
Viona tengah terbaring lemah, usai mengeluarkan semua isi perutnya. Matanya terkatup rapat, tapi dia terjaga. Bibir tipisnya yang pucat itu bergetar, seakan darah tidak mengalir di dalamnya. Di temani Rina dan Kristal yang tengah bersimpuh di sisi Viona, sedang mengusap dan memijat kaki kurus Viona.
Kristal kini tak lagi takut pada wanita yang melahirkannya. Terlebih, seharian ini, Mamanya, tidak membentaknya ataupun memarahinya. Namun, melihat Mamanya lemah seperti ini, Kristal lebih memilih Mama yang galak dan suka membentaknya. Saat tangan kurus itu berkacak pinggang, saat bibir pucat itu melontarkan segala macam larangan kepadanya, saat itu Mamanya sedang memiliki sejuta energi di dalam tubuhnya. Kristal tahu, Mamanya sedang dalam kesulitan, apalagi, selama mengandung, tidak ada tawaran pekerjaan untuk Mamanya.
"Mama, apa Mama tidak ingin memarahi Kristal karena sudah memegang kaki Mama?," Tanya Kristal saat ekor matanya menangkap basah, Viona tengah memperhatikannya dengan mata setengah terpejam.
"Mama boleh kok marah sama Kristal, asal Mama bisa sehat lagi," Kristal menitikkan air mata di sudut matanya. Tangan kecilnya tak henti mengusap kaki Viona. "Kalau Mama seperti ini, Kristal tidak punya Mama yang bisa melindungi Kristal, nanti."
Hening, tak ada sahutan, hanya desau angin yang menerbangkan tirai tipis di sisi jendela. Rina yang masih tegap berdiri tak jauh dari ranjang, pun hanya membisu, dia masih mencerna gambaran dari matanya yang masih gagal di pahami pikirannya. Dia masih tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Mama? Bukannya Tante?, pikir Rina.
"Ma, Kristal tahu, Mama tidak bisa kerja, Kristal tidak akan minta sekolah lagi, atau Kristal kembali saja ke desa, ikut Bibi Yun, biar Mama tidak susah karena Kristal," Kristal memandang Mamanya, yang masih terpejam. Tak ada sahutan. Kristal beringsut lebih dekat kepada Mamanya.
"Mama jangan menangis, Kristal sayang Mama," Kristal mengusap cairan bening yang mengalir di sudut mata Mamanya. Sedikit ragu, dia mencium pipi kurus Mamanya.
Sunyi. Rina bahkan sudah berlari keluar saat menyaksikan adengan mengandung bawang. Rina bukan orang yang mudah menangis, tapi, melihat Kristal yang dengan tulus merawat Viona, orang yang tak pernah memperlakukannya selayaknya seorang ibu pada anaknya, membuat hatinya trenyuh.
Viona tergugu, ingatan akan perlakuannya pada anak kandungnya itu membuatnya semakin terguncang. Bagaimana dia menarik lengan kecil itu, bagaimana dia menghardik mata yang selalu menatapnya penuh kasih sayang. Saat dia menyuruk tubuh kecil itu untuk melakukan sesuatu atau menuruti perintahnya. Saat perut berkeriut lapar, namun tak di hiraukannya.
Namun, kini, setelah harapannya tiada, dia tidak tahu harus kemana lagi. Menanggung dua nyawa yang tak bisa lagi di hindarinya. Sejak kejadian lalu, sejak ayah biologis bayinya, mengalami kebangkrutan, sejak namanya tak lagi memiliki pengaruh di dunia yang membesarkan namanya, sejak hadirnya nyawa dalam perutnya, sejak dia dengan angkuh meninggalkan pria yang sangat mencintainya. Ya, sejak itu, dunianya berbalik seratus delapan puluh derajat. Yang semula di puja, kini hina, yang dahulu di atas kini di bawah.
Semua miliknya bukan lagi miliknya, harta, kejayaan, dan pria. Dia hanya bisa melihat, tanpa bisa memiliki. Ah, sakit.
Sekelebat pikiran baiknya, mengatakan bahwa dia harus bangkit, demi kedua buah hatinya. Membuang jauh-jauh egonya yang setinggi gunung. Menebalkan muka memohon iba. Tetapi, itu hanya kilasan, tidak tahu nanti bagaimana, saat melihat aura kebahagiaan dari orang yang pernah mencintainya.
...****************...
Ketukan di pintu, menyadarkan Harris dari tidur siang menjelang sore, yang nyaris tak pernah dia lakukan selama beberapa waktu.
"Ya," Sahutnya saat ketukan kembali terdengar.
"Tuan, sudah saatnya anda kembali," Ucap seseorang di balik pintu. Pasti salah satu kru kapal, pikirnya.
Harris yang bertelanjang dada, berjalan tergesa ke pintu, membukanya sebatas lebar tubuhnya.
"Ya, kami akan bersiap," Jawab Harris pada pria itu. "Apa ada masalah?"
"Tidak ada Tuan, hanya saja, seharusnya ada sudah kembali sejak berjam-jam yang lalu," Pria berkemeja denim itu, sedikit sungkan mengatakan hal ini.
Harris mengamati langit yang sudah kembali jingga, menandakan malam segera tiba.
"Baiklah kami akan cepat," Jawab Harris acuh, seraya menutup pintu kembali.
Dia kembali ke kamar, namun tak mendapati lagi istrinya di ranjang. Samar-samar terdengar suara gemericik air, menandakan istrinya sedang mandi. Harris bergegas mengemas barang-barang bawaan mereka.
Kira heran saat Harris sudah selesai mengepak barangnya ke dalam sebuah koper.
"Apa kita akan pulang sore ini?," Tanya Kira sembari menggosok rambutnya yang basah.
"Iya, apa kau kecewa?" Harris meletakkan koper itu di dekat pintu, lalu menghampiri istrinya yang sudah wangi.
"Tidak, hanya saja, kau tidak bilang kalau akan pulang sore ini." Kira menyipitkan matanya. Apa maksudnya kecewa? Pikirnya.
"Ku kira kau tahu," Jawab Harris mengecup mata yang mengerjap mengikuti langkahnya.
Mereka berdua bergegas, meski tidak akan terlambat untuk berlayar, tetapi, mereka sudah terlalu jauh mundur dari jadwal.
"Apa harga sewa kapal ini mahal, Yang?," Tanya Kira yang sedang senderan di ranjang sambil memainkan ponselnya. Mereka kini sudah berada di tengah lautan dalam perjalanan kembali ke kota.
Kira mencebik, "Atau, ini milik Papa?," Kira menarik bintik hitam matanya ke atas, menebak-nebak apa saja yang mampu di beli oleh mertuanya yang tajir.
"Bukan, Papa tidak menyukai kapal, katanya kapal hanya membuatnya ingat Mama," Jawab Harris sendu. Mengatakan Mama, membuat hatinya kembali lara.
Kira menangkap kesedihan dalam ucapan suaminya. "Kau merindukan Mama mu?,"
"Iya, aku selalu merindukan Mama, setiap hari. Tapi kini, ada kamu yang menurutku mirip sekali dengan Mama, kadang galak tapi selalu mendengarkan anaknya, tidak seperti Papa," Harris mengusap pipi Kira dengan punggung tangannya. Keduanya beradu pandang sejenak, sebelum senyum terukir di kedua sudut bibir mereka.
"Setiap orang tua punya cara sendiri untuk mendidik anaknya, jika Mama selalu mendengarkanmu, maka Papa akan melindungimu. Hanya saja, kau tidak menyadari bahwa apa yang Papa lakukan itu supaya kau tidak terluka atau menghindarkanmu dari masalah. Dan kamu, dengan ego laki-laki muda yang setinggi gunung, berpikir bahwa yang di lakukan Papa melukai harga dirimu. Bukan begitu?," Kira menyisir pelan rambut lebat suaminya sesekali memainkannya.
Manik mata Harris berkilat-kilat memantulkan cahaya lampu, menautkan fokusnya pada bibir yang bergerak-gerak, menggemaskan. Tangan kokohnya, masih menempel di sisi wajah Kira dengan ibu jari mengelus pipi.
"Kau pasti akan marah jika aku bilang tidak, ya kan?," Harris memajukan bibir bawahnya. Harris tidak tahu apa semua ucapan Kira itu benar atau tidak, hanya saja, tentang melukai harga diri, benar adanya. Itu sebabnya dia sangat marah, bila Asisten Toni, mencampuri urusannya. Bantuan dari Asisten Toni, membuatnya merasa tidak becus dalam menyelesaikan masalahnya.
Kira menepuk pelan sisi kanan kepala Harris, "Tidak juga, hanya akan merampas uangmu, jika kau berani bilang aku salah,"
"Astaga, kau ini uang saja yang ada dalam pikiranmu, jangan-jangan kau hanya cinta pada uang yang ku miliki?," Harris menatap Kira curiga, yang kentara sekali di buat-buat. Agar ucapannya seolah nyata.
Kira mengangkat bahu, "Iya, benar. Kau baru sadar? Bahkan ketika Papa memaksaku untuk setuju menikah, aku sudah berencana untuk mengambil uang kalian sebanyak mungkin, lalu kabur."
"Kau pernah berpikir seperti itu?," Kali ini, Harris serius terkejut.
Kira mengangguk, "Ya, karena ku kira aku harus menikah dengan Papa, bukan denganmu."
Harris bangkit, menatap lurus ke manik mata Kira, "Bagaimana bisa kau berpikir begitu?."
"Papa hanya bilang, jika aku harus menikah, dengan siapa aku tidak tanya, jadi begitu tahu kamu yang menikah denganku, ya, aku bingung dan terkejut. Aku kan tidak tau siapa kamu. Apalagi kau sangat galak padaku. Niatku untuk merampokmu semakin besar."
Harris mengelus kepala istrinya, dengan senyum terukir di bibir penuh miliknya. Pantas saja, dia terlihat bingung waktu itu, jadi karena ini?, pikir Harris
"Kau tidak hanya merampok hartaku, tapi juga hatiku, jadi apa lagi yang tersisa dariku sekarang?" Harris pura-pura sedih.
Kira tertawa lirih. "Tidak ada, semua sudah menjadi milikku."
Kira mengecup sekilas bibir suaminya, yang langsung di sambar dengan rakus oleh Harris.
"Teruslah seperti ini, cintai aku semaumu, jangan pernah berpikir untuk berhenti atau menyerah," Ucap Harris tepat di depan hidung Kira. Kira mengulas senyum, dan mengangguk pelan. Sebelum, sekali lagi, mereka hanyut dalam ciuman yang panas.
•
•
•
•
Author tak henti dan tak bosan, mau ucapin terimakasih yang tak terhingga untuk pembaca semuanya. Tanpa kalian, Author bukan apa-apa!
Sekalian izin, hari ini up cuma sekali, Author mau malam mingguan biar kaya yang lain😆😆😆. Author ada kepentingan, jika ngga ada hambatan, author akan usahain up lagi.
Komen dan like and Vote ya,
Lov yu ol,😘😘😘
Salam manis dari Author👋👋👋