
Deru nafas Harris semakin tak menentu. Kecemasan yang melanda dirinya kini dua kali lebih besar. Pikirannya sudah buruk saja. Kusut masai. Bermacam praduga mulai bermunculan.
Yang pertama muncul adalah kondisi kritis sehingga dia harus di rawat secara intensif.
"Di mana dokter jaganya, Sus?" Tanya Harris pada perawat yang masih di liputi ketakutan di ujung ruangan.
Perawat itu kebingungan. Namun, belum sampai dia menjawab, yang di cari pun muncul.
"Ada apa ini?" Pria memakai kemeja keunguan, sorot matanya tajam, dan mengintimidasi saat melihat kerumunan yang ribut.
Harris memutar badannya, dia tak kalah tajam dan siap membunuh di sela kecemasannya.
"Saya mencari istri saya, beberapa waktu lalu, dia di bawa kemari,"
Pria itu terdiam, sejenak menganalisa, mencari kebohongan. Lalu, pria itu membuang nafas.
"Wanita yang pingsan beberapa saat lalu, sedang di periksa oleh dokter di poli kandungan. Tolong antarkan Tuan ini ke Poli kandungan," Ujar pria yang ternyata dokter jaga itu pada Harris dan perawat tadi bersamaan.
Johan melonggarkan cekalannya, dia dan Angga terpaku pada dokter yang masih muda itu. Kandungan? Batin Johan. Perlahan, sudut bibirnya terangkat seiring di turunkan tangannya dari dada Angga.
Harris melesat ke pintu mengikuti perawat yang berjalan tergesa-gesa di depannya. Dia tidak bertanya apa-apa, dia hanya ingin segera menemui istrinya dan tahu bagaimana keadaannya.
Hingga berada di ujung koridor, bersebelahan dengan jalan masuk untuk pengunjung, terdapat tulisan besar terpampang nama dokter dan bagian apa ruangan itu tepatnya.
Ada seorang wanita yang berdiri di sana, sambil menyandarkan punggungnya di tembok berwarna hijau kebiruan. Jingga yang menembus gelapnya fajar mulai menampakkan diri di penjuru langit. Membuat wajah di bawahnya terlihat jelas tanpa bantuan penerangan lampu.
Wanita itu berdiri tegak saat melihat ada yang datang. Kedua pasang mata bertemu. Namun tak satupun berucap, hingga suara sarat kelegaan memanggil.
"Nisa," Angga berlari menghampiri wanita itu.
Di saat yang sama, perawat tadi meminta Harris menunggu di depan pintu selagi dia meminta izin masuk pada pemilik poli.
Tak berapa lama pintu terbuka lagi, dan dengan anggukan dari perawat itu, Harris masuk ke dalam ruangan yang membiaskan rasa dingin. Merinding.
Perawat tadi menuntun Harris menuju ruangan lain yang di sekat oleh tirai. Bunyi gesekan ring pada bagian atas tirai beradu dengan pipanya, memaksa dua wanita di dalam menoleh.
Harris masih terpaku, lega. Melihat wanita yang membuatnya gila sepanjang malam tengah berbaring dengan baju yang tersingkap ke atas. Sedang memandangnya dengan air mata yang mengalir deras di sudut matanya. Terlihat sekali dia sangat kesusahan menahan suara yang hendak melompat dari bibirnya.
Satu langkah panjang, dan Harris sudah mencapai istrinya. Tanpa bisa di cegah, Harris menubruk istrinya sebatas leher. Keduanya menangis.
"Sayang....Sayang!" Bisik Harris di sisi kepala Kira yang di sangga dengan tangannya.
"Maafin Abang, Sayang!" Ucap Harris sambil mengecup sisi kepala Kira. Hanya kata itu yang di ucapnya berulang-ulang.
Harris menarik wajahnya, memandangi Kira yang membuka matanya perlahan. Harris mengusap pipi Kira yang membiru.
Tangan kirinya yang tertancap selang infus, mengulur ke arah suaminya, mendesis, "Abang"
"Iya, Sayang! Abang di sini!" Harris menyambut tangan istrinya yang memutih dan dingin. Saling menggenggam. Meletakkanya di dadanya. Bibirnya mendarat di kening Kira, yang berhasil membuatnya semakin sesenggukan. Lara keduanya melebur menjadi satu. Separuh jiwa kembali menyatu.
Ingin rasanya Kira memeluk lelaki yang mengusap rambutnya kini. Namun, sakit di bagian tulang rusuknya, membuatnya tak berdaya. Kira hanya bisa memeluk lengan suaminya. Menangis di sana. Masih terbayang keputusasaan yang melingkupi dirinya beberapa saat lalu. Dia bahkan tidak menyangka bisa bertemu suaminya lagi.
"Maafin Abang, Sayang! Abang tidak segera menemukanmu!" Bisik Harris masih di atas Kira. Tak bisa diungkapkan lagi bagaimana bahagia dan leganya dia bisa menemukan istrinya. Walau seharusnya dia tahu, istrinya adalah wanita yang tabah. Bayangan buruk itu tak seharusnya membuatnya kalut.
Dokter yang baru saja mengoleskan gel pada perut Kira, tersenyum. "Anda suaminya?"
Pertanyaan Dokter wanita itu membuyarkan momen pertemuan yang mengharukan. Mereka saling menjauh setelah menyadari ada orang lain di dalam ruangan ini.
Harris terdiam sesaat, menata dirinya. "Iya, saya suaminya,"
Harris bangkit dan berdiri tegak, tapi dia tak melepaskan tautan mata maupun tangannya.
"Ini semakin bagus," Ucap Dokter itu sambil tersenyum.
"Jadi, ada berdua tidak mengetahui jika ada calon bayi di dalam sini?" Tanya Dokter itu mulai menggerakkan transducer yang baru saja di letakkan di bawah pusar perut Kira. Dokter itu memperhatikan layar monitor hitam putih dan Kira secara bergantian.
Baik Harris dan Kira membeku. Pikiran keduanya kosong untuk beberapa saat. Ucapan Dokter itu seperti menyedot mereka ke sisi lain dunia.
"Lihat itu," Dokter menunjukkan layar hitam dengan gurat-gurat putih tak jelas. "Kantung kehamilannya masih utuh, dan ada titik putih di tengah, itu calon bayi anda,"
"Tunggu sebentar, Dokter! Maksud Dokter apa?" Harris mengerjap bingung. Dia masih belum fokus pada penjelasan Dokter.
Dokter itu menghela nafas, "Tuan, istri anda hamil, dan tadi mengalami pendarahan. Untuk memastikan dan memutuskan tindakan selanjutnya, saya memeriksa kandungan istri anda melalui USG. Ini adalah tempat bayi anda hidup dan berkembang, dan ini, titik kecil ini, adalah embrio atau calon janin anda,"
Dokter itu dengan sabar menjelaskan sambil menunjuk layar monitor dengan jari telunjuknya.
Harris dan Kira saling pandang dan mengulas senyum. Keduanya menggenggam lebih erat.
Harris mencondongkan tubuhnya sambil menyipit, dia tidak melihat apa-apa, hanya melihat lingkaran mirip lubang bekas peluru, "Yang mana, Dok?"
Dokter itu menghela nafas lagi, "Masih sangat kecil, seperti sebutir beras, Tuan! Mungkin ini baru sekitar 5 minggu, tunggu sebulan lagi baru akan terlihat sedikit jelas!"
"Sebulan? Lama sekali? Besok saja bagaimana?" Celetuk Harris, wajahnya berangsur sumringah. Terbayar sudah ketakutannya semalam, dengan kebahagiaan yang membuncah, memenuhi dirinya.
Dokter itu tertawa tanpa suara, "Kalau besok baru tambah sehari, bahkan dia belum bertambah setitik, Tuan!"
"Apa kurang bahan, Dok? Kok bisa kecil begitu?" Lagi, pertanyaan Harris membuat Kira malu. Dia meremas tangan Harris yang menggenggamnya.
Dokter itu memejamkan mata sambil membuang nafas. Ada-ada saja tingkah calon ayah yang membuatnya terkadang gemas sendiri.
"Bukan begitu, Tuan! Setiap fetus atau janin berasal dari satu saja bahan anda yang paling kuat. Meski ada milyaran yang lain. Dan kenapa bisa kecil, karena usianya yang baru 5 minggu atau kurang lebih satu bulan."
"Tapi Dok, istri saya beberapa hari lalu masih datang bulan? Kok sekarang hamil?"
Kira mengangguk membenarkan penjelasan Dokter cantik di depannya. Memang dia hanya mengalami flek kecoklatan sedikit saja, dan kadang ada, kadang tidak. Entahlah, Kira juga tidak menyadari dirinya mengandung. Sebab dia tidak merasakan mual seperti kehamilan sebelumnya.
"Anda harus bedrest selama satu bulan ini, jangan terlalu lelah, strees, dan jangan berhubungan suami istri terlebih dahulu," Ucap Dokter itu pada Harris yang membelalak sempurna.
"Dok, apa pendarahan tadi di sebabkan oleh tendangan yang saya alami?" Kira mendahului suaminya yang hendak protes. Satu bulan? Harris pasti mengajukan banding. Dan itu membuat Kira sungkan dan malu pada Dokter yang telah merawatnya ini.
"Bukan, Nona! Jika terkena tendangan mungkin anda sudah keguguran. Tendangan itu membuat cedera otot diafragma, sepertinya, tendangan itu tidak terlalu kuat!"
"Mungkin sebelumnya anda berada dalam tekanan dan dalam kepayahan yang sangat!" Ujar Dokter itu lagi sambil mengelap bekas gel yang di gunakan untuk melakukan USG.
"Ada yang ingin di tanyakan lagi?" Kira menggeleng lemah.
"Baiklah kalau begitu! Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuk menguatkan kandungan anda! Setelah ini, anda akan di pindahkan ke ruang perawatan," Ucap Dokter itu sambil berdiri dari kursinya.
***
Bed klinik yang sempit itu seakan menjerit pada dua manusia yang tak sadar diri itu. Keduanya menumpukan berat tubuh mereka di atasnya. Telentang dan miring. Saling memeluk, seolah tak berjumpa dalam waktu yang lama. Tangan kokoh itu masih menelusup di balik baju berwarna toska. Mengusapnya memutar dan pelan. Hidung pria itu bersandar di pipi dekat telinga istrinya yang terpejam.
"Apa masih sakit?" Tanya Harris saat melihat Kira yang meringis saat menggeser tubuhnya.
Kira menggeleng sambil tersenyum. "Tidak sesakit tadi."
"Sayang, maafkan Abang, ya! Gara-gara Abang, kamu jadi terluka seperti ini!" Harris menghadiahi Kira dengan kecupan. Berulang-ulang.
"Itu salahku juga karena tidak waspada!" Kira memiringkan wajahnya, dan mengusap pipi suaminya, sedikit menariknya agar Harris menatap wajahnya. "Jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri!"
Keduanya bertatapan sejenak. Kerinduan selalu ada di kedua pasang manik mata itu.
"Sayang," Suara rendah Harris lebih mirip desahan yang menggelitik, "Jangan pernah meninggalkan aku!"
Di dekapnya bahu istrinya dengan erat. Seakan enggan berpisah.
"Aku sudah bilang, aku tak akan meninggalkanmu! Aku akan selalu bersamamu!" Ucap Kira sambil mengelus pelan lengan yang melingkar di dadanya.
"Terimakasih sudah melindungi jerih payahku di sini!" Harris mengusap lagi perut istrinya yang masih datar.
"Itu sudah tugasku! Tak perlu berterimakasih!" Kira merekahkan senyum. "Kau senang benihmu sudah bertunas?"
"Tentu saja! Kenapa memangnya? Aku tidak terlihat senang?" Harris mengangkat kepalanya yang miring dan menatap istrinya dengan heran. Alisnya bahkan sudah menyatu di ikuti kerutan di dahinya.
"Bukan apa-apa! Aku hanya bertanya saja! Sejak tadi kau sepertinya memikirkan sesuatu!" Kira melirik suaminya yang masih menatapnya.
"Hukuman seperti apa yang kau inginkan untuk mereka?" Harris meletakkan kembali kepalanya. Mengamati mata yang berkelip seperti bintang itu dari samping.
"Aku ingin satu lawan satu dengan Riana!" Kira tertawa tanpa suara.
Harris berkedip, bibirnya meliuk turun, "Winata?"
"Terserah Abang saja!" Kira mengadu kepala keduanya. "Yang pasti aku tidak ingin melihat wajah orang itu lagi! Menyebalkan!"
Kira masih ingat ekspresi menjijikan pria itu saat melihatnya, juga saat mencampurkan sesuatu pada minuman yang akan di berikan padanya.
"Abang dimana saat menelpon Winata itu?" Sambung Kira saat Harris tak menyahuti ucapannya.
Hening.
Deru nafas yang teratur itu membuat Kira tersenyum. Dia menautkan jemarinya pada tangan yang masih di atas perutnya. Menggenggam kebahagiaannya. Menyatukan seluruh jiwanya. Menenggelamkan mimpinya bersama. Lautan kehidupan bahkan baru di mulai, sampan yang di tempa baru saja menemukan kayuhnya. Berdua mengarungi samudra dengan riak yang mampu membaliknya.
***
Epilog...
.
.
"Mak, sepatuku mana?" Teriak seorang anak laki-laki memakai seragam putih abu-abu, tengah berdiri di teras rumah sederhananya. Sepatu dan kaos kaki yang di siapkan kemarin sore raib.
Dari dalam rumah, seorang ibu tengah menggendong balita perempuan dengan botol susu di tangannya, berlari tergopoh-gopoh menghampiri anak sulungnya.
"Apalagi sih, Sep? Kan kemarin di taruh di situ, kok bisa ngga ada? Kamu salah naruh kali, Sep?" Ucap Si Emak sambil menyeka keringat di dahinya. Dia kesal dengan anak lelakinya yang ceroboh.
"Kagak ada, Mak! Asep taruh di sini, kemarin!" Ucap Asep ingin menangis. "Mak, itu sepatu baru Asep!"
"Cari yang bener, Sep! Kali di bawa kucing tetangga!" Ucap Emak asal, dia menurunkan balita perempuan itu dari gendongannya. Dan mulai mencari kemana gerangan sepatu anaknya menghilang.
"Ngga ada, Mak! Asep udah cari sampe ke sumur! Mak kita harus lapor Pak Rt! Ada maling berkeliaran nyolong sepatu Asep!" Ucap Asep merengek.
"Et dah, Bocah! Kalau maling kenapa ngga bawa motor Bapak lu di yang ada di samping rumah itu, malah ngambil sepatu lu yang ngga seberapa harganya!" Jawab Emak kesal dengan pikiran konyol anaknya.
"Udah pake sepatu yang lama aja, nanti kalau Emak ada rejeki beli lagi, Sep!"
"Mak, Asep mau jadi pemimpin upacara pagi ini! Mana bisa pakai sepatu Asep yang sudah sobek itu!" Ucap Asep sambil menitikkan air mata. Sepatu yang menurutnya sangat berharga untuk momen spesialnya. Asep kecewa.
•
•
•