya sendiri.


"Yang, aku ngga ikut ya! Entahlah, aku merasa kacau!" Kira duduk di tepi ranjang dengan gaun biru muda.


"Kenapa?" Harris meraih tangan Kira yang saking meremas. "Sudah cantik begini, masa mau di batalin?"


Kira terlihat sangat ragu. Seperti enggan dan redup. Dia menatap suaminya penuh permohonan.


Harris menghela nafas, "Begini saja, usai makan malam, kita ke rumah sakit! Pengganti Vivian pasti tidak keberatan jika kita datang!"


Harris menaikkan kedua alisnya. Di ikuti kepalanya sedikit miring. Kira masih belum menganggukinya, tapi, Harris sudah kehabisan waktu. Sehingga dia menarik lembut tangan istrinya.


***


"Selamat datang, Tuan!" Sapa pria kharismatik yang memakai setelan hitam. Elegan dan tampan. Meski usianya tak lagi muda. Tangannya terulur kearah Harris.


"Maaf, Tuan Winata! Saya sedikit terlambat!" Harris menyambut uluran tangan Tuan Winata dengan hangat dan erat.


"Jangan terlalu formal, Tuan! Tidak masalah sama sekali!" Tuan Winata bersikap seolah keduanya sangat akrab dan hangat. Gersturnya seakan ingin berkenalan dengan istri rekannya tersebut.


"Perkenalkan, ini istri saya, Akira!" Harris merangkul ketat pinggang istrinya yang berusaha menata perasaanya yang sama sekali belum membaik.


"Saya Winata, Nona!" Tuan Winata menjabat tangan Kira sekilas. Seperlunya. Senyum ramah senantiasa mengambang di bibirnya.


Mereka duduk usai di persilakan oleh Tuan Winata.


"Maaf Tuan, Anda hanya sendiri saja?" Harris mengerutkan keningnya. Ketika di dapati Tuan Winata tidak mengatakan apa-apa soal kosongnya kursi yang bersebelahan dengannya.


"Oh, maafkan saya Tuan. Kami sedang berselisih paham! Jadi, yah," Tuan Winata membuka kedua telapak tangannya. Wajahnya sedikit condong kedepan. "Anda tau sendiri bukan! Merajuk!"


Hingga menu makan malam datang, Kira masih membisu. Seakan ada lingkaran benang kusut diatas kepalanya. Di depannya berdiri seorang waitress yang sedikit grogi. Sepertinya dia orang baru, mengingat wajahnya yang tegang dan gerakannya masih kaku. Saking gugupnya, nampan yang di pegangnya miring, dan...


Waitress itu menumpahkan saus yang berwarna cokelat dan masih hangat ke bagian depan bajunya. Basah dan lengket.


"Maaf, Nona! Maaf!" Waitress itu terus memohon maaf sambil mengusap-usap bekas saus yang masih menempel di kain biru muda itu. Tampak jelas.


Harris langsung mengambil napkin yang masih terlipat rapi, untuk membersihakan baju istrinya. Ekspresinya gelap.


"Tidak apa-apa," Jawab Kira kalem menenangkan keduanya. Tapi hatinya sungguh terbakar. Sabar, Kira, sabar.


Kira masih sibuk membersihkan bekas saus yang tidak sedikit itu, ketika di dengarnya Tuan Winata mengamuk pada pelayan yang menunduk dengan air mata berurai.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu!" Bisik Kira di sela raungan penuh dari amarah Tuan Winata yang merasa mempermalukan tamunya.


"Baiklah," Harris menggangguki istrinya yang langsung melesat ke toilet. Tampak dia sedang bertanya pada orang dengan seragam yang sama dengan pelayan yang di marahi Tuan Winata.


"Tuan, sudahlah! Istri saya tidak apa-apa!" Ujar Harris pada Tuan Winata yang masih menggeram penuh amarah. Apalagi, separuh pengunjung restoran ini melihat ke arah mereka.


"Maafkan saya, Tuan! Saya mengacaukan makan malam ini!" Tuan Winata merasa bersalah, terlihat sekali dari raut wajahnya yang surut. Hilang sudah Tuan Winata yang hangat dan bersahabat.


"Tidak masalah, Tuan! Semua orang pernah salah!" Harris duduk kembali, dengan senyum yang sedikit terpaksa. Harris yang sudah tak karuan, langsung berekspresi dingin dan kaku.


Semua tak berjalan sesuai rencana. Bahkan ini hanya membuang waktu. Tak ada obrolan serius akhirnya. Harris menikmati makan malam itu setengah hati.


Lewat 15 menit, Kira tak kunjung muncul. Harris mulai khawatir. Mungkin Kira masih ngambek sebab dia memaksanya ikut makan malam kali ini. Bagaimanapun Tuan Winata dan dia sudah lama menjalin kerjasama, sejak Star masih dalam rintisannya. Terlebih, istri Tuan Winata ingin sekali bertemu dengan Kira. Meski akhirnya, Harris sedikit kecewa dan merasa bersalah pada Kira. Bisa saja, wanita cengeng dan labil itu masih menangis di kamar mandi. Menumpahkan kesal yang tertahan. Efek PMS yang mengerikan, pikir Harris.


"Tuan, saya permisi sebentar! Kurasa, seperempat jam di kamar mandi terlalu lama!" Pamit Harris sopan. Sebelum menggeser kursi dengan sandaran tinggi berwarna putih, ke belakang. Dengan atau tanpa izin dari Tuan Winata, Harris tetap mengutamakan istrinya. Tak peduli dengan pemikiran Tuan Winata atau nasib kerja sama mereka ke depannya.


***


Kalang kabut. Harris dan Tuan Winata berlarian ke sana kemari usai Kira tak di temukan di manapun. Bahkan pihak resto langsung menghubungi polisi tanpa sepengetahuan Harris.


"Periksa cctv!" Batin Harris yang sudah seputih kertas. Hatinya merosot di dasar. Hancur. Jantungnya berdentang tak karuan. Kalut. Pikirannya sudah bertaburan bayangan buruk. Lebih lagi, kakinya tiba-tiba kehilangan daya. Sistem motorik kakinya, lumpuh. Namun, dia menyeret paksa, dirinya yang lemah.


"Di mana kendali cctv berada?" Teriaknya pada salah seorang pegawai atau manager atau apapun namanya. Panik. Otaknya dalam mode alarm merah, tanda bahaya. Sehingga kinerjanya berbenturan satu sama lain.


Pria itu, pucat. Tapi langsung mengarahkan Harris ke lantai selanjutnya, dimana ruangan nyaris sepi hanya layar biru yang bekerja. Beberapa orang karyawan sedang menoleh ke arah pintu. Jarang sekali pintu di sini berdentum keras saat terbuka.


Rapi. Tanpa jejak. Tak ada yang curiga. Wanita bergaun biru muda itu tampak seperti sedang pingsan dalam gendongan seorang pria yang membelakangi kamera.


Harris berlari keluar. Namun segera berhenti. Dia menelpon Hendra. Tak peduli dengan jarak yang membentang antara kota ini dan negeri yang jauh, di mana Hendra berada.


"Ndra, beri akses ke cctv seluruh jalan di kota! Johan akan segera terhubung denganmu!" Harris mematikan teleponnya sepihak. Tanpa berpamitan pada Tuan Winata, Harris mengambil mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Dalam pikirannya, siapa orang-orang itu? Siapa yang menculik istrinya? Orang yang mana? Pesaingnya terlalu banyak. Mantan suaminya? Atau mantan sahabatnya? Siapapun dalangnya, motifnya jelas, hanya untuk meminta penebusan yang sepadan.