Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Pria Sejati Tak Pernah Ingkar Janji


Harris sedang duduk berhadapan dengan Hadi Wijaya saat ponselnya berdering nyaring. Sedikit rasa canggung, Harris berjalan menjauh.


Kening Harris berkerut saat melihat Asisten Toni yang menelepon. Tetapi dia segera menjawabnya, takut kalau itu sesuatu yang menyangkut Reno. Bayangan kematian menyergap Harris, membuat tangan itu gemetar dan dingin.


"Ya ...," ucap Harris seraya menempelkan ponsel ke telinganya.


"Saya perlu mengatakan sesuatu pada anda, Tuan."


"Kau sudah melakukannya, Toni! Kau pikir sedang apa kita sekarang kalau tidak sedang berbicara!" Harris membentak pria botak itu saking kesalnya. Biasanya Asisten Toni tidak pernah bersikap demikian, selalu to the point dan kapan Toni bersikap menghormati begini padanya?


Asisten Toni terdiam begitu lama, sampai Harris tak sabar dibuatnya.


"Apa aku membuatmu gugup? Baiklah, kau telpon Kira saja kalau begitu! Aku tau kau terlalu banyak salah padaku, jadinya kau bersikap begini!"


Harris bersiap mematikan panggilan itu saat Asisten Toni berteriak dengan panik di seberang.


"Tunggu, Tuan ...! Maaf-maafkan saya!"


Harris menempelkan kembali ponsel tersebut, tetapi raut muka Harris sudah terlanjur kesal dan malas.


"Tuan Dirga mengosongkan satu lantai di rumah sakit untuk Nyonya Giza dan putranya. Saya pikir itu berlebihan."


"Bukankah Papa selalu berlebihan?" sindir Harris pada asisten yang mungkin saja memiliki andil besar pada setiap keputusan sang Papa.


"Ini tidak masuk akal, Tuan. Bahkan di sini Tuan membeli satu unit apartemen tak jauh dari rumah sakit. Saya baru saja serah terima dengan pemilik sebelumnya. Lebih tepatnya, beliau menginginkan dan menawarkan harga diluar batas agar pemilik menjualnya."


Harris merasakan kekhawatiran Asisten Toni. Dan tentu, Harris sama sekali tidak mengetahui pengeluaran Papanya, yang sangat tertutup.


"Apa yang kau simpulkan kalau begitu?" Harris hanya ingin memastikan kalau dirinya tidak mendapat kejutan dari sang Papa. Dia menyimpan sendiri dugaannya, dan membiarkan Asisten Toni yang mengungkapkan. Ini akan jadi senjata untuk memutar balik keadaan.


"Tuan Dirga memiliki perasaan pada Nyonya Giza—"


"Aku yakin bukan itu yang terjadi, Toni. Reno sudah dianggap anak sendiri oleh Papa, jadi apapun yang dilakukan Papa semata-mata karena rasa bersalah saja."


"Saya melihat dari cara Tuan menatap Nyonya Giza. Semuanya berbeda!"


"Tidak!" Harris duduk di kursi terdekat, tangannya mengetuk lengan kursi dengan perasaan yang aneh. "Pasti kau yang salah menafsirkan. Papa selalu begitu pada orang yang disayanginya."


"Itu tatapan berbeda dengan yang diberikan pada Nyonya Akira. Saya paham papa anda seperti kedua belah telapak tangan yang saling mengenali kiri dan kanan."


Harris merasa pusing dan rumit. "Aku akan menghubungi Papa kalau begitu."


"Saya hanya khawatir, Nyonya Giza terlampau larut dalam sakit hati. Jika sampai Tuan bersama Nyonya Giza, maka bukan hanya Nyonya Viona, tetapi juga Anda dan keluarga anda yang terancam bahaya."


"Aku mendengarkanmu." Harris segera mematikan sambungan teleponnya, lalu menjatuhkan punggung ke sandaran kursi.


"Papa kau sudah tua, masih saja memikirkan wanita. Kalaupun suka, sebaiknya sama bibi Mai saja, jangan Giza. Apa papa menyumpahi Reno mati? Ya Tuhan!"


Harris bergumam seraya menghubungi sang Papa yang jauh berada di luar negeri.


Panggilan itu dijawab setelah nada sambung kedua belum terdengar.


"Sudah rindu, ya?" sapa Dirgantara Senior ceria.


"Nada suara Papa seperti orang yang sedang jatuh cinta. Papa menyukai Giza, ya?" Harris menuduh tanpa basa basi.


Namun sayang, Dirga menanggapinya dengan tawa yang keras.


"Kau bocah tau apa soal nada suara? Kau saja tidak tau not balok." Dirgantara masih tertawa saat berbicara. "Ya, cinta bisa datang kapan saja. Dan sebenarnya aku rindu sekarang."


"Kenapa harus Giza, Pa?" Harris berdiri dengan perasaan kacau. Runyam sekali urusan pria tua itu. Cari masalah saja.


"Apa Giza tidak pantas kalau mendapatkan cinta lagi nanti?"


"Pantas, tapi tidak dengan Papa!" Harris memprotes keras. "Bayangkan jika sampai itu benar terjadi, apa Papa mau dituduh sengaja membiarkan Reno mati untuk mengambil istrinya?"


Dirgantara berkata serius menanggapi. "Bagaimana jika sebaliknya ... Papa menjadi pria baik malaikat yang merengkuh janda untuk jadi permaisurinya? Bukankah Papa terdengar lebih mulia di mata orang?"


"Pikirkan perasaan Reno, Pa!"


"Papa memikirkan perasaan Reno, jadi—"


"Pa, Giza masih muda."


Harris mendesah frustrasi. "Kenapa papa keras kepala, sih? Giza itu istri dari pria yang Papa anggap sebagai anak Papa? Apa Papa tidak malu?"


Dirgantara tertawa. "Sudahlah, Papa sudah memutuskan. Kau tidak usah pusing mikirin Papa. Bekerjalah dengan baik, atau kau akan Papa turunkan menjadi tukang kebun."


"Pa—astaga!" Harris melihat ke dalam ponselnya, panggilan itu sudah dimatikan sepihak. Pria itu menjadi sangat frustrasi.


Buru-buru Harris menghubungi Asisten Toni dan melaporkan apa yang dilakukan Papanya selama di sana.


"Sudah tua bukannya banyakin ibadah, malah nyari perempuan." Harris bersungut saat kembali menemui Hadi Wijaya yang kini telah bersama Jeje.


Jeje sebenarnya tidak sengaja menemui pelatih yang akrab di sapa HW itu. Jadi dia dengan piama tidurnya terlihat kontras dengan HW yang begitu gagah dengan pakaian formalnya.


"Pikirkan keuntungan yang kau dapat jika gabung dengan kami, Jay! Aku yakin, papa mu akan mendukung pilihanmu." Coach HW terlihat ramah menepuk pundak Jeje.


"Oh, ya ... Paman ada titipan dari putri Paman." HW tersentak yang dibuat-buat saat mengambil buku diary berwarna magenta dengan gambar-gambar lucu membingkainya.


"Dia menidolakanmu, tapi karena dia terlalu pemalu, jadi dia minta Paman meminta tanda tanganmu di sini."


Jeje belum bisa bicara apapun karena kepalanya penuh dengan tawaran-tawaran yang diajukan HW padanya. Bahkan dia tidak paham apa yang dibicarakan HW barusan.


"Ya, di sini ... halaman pertama. Tuliskan juga namanya serta ucapan yang membuat rasa percaya dirinya bangkit." HW menunjuk lembar pertama dengan pulpen berkepala helo kitty.


Jeje dengan linglung menandatangani asal-asalan saja lembaran itu. "Nama anak Paman siapa?"


Jeje membubuhkan titik pada ujung tandatangan itu, lalu menatap HW sekilas.


"Claire Amore ... buat yang imut dan bikin gemas, ya, Jay!"


Jeje tercengang beberapa saat. Pikirnya, anak HW laki-laki. Apa Coach menyebut anaknya seorang wanita tadi?


Jeje menuliskan nama Claire sesuai apa yang ada di kepalanya. Claire Amor.


"Cewek juga suka sepak bola ya, Paman? Bukannya harusnya minta tanda tangan aktor atau penyanyi Korea, ya?"


Jeje hanya menuliskan kata 'jadilah dirimu sendiri' dibawah nama Claire dengan bunga kecil-kecil sebagai pemanis. Sejujurnya, dia tidak tau harus menulis apa.


Jeje menaikkan wajahnya saat HW tidak menjawabnya. "Claire suka bola?" ulang Jeje.


"Tidak—ya, maksud Paman iya. Claire suka bola, tapi dia menyembunyikannya dari semua orang. Dia terlalu lembut dan pemalu untuk bersorak di lapangan. Jadi dia ikut Paman agar tidak terlalu 'kelihatan' ... kau tau kan maksud Paman?"


HW memainkan kedua belah jemarjnya di sisi kepala seperti membuat dua tanda petik. Jeje mengangguk tanda mengerti, lalu mereka berdua tertawa.


"Cepat sekali kalian akrabnya?" Harris menghampiri tanpa menyisakan jejak kekesalan sebelumnya. Pria itu tersenyum. Jeje rupanya sudah mengenal Hadi Wijaya dengan baik.


"Anak saya seumuran dengan Jay ... kami hanya saling memahami antara sesama pria." Hadi Wijaya terlihat canggung dan malu atas kalimat Harris barusan.


Hadi Wijaya yang bukaan siapa-siapa bisa masuk dan berdekatan dengan pria sehebat Harris Dirgantara adalah sesuatu yang luar biasa. Bisa dikatakan pencapaian.


Harris tersenyum menanggapi. Mata tajam pria itu menatap Hadi Wijaya sejenak. Pria itu tampak alami. Harris tidak punya celah untuk curiga.


"Saya menyerahkan semua keputusan di tangan Jay, Coach ... saya harap apapun keputusan Jay, Coach siap menerima dengan hati yang lapang."


Ketika tatapan Harris berpindah ke Jeje, Jeje menjadi bingung. Sedetik lamanya dia terpaku, lalu pandangannya jatuh pada kertas di atas meja.


Dengan cepat, Jeje mengaitkan kedatangan Hadi Wijaya dengan headline di kertas itu. Dia segera tersenyum.


"Saya masih harus menyelesaikan sekolah saya, Coach. Bahkan club saya meminta saya bergabung di tim senior setelah lulus SMA. Dan saya rasa, saya masih amatir untuk tawaran semenggiurkan itu. Biar saya menempa diri dan membalas kebaikan club saya sekarang, Coach. Maaf, saya mengecewakan Coach."


Jeje berdiri susah payah, lalu membungkuk sebagai tanda minta maaf yang tulus. Jeje sudah memutuskan demikian. Dia harus memenuhi janjinya pada sang Papa, baru mengejar cita-citanya.


"Yah, saya yakin, didikan memang tidak pernah bisa berkhianat. Saya salut dengan keteguhan Jay yang anda ajarkan, Tuan. Saya kagum pada anda." Hadi Wijaya sama sekali tidak kecewa. Malah dia menepuk pundak Jeje.


"Aku menantikanmu bergabung dengan klub-ku suatu saat nanti."


Harris tidak merasa bangga atas pujian itu. Dia selalu hati-hati dengan setiap sanjungan yang datang. Tidak boleh terlena, sebab akan ada maksud dari setiap sanjung puji tersebut. Harris tidak mau jatuh dan hancur karena sanjungan manis di bibir.


Mereka berdua mengantar Hadi Wijaya meninggalkan kediaman megah Keluarga Dirgantara. Keduanya saling merangkul di bahu disertai tepukan bangga di bahu Jeje.


"Pria sejati tak pernah ingkar janji." Harris menoleh ke arah Jeje yang tersenyum malu akan kalimat tersebut.