Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Biar Merasa Apa Yang Aku Rasa


Johan dan Viona ada di Singapura. Basic usaha Evan ada di sana. Bahkan mereka dipastikan akan menetap di negara tersebut, mengingat kursi kepemimpinan dibiarkan kosong begitu lama.


Johan tak lagi terkejut, tapi dia masih enggan menerima. Sungguh dia merasa asing dengan ini semua. Seperti kau kejatuhan bintang, tanpa pernah mengharapkannya. Johan sungkan dan tidak enak hati pada Evan, walau pria itu telah tiada.


"Kalau kau takut masuk, biar aku sendiri saja." Viona mengusap tangan Johan hingga pria itu tersadar dari pikirannya sendiri.


"Aku mau ikut masuk." Johan berkata dalam keadaan linglung. Dia lupa ada dimana sekarang.


Viona meraba kening Johan dan mulai khawatir. "Sudah kubilang, jangan sekarang periksanya, aku nggak apa-apa walau abis terbang jauh."


Senyum cerah Viona menunjukkan kalau dia sangat sehat dan tidak terjadi masalah soal kandungannya.


"Yah, aku hanya tidak ingin menyesal." Johan berdiri, lalu menuntun Viona masuk ke ruang periksa dokter kandungan yang cukup bagus, tak jauh dari rumah mereka.


Namun, ketika Johan sampai di pintu, ponselnya berdering nyaring, membuat Johan buru-buru meraihnya.


"Boss," katanya seraya menggoyangkan ponsel ke depan Viona.


Tak ingin mengganggu, Viona mengisyaratkan agar Johan menjawab panggilan itu. Mereka memang sehati, jadi sebelum mereka akan berpisah, Viona membiarkan mereka menikmati masa sebagai atasan dan bawahan.


Johan tersenyum senang, "Halo, Boss!"


"Apa-apaan itu? Kau baru berapa hari tidak jumpa denganku, sudah berubah saja kau memanggilku?" Harris terdengar tidak terima. "Kau menyebalkan!"


"Terimakasih, Tuan ... ucapan ini berarti sekali buatku." Johan menyeringai. "Tapi rasanya, jika hanya ingin ngomel dan marah-marah karena menahan rindu, sebaiknya tidak perlu telepon di jam segini, kan? Apa beneran sudah nggak tahan kangennya?"


"Brengsek, sialan!" Harris mengumpat, mungkin sambil meninju dinding.


"Kasar sekali ...." Johan berkata seraya terkekeh, tapi langsung ditukas tidak sopan oleh Harris.


"Aku menghubungimu, karena aku mau bilang kalau Reno di bawa ke Rumah Sakit xxx tadi siang. Kalau kau sempat tengoklah. Sebaiknya sendiri saja, Giza mungkin masih belum terima. Kudengar, kau berhasil bikin bayi."


Johan mendadak tegang dengan ulu hati yang terpelintir. "Yah, begitulah ... Aku akan usahakan tanpa mengajak Viona, tapi aku tidak bisa melarang dia jika berkeras. Dan soal bayi, aku masih mampu menghamili Viona sepuluh kali."


Harris terdiam, lalu berkata keras-keras. "Yah, biasanya kalau sudah tua, ibarat bibit sudah kadaluarsa. Semoga bayimu sehat, Pak Tua. Dan semoga tulangmu masih sanggup diajak kompromi jika anakmu mulai belajar berjalan."


Harris menghindari topik utama. Sepertinya, mereka akan saling menghindar sampai mereka bertemu dan saling menangis dalam pelukan. Johan tau Harris pasti merasa bersalah.


"Tapi, bolehkah saya tetap menjadi orang terdekat anda, walau saya sudah tidak punya punggung yang tegak dan tenaga yang cukup untuk membela anda, Tuan."


Harris terbatuk, lalu terdiam begitu lama, sehingga Johan melanjutkan.


"Saya tahu, saya tidak bisa menepati janji saya untuk terus bersama anda sampai saya mati. Jadi boleh kah saya terus menganggap anda orang yang paling dekat dengan saya? Saya memang pecundang tua yang bodoh, tapi—"


"Berhentilah mengoceh, Pak Tua!" Harris menukas dengan bentakan parau. "Aku tidak suka kau berkata begitu! Kau tidak akan pernah pergi dariku, kau tau itu!"


Terdengar suara sedu yang sedang ditenangkan, lalu kemudian, "Jo, balitaku sedang mellow. Sudah dulu, ya ... sehat-sehat calon bapak."


Kira terdengar tertawa, dan Johan senang mendengarnya. "Makasih doanya, Nyonya Bos Tersayang."


Kira makin keras tertawa. "Viona bisa salah paham."


"Biarkan saja! Dia tidak akan berani melarangku jika tau kau lah yang aku sayangi, Nyonya." Johan mengusap air matanya. Kenapa hatinya merasa lega? Ada kekang tak kasat mata yang perlahan longgar. Johan mengusap dada.


"Oh, baiklah! Bilang begitu saat ada Viona di antara kita."


"Asal kau memberiku imbalan yang pantas, aku terima." Johan bernostalgia.


"Dasar mantan duda!"


Kira tertawa kemudian mematikan sambungan telepon mereka. Johan tersenyum-senyum penuh arti, dan Viona mendengar semuanya.


Ketika Johan berbalik, dia terkejut melihat Viona berdiri dengan tangan bersedekap.


"Sayang, kapan kamu keluar?" Johan megap-megap dan kebas. Dia sungguh ketakutan.


Dalam hati Viona tertawa melihat Johan yang seperti itu. Dasar pria tua bucin.


Johan benar-benar gelagapan, lantas dia mengejar Viona dan menarik tangan wanita yang sedang mendukung perutnya yang mulai buncit. "Aku hanya bercanda tadi Sayang."


"Serius juga nggak apa-apa, kok ...." Viona menjauh dengan gaya santai.


Sayangnya, bagi Johan itu tanda bahaya, jika Viona menanggapi dengan santai semua itu.


"Sayang ... Aku cinta sama kamu saja. Sayang sama kamu saja. Nyonya Bos hanya masa lalu. Dia kasih tak sampai saja, Sayang." Johan menghadang Viona.


Viona hampir saja menabrak jika tidak mengerem cepat-cepat. Dia menatap Johan malas.


Dan Johan menganggap ini bahaya yang lain. Pasti Viona marah sekali.


"Aku udah tau kamu suka sama Kira. Dan itu tidak akan memperngaruhi perasaanku padamu. Aku tetap percaya kamu, Sayang." Viona mengecup pipi Johan, kemudian menarik tangan Johan untuk digenggamnya.


"Tapi aku senang kau bilang kalau kau cinta padaku. Aku terharu." Viona tersenyum manis ke arah Johan.


Johan hampir mati karena itu. Dan senyum itu membuat Johan melayang.


"Kita ke bandara untuk menyambut Reno. Aku ingin minta maaf pada Giza secara langsung."


Johan terhenyak. Kemudian bingung.


Viona mengerling. "Ayo tunggu apa lagi?"


"Tapi, Vi ... sebaiknya aku saja. Kau sedang hamil dan aku tidak tahu bagaimana Giza bereaksi. Aku lihat keadaan dulu, nanti setelah semua baik-baik saja, kau bisa datang menjenguknya."


"Aku lebih dari kuat untuk menghadapi Giza. Ini kesempatan paling baik. Jika nanti dia bertemu kamu lebih dulu, pasti dia akan memaklumi karena aku istrimu, sahabat suaminya. Tapi jika dia tidak tahu kedatangan kita, aku yakin dia akan jauh lebih lega. Lagian ini semua kesalahan yang harusnya aku tebus sejak lama. Aku saja yang terlalu pengecut."


Viona tersenyum. Johan membeku, hanya ludah saja yang terlihat membasahi tenggorokannya.


"Ada kamu, aku jadi lebih berani." Viona merangkul Johan. "Tunggu apa lagi ... ayo segera ke bandara."


Johan banyak berpikir selama perjalanan, matanya sesekali melirik Viona yang merebah di pundak. Sekujur tubuhnya menegang.


"Vi ... Giza akan menyakitimu."


"Aku bisa menahannya." Viona bangkit dan duduk tegak. Dia sudah lebih dari siap menerima apapun yang dilakukan Giza.


Setelah itu mereka diam, bahkan saat sampai di area kedatangan khusus. Johan yakin, Reno mendapatkan fasilitas terbaik yang mampu diusahakan Harris.


"Itu mereka," desis Viona setengah berlari mendekati rombongan yang tampak terburu-buru.


Giza melihat jelas kedatangan Viona, hatinya mendadak berkobar dan siap menerkam.


"Wanita murahan itu!" Giza melepaskan masker dan juga tangannya dari Rega. Dia berlari menyambut Viona.


"Sudah lama aku menantikan ini, Viona!" Giza menghadang dengan ekspresi bengis.


Viona berhenti dan menatap Giza seraya tersenyum. "Aku akan menebusnya, Giza. Aku tidak ingin minta maaf karena aku tahu kau tidak akan memaafkanku."


Giza menatap Viona sampai ke perut. "Bagus kita punya yang sepadan Viona!" Giza mendekat. Dia terlihat menaruh minat pada perut Viona.


"Kau tau, aku juga memiliki perut yang sama denganmu saat Reno sekarat. Jadi sepadan jika kau juga kehilangan sesuatu yang sama denganku, Wanita Murahan!"


Giza bersiap maju, Viona mundur. "Kau takut? Aku harus kehilangan bayiku karena perbuatanmu, Viona! Bukankah kemari kau ingin menantangku? Biar aku menghabisinya sama seperti kau merenggut semuanya dariku!"


Viona terkejut, dia sama sekali tidak tahu soal itu. "Dia tidak salah, Giza ... lakukan apa saja, dia tidak salah!"


Melihat Viona melindungi bayinya, Giza makin marah. Dia juga begitu saat itu. Dia depresi berat, sampai rasanya ingin mati saja.


"Apapun yang masih bersangkutan denganmu, dia harus merasakan akibat perbuatanmu."


Ya, sama seperti dia yang harus kehilangan semuanya, karena perbuatan licik Viona. Giza melangkah jauh lebih cepat menerjang ke arah Viona.


"Giza! Hentikan!"