Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Reuni 1


Menjelang pergantian tahun, Kira masih di sibukkan dengan acara reuni di sekolah. Kira bingung dengan teman-temannya, yang masih punya waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Terlebih lagi, kali ini, mereka di haruskan memakai seragam putih abu-abu mereka semasa sekolah. Sayangnya, baju milik Kira hilang entah kemana, tersisa satu baju yang di orat-oret pasca kelulusan. Yang memang sengaja di simpan untuk menjadi kenangan.


Kira mengenakan baju yang baru saja di jahitnya. Lengkap dengan atribut nama dan badge sekolah. Kira mendesah pelan, enggan membayangkan penampilannya yang aneh, menurutnya. Dia meraup oksigen sebanyak mungkin sebelum turun dari mobilnya.


Satu orang yang pasti menyambutnya sore hari ini, di sini, adalah Ivy. Si pencetus ide gila ini.


"Sayangku, kamu cantik sekali!" Seru Ivy yang sepertinya sengaja menunggu kedatangannya. Dia berlari kecil untuk menyambut Kira, dengan seragam SMA-nya.


"Jangan begitu," Kira menurunkan tangan Ivy yang hampir menyentuhnya. "Jijik aku, melihat bayanganku di cermin."


"Ih, kamu cantik kok, Ra. Jika laki lu lihat, nafsu dia sama lu," Ivy memutar badan Kira, "Pabrik susu lu, bahaya beut,"


Kira langsung menutup dadanya, "Aku balik aja ya, ini udah aku bikin longgar banget, masa masih kelihatan sih?"


"Ya, mau di sembunyiin kaya gimana juga, tetep aja kelihatan. Udah, ngga usah di pikirin, aset itu mah," Ivy merangkul lengan Kira dan melangkah bersama.


"Vy, kamu pake blush on?" Kira memperhatikan Ivy dari dekat. Mama muda yang selalu tampil tomboy ini, tampak ayu dengan make up tipis di wajahnya.


"Jangan sentuh, Make up-ku luntur nanti," Ivy menampik tangan Kira yang mengusap pipinya sedikit kasar.


"Pelit banget sih! Kamu cantik banget hari ini, ngga kaya biasanya," Kira meneliti penampilan Ivy yang feminin dan terlihat segar.


"Biasanya, aku ngga cantik, gitu?" Jawab Ivy sewot.


"Biasanya ganteng," Keduanya tertawa, sembari melangkah ke ruangan di mana acara itu di helat. Aula di dalam sekolah ini, di sulap seperti ruang kelas, dengan bangku dan dekorasi khas kelas mereka pada masa itu.


"Eh, lihat tuh, anak kelas akselerasi, ganteng-ganteng kan?" Ivy menunjuk segerombolan orang yang terlihat berkelas.


"Bodo amat, buruan mulai acaranya, aku mau cepet-cepet pulang. Jika bukan karena kamu, aku ngga akan datang," Ucap Kira acuh, dia benar-benar tidak nyaman sama sekali. Bisik-bisik di balik tangan saat mata mereka menatap Kira, membuatnya risih.


"Sabar, bintangnya belum datang," Jawab Ivy santai. "Aku tinggal dulu ya, Ra, baik-baik di sini," Ivy melayangkan tatapan penuh peringatan sebelum melangkah pergi.


"Iya, Mak," Jawab Kira seakan dia anak Ivy.


Tiba-tiba,


"Hei, kamu Kira si cungkring kan? Bisa juga kulit lo melar," Seorang laki-laki bernama Asta, dia dua tingkat di atas Kira, menepuk bahu Kira dengan keras, sehingga tubuh Kira melesak turun.


Kira merapatkan gigi saat melihat Asta. Dialah yang paling sering mengganggu Kira. Sejak Kira resmi jadi murid SMA ini, hingga Asta lulus, Asta tak pernah jera mengganggu Kira. Pernah satu kali, dia dan beberapa temannya, dengan sengaja mengunci Kira di dalam toilet, dan Kira harus memanjat pagar sekolah untuk bisa pulang.


"Lo makin cantik aja, Kring. Gua denger lo sekarang menjanda ya?" Asta semakin gencar menggoda Kira, apalagi Kira terlihat kesal sekali.


"Jadi bini gua aja lo, Kring. Body lo oke juga sekarang," Asta melihat Kira dari atas sampai bawah, dan ke atas lagi.


"Dalam mimpimu, Ta," Seru Kira seraya menjauh dari Asta, yang terkekeh melihat reaksi Kira.


"Lo ngga berubah Ra, Gua bakal dapetin lo kali ini," Gumam Asta, dengan senyum devilnya. Asta dan gengnya, memang suka menjahili Kira, tapi bukan karena Asta benci, tapi untuk mendapat perhatian dari Kira.


Hanya ada beberapa teman sekelas yang masih menganggap Kira adalah temannya. Dan, di sanalah dia bergabung, meski pada akhirnya, dia hanya menimpali obrolan dengan senyum canggung.


Keributan terjadi di depan pintu saat hampir setengah dari penghuni ruangan merangsek memenuhi muka pintu. Mereka berteriak histeris saat pria setinggi gunung itu memasuki ruangan.


Bola mata Kira nyaris keluar saking terkejutnya, melihat siapa yang menjadi pusat perhatian. Berulang kali dia mengucek kedua matanya, memastikan dia tidak rabun atau mengalami masalah penglihatan atau lebih parah, dia sedang berhalusinasi.


"Lo ngga kelas kalau mengharap dia," Asta menyejajarkan dirinya denga Kira.


Kira melirik Asta dengan heran, "Kenapa? Karena aku jelek? Atau miskin?"


"Bukan juga sih, lihat saja siapa yang menggelayut di lengannya!" Asta menunjuk seorang wanita, dialah most wanted girl, dari dulu hingga dia menjadi kontestan putri-putrian yang di selengggarakan sebuah stasiun televisi.


"Maksudmu, dia ngga level gitu, denganku?" Kira menaikkan alisnya.


"Yaps, makin pinter aja lo, Kring. Mending lo sama gua aja, gua juga kaya kok, gua punya usaha sendiri, kalau buat ngidupin lo sama anak lo dan anak gua, masih lebih dari cukup lah," Asta masih memperhatikan Kira dengan penuh minat. Jakunnya naik turun saat melihat dada Kira yang terlihat membulat dari balik seragam SMA Kira yang masih nampak baru.


"Aku udah nikah lagi, Ta. Jadi ngga usah repot-repot ngegombal ke aku. Ngga bakal mempan, Ta," Kira mengangkat tangan kirinya yang terdapat cincin pernikahannya.


Asta melihat cincin itu dengan seksama, dalam batin dia tidak percaya, jika itu adalah berlian asli. Paling cuma batu-batuan apa begitu, yang di buat semirip mungkin dengan berlian. Meski kecil tapi dilihat dari kejernihan dan kilaunya, cincin itu berharga fantastis.


"Siapa aja bisa pake cincin di situ, Ra. Dan siapa aja bisa beli cincin seperti itu, gua ngga percaya gitu aja, Ra. Ini hanya akal-akalan lo doang. Lo ngga bisa nipu gua," Ucap Asta, yang jelas sekali dia meragukan Kira. Ragu jika dia sudah menikah lagi.


"Terserah. Percaya atau ngga, itu urusanmu, yang penting aku mengatakan yang sebenarnya sama kamu," Kira hendak meninggalkan Asta, namun Asta dengan cepat menarik tangan Kira hingga tubuh mereka berdekatan, tanpa jarak.


Asta menahan nafas, sesuatu yang lembut menabrak jantungnya. Membuatnya menelan ludah, dan panas. Nalurinya berdesir hebat, setelah belasan tahun dia bisa sedekat ini dengan wanita yang pernah di sukainya dulu. Tegang dan bergairah, meski dengan sedikit sentuhan.


"Brengsek lo, Ta," Kira menarik tubuhnya menjauh, dia sangat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari Asta. Secepat kilat Kira menghempaskan tangan Asta yang mencekal pergelangan tangan Kira. Menghindari masalah, bisa saja, dinding di sini mengadu kepada suaminya.


"Ra, tunggu. Sorry, Ra, gua ngga bermaksud-," Asta meremas jemarinya yang mengambang di udara, hendak meraih Kira. Tetapi, Kira sudah menjauh terlebih dahulu, meninggalkan Asta, tanpa secuil harapan. Entahlah, melihat Kira kembali membuatnya sangat ingin memiliki wanita itu, lebih dari sebelumnya.


Kira terkejut dua kali saat matanya menangkap dengan jelas siapa pria di depannya.


"Mas,"


Tanpa berucap, Harris menyeret paksa pergelangan tangan Kira. Susah payah Kira menyelaraskan langkahnya dengan Harris. Kira bahkan tidak bisa berpikir. Apalagi, tatapan Harris yang menggelap itu, tidak bisa dia tebak sama sekali.


Harris menggeram dalam hati. Melihat seseorang memandang Kira penuh nafsu, membuat Harris terbakar. Harris bahkan tidak berpikir dia akan bertemu istrinya di sini. Bukan, dia tidak menyangka, Kira juga sekolah di tempat yang sama dengannya. Hanya beda tingkat saja.


Harris sudah memendam amarah sejak beberapa hari terakhir, dimana dia tidak bisa memeluk istrinya. Namun, dia berusaha menahan semuanya, mengingat Jen, gadis yang amat sangat di sayanginya itu yang meminta agar Mamanya menemaninya tidur.


Dengan kasar, Harris menghempaskan tubuh Kira di dalam mobil. Dan kemudian melajukan mobil dengan kecepatan penuh, membelah jalanan. Mengklakson mobil di depannya yang lamban atau tidak memberinya ruang untuk mendahului.


"Harusnya aku yang marah, kenapa malah dia yang lebih galak?" Batin Kira saat Harris berulang kali mengumpat dalam bahasa yang sangat kasar. Sorot matanya bahkan bisa melubangi kaca mobil, saking tajamnya.


"Yang, ini dimana?" Kira kebingungan saat mobil Harris berhenti di sebuah hotel.


Lagi, Harris menarik paksa Kira agar keluar dari mobil. Kira menelan ludah, melihat ekspresi beberapa pengunjung hotel yang melihat adegan seret menyeret ini.


"Ya Tuhan, lenyapkan saja aku," Batin Kira. Dia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya. Menutupi dia dari bisik-bisik yang memerahkan telinga.


Dengan seragam sekolah, di tarik paksa oleh pria berjas rapi, apa coba yang orang-orang itu pikirkan? Sugar baby dan Daddynya? Oh, ayolah, Kira tidak seimut anak SMA.


Harris bahkan bisa mengakses kamar paling mewah di hotel berbintang ini, tanpa perlu memesan atau melakukan check-in terlebih dahulu, seperti layaknya tamu-tamu hotel.


"Siapa dia?" Gelegar Harris saat pintu kamar belum tertutup sempurna. Dan lagi, Harris membelakangi Kira.


"Siapa yang kau maksud? Bicara yang jelas!" Perintah Kira menirukan Harris saat menyuruhnya minta maaf dengan benar.


Harris berbalik membawa tatapan tajam yang bisa melubangi dada Kira, "Pria tadi, yang memelukmu?"


"Oh, dia hanya kakak kelasku, bukan siapa-siapa," Jawab Kira. Dia tahu suaminya cemburu, dan berniat menggodanya.


"Jiwa miskinku meronta Abang, mau berantem saja sewa kamar president suit," Batin Kira.


"Reunian sama mantan?" Sindir Harris. Matanya masih mengikuti perubahan mimik wajah istrinya.


"Lihat wajah itu, sok polos. Huh, awas saja kalau aku sampai tahu siapa dia, habis dia di tanganku," Pikir Harris, tangannya ikut mengepal tanpa sadar. Kuat dan keras, seakan mampu melumatkan batu.


"Kamu kali yang reunian sama mantan," Kira mencibir Harris. "Yang bahagia dan tertawa-tawa di gandeng putri jadi-jadian."


"Dia hanya rekan kerjaku, bukan siapa-siapa!" Teriak Harris, dia mendekat selangkah, di depan Kira. Kedua pasang mata elang itu, mengeluarkan tatapan tajam membunuh.


"Wah, rekan kerja bisa mesra begitu ya? Hebat banget-,"


Kira tak mampu menyelesaikan ucapannya, saat Harris merobek paksa baju Kira.


"Kau gila, lepasin ngga," Kira menahan bajunya yang setengah terlepas dari tubuhnya. Menyisakan tanktop putih, ketat.


"Tidak! Siapa yang menyuruhmu pakai baju seperti ini, ha?"


"Memang harus seperti ini, salahnya apa sih, yang lain juga pakai baju yang sama,"


Harris tak menjawab, dia menarik tangan Kira yang memegang ujung kerah bajunya. Menghempasnya dengan kasar sehingga tubuhnya bergoyang.


"Yang, jangan begini," Ucap Kira melembut, "Aku sudah bilang, dia hanya kakak kelasku yang suka jahilin aku dulu."


"Dan kau bodoh, dia memandangmu seperti akan menerkammu,"


"Kau berlebihan, dia tidak seperti itu, dia hanya menyapaku,"


"Kau pikir aku buta? Aku tahu apa yang dia pikirkan, karena kami sama-sama lelaki,"


"Yang, Please. Jangan kaya gini. Aku nanti pakai baju apa?" Kira masih membujuk suaminya yang belum menyurutkan amarahnya. Kira benar-benar memohon belas kasihan suaminya. Dia tidak mau lebih malu lagi, pulang tanpa baju.






Maafkan typo ya. Nanti di revisi lagi🙏