Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
I Love You, My Wife


Harris menarik Kira, menghadap matahari yang tinggal secuil menggantung di cakrawala. Biasnya, menyilaukan sehingga Harris mengenakan kembali kaca mata hitamnya. Memeluk Kira dari belakang, membuat degup jantung keduanya, seakan berdetak seirama. Kedua pasang tangan mereka saling bertumpuk di perut Kira.


Kira menyandarkan belakang kepalanya di dada bidang suaminya yang terasa nyaman, sehingga membuat matanya terpejam. Kira masih berusaha menguasai diri usai luapan emosi yang merajai dirinya. Berada di ketinggian membuatnya merasa kecil dan lemah, seperti debu.


“Bagaimana aku bisa membalasmu?,” Kira sesekali masih terisak, mengarahkan wajahnya ke kiri, yang langsung bersentuhan dengan dagu suaminya. Mata terbingkai itu, sedang menatap hamparan langit dan lautan yang seolah menyatu, hanya terbatas seutas benang cakrawala, membentang di hadapannya.


“Tetaplah bersamaku hingga kita menua, cintai aku bahkan jika aku tak mampu lagi menyebut namamu,” Harris mengecup pipi basah itu, menghembuskan nafasnya di sana.


“Bagaimana jika aku tidak bisa? Bagaimana jika kita harus berpisah sebelum kita tua?,” Kira melirik Harris, dia tak bisa melihat lebih jauh, sebab terhalang kaca hitam gelap yang bertengger di pangkal hidung bangir itu.


“Aku tidak berpikir demikian, aku hanya membayangkan kita bersama hingga ujung senja,” Harris menunjuk matahari yang hanya tinggal bias cahayanya. Ekor mata Kira mengikuti kemana telunjuk itu bermuara.


Kira seakan teringat sesuatu, yang entah mengapa dia bisa lupa. Keserakahannya membuatnya lupa, apa yang membuatnya bisa bersama Harris. Perlahan Kira membuka pelukan di perutnya, dan berbalik.


“Bolehkah aku mengatakan sesuatu? Kurasa, aku harus jujur padamu sekarang,” Kira kini berhadapan dengan Harris, meneliti wajah yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari.


“Kau jangan membuatku takut!,” Harris membalas tatapan istrinya yang berubah serius. Bahkan dia sampai melepas kaca matanya, agar bisa dengan jelas melihat perubahan di raut wajah bersemu merah istrinya. Harris takut, takut jika Kira mengatakan kata-kata yang akan membuatnya lemah.


Ya, Harris takut jika Kira akan mengatakan dia akan meninggalkannya. Wanita yang sudah mengakar kuat mencengkeram hatinya. Entah, Harris bahkan belum berpikir, jika Kira meninggalkannya, apa yang akan dia lakukan setelahnya. Belum pernah dia setakut ini kehilangan seorang wanita.


Kira menautkan jemarinya, mengangkat tautan itu di dadanya.


“Apa kau tahu, mengapa aku bisa menikah denganmu?,” Kira menatap kedua manik mata Harris bergantian. Kira juga takut, tapi dia lebih takut jika Harris tahu, menikah dengannya karena sebuah pertukaran.


Harris mengerjap, mengalihkan pandangannya dari manik mata istrinya. “Apa kau berniat meninggakanku?."


“Bukan begitu, kau harus tahu alasanku menikah denganmu dan putuskan, apa aku pantas tinggal atau kau tinggalkan?,” Kira masih menatap netra hitam itu. Mencari jawaban sendiri.


Harris terdiam, sebenarnya itu tidak penting, baginya. Tapi, jika di pikir lagi, lebih baik terbuka satu sama lain, agar tidak terjadi salah paham di kemudian hari.


“Oke, katakan,”


“Aku menikah denganmu karena Nina. Karena bertukar dengan kebebasan Nina,”


Harris hendak menjawabnya, tetapi,


"Tuan, Nyonya, anda berdua sudah terlalu lama di sini, sebaiknya bergegas, jika ingin semuanya sesuai jadwal," Johan berteriak ke arah Bosnya. Dan itu membuat Harris kesal. Siapa bosnya di sini? pikirnya.


Keduanya menoleh bersamaan, terkejut.


"Kau ini mengganggu saja," Gerutu Harris. Interupsi Johan membuatnya lupa hendak berkata apa. Sehingga ketika dia berbalik, dia hanya membuka mulut tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Ah," Harris mendesah, kesal dengan Johan. Benar-benar harus di jitak, biar tidak seenaknya mengganggu orang, pikir Harris. Harris menarik kasar rambutnya yang pendek. Kesal.


"Jangan banyak bicara lagi, ayo Tuan, semua orang sudah menunggu," Johan setengah berlari menghampiri Harris yang hendak membuka mulutnya lagi. Harris mendesah, dia akan menjawab Kira nanti.


Sayangnya, Kira menangkap berbeda. Dia mengira Harris kecewa, hingga membuat matanya kembali mengembun. Tetapi, dia segera menyekanya, dan mengulas senyum, senyum getir.


"Ayo kita turun, sudah hampir gelap," Harris meraih pergelangan tangan Kira, untuk segera turun ke dalam gedung di bawahnya.


Kira berusaha mengusir bayangan ekspresi Harris barusan. Mencoba menerka apa yang sebenarnya akan dia katakan padanya. Meski begitu, Kira merasa bukan saat yang tepat bila sekarang mengulangi pernyataannya. Terlebih, Harris dan Johan sedang terlibat dalam percakapan serius, yang memaksa Harris mengabaikan Kira. Raut wajah Harris berubah masam, kecewa. Sesekali ekor matanya kedapatan melirik Kira, yang juga tampak menahan gelisah.


Harris mengantarkan Kira ke sebuah kamar dan meninggalkannya sendirian.Di tinggalkan begitu saja, membuat hatinya mencelos kecewa. Kira menggigit bibir, saat sekali lagi, dia mencoba mencerna ekspresi Harris.


"Nona, mari silahkan masuk," Salah seorang wanita tersenyum manis, menyambut Kira di ambang pintu.


Manik mata Kira mengintari kamar ini, rupanya ini adalah sebuah hotel. Dan, beberapa orang ini adalah, orang yang sama dengan orang yang meriasnya saat dia menikah dengan Harris.


"Silakan duduk, Nona," Seorang wanita menunjuk kursi di depan sebuah cermin dengan lampu menyala di sekelilingnya. Dia adalah wanita yang sama, semoga saja dia tidak ingat peristiwa menjengkelkan saat merias Kira kemarin.


Meski bingung, Kira menurut saja, membiarkan para ahli rias ini, mencorat coret wajahnya. Menarik, mengikat, menggulung rambutnya. Menyemprot rambutnya seolah ada bebijian yang akan tumbuh di antara helaian rambutnya. Terakhir, Kira harus menanggalkan bajunya meninggalkan underwear saja. Di bantu dua orang lain di ruangan ini, Kira mengenakan gaun putih seputih mutiara. Gaun yang menutupi kakinya ini, menonjolkan bahu Kira yang tegap, dan sedikit pas di badan, menampilkan lekuk indah tubuh Kira.


"Mbak, sebenarnya ini ada apa sih?," Kira akhirnya memberanikan diri bertanya pada salah seorang yang membantunya berpakaian.


"Nanti, Nona akan tahu sendiri, cukup menurut saja," Jawab si Mbaknya tanpa menghentikan tangannya yang masih sibuk membenahi penampilan Kira.


Kira mendengus kasar, tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam pikiran Kira, saat melihat gaun ini, seperti gaun resepsi pernikahan. Apa iya dia mau menikah lagi? Ah, sudahlah. Membuang energi saja.


Usai berbenah, Kira menghempaskan tubuhnya di sofa, lelah dia berdiri diam dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya, dia memilih menelepon anak-anaknya melalui Nina. Dan sayangnya tidak mendapat jawaban. Sayangnya, penghiburan dari anak-anaknya tidak bisa di dapatkan. Celoteh ketiganya, membuat lara hati, kesal dan gelisah, menguap, seperti udara.


Pintu menjeblak terbuka, Johan dan beberapa orang meminta Kira untuk mengikutinya. Kira beranjak berdiri, mengusir gundah di hatinya. Mengulas senyum saat seikat mawar merah dan putih di selipkan di telapak tangan kanannya. Kira sedikit mengerti dengan adanya seikat bunga ini.


"Kau membuatku patah hati, Nyonya," Batin Johan.


"Apa aku tampak seperti badut, Jo?," tanya Kira saat melihat tatapan Johan yang seperti melihat penampakan.


"Iya, benar. Hanya saja kau tidak lucu. Ayo, suamimu sudah menunggu," Jawab Johan cepat. Seakan dia sedang meluapkan aliran emosinya dari jalurnya.


Kira mencebik, "Ada apa denganmu?," Kira masih menyelidik, sepertinya Johan salah minum obat, pikir Kira. Bukan Johan yang periang di sini, tapi Johan yang pemarah.


Johan menghela nafas, menyerah, ini bukan salah wanita ini. Ini salah jodoh, salah waktu dan salah kasta.


"Mari, Nyonya, sebaiknya anda tidak membuang waktu lagi. Acara sudah di mulai," Johan kembali menetralkan nada suaranya ke mode kaku dan berwibawa.


"Sudah terlambat," Kira mencibir. Dan segera berlalu dengan cepat dari hadapan Johan yang tiba-tiba mematung. Dia benar-benar kalah. Saatnya melambai pada wanita yang berhasil menggetarkan jiwanya.


Tiba di depan sebuah ruangan, Kira, di tuntun ke sebuah pintu yang tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam yang mampu mengintip keluar. Hening, dan sunyi. Hingga dua orang pria membukakan pintu putih dan tinggi itu untuknya, mempersilakan Kira untuk masuk.


Kira melangkah, beberapa langkah, dan berhenti, melihat banyaknya orang, melihat dia berada di mana. Membuatnya mematung, degub jantungnya, menjadi tidak normal. Seluruh tubuhnya bergetar saat semua mata tertuju padanya. Kaku.


Namun, aba-aba di belakangnya, membuatnya tersadar. Kira melanjutkan langkahnya, sedikit tergesa, tapi dia berhati-hati, dia masih ingat untuk tidak jatuh, agar tidak membuatnya semakin malu.


Harris mengulum senyum, menyambut wanita yang sudah di nantinya sejak tadi. Dia dengan tidak sabar, menghampiri Kira yang tinggal seperempat jalan menuju dirinya.


"Kau pintar sekali membuat efek dramatis," Bisik Harris saat tangan Kira mengait lengan Harris.


Kira mengernyit," Maksudnya?."


"Ya, kau membuat semua orang memperhatikanmu, saat kau berhenti di depan pintu," Jawab Harris masih berbisik.


"Kau gila, aku tadi terkejut, dan hampir mati," Kira mendelik sebal. Jika tidak ada orang, dia pasti sudah menimpuk Harris.


Harris tersenyum tertahan. Dia tidak ingin merusak kejutan untuk istrinya. Kejutan yang susah payah dia siapkan. Mundur dari jadwal, dan banyak lagi masalah yang emosinya naik turun.


Kini mereka berdua berada di bawah sorot lampu dan pusat perhatian semua orang. Entahlah, Kira tidak begitu mendengarkan, sebab dia terpaku pada ketiga anaknya yang secara ajaib sudah berada di tengah-tengah aula atau entah ruangan apa ini. Besar dan megah, langit-langitnya melengkung tinggi dengan lampu gantung super besar dan indah.


Takjub adalah sebuah kata yang mampu Kira utarakan. Selain dirinya yang terasa mengambang, diantara jutaan bunga. Tak bisa di katakan lagi bagaimana rasa bahagia membuncah di hatinya. Dia layak bersyukur, dia layak mencintai laki-laki yang tengah berbicara di depannya kini. Memandangnya, penuh cinta.


Telinga Kira berdengung, memblokir semua suara. Hanya ada suara suaminya, yang dengan lantang mengatakan bahwa dia sangat mencintai, istrinya.


"Aku mencintaimu, istriku," Harris tiba-tiba seperti malaikat saat mengucap itu. Lampu yang semula terang, berubah redup. Membuat suasana semakin, sendu. Harris meraih jemari Kira, dan berlutut di hadapannya.


"Maukah kau menghabiskan sisa umurmu denganku?," Kira mengerjap. Meski sudah berulang kali, tapi ini, di depan semua orang, dan tentu saja, tanpa di tanya dua kali Kira mengangguk pasti. Apa dia bisa bilang tidak?.


Harris tersenyum, dan mengecup punggung jemari Kira. Walaupun dia sudah tahu jawabannya. Di iringi tepuk tangan riuh dan cuitan bersautan dari bawah.


Kira seperti hampir menangis, dia menutup separuh wajahnya dengan sebelah tangannya. Ingin rasanya dia melompat tinggi-tinggi atau melempar dirinya ke dalam pelukan lelaki itu. Tetapi sayangnya, dia harus menahan gemuruh perasaan itu di dalam kungkungan dadanya. Setidaknya sebentar lagi.


Acara yang sebenarnya, dikhususkan untuk acara tahunan kantor dan grup WD, namun, kali ini harus di tunggangi kepentingan pribadi si pemilik. Harris tak bisa memikirkan waktu yang tepat, selain sekarang. Mengingat kejadian akhir-akhir ini yang membuatnya sibuk. Terlebih gangguan demi gangguan hilir mudik, menghampiri keduanya.






Maafkan Author yang lama up nya. Maaf juga jika tidak bisa membuat cerita yang romatis secara detail. 🙏.


Maafkan Author yang masih banyak kekurangan, masih suka gak jelas, intinya, Author berusaha sebaik mungkin, agar tulisan ini bisa enak untuk di baca. Meski ya, memang masih jauh sih.😆😆😆


Btw, terima kasih banyak atas dukungan pembaca semuanya, dengan adanya dukungan kalian, Author jadi semangat untuk selalu dan selalu lebih baik lagi. 🥰🥰🥰


Semoga kalian semua dalam lindungan Yang Maha Kuasa, murah rezekinya, melimpah ruah dan berkah. 🤲


Jangan lupa jaga kesehatan di musim yang berubah-ubah ini, jangan sampai sakit kaya Author, percaya deh flu itu berat, kau tidak akan kuat, biar Dilan aja. Eh... gaje lagi kan Authornya.😆😆😆


Salam sehat dan manis dari Author😘😘👋👋👋