
Pagi berselimut hawa dingin. Sepertinya suhu turun beberapa derajat di kawasan kediaman Dirgantara. Excel dan Jen tampak berbincang sesekali tertawa menghadapi segelas susu yang tersedia di hadapan mereka. Para babysitter masih berkutat dengan tiga balita yang sungguh merepotkan. Sementara Kira mengenakan apron melapisi gaun tidur yang masih melekat di badannya, sibuk di dapur.
Terlalu larut mendayung di alam mimpi —mungkin terlalu lelah— Kira kesiangan bangun pagi ini. Seakan tak pernah puas menjajah, Harris masih menggempur tubuhnya di tengah malam yang kebetulan suasananya sangat mendukung. Sambil sesekali mematahkan leher, Kira memberi instruksi pada beberapa wanita yang membantunya. Tak sempurna paginya jika tidak memastikan sendiri kecukupan nutrisi untuk keluarga besarnya.
"Bi Mai, bawa semua ke meja makan ya!" Serunya pada wanita setengah baya yang selalu lembut dan sabar melayani keluarga Dirgantara. Memastikan lagi semua tersedia dan tak kurang satu pun pelengkap sarapan pagi hari ini.
Setelah mendapat anggukan dari Bibi Mai, Kira mengusap keningnya. Seperti mengikuti kompetisi memasak yang selalu dikejar batas waktu. Tangan Kira membentuk sudut di belakang pinggangnya, usapan pelan merambat di punggung. Kaku dan pegal. Sedangkan tangan lain melepas apron dengan paksa lalu melempar sembarangan di meja marmer besar di tengah ruangan ini.
Tak mau berlama-lama merasakan lelahnya, Kira melangkah keluar dapur. Isi kepalanya berputar mengingat kegiatannya hari ini. Tak bisa lagi santai, Kira harus bertindak cepat dan efisien jika ingin tetap memiliki banyak waktu dengan buah hatinya.
Meja makan sudah penuh dengan semua anggota keluarga. Senyum Kira melebar sempurna. Bahagia melihat semua kesayangannya dengan lahap menikmati sarapan. Hangat menyelimuti, menepiskan hawa dingin yang seakan ingin membaur bersama.
Sejenak mengerling suaminya, Kira berlalu tanpa mengganggu ketenangan keluarganya menikmati sarapan.
Harris yang merasa harinya tak pernah surut dari kepuasan lahir dan batin, tak membiarkan wanitanya berlalu tanpa luput dari sorot matanya. Bagai sebuah port untuk me-recharge jiwa raganya, Harris begitu bergantung pada wanita itu. Menumpahkan gejolak yang selalu butuh tempat pelampiasan. Keluh kesah, resah, ragu, bahkan lelah. Dalam satu tubuh, satu jiwa, dia mendapatkan segalanya. Pantas rasanya seorang Harris berpuas diri dan mengganjar wanita itu dengan tahta yang paling tinggi.
"Pa..." sentuhan di lengannya membuyarkan pikiran tentang mamanya anak-anak.
Harris mengerjap perlahan dan memutar kepalanya pelan. "Kenapa Je?"
"Ini permintaan Jeje, Pa." Harris menatap Jeje dengan senyum mengambang saat remaja itu mengangsurkan secarik kertas terlipat dengan telunjuknya. Harris menurunkan irisan bibirnya dengan alis terangkat. Pikirnya anak ini pasti malu jika pintanya di dengar orang lain.
Setengah pancake bermandi madu di atas piringnya terpaksa harus ditinggalkan lagi demi membaca tulisan Jeje yang terbilang rapi. Kening Harris berkerut dalam kala membaca sebaris tulisan yang hanya terdiri dari beberapa kata.
"Kalau ini Papa harus diskusi dulu dengan Mama, Je! Papa tidak bisa gegabah menentukan hal ini, sekalipun ini hanya hobi," putus Harris tegas sehingga memancing Dirga menoleh ke arah dua pria itu bergantian.
"Jeje yakin Papa tau yang terbaik untuk Jeje, meski besar sekali harapan Jeje untuk menekuni hobiku sehingga bisa meraih apa yang kuimpikan sejak kecil. Meski tidak terlalu berarti tapi ini akan membanggakan diri Jeje sendiri."
Presentasi Jeje akan keinginannya membuat senyum Dirga dan Harris merekah. Mereka berdua tahu, dialah putra Akira yang keras kepala dan pandai mengambil hati dengan janji manis.
"Baiklah....Papa akan usahakan untuk Jeje. Asal Jeje berjanji tetap mengutamakan pendidikan, Papa ngga mau anak-anak Papa hidup tanpa ilmu!" Nada itu bukan lagi sebuah peringatan tapi perintah yang mutlak. Seperti itu Jeje memaknai pandangan Harris padanya. Tak punya pilihan, Jeje mengangguk mantap dan menghabiskan sisa sarapannya. Perasaannya begitu lega setelah mengutarakan apa yang menjadi bebannya selama ini.
Harris mengalihkan perhatian pada Excel dan Jen. "Kalau kalian ingin apa?"
"Jen hanya mau Papa meluangkan waktu selain hari libur atau akhir pekan," jawab Jen santai. Apalagi yang bisa dia minta dari Papanya selain waktu bersama yang lebih lama. Semua maunya datang sendiri tanpa perlu merengek. Bahkan Opa dan Oma Darmawan rajin sekali mengirimi Jen mainan dan baju atau benda remeh semacam bandana setiap waktu.
"Boleh, asal Kakek mau menggantikan Papa sebentar saja di kantor," suapan terakhir mendarat mulus di lidah.
"Kenapa jadi Kakek yang kena sih?" Dirgantara menggerutu namun hanya berpura. Tentu saja dia tetap bersedia menggantikan kehadiran putranya jika diperlukan.
"Kak Excel?" Mengabaikan nada sumbang sang Papa Harris beralih pada Excel yang sudah selesai dengan sarapannya.
Meneguk sisa susu di gelasnya, Excel berucap tenang dan datar. "Excel tidak menginginkan apa-apa, Pa. Bagi Excel, Papa dan Kakek mau menyayangi Excel sepenuh hati saja sudah lebih dari cukup. Excel hanya ingin Mama selalu bahagia."
Semua mata berkaca-kaca, adakah kalimat yang lebih membuat hati trenyuh? Menusuk-nusuk relung hati. Tulus dan begitu lembut terdengar.
"Kami semua sayang Mama, Nak. Mama lah sumber kebahagiaan rumah ini..." Dirga yang begitu kokoh itu mengucurkan setitik airmata. "....jangan khawatirkan itu, Kakek sendiri akan memastikannya."
Excel tersenyum penuh arti. Tak perlu ragu jika Kakek Dirga sudah berjanji.
Dering ponsel Harris membuat suasana kembali normal. Perlu sekali interupsi kecil untuk sekadar menyeka ujung mata yang mengembun basah. Harris meraih ponsel yang bersebelahan dengan piring, gerakan malas Harris begitu terlihat saat mengetahui Johan yang menghubungi.
"Tuan, saya datang terlambat pagi ini, karena saya harus mengantar Viona periksa ke rumah sakit," suara Johan menggema saat benda mahal itu menempel ditelinga Harris.
Penasaran, tapi tidak mau membuat Johan meledeknya. "Jangan terlalu lama dan kirimkan jadwalku hari ini."
"Sudah saya kirim terlebih dahulu ke email anda Tuan, dan saya sudah mengatur ulang jadwal pertemuan anda."
Tidak peduli ucapan Johan lagi, Harris mematikan sambungan teleponnya. Diiringi dengusan kesal Harris bersiap berangkat ke kantor.
***
Kira yang sudah selesai merapikan diri, bermaksud menyusul keluarganya sarapan. Tetapi saat melintasi ruang tengah, ia melihat Riko berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
"Kebetulan bertemu anda di sini, Nyonya." kelegaan melingkupi wajah Riko saat orang yang sangat ingin ia temui hanya seorang diri. Sehingga tidak mengundang kecurigaan yang lain. Riko mendekat dan membisikkan sesuatu tapi masih menyisakan jarak.
Kira tahu sedikit banyak apa yang akan diucapkan Riko, tapi tak menyangka akan sampai se fatal ini. Wajah yang sudah dilapisi bedak tipis itu tampak menegang dan terkesiap hingga beberapa waktu dia hanya mematung. Manik mata cokelat itu membola sempurna.
"Antar aku ke sana sekarang, Ko," titahnya pada Riko yang segera mengangguk. Memberi ruang pada Nyonya-nya untuk melangkah terlebih dahulu.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf telat...author pms😔