Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Memainkan Keadaan


"Urus dia!" titah Harris pada Doni yang baru saja mencapai ujung ruangan itu. Harris melenggang keluar dari ruangan yang terang benderang ini meski mulai sedikit merasa panas.


"Dengan senang hati, Tuan!" Seringai Doni begitu penuh kepuasan. Dengan cepat dia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya.


"Bawakan semua yang aku minta tadi!" Ucapnya saat gawai itu menempel di sisi telinganya. Tanpa menunggu jawaban, Doni mematikan sambungan teleponnya.


"Apa yang akan kau lakukan padaku?" Bentak Martin pada Doni yang meletakkan kembali ponselnya di saku belakang celananya. Beruntung, Martin tak mengalami luka serius di bagian kepalanya karena dia menggunakan helm fullface. Tetapi siku hingga telapak tangan kirinya menggores aspal. Pun dengan kakinya, sekalipun celana jeans sebagai pelindungnya. Tak mampu bertahan saat beradu dengan aspal.


Doni berjalan mendekat di depan Martin, lalu menunduk. Suara rendahnya begitu menyeramkan, "Kenapa baru bertanya sekarang, ha? Seharusnya kau sudah memikirkan semua ini sebelum kau menyelakai Bosku! Kau tau dia seperti apa kan?"


"Apa kebangkrutanku tak cukup untuk membalas semua ini? Perlukah kalian menyiksaku disini?" Teriak Martin. Bayangan kekejaman Harris melintas tanpa permisi di benak Martin, membuatnya ketakutan.


"Asal kau tahu, kau bangkrut karena Tuan Dirga! Tuan Harris tak melakukan apapun sebab dia menantikan saat ini!" Pandangan keduanya terkunci. Martin mencari jejak kebohongan di mata Doni. Gertakan itu bukan lagi sebuah ancaman kosong semata.


Seakan sudah tak lagi bernyawa, dia tidak menyangka balasan yang dia dapat berasal dari dua arah. Kini, baginya, mati lebih baik. Tak ada yang mengharapkannya di dunia ini. Tak punya apa-apa dan tidak berguna.


"Habisi saja aku sekarang!" Pinta Martin pada Doni. "Tembak aku sekarang!"


Doni mengerucutkan bibir sambil bangkit dari posisinya. "Kenapa? Ini bahkan belum dimulai, Martin! Kemana kau yang sangat tinggi itu, huh?"


"Aku-aku mengaku kalah, Don! Aku mengakui semuanya! Tolong jangan siksa aku, aku sudah sangat menderita selama ini!" Lirih Martin. Ya, lebih baik begini. Daripada hidup dengan siksaan dari Harris. Yang bahkan belum pernah terpikirkan olehnya.


Doni mendengus, dia menggaruk belakang telinganya yang tiba-tiba gatal. Ini tidak akan menarik, pikirnya.


"Semudah ini kau menyerah, Tin? Kau yakin mati akan lebih indah?!" Ucapan Doni begitu provokatif. Jika mati itu indah, semua orang memilih bergegas mati. Dunia begitu tidak adil bagi jiwa yang lemah. Untuk apa berjuang, jika hasilnya akan sama saja.


"Kau tak tahu betapa lelahnya hidupku dalam pelarian, Don! Kau tak tahu betapa kerasnya hidup yang kujalani. Bahkan saat aku sekarat, maut tak mau menyentuhku!"


Seorang pria masuk membawa sebuah kotak, menyela obrolan menarik keduanya. Dia melangkah ke sisi Doni, dengan isyarat mata dari Doni, pria itu berlutut meletakkan kotak itu dan dengan cepat membukanya. Martin mengawasi pria itu dengan waspada. Itu hanya mirip kotak P3K, namun siapa yang tahu apa isi dari botol-botol itu.


"Lakukan dengan benar!" Perintah Doni.


Pria itu mengangguk lalu dengan cekatan dia mendekati Martin. Lalu mulai membersihkan luka di tangan Martin. Cairan itu begitu perih mengenai lukanya, sehingga Martin berteriak keras. Namun pria itu tak berhenti. Seakan telinganya memblokir teriakan Martin. Hal yang sama dilakukan di kaki Martin bahkan dia sedikit kasar di bagian luka yang dalam.


Tak butuh waktu lama, pria itu sudah selesai dengan tugasnya, dia segera berkemas tanpa mengucap sepatah katapun. Sedikit anggukan ke arah Doni yang belum bergeming dari tempatnya, membawanya mundur teratur meninggalkan ruangan ini.


"Bagaimana? Perlu di tetesi air garam?" Tawaran yang sangat konyol. Martin masih meringis menahan perih, tak mampu untuk mendebat Doni.


"Kumohon, bunuh saja aku!" Raung Martin putus asa.


"Tidak, kau masih sangat sehat untuk segera di lempar ke neraka! Apa kau mau jadi pasokan kayu di sana? Kau masih sangat berguna di sini, Tin, setidaknya untuk kesenanganku!" Ucap Doni datar saja. Jam yang melingkar dipergelangan tangannya seakan melambai untuk diperhatikan.


"Sudah waktunya!" Desisnya. Namun, Martin yang mendengar semua itu dengan jelas, membelalakkan matanya.


"Kumohon, Don! Jangan siksa aku! Habisi saja aku!" Ratap Martin, tatapan menghiba darinya sama sekali tak mendapat respon dari Doni.


Doni melangkah dengan santai meninggalkan Martin seorang diri. Namun, belum sempat Martin memohon lagi, beberapa orang menghampirinya. Melepaskan ikatan tangan dan kakinya, lalu membawanya ke atas. Tetapi, seseorang di belakangnya menutup mata Martin sehingga dia hanya melihat kegelapan.


"Setidaknya aku tak tahu pistol mana yang mengenaiku! Paling tidak Harris masih memiliki nurani, tak membiarkan korbannya melihat peluru mana yang menembakku!" Batin Martin dalam hati.


Harris sedang memperhatikan penjelasan salah satu stafnya saat Johan keluar ruangan dengan ponsel di tangannya.


Tak ada yang peduli kecuali Harris, meski dia sudah menduga apa yang sedang terjadi, tetapi ekor matanya tetap mengikuti Johan hingga lenyap ditelan pintu.


Seakan hafal dengan sikap atasannya, staf itu menghentikan penjabarannya saat Harris tak meletakkan fokus padanya. Selain karena membuang tenaga, dia tak mau bibirnya berbusa sebab harus mengulangi lagi apa yang di sampaikannya.


"Bisa saya lanjutkan, Tuan!" Harris berkedip dari pintu kaca menuju pria yang sedang berdiri penuh kesabaran menanti fokus dari sang CEO.


Anggukan Harris melegakan seisi ruangan. Pria itupun segera melanjutkan apa yang sempat tertunda. Bahkan dia sedikit tak sabar untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


Benar saja, Johan kembali beberapa saat kemudian tepat ketika staf itu membungkuk hormat sebagai tanda usainya pemaparan darinya.


Johan menghela napas saat berjalan ke arah Bosnya. Seakan bebannya telah terangkat sempurna. Johan selalu berjalan cepat sehingga tak ada yang tahu apakah urusan Bos dan Asistennya itu mendesak atau tidak. Mereka tak berhak tau atau bertanya.


"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan!" Bisik Johan sambil membungkuk. Senyum samar menghiasi bibir penuhnya.


Johan kembali duduk setelah Harris mengangguk perlahan. Harris mengusap dagunya. Tidak menyangka Martin menyerah begitu cepat, bahkan Winata butuh waktu satu minggu untuk menyerah.


Yah, permainan kata-kata dan gertakan membuat sebagian orang ciut nyali. Entah apa yang orang di luar sana pikirkan tentang kejam yang dimaksudkan padanya. Tapi, dia belum pernah melakukan hal-hal di luar batas. Wajar, Winata belum kembali hingga sekarang, pun dengan Martin nanti. Mungkin tak akan pernah kembali. Bagaimanapun, mereka pernah berbuat jahat sebelum berurusan dengan Harris.


Harris tak berhak menghakimi sendiri, ada orang lain yang juga merasakan sakit akibat ulah mereka. Harris hanya sedikit "membantu" menangkap mangsa.


Memanfaatkan desas desus untuk menciptakan citra seseorang, bukanlah hal yang sulit dimasa sekarang. Hanya perlu membuat segala sesuatu seolah terlihat mengerikan, orang lain dengan senang hati berasumsi dan menyebarkannya. Harris menaikkan alisnya, sebelum kembali fokus pada diskusi tentang pencapaian perusahaannya.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf, slow update ya man-teman...😊


Author lama ngga curhat yak🤭


Next saja yah, sekarang ngebut up, dan nabung bab untuk sekuel Kak Excel, biar ngga keteteran nanti...soalnya Author mau sekolah lagi...biar tulisannya lebih enak dibaca....ngga amburadul dan mbulet kaya sekarang...


Love you selebar hati Author yak...yang masih setia sama cerita Author kremesan😅... Yang disenggol langsung ambyar🤣🤣🤣