
Wajah Jeje masih muram, saat Harris menggiringnya ke ruang kerja. Dia bahkan tak memikirkan apapun saat ini, padahal biasanya ia paling takut jika dibawa ke ruang kerja papanya. Hukuman memang tak pernah ada dirumah ini, hanya terkadang setiap kenakalan yang mereka perbuat akan berakhir di ruangan tersebut. Jeje tentu yang paling sering mengunjungi tempat tersebut dengan banyak sekali keluhan dan juga nasihat yang memenuhi telinganya.
"Kamu tau, kenapa papa membawamu kemari?"
Jeje menaikkan wajahnya yang semula sendu dan menunduk, ia memaksa kesadarannya berkumpul kembali dan menelaah apa yang di katakan papanya. Kenapa lagi memangnya? Dia jelas hanya berkata penuh candaan barusan, tetapi apa harus sampai begini juga peringatannya? Jeje menghela napas panjang dan dalam, memenuhi rongga di dadanya yang seakan penuh dengan beban.
"Jeje kan hanya bercanda Pa, masa sampai harus dibawa ke sini?" Terlihat sekali kalau dia sangat malas berhadapan dengan orang-orang serius yang susah diajak bercanda dan biasanya sang papa dengan senang hati menimpali candaannya. Astaga, apa ini juga berkaitan dengan akutnya kebucinan saeorang Harris pada Akira? Diam-diam, Jeje mencibir.
Harris menaikkan alisnya seiring senyumnya yang merangkak naik, "jadi kau pikir ini masih berkaitan dengan yang tadi?" Jeje mengangguk dan itu membuat Harris tertawa lirih. "tentu saja tidak, Je ... papa tidak mau kau katai budak cinta kelas wahid jika hanya hal seperti itu harus sampai membahasnya di belakang Mama."
"Yeah ...," sahut Jeje membenarkan. "Bukannya memang papa pemuja wanita?" gumamnya penuh tuduhan.
Harris pura-pura tuli dengan tuduhan penuh kebenaran itu, tangannya sibuk mengambil sesuatu dari laci di bawah meja kerjanya. "Jadi minatmu masih terpaku pada bola?" Sebuah amplop cokelat mendarat di atas meja yang memisahkan mereka berdua.
Jeje mengerutkan kening seraya tangannya yang selalu ingin tahu menjamah amplop tersebut. "Ini apa, Pa?" Alih-alih menjawab, Jeje malah memandang papanya penuh tanya.
"Jika kau masih suka bola, sebaiknya kau tunjukkan kemampuanmu pada mamamu. Kau tahu, papa pernah kena bentak ketika membahas hobi yang hendak kau jadikan profesi itu. Mamamu sangat tidak mau kau bergelut dibidang itu." Harris menghela napas, entah ini sesuatu yang baik atau tidak, tapi Jeje pasti mempertimbangkan keberatan mamanya.
"Papa pernah membahas dengan mama?" Jeje tercengang bukan main. Dia saja tidak pernah menunjukkan benar-benar hobinya tersebut, takut kalau mamanya akan mengeluarkan segala ketakutan dan antisipasi sebelum ia merasakan atmosfer lapangan hijau.
"Yah ... dan jika kau masih mau menjadi pemain bola, maka ikutlah seleksi itu. Meski bukan klub besar, tapi seleksi untuk tim under 16 sangat diperhatikan oleh perwakilan tim raksasa negara ini. Sengaja papa tidak memakai koneksi, agar bakatmu terlihat dan kau bangga dengan capaianmu sendiri. Apa kau keberatan jika papa mengatur seperti ini?"
Jeje mengangguk dengan antusias dan tersenyum bahagia. "Jeje setuju saja dengan apa yang telah papa putuskan. Dan sebenarnya ini seleksi yang akan Jeje ikuti, tapi papa sibuk terus akhir-akhir ini, jadi aku pikir tidak usah saja ikut seleksi seperti ini."
"Ya ... kau lihat kan? Paman Johan sedang ke luar negeri dan dia mungkin tidak berniat kembali pada kita setelah—papa yakin kalau disana sedang ada pengalihan saham-saham dan serah terima jabatan, Paman Johan menjadi pewaris Dermacorp." Ada nada sendu penuh getar keluar dari bibir pria itu dan Jeje menangkap jelas hal tersebut. Namun, Harris secepat mata mengedip, kembali tegar dan fokus pada bahasan dengan Jeje.
"Jadi papa akan mengabulkan permintaanmu untuk nonton liga satu di Jepang jika kau berhasil dalam capaian terbaikmu di seleksi itu. Tidak perlu sampai menjadi sekuad utama, tapi cukup tergabung dalam tim saja. Papa tetap meminta supaya belajar dan berlatihmu seimbang tanpa melupakan yang lain." Harris menegaskan.
Jeje kehabisan napas beberapa saat lamanya, dia hanya memundurkan kepala dengan ekspresi syok kesenangan, lalu ia melompat bangkit untuk menghambur di pelukan papanya. "Siap laksanakan, Capt!" pekik Jeje di balik kepala Harris.
Papaku memang terbaik.
"Oke ...!" Harris membalas pelukan anaknya dengan tepukan berulang di punggung. "Jangan sampai mama tahu hal ini, Boy ... atau papa akan menderita dengan aura permusuhan dari mamamu!"
"Siap, dimengerti, Kapten!" Jeje melepas pelukannya dan masih tersenyum lebar. "Makasih, Pa ... Jeje akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan papa!"
"Apa?" Jeje yang kembali mengamati amplop itu berjingkat jijik. "Apa Jen seperti ini?" gumamnya tak percaya. Lebih tepatnya dia tidak sadar kalau tingkah mereka berdua nyaris sama.
Harris mencebik, "tidak perlu heran lagi, bukan?"
"Yeah!" Jeje menghembuskan napas pasrah hingga bahunya turun. "Aku ke kamar ya, Pa ... mau lihat-lihat ini dulu sebelum mengajukan ini besok!" Tangan Jeje menggoyang amplop coklat tersebut di depan sang papa.
"Oke ...!" Harris menyilakan anaknya keluar, sedangkan dia akan kembali berkutat dengan pekerjaan lain yang masih belum sempat terselesaikan hanya demi mengabari anaknya tentang adanya seleksi terbatas sebuah klub sepak bola. Harris menilai, klub tersebut sering melahirkan pesepak bola brilian yang bersinar, dan sayang jika bakat anaknya akan sia-sia jika dia tidak mengembangkannya.
Tak lupa ia mengumpati Johan sebelum membuka laptop dan memulai pekerjaannya. "Apa dia bersarang terus sampai lupa padaku?" Harris tersenyum muram. "Dasar Pak Tua!"
Tangan Harris tidak tahan untuk tidak mengirimi Johan pesan untuk membuat Johan kesal.
"Jangan lupa obat kuat! Takut besok encok kumat!"
.
.
.
.
.
.
Mampir ke karyaku yang lain, gengs, pasti ngga kalah seru dari Papa Harris
See you, there🥰