Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mantu Vs Mertua


Harris membalut tubuhnya dengan handuk kimono berwarna putih, melilitkan tali dan mengaitkannya dengan asal sehingga dadanya yang kokoh tidak tertutup sempurna.


Harris mematut dirinya di cermin, membalut tubuh kekar itu dengan kemeja berwarna biru gelap dan celana panjang, rambutnya yang pendek di biarkan sedikit berantakan.


Harris menyambar ponselnya, dan juga sebuah dompet berwarna hitam di letakkan di saku belakang sebelah kanan. Dengan wajah dingin mengeras, Harris melangkah keluar kamar, derap sepatu loafers hitam mengayun menuruni tangga.


Di pintu depan, dia berpapasan dengan Doni yang hendak masuk ke dalam rumah.


"Anda akan pergi kemana, Tuan?," Doni sedikit was-was melihat penampilan bos nya yang necis.


"Aku keluar sebentar, jaga rumah dengan benar," Perintah Harris, tatapannya menajam, sehingga membuat Doni siaga sepenuhnya. Dia beranggapan bosnya yang kejam, kembali lagi ke dunianya yang gelap.


"Saya akan mengawal anda, Tuan-."


"Tidak usah," Potong Harris cepat. Dia melangkah ke mobil yang masih terparkir di tempat yang sama, saat terakhir di tinggalkannya.


Harris melaju, membelah jalanan malam. Lampu-lampu jalanan seakan berlari mengejarnya. Tatapan Harris tidak mengendur sama sekali, kaku, tanpa ekspresi. Tetapi jelas, di balik manik mata hitam itu, dia memiliki sebersit kegelisahan.


Harris berhenti di halaman rumah yang tampak hening. Lampu di teras rumah sudah meredup, mungkin penghuninya sudah terlelap.


Harris melangkah tegap, seolah tak ada yang mampu mengalahkannya. Seakan dia mampu menantang dunia, tapi siapa sangka, dia adalah seorang pria yang rapuh hatinya.


Melihat suasana rumah yang sepi, Harris sedikit ragu ketika tangannya terulur beradu dengan pintu kayu bercat abu-abu muda, sehingga dia mengurungkan niatnya. Dia menghela nafas, mengumpulkan nyali yang berserak di dasar. Menyusunnya kembali, menjadi gumpalan besar nan membola.


Pintu menjeblak pelan, terbuka, usai ketukan yang ketiga. Sahutan dari Ibu istrinya, membuat senyumnya merekah sempurna. Dengan takzim, seperti ajaran istrinya, dia mencium punggung tangan wanita yang mungkin saja seusia Mamanya.


"Nak, ini sudah malam, apa ada masalah di rumah?," Ibu yang terkejut setengah mati mendapati mantunya yang tampan berdiri di hadapannya.


"Tidak ada, Bu. Harris hanya rindu pada Ibu dan Ayah," Jawab Harris dengan wajah berbinar.


"Syukurlah, Nak. Ayo, masuk kalau begitu, Ibu buatkan kopi dulu ya, kopi hitam dengan sedikit gula," Ibu menuntun putra mantunya ke dalam rumah. "Apa kamu sudah makan malam, Nak?"


"Sudah Bu," Jawab Harris canggung. Ibunya sangat ramah dan pengertian, dan sungkan rasanya jika menerima tawaran makan malam, meski perutnya terasa lapar. Ah, istrinya pasti juga belum makan malam tadi.


"Duduklah, biar Ibu panggilkan Ayah," Ibu mempersilakan menantunya duduk, lalu beranjak ke bagian belakang rumah, sedianya memanggil suaminya dikamar. Tetapi, Ayah sudah setengah jalan menuju ruang tamu, saat di rasa istrinya tak kunjung kembali.


"Yah, ada Harris di depan," Ibu menatap Ayah seolah memohon. "Jangan terlalu keras padanya, Yah."


Ayah menghela nafas, meski Kira bukan tanggung jawabnya lagi, tapi jika anaknya di sakiti, ayah mana yang akan membiarkan itu terjadi.


"Assalamualaikum, Yah," Harris bangkit saat Ayah mertuanya, muncul di ujung ruangan. Harris menyalami Ayah mertuanya yang menatapnya tajam.


"Wa alaikum salam, duduklah. Ada apa malam-malam kemari?," Ayah berusaha berbicara senormal mungkin, mengusir tumpukan emosi yang siap meluncur mendamprat anak mantunya.


"Ada sedikit masalah yang harus kita luruskan, Yah!" Harris mundur dan duduk kembali di tempatnya tadi. Tempat yang dengan jelas, dia bisa bertatapan langsung dengan mertuanya.


"Ayah juga punya hal yang ingin Ayah sampaikan padamu," Ayah tidak peduli, dengan siapa dia berhadapan. Meski putra raja sekalipun, meski Ayah bukan siapa-siapa, tetapi, Ayah akan memasang badan, melindungi anak-anaknya.


"Jika Ayah ada hal yang ingin Ayah bicarakan, silakan Ayah sampaikan."


"Kau saja dulu, Ayah ingin mendengar apa yang menjadi masalahmu."


Harris menghela nafas, menambah stok keberanian, memupuk nyali, dia sudah di sini, dan tidak bisa mundur lagi. Anggap saja, sedang berhadapan dengan, dengan? Harris bingung, dalam hidupnya, tidak ada yang di takuti, tidak ada yang membuatnya merasa kecil, selain Ayah mertuanya. Selain keluarga istrinya.


"Yah, tentu Ayah sudah mendengar sendiri dari Kira, apa yang terjadi di rumah kami," Harris menjeda ucapannya, menunggu reaksi Ayah dari istrinya. Tetapi, Ayah tidak merubah ekspresi wajahnya. Juga tidak bergerak seinci pun.


"Saya memang bukan pria baik, Yah. Saya hanya seorang pecundang yang mencintai putrimu, dengan tulus. Saya, hanya pria dengan masa lalu buruk, dan akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk putrimu, Yah."


"Kau tahu kenapa Ayah sangat melindungi Kira?" Ayah menatap tajam Harris. Seakan tatapan itu menelusur ke dalam pikiran Harris.


Harris mengangguk, "Iya, Ayah."


"Kurasa kau tidak mengerti," Ayah menegakkan tubuhnya. Mempertegas sikapnya. "Kira hanyalah wanita yang mengikuti kata hatinya, dia tidak pernah berpikir panjang, baginya apa yang di rasakan lebih penting dari pada apa yang dia pikirkan. Menurut Ayah, saat ini, kau sedang mengulang apa yang di lakukan Rian pada Kira. Meski Kira menolak mengatakan bahwa kalian memiliki hubungan, tetapi, Ayah yakin, kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan dari istrimu,"


"Cinta saja tidak cukup, Rian dulu juga mengatakan hal yang sama, tapi, apa hasilnya? Dia menyakiti Kira,"


"Yah, aku tidak akan pernah menyakiti Kira. Aku tidak seperti Rian. Aku berjanji pada Ayah, akan melindungi dan menyayangi Kira sepenuh hati. Ayah bisa menghukumku apa saja, jika aku menyakitinya, jika aku melanggar janjiku pada Ayah." Ucap Harris berapi-api.


Ayah menelisik kedua mata hitam itu, tidak ada keraguan di sana, hanya ada ketakutan.


"Apa kau takut Kira akan meninggalkanmu?,"


"Iya, Yah. Aku sangat takut,"


"Apa yang membuatmu mencintai dia?,"


"Karena kami, sama-sama terluka, kami sama-sama gagal di kehidupan kami sebelumnya. Seperti kata Ayah, Kira hanya mengikuti hatinya, dan aku hanya mengikuti otakku. Bersama Kira, aku merasa lengkap,"


"Itu terlalu mengada-ada,"


"Tidak, Yah. Itulah perasaan ku pada Kira."


"Ayah tidak akan membiarkan Kira terluka lagi,"


"Yah, Harris mohon, beri kesempatan Harris untuk membuktikan ucapan Harris."


Harris ikut berdiri saat Ayah beranjak bangun. "Yah, Harris mohon, jangan ambil Kira."


Harris setengah berlari menghadang Ayah mertuanya. Memblokir tubuh tua itu, dengan tubuh tegapnya. Melayangkan tatapan mengiba, penuh permohonan.


"Yah, Harris tidak bisa hidup tanpa Kira, tanpa putri Ayah, dia adalah kebahagiaan Harris, Yah."


Harris merosot, bersimpuh di kaki Ayah mertuanya.


Ibu dan Nina yang mencuri pandang dari balik tembok, saling pandang, dengan mata berkaca-kaca, merasa iba dengan Harris, pria tinggi itu terpuruk di kaki pria tua. Pria yang menjadikan putrinya, wanita yang kuat. Kopi yang sedianya akan di suguhkan kepada mantunya, masih di tangannya, sudah tidak mengepulkan asap lagi. Dingin.


"Berdirilah, jangan seperti ini,"


"Harris tidak akan berdiri sebelum Ayah, membiarkan Kira tetap bersamaku,"


"Apa Kira sedang bersama Ayah saat ini? Bukankah dia di rumahmu sekarang? Ayah tidak bilang akan mengambilnya darimu, Ayah hanya tidak ingin melihat Kira terluka."


Harris membeku, dia terlalu takut kehilangan istrinya hingga tidak bisa berpikir jernih. Perlahan Harris berdiri, setelah menyeka tetes bening di pelupuk matanya.


"Ayah hanya ingin Kira bahagia, jika Kira bahagia denganmu, Ayah akan menjadi pria paling jahat bila memisahkan kalian."


"Tapi kenapa Ayah berdiri?"


"Ayah akan memanggil Ibu, masa mantunya datang tidak di buatkan kopi," Jawab Ayah santai.


Harris melongo, matanya mengekori Ayah mertuanya yang melangkah santai ke arah dapur. Kesal, malu, merasa di permainkan.


Harris meraup wajahnya dengan kasar, jika bukan mertuanya, pasti sudah kena sembur. Apa hobi orang disini, membuat orang jumpalitan? pikir Harris. Dia menghempas kasar tubuhnya di sofa, menggigit bibir menahan kesal. Tangannya mengepal keras, meninju bantal sofa.


"Maaf, Nak. Lama nunggu ya, ayo diminum kopinya," Ibu menyodorkan cangkir yang di penuhi air berwarna hitam, dengan asap mengepul. Dengan senyum terpaksa, Harris menyeruput kopi yang masih panas. Membuat lidahnya terbakar. Namun, dia harus menahannya. Dia tidak mau malu untuk kedua kalinya, karena menyemburkan kopi buatan Ibu mertuanya.