
Harris sebenarnya sangat kesal karena pekerjaannya terpaksa di tinggalkan demi menuruti kemauan istrinya. Jalan-jalan baginya sangat membosankan. Bukan jalan-jalannya, tetapi, saat berbelanja bersama wanita, itu sangat menjengkelkan. Paling-paling, dia bagian menenteng tas belanjaan saja. Harris mencibir tipis, takut ketahuan istrinya. Bahkan dia memasang wajah kaku selama diajak berkeliling di pasar besar. Meski begitu, dia tetap mengikuti kemanapun istrinya melangkah, dan terus mengingatkan jika Kira sedikit berlari-lari.
"Kau sudah puas belanjanya?" Harris mengusap puncak kepala istrinya yang sedang duduk di sebelahnya, didalam mobil sewa yang membawanya kembali ke hotel.
Kira mengangguk, tak lupa Kira menyematkan kecupan di bibir suaminya yang tengah memandangnya.
"Kau pandai merayu sekarang," Harris terkekeh. Telapak tangannya mencekal pipi Kira sebelum menerkamnya dengan rakus. Kebetulan lampu lalu lintas sedang menyala merah. Keduanya larut dalam pagutan. Meski seolah tak tahu tempat.
Ketukan di kaca mobil samping Harris membuyarkan kemesraan mereka yang sudah menggelora.
"Permisi," Suara yang berasal dari seorang pria berpenampilan seperti wanita terdengar mendayu-dayu. Gayanya yang kemayu membuat Harris enggan melihatnya.
Karena tak kunjung mendapatkan sambutan, wanita itu memutari mobil beralih ke arah samping Kira.
"Misi, Mbak, Miranda bin Maradona mau numpang cari receh. Semoga berkenan ya. Jangan pingsan, karena suara Miranda sangat merdu," Suara itu terdengar lirih karena Harris tak membiarkan kaca mobil terbuka.
Entah lagu apa itu, yang pasti Kira terkekeh geli mendengar merdunya suara Miranda. Hingga akhir lagu hanya ada kata ambyar dan "icik-icik". Diiringi dengan alat musik seadanya, lagu itu berhasil diselesaikan.
"Bang, turunkan kacanya. Kasihan lho, panas-panas berdiri di tengah jalan seperti ini!" Bujuk Kira saat Harris tak jua membiarkan Kira membuka kaca jendela mobilnya. Sementara pria berdandan menor itu sudah mengetuk kaca dengan tak sabar.
"Gimana Mbak? Suaraku merdu kan?" Gayanya yang kemayu, membuat Kira kesusahan menahan tawa.
"Iya, Mbak Miranda, suaranya merdu," Kira menyerahkan uang kepada Miranda tanpa menurunkan tawanya. "Merusak dunia,"
Namun, Miranda tak menghiraukan ucapan Kira, dia terpana melihat uang yang diberikan padanya.
"Makasih banyak, Mbaknya, Masnya! Miranda doakan Masnya makin ganteng!" Ucap Miranda sambil menggoyangkan bahunya dengan genit.
Beruntung mobil di depannya mulai bergerak, sehingga Harris tak perlu berlama-lama memandang dan mendengar suara Miranda itu.
Perlu waktu yang lama agar Harris kembali normal, hingga sampai di hotel Harris masih irit bicara.
"Bang, udah sampai sini, kenapa kita ngga ke rumah Bude? Deket lho, Bang!" Celetuk Kira yang termangu saja sejak turun dari mobil. Kira menyandarkan tubuhnya di dinding lift yang kebetulan isinya hanya dua orang ini.
"Mulai banyak tingkah," Gumam Harris dalam hati.
"Kau akan kelelahan. Kau sudah terlalu banyak bergerak hari ini," Hal ini benar adanya, tetapi Harris sudah sangat lelah dan hari sudah hampir malam.
"Tapi, Bang-,"
"Abang sudah menuruti semua kemauanmu, sekarang giliranmu nurut sama Abang, jangan banyak tingkah, mandi dan segera tidur," Ucap Harris dalam sekali tarikan napas, sudah seperti akad nikah saja.
Kira merengut, tetapi Harris benar, Harris sudah memenuhi semua keinginannya. Jadi sekarang, dialah yang harus menuruti perintah suaminya meski hatinya merasa kesal. Kira tak ingin membuat suaminya kesulitan.
"Kau sangat manis saat patuh seperti ini, Yang!" Harris menarik istrinya kedalam pelukannya. Dihadiahi pucuk kepala istrinya dengan kecupan lembut.
***
Harris memesan makanan agar diantarkan ke kamar, ditambah beberapa camilan untuk berjaga-jaga jika bumil itu menginginkan makanan saat tengah malam.
Semerbak wangi memenuhi ruangan saat Kira membuka pintu kamar mandi. Harris yang bersandar di ranjang, mengawasi istrinya yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia mengambil gaun tidurnya, tetapi, dia menimbang-nimbang mana yang hendak dipakainya.
"Bang, aku pakai yang mana?" Kira mengajukan dua baju ditangannya ke arah suaminya.
"Sejak kapan dia jadi pemilih begitu?" Batin Harris.
Harris bangkit dan menghampiri istrinya yang masih menatapnya penuh harap. "Aku suka kamu yang polos, Yang!" Bisiki Harris di telinga istrinya. Gigitan di ujung daun telinga itu, membuat Kira melayang.
Detik berikutnya, Kira sudah beralih ke pangkuan suaminya, dengan posisi yang sungkan. Kira sangat malu dengan keadaannya saat ini. Namun dia tak mampu menolak. Tapi, dia membuang muka ke samping, menghindari tatapan yang mematikan itu.
"Kenapa? Bukannya kau suka melakukan ini?" Harris mendekatkan bibirnya di sudut bibir pucat istrinya. Seakan takut di ambil, Kira menarik bibirnya ke dalam dan mengigitnya.
Tak ada jawaban, artinya tak ada penolakan. Otak Harris mulai membagi tugas pada setiap anggota gerak. Satu persatu tugas itu mampu diselesaikan dengan baik, sehingga harmoni indah tercipta.
Sofa lembut di tengah ruangan ini, melesak semakin dalam saat melodi dua jiwa itu mulai memainkan irama yang sama. Pun dengan gerak tubuh yang meliuk sesuai ritme.
Tepat saat pintu diketuk, saat itu juga Harris menyudahi permainannya. Dengan sigap Harris membopong tubuh istrinya keatas ranjang dan menyelimutinya. Dia juga bergegas berbusana. Sekenanya.
Harris membuka pintu dan mempersilakan petugas hotel itu mendorong troli makanan ke dalam kamar.
"Maaf, Tuan. Kami datang agak terlambat! Semoga anda bisa memaklumi hal ini!" Pegawai itu menunduk untuk meminta maaf.
"Tidak masalah," Ucap Harris datar. Dia melangkah ke meja di dekat ranjang, mengambil uang dari dompet Kira. Lalu mengulurkan uang tersebut kepada si petugas. Untung saja, dia datang terlambat, jika tidak pasti sudah merusak suasana, batin Harris.
"Terimakasih, Tuan. Nanti taruh saja troli ini di luar kamar, dan saya akan mengambilnya lagi!" Ucap petugas hotel itu, setelah mengintip nominal tip yang diberikan Harris padanya.
Petugas itu keluar setelah mendapat anggukan dari Harris. Kira segera membuka mata yang sejak tadi sengaja dipejamkannya. Keduanya beradu pandang sebelum tertawa, sudah seperti maling saja.
***
Matahari sudah menyapa penghuni bumi, Kira membuka matanya perlahan dan mengedipknnya berulang. Kira mengubah posisi kepalanya agar lebih jelas melihat keluar jendela, tampak olehnya, gerombolan capung sedang berenang di lauatan hangatnya sinar mentari. Kira tersenyum melihat ini, pemandangan yang langka.
Bukan lagi soal capung, tapi pria yang memakai jubah tidurnya tengah duduk membelakangi jendela memangku laptop di pahanya. Belahan jubah itu menampakkan dadanya yang bersih dan bidang. Mengingat bagaimana rasanya menyentuh bantalan lembut itu membuatnya mengulas senyum.
Kira sangat malas bangun pagi ini, tubuhnya terasa lemas, tak bertenaga. Beruntung dia mengikuti kemauan suaminya, jika tidak dia pasti akan kelelahan.
Harris menyodorkan segelas susu putih hangat yang menguarkan aroma vanila yang khas. Kira segera bangkit dari posisi tidurnya, dan menyambar gelas berisi susu itu. Diteguknya cairan putih itu hingga tandas.
"Segarkan tubuhmu, kita pulang sekarang!" Ucap Harris saat menerima kembali gelas dari tangan istrinya.
"Lho, katanya dua hari, pulangnya besok kan?" Kira sedikit kecewa karena dia belum puas berjalan-jalan di kota ini.
"Maaf, Yang! Abang ada urusan penting yang ngga bisa digantikan oleh Papa atau Johan!" Harris duduk di ranjang bersebelahan dengan istrinya. Harris menyibak rambut Kira yang tak beraturan, dan menghadiahinya kecupan di pelipis. "Nanti kita bisa kemari lagi!"
Dering ponsel Harris menginterupsi bibir Kira yang hendak membuka untuk meyakinkan ucapan suaminya.
"Sebentar ya, Yang!" Harris bangkit dan berjalan ke arah ponselnya.
"Ya, Jo," Rupanya Johan yang berada di seberang telepon. Selanjutnya Harris hanya diam sambil memainkan pena, memutarnya melintasi seluruh jemarinya.
Pena di tangan Harris berhenti tepat di sela jari tengah dan telunjuknya. Wajahnya menegang dan dipenuhi kecemasan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Harris mematikan panggilan telepon itu.
Harris memutar kepalanya ke arah Kira yang masih menatapnya bingung. "Bersiaplah! Kita akan pulang sekarang!"
"Ada apa, Bang? Kok serius banget wajahnya?"
Harris mengabaikan segala bentuk tanya dari Kira. Dia mendorong Kira ke dalam kamar mandi, dan dia sendiri berkemas.
•
•
•
Ganti kover ya gais, judul juga...
Maafkan typo yah...🙏
Author butuh suport like, plis tinggalkan jempol untuk author, ❤
Love you all