Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sedikit Waktu dan Kesabaran


Penolakan dan ketegaran Giza malah membuat Harris semakin merasa bersalah. Bagaimanapun, mereka telah bersama sekian lama, rekan juga bersahabat, tetapi disini dia merasa kalau dia telah mengorbankan sahabatnya tersebut.


Semua diluar kendali. Dan benar, kejadian itu disebabkan oleh kecerobohannya. Harris yang waktu itu, terlalu naif terhadap Viona. Dia terlalu bodoh dan tidak waspada.


Andai saja ....


"Sayang ...." Kira mengusap punggung Harris yang tengah melamun.


Harris menghela napas dan menoleh untuk membalas tatapan Kira yang begitu teduh.


"Kau sudah melakukan yang terbaik untuk Reno dan Giza." Kira tidak meminta Harris menghentikan perasaan bersalah di hati suaminya tersebut. Tetapi dia selalu mengingatkan betapa besar juga usaha Harris untuk memulihkan Reno.


"Tapi—"


"Itu belum cukup?" tanya Kira yang membuat Harris mengerutkan keningnya seketika. Harris berpikir sejenak.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan untuk memperbaiki keadaan? Untuk benar-benar membuktikan kalau kau sungguh menyesal?" Kira membuang muka. Hatinya sakit saat ingin mengatakan ini.


"Kau ingin memiliki luka yang sama dengan Reno agar dikatakan sepadan?"


Harris terhenyak.


"Kau telah memberikan dunia dan kehidupan baru untuk Giza. Jika perlu, jika Reno tidak selamat, kau bisa menikahinya."


Kira menguatkan hati mengatakan ini. Tadi dia melihat suaminya seperti kehilangan nyawa dan bingung menyikapi kondisi Reno yang koma. Seperti rasa bersalah itu tidak ada ujungnya. Tidak berkesudahan.


Kira tidak tahu bagaimana perasaan Giza yang sesungguhnya, sebab Giza memilih menjaga jarak dan menolak bantuan pada awalnya. Giza baru menerima bantuan setelah Reno harus dirawat secara intensif waktu itu. Bahkan Dirga membiarkan Giza bekerja di rumah sakit sebagai staf setelah itu.


Pada dasarnya Giza wanita mandiri. Dia memiliki prinsip yang kuat dan tidak mudah goyah. Jadi pasti agak sulit membujuk Giza.


Harris menyadari sikap Giza yang sulit, makanya ketika Giza memaafkannya dengan mudah, hal itu membuat Harris makin terpuruk.


Tetapi untuk menikahi Giza ... Harris tak pernah berpikir sekalipun. Dan masa lalu Kira terulang kembali.


"Giza tidak akan membuatku cemburu." Kira membuang muka dan menarik tangannya dari punggung Harris.


Namun, Harris menangkapnya, lalu menarik Kira dalam pelukan. "Biar aku mati saja jika harus menikah dengan wanita lain. Sekalipun Giza dan segala alasannya."


Kira tersenyum walau sebenarnya dia tak ingin tersentuh karena ucapan itu. Tapi bagaimana lagi, dia selalu merasa istimewa karena tindakan kecil Harris.


"Tapi aku sungguh-sungguh, Bang ... aku tidak apa-apa jika harus berbagi dengan Giza. Toh, aku tahu, hanya aku yang kau cintai." Kira berkata seperti tidak niat dan tidak terlalu jelas terdengar.


"Pada kenyataannya, membagi cinta suami itu tidak semudah sewaktu dibicarakan seperti ini. Apalagi aku tahu kau sangat labil dan pemarah. Bagaimana jika kau manis didepanku, tapi malah menindas Giza? Bukankah aku malah menimpakan musibah dua kali padanya?"


Kira menjauhkan tubuhnya, menatap Harris penuh protes. "Aku bukan pemarah. Hanya serakah."


"Ya, kau selalu serakah jika tentang aku, kan? Kau jangan mengelak. Bahkan sama penjahit saja kau perhitungan." Harris mengingatkan.


"Giza bukan penjahit itu, Bang ...."


"Tapi aku tidak mau! Ada banyak cara untuk menebus kesalahanku pada Reno dan Giza ... tidak harus menikahinya juga."


"Nah, itu tau! Kenapa masih manyun bin melamun saja dari tadi."


Harris tercekat. Sama sekali tidak menyangka obrolan ini membawanya kabur dari rasa bersalah yang dalam. Kira membawanya naik dan berpikir jernih.


"Jadi apa misalnya yang bisa kau lakukan untuk Reno?" Kira mendesak dengan kepala merebah di bawah dagu Harris.


"Mendukung mereka sampai aku tidak mampu lagi," ucap Harris dengan tatapan yang kembali hidup.


"Bagus sekali." Kira segera merambatkan bibirnya sampai ke bibir Harris yang seketika menyambutnya, tetapi Kira tidak bisa lama-lama, ada Riko yang masih harus dijaga perasaan dan penglihatannya. Jangan sampai mereka membuat pikiran Riko kotor dan mencoba-coba melakukannya.


Yah walau Harris sebenarnya tidak rela, tapi sudahlah lupakan saja. Kira sedang tidak bisa diapa-apakan.


"Kita pulang, Riko!" perintah Harris tak jelas.


Harris mengerang menahan malu, sementara Kira duduk kembali seraya menahan tawa.


Memalukan sekali.


Setibanya di rumah, Kira mendapati Excel sedang berjalan menuju mobil sederhana Rian.


"Ma, aku nginep di rumah Papa, boleh?"


Sekilas, Kira melihat Jen mengintip. "Iya, Sayang ... jangan lupa bawa perlengkapan sekolah kamu, ya."


"Sudah Ma ...." Excel segera ke sisi papanya, "Ayo, Pa."


"Kamu masuk dulu, Papa mau pamit sama Mama dan Papa mu."


Excel mengangguk tanpa banyak berpikir atau bertanya dan segera masuk ke mobil dengan langkah tenang.


"Titip Excel, ya, Mas." Kira ... meski masih ada rasa canggung, dia tetap berusaha menjaga sikapnya. Harris di sisinya, jadi bukankah dia harus lebih percaya diri?


Rian melihat tatapan berbeda di mata mantan istrinya tersebut. Dan itu jelas mengingatkan dia pada selaksa kisah masa lalu. Rian hanyut dalam nostalgia.


"Maaf, aku ajak Excel sebentar, ya, Ra ... Tuan." Rian langsung beralih pada Harris yang begitu rapat menempel pada Kira. Entah sengaja atau tidak, tapi sungguh Rian masih saja merasa rendah.


"Nikmati waktu kalian, jangan sungkan ajak anak kamu kemari jika dia merasa kesepian." Harris menepuk pundak Rian, walau Rian jauh lebih tua darinya, tapi Harris jauh lebih pantas dihormati oleh Rian. Atau begitulah kelihatannya jika orang luar melihat pemandangan saat ini.


"Terimakasih banyak, Tuan. Saya akan memanfaatkan kebersamaan kami sebaik-baiknya." Rian bersikap sangat formal tanpa sadar, dan itu membuat Harris tertawa.


"Ayolah, jangan bersikap seolah aku ini adalah Papa. Kau membuatku seakan jauh lebih tua dari usiaku." Harris tertawa.


Rian hanya merespon dengan senyum kecil dan segera undur diri. Bisa mati lemas jika terus berada di hadapan mereka.


"Jen ...." Kira memanggil Jen yang langsung kabur ke dalam rumah. Kira mengejarnya.


"Kenapa kamu ngintip begitu?" Jen menghentikan larinya, lalu menoleh pada sang Mama.


"Aku ...."


Kira mendekat dengan langkah pelan. "Kenapa?"


"Aduh, Ma ... aku pengen ikut Papa tapi aku juga jaga perasaan Jeje. Aku juga kangen Papa, Ma ...."


Kira membuang napas. Dipikirnya, Jen malah kesal sama papa kandungnya, ternyata ....


"Ma ... bantu Jen biar bisa nyusul Kak Excel ke rumah Papa." Jen merengek seraya menggoyang lengan mamanya.


"Ya udah sana, nanti Jeje urusan Mama ... Tapi di sana jangan nyusahin nenek kamu, bantu-bantu Papa dan nenek, ya!" Kira mengusap rambut Jen dengan sayang, lalu mencium pipi Jen yang telah tergusur senyum kesenangan dari gadis tersebut.


Jen senang bukan main, tapi sayang dia harus menahan sorak sorai itu. Entahlah, dia hanya ingin memperbaiki apa yang telah rusak, menyambung apa yang telah hilang.


Jen memang mudah berubah pikiran, dia hanya butuh sedikit waktu, dan dihadapi dengan kesabaran.


"Jen bersiap dulu kalau begitu." Jen berlari dengan senyum ceria, tapi kemudian dia berhenti mendadak, dan berbalik menubruk sang Mama.


"Makasih, Ma ... sayang Mama banyak-banyak!" Jen menghujani pipi mamanya dengan ciuman dan pelukan.


Sementara Harris hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak sambungnya tersebut.


"Nanti Papa kasih uang jajan," ucapnya dengan kode, agar Kira tidak mendengarnya.


*


*


*