
Tangisan bayi menggema, Viona dengan sigap mendekap dalam pelukannya. Bayi yang tampak sehat itu seketika tenang saat dahaganya terpuaskan. Viona tersenyum, meski hatinya saat ini menangis. Sekejap mata, tangisan itu terlahir menggenangi pipinya. Membayangkan perpisahan yang segera menghampiri. Ditatapnya lekat-lekat bayi mungil yang tengah menyusu dengan rakus. Seakan takut bila esok hari dia tak mampu lagi meneguknya.
"Sayang, tumbuhlah dengan baik," Tangan mungil itu diletakkan di bibir Viona. Telinga bayi memang belum berfungsi dengan baik saat berusia dua hari. Tetapi tidak dengan kulitnya, jauh di alam bawah sadarnya, pasti merekam ucapan mamanya.
"Anggap saja Mama sedang berjuang untuk hidupmu, agar kita tak lagi berada dalam bayangan rasa bersalah. Mama yakin, kamu lelaki Mama yang paling kuat. Jaga kakakmu dengan baik. Jangan biarkan dia menangis. Kau tau kan, Kristal sangat cengeng," Viona tertawa dalam tangisnya. Berat memang, tapi Viona yakin jika keputusannya tidaklah salah. Viona sudah menghubungi sebuah panti asuhan yang akan menampung kedua buah hatinya.
Ya, Viona tahu Kira dengan senang hati akan mengasuh kedua anaknya, tetapi tekatnya sudah bulat. Bahwa dia tidak akan bergantung lagi pada Harris. Cukup sudah, selama ini dia menjadi orang yang tebal muka.
Johan menyaksikan semua itu, pria kuat itu tak kuasa menahan air matanya. Dalam hati dia memaki-maki Harris yang disangkanya sudah berhati lembut. Rupanya pria kejam itu malah semakin tak berperasaan dan sadis. Bahkan terhadap wanita.
Johan menyandarkan tubuhnya di dinding, dadanya semakin sesak. Baginya, yang sudah merasakan kehilangan dan kecewa, ini sudah di luar batas. Johan mengusap air matanya, menghela napas agar dadanya sedikit longgar. Sebelum masuk ke kamar Viona.
"Apa dia tidur?" Johan menampilkan senyum termanisnya. Dia meletakkan beberapa barang kebutuhan Viona dan bayinya.
"Iya, baru saja!" Viona masih menunduk. "Terimakasih sudah membantuku, Jo. Entah dengan apa aku akan membalasmu!"
Viona memberanikan diri melihat ke arah Johan meski hanya sekilas.
"Apa kau sudah memberi nama anakmu?" Johan mendekat mengabaikan Viona yang selalu mengucapkan hal yang sama setiap waktu, mengisyaratkan untuk meminta bayi itu dari Viona.
"Nicky, untuk Nicholas, aku suka sekali nama itu!" Viona menyerahkan bayinya kepada Johan yang langsung tersenyum dan mulai menggoda bayi yang tengah tertidur itu. Johan hanya berani menimang saat tidur saja, jika dia bangun dan bergerak, Johan sama sekali tak berani.
"Kau tidak memakai nama ayahnya?" Johan melirik sekilas, sebelum duduk dan memandangi bayi yang akan segera dititipkan di panti asuhan ini.
"Tidak, aku memutus semua yang berhubungan dengan masa laluku yang pahit," Viona tersenyum manis, seakan getir sudah ditelannya dalam-dalam.
Johan menipiskan bibirnya yang terasa kelu. Mati-matian dia menahan tangis yang sudah setengah jalan di kerongkongannya. Mengganjal menyumbat jalan napasnya.
Keheningan menyeruak diantara keduanya, asyik bergelung dengan pikiran masing-masing.
"Jam berapa kau pulang nanti?" Tanya Johan setelah beberapa saat membisu.
"Maksudmu kapan aku dijemput polisi?" Viona terkekeh. Membuat Johan sebal.
"Kurasa dia tidak akan sekejam itu, mungkin dia masih menunggu hingga kamu pulih," Kata-kata penghiburan ini ditujukan pada dirinya sendiri sebenarnya. Keduanya tahu betul bagaimana sifat Harris.
Viona tertawa, "Apa kita sedang membicarakan Harris yang sama? Itu pasti Harris yang lain, Jo!"
Johan tersenyum kecut, diapun memikirkan hal yang sama dengan Viona. Pria itu sangat susah untuk ingkar dan berkhianat.
"Jangan berpikir macam-macam, Kira pasti bisa meluluhkan egonya," Johan masih memiliki harapan.
"Teruslah berharap, Jo. Kurasa aku memilih mempercayai kenyataan. Aku tahu mereka saling mencintai, tapi ini masalah hidup dan matinya, dan Harris pasti merasa dicurangi olehku, orang yang waktu itu sangat dipercayainya," Viona memandang hampa sembarang arah. Apapun pelipur lara yang diucapkan Johan tak ada artinya untuk Viona.
Johan mendesah, Viona benar. "Aku ke kantor dulu, Vi. Nanti aku akan menjemputmu."
Entahlah, Johan merasa tak ada yang bisa dilakukannya. Selain memohon pada Harris sekali lagi.
Viona tersenyum, dia mencoba tegar. Tak ingin membuat Johan atau siapapun menaruh simpati berlebihan padanya.
***
Harris sedang menerima kunjungan dari beberapa orang yang sebagian besar dikenalnya dengan baik. Tak kurang sepuluh orang sedang duduk di ruang yang biasanya digunakan untuk rapat.
"Tuan, kedatangan kami tak lain untuk mengucapkan terimakasih atas kembalinya sebagian besar aset kami yang di ambil Winata. Tanpa anda kami sudah pasti mengalami kebangkrutan, Tuan!" Salah seorang di antara mereka berdiri dan memandang Harris dengan takjub.
"Tidak perlu seperti ini, saya hanya menyelamatkan istri saya. Saya harap anda sekalian berhati-hati mulai sekarang," Harris tersenyum singkat, sikapnya kali ini sungguh membuat kekaguman koleganya semakin meningkat.
"Apapun alasannya kami patut berterimakasih pada anda. Ini sama sekali tidak berlebihan," Sahut yang lain.
"Kurasa, kita harus mengadakan perjamuan atau mungkin ada yang anda inginkan dari kami, Tuan?" Timpal yang lain.
Mereka menunggu jawaban Harris yang hanya mengulum senyum, sambil mengusap dagunya. Dia terlihat sangat santai dan tenang, membuat siapapun tegang. Sesuatu yang di luar dugaan bisa terjadi saat seseorang berekspresi seperti itu.
Setelah berbincang cukup lama, mereka membubarkan diri. Harris kembali ke ruangannya. Sepi rasanya tanpa Johan bersamanya. Harris segera memulai pekerjaan yang sudah menumpuk. Sebelah tangannya menahan ponsel di telinga. Hingga berkali-kali, tak ada jawaban dari Johan.
Jadwal Harris menjadi berantakan, pertemuan dengan rekan bisnisnya berbenturan. Johan lah yang mengatur semua. Dan, sampai saat ini, pria itu belum menampakkan batang hidungnya.
"Tuan," Johan masuk dengan wajah yang tak bersahabat. Harris mengangkat wajahnya, dia semakin heran saja dengan tingkah duda tua ini.
"Kemana saja kau pagi ini?" Tanya Harris dingin, wajahnya menegang.
"Saya dari rumah sakit-
"Kau bekerja untukku bukan pada wanita itu, kau tahu, semua jadwal jadi berantakan. Kenapa kau tidak mengangkat telponmu?" Harris memberondong Johan dengan segudang amarah dan kekesalan. Belum pernah Harris semarah ini pada Johan yang sudah dianggapnya saudara.
Johan terperangah, saking sibuknya memikirkan cara untuk membujuk Harris dan membebaskan Viona dari ancaman hukuman, Johan lupa jika ponselnya masih dalam mode senyap.
"Maaf, Tuan! Saya-"
"Apa? Karena masih bersama wanita itu? Kalian ada hubungan apa? Sampai-sampai kau lupa pekerjaanmu?" Harris meletakkan tangannya di pinggang, kedua matanya melotot tajam ke arah Johan.
"Saya memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Tuan. Tapi saya masih punya hati untuk memisahkan anak dari ibunya! Bukankah dia pernah anda cintai sepenuh hati? Kenapa sekarang anda begitu kejam padanya? Anda pria yang tidak berperasaan!" Gelegar Johan. Api amarah nampak berkobar memenuhi wajahnya. Dia bahkan siap beradu jotos dengan Tuannya ini.
Harris maju, menyambar kerah baju Johan, dan sebuah tinju melayang tepat di rahang kokoh Johan. Harris yang sedang terbakar amarah sejak tadi, semakin marah mendengar ucapan Johan.
"Biar kuberitahu kau, apa itu kejam, Jo!" Sekali lagi Harris melayangkan pukulan ke tempat yang sama. Johan yang tidak siap dengan serangan itu, terhuyung ke belakang. Pukulan itu amat terasa dipipinya, bahkan mulutnya terasa asin.
Johan bangkit, keduanya saling mendekat sebelum pukulan demi pukulan saling menghujani tubuh mereka. Dua orang yang sama kuat itu saling memukul dan menendang.
"Kalian berdua, stop," Teriak Kira yang baru saja masuk ke dalam ruangan Harris. Dia usai bertemu dengan Dokter Vivian. Dia sangat terkejut melihat Johan dan suaminya adu jotos dalam ruangan yang kedap suara ini.
"Stop, stop, berhenti," Seru Kira berulang kali. Dia ingin melerai tapi dia takut jika akan melukai bayinya. Kedua orang itu sepertinya larut dalam emosi yang meninggi.
Kira memegangi perutnya, dia mengaduh, dan bersandar di dinding, "Aduh, sakit. Abang, perutku sakit, Bang!"
***
"Terimakasih, Dokter," Kira mengantar dokter dari klinik yang ada di kantor Harris. Dokter muda itu tersenyum ramah, sambil membungkukkan badan. Kira terpaksa memanggilnya sebab Harris dan Johan mengalami memar dan luka robek yang memerlukan perawatan.
Kira menghadapi dua orang yang babak belur itu setelah menutup pintu. Demi menghentikan mereka, Kira pura-pura mengeluh sakit. Sehingga mereka berhenti seketika.
"Apa yang kalian berdua pikirkan?" Kira menggelengkan kepalanya berulang. "Puas sekarang?"
Kedua orang itu saling membuang muka setelah saling pandang beberapa saat.
"Apa masalah kalian?" Kira melipat tangannya di dada. Berdiri diantara dua orang yang duduk berseberangan itu.
Kira menghela nafas, saat tak ada yang menjawab pertanyaan Kira. Dasar bocah, pikir Kira.
"Excel saja lebih dewasa daripada kalian berdua," Sindir Kira. "Abang, aku tunggu Abang di rumah sakit jam 3 sore. Selesaikan pekerjaanmu sebelum jam itu. Kau juga, Jo! Kalau tidak, aku akan marah!"
Kira melenggang keluar ruangan tanpa pamit pada suaminya.
Harris menghela napas, tubuhnya terasa pegal dan ngilu. Setelah dibuat ketakutan saat Kira mengaduh sambil memegangi perutnya, Harris merasa tulangnya melunak semua. Lemas.
Johan juga bangkit tanpa mengucap sepatah katapun. Dia sangat kacau.
•
•
•