
Satu minggu, atau tujuh hari setara168 jam, berpisah benua, berbeda waktu, dan pola hidup. Bagi sebagian orang iya, tapi bagi seorang Harris Dirgantara, sudah menjadi hal biasa. Pesawat yang membawanya kembali ke tanah air mendarat mulus. Perjalanannya kali ini bisa dibilang lancar tanpa kendala yang berarti. Sehingga dia bisa kembali tepat waktu.
Pun saat keluar bandara, dia tidak membutuhkan waktu lama. Dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung, kaos sweater menutup leher dan tangan mengait mantel tebal. Berjalan tegap di ikuti oleh si tangan kanan, menuju mobil yang sudah menantinya. Doni mengambil alih bawaan Tuannya.
"Bagaimana keadaan rumah, Don?" Tanyanya sambil memasuki mobil.
"Aman terkendali Tuan!" Jawab Doni sambil menutup pintu dengan lembut.
Lelah dan jetlag mulai melanda dirinya saat laju mobil mulai melambat bahkan berhenti. Baru beberapa ratus meter dari bandara.
"Ada apa, Don?" Harris mengangkat wajahnya memeriksa jalan di depannya.
"Mungkin ada kecelakaan, Tuan! Saya akan memeriksanya!" Doni hendak membuka pintu mobil.
"Tidak usah, Don! Biar saja," ucapan Harris mengurungkan niat Doni keluar, dia kembali menegakkan tubuhnya menghadap kemudi.
Harris menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, matanya tak kuat menahan rasa kantuk yang melanda. Bahkan Johan sudah lelap di sebelah Doni.
Hampir 30 menit mereka berkutat dengan kemacetan yang memang benar di sebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Akhirnya mereka bisa melaju lagi dengan lancar.
Mendung kembali menumpahkan air saat mobil berhenti tepat di depan rumah Dirgantara. Tampak sepi, membuat Harris bertanya-tanya. Biasanya, Kira menyambutnya di teras rumah, dengan senyuman paling manis bergelayut rindu.
"Kemana semua orang? Kok sepi?" Gumam Harris. Harris melangkah tergesa melewati undakan, meninggalkan halaman yang mulai pasrah ditimpa hujan.
Langkahnya yang panjang membuat teras yang cukup luas itu dengan cepat terlintasi. Jemari kokohnya mendorong pintu hingga terbuka sempurna. Lagi-lagi, ruang depan yang memang biasa kosong kecuali jika ada tamu, terasa hampa seakan tak ada jejak penghuni yang melewatinya.
Harris menajamkan telinga saat terdengar suara bayi yang begitu keras. Dilemparnya jas yang setia menggantung di lengannya sembarangan. Debaran jantungnya mulai tak berirama seiring pikiran yang mulai dipenuhi prasangka. Ada yang dia lewatkan seminggu ini, ada yang mencurigakan, menurutnya. Tapi apa?
Langkahnya menuntun ke arah suara bayi berada. Ruang tengah tampak tertata rapi seperti biasa, hanya ada dua kasur berisi dua bayi yang tengah menerjang udara dengan kakinya. Yang satu memasukkan tinjunya ke dalam mulut satu lagi menangis sampai wajahnya memerah.
Harris menelan ludah, mungkinkah dia memiliki dua bayi? Tapi, Kira tak pernah mengatakan jika ada dua bayi di dalam perutnya. Tidak, jika Kira membohonginya, apa mungkin Vivian tidak memberinya informasi yang lengkap? Juga Luna. Pria seperti Harris selalu punya antisipasi tapi kali ini? Mungkinkah dia melewatkan sesuatu?
Harris mengangkat bayi yang menangis dan menenangkannya. Bingung, sampai kantuknya hilang. Penuh tanya, tapi sesiapa tak dijumpainya.
Harris merogoh ponselnya, mendial nomor 2, yang langsung terhubung dengan Johan.
"Sampai mana? Bisakah kau kembali?"
"Saya baru keluar dari kompleks rumah anda, Tuan! Apa anda sudah merindukan saya?"
"Aku tidak bercanda, Jo! Ada dua bayi di sini, tapi tidak ada orang tuanya!"
"Anda suka banyak anak kan? Asuh saja, Tuan! Ditambah bayi anda, pasti akan meramaikan rumah anda!"
"Kau menyebalkan! Kembali atau jangan kembali sampai kapanpun!"
"Maaf, Tuan! Saya lelah sekali, pecat saja jika anda mau! Uangku cukup untuk menghidupi mantanmu dan anak-anaknya!"
Johan mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban Harris. Kesal. Harris mengumpat, sambil terus menepuk bayi dalam dekapannya.
Harris menghela napas, "Anak siapa sih ini? Menggemaskan sekali!" Harris menciumi pipi gembul yang basah oleh air mata atau air liurnya.
Harris berlari ke kamarnya di lantai dua, "Sayang, kamu dimana?"
Hanya suaranya menggema, hanya derap sepatunya yang terdengar. Satu persatu kamar dibuka tapi tak ada satupun yang ditemukan. Tak ada.
Langkah membawanya menuruni tangga lagi, menuju seluruh kamar dirumah ini. Nihil. Dapur adalah tujuan terakhirnya. Melewati ruang makan, Harris berlari dengan bayi itu digedongannya.
Tawa lirih seorang wanita meremangkan bulu kuduknya. Namun, tak menyurutkan niatnya mencari sumber suara. Langkahnya semakin cepat menuju suara itu berasal.
"Yang...." panggilan Harris membuat wanita yang diujung teras belakang menoleh.
"Abang...sudah sampai?" Lega, tapi juga tidak, Harris masih memperhatikan dengan teliti wanita yang duduk dikursi roda. Masih terus memaku pandangan hingga langkahnya bersua dengan ujung kaki istrinya.
Harris berlutut, mengulurkan jemarinya mengusap pipi yang masih berisi itu. Lalu turun ke arah perut, membuat Kira mengembangkan senyuman.
"Sayang, aku nemu bayi dua di ruang tengah! Apa itu bayi kita? Yang mana bayi kita? Lalu kenapa kau duduk di kursi roda? Apa ada yang salah?" Berondongan pertanyaan Harris hanya di jawab dengan tawa lirih.
"Yang, sebenarnya apa yang terjadi?" Harris mulai mengerut dalam, rasa penasaran masih menggerogoti hatinya.
Kira menangkup pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya, "Abang, dua bayi itu anakmu semua! Ini," sambil menunjuk bayi yang ada di dekapan suaminya, "yang lahir terlebih dahulu!"
"Hanya untuk mengejutkanmu saja, Bang! Dan kau benar-benar terkejut bukan?"
Harris terduduk, sebab Kira mengguncang pipinya dengan keras. "Iya aku sangat terkejut! Kau memang pintar membuat orang lain jantungan."
Susah payah Harris bangkit dengan bayi di lengannya. Kira masih tertawa tanpa suara sebab suaminya begitu kesal. "Masuk yuk Bang, kasihan baby yang satunya,"
Tangan Kira terulur meraih bayinya, membiarkan Harris mendorong kursi rodanya. "Sedang apa diluar? Bukannya dingin di sini?"
"Tadi aku mencari Rina, tapi dia dirumah belakang, pas aku mau berdiri dari kursi roda eh malah jatuh dan terduduk lagi! Ya, aku menertawakan diriku sendiri! Untung tidak ada yang melihat!"
"Kenapa tidak kau telpon saja?"
"Sudah, tapi ponsel Rina tertinggal di meja makan! Tuh," Kira menunjuk ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Yang, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau melahirkan? Aku jadi tidak bisa melihat bayiku lahir?"
"Abang pasti panik saat tahu kondisiku waktu itu! Abang belum transit, aku sudah dirumah sakit! Dan Abang menelpon pas aku di ruang operasi!"
"Maaf ya, Yang! Harusnya Abang nungguin kamu melahirkan kedua anakku!"
"Tidak apa, Bang! Ada Papa yang menemaniku kok!"
Harris berhenti saat mereka sampai di ruang tengah. Dia mengambil bayinya dari pangkuan Kira. Meletakkannya di kasur sebab dia sudah tertidur pulas. Pun dengan kembarannya.
"Aku rindu Abang!" Rengek Kira sambil mengulurkan tangannya.
Harris meraih istrinya, membawanya ke atas sofa. "Aku berat ya, Bang?"
"Lebih berat rinduku padamu, Yang!" Harris langsung menerkam bibir Kira yang polos, membenamkan rindu yang mengambang tanpa kepastian. Menekan lebih dalam, namun tetap berpegangan. Agar tidak jatuh lebih dalam.
Deheman keras memaksa keduanya menjauh. Lalu menoleh bersamaan. "Papa,"
"Bocah kurang ajar, awas saja kalau kau membuat menantuku menderita lagi!"
Ucapan Tuan Dirga membuat Harris dan Kira mengerjap bingung, alih-alih malu karena ketahuan bermesraan.
"Maksud Papa apa?" Harris membenarkan posisi duduknya, pun dengan Kira.
"Ini terakhir kalinya, Kira hamil! Papa tidak mau tahu, Ris! Resikonya terlalu besar jika dia mengandung lagi!" Tuan Dirga belum beranjak dari posisinya. Tegas dan tak terbantahkan. "Aku akan merasa bersalah pada besanku, karena keegoisanmu!"
Harris melirik Kira yang merasa tak enak hati mertuanya berbicara seperti itu demi dia. Bagaimanapun, kehamilannya tak pernah direncanakan, Harris pun sebenarnya tak mau lagi melihat Kira kesakitan. Sekali lagi, ini adalah rezeki, yang tak bisa di tolak bahkan sekalipun menginginkan, jika Pemilik Semesta tak mengizinkan, meski sampai ke dasar lautan atau ke ujung dunia, makhluk lemah seperti manusia hanya bisa pasrah.
"Harris ngerti, Pa! Harris juga tidak ingin menyakiti Kira lagi!" Harris menggenggam tangan dengan erat, janjinya pasti. Semua lebih dari cukup untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Done untuk hari ini....🥰
Alhamdulillah, sampai diujung juga....tinggal beberapa bab saja untuk sampai end ya gais....tetap setia denganku...nantikan kisah Excel ya...insya Allah saya masih di MangaToon/Noveltoon....
Kalaupun di lapak lain, pasti dengan cerita lain...Yang saya mulai di sini akan saya akhiri di sini....walaupun lama, tapi pasti akan ada akhirnya...
Love semuanya🥰😍