
"Assalamualaikum," Kira mengucapkan salam saat tiba di rumah Ayahnya.
"Wa alaikum salam," Sahut Ibu dari dalam rumah. Ibu sedang menonton televisi yang menayangkan Ftv tentang istri yang di sakiti suaminya. Bahkan Ibu tidak mengalihkan perhatiannya dari layar kaca, saat Kira masuk duduk di sebelahnya. Kira menatap Ibu dan televisi bergantian, sembari menyalami Ibunya.
"Bu, ini Kira, Ibu tidak merindukan anakmu?," Kira menatap Ibunya yang mengabaikannya.
"Tidak, hampir 32 tahun Ibu melihat wajahmu," Jawab Ibu melirik sekilas. "Jangan berisik ah, ini lagi bagus-bagusnya, Ra. Nanti, pelakornya pasti kena azab deh."
"Udah bisa di tebak Bu, bukannya memang seperti itu terus ceritanya?."
"Hari-hari juga begitu, Ra." Kira menoleh ke arah Ayahnya. Ayah masih memakai sarung dan juga peci, sepertinya Ayah baru selesai menunaikan shalat dzuhur.
Kira bergegas bangkit menyalami Ayah, yang terlihat semakin sehat dan berseri-seri.
"Ayah tu seneng, Ra, ada anak-anak di sini, jadi Ibu ada yang mengganggu," Ayah tersenyum sembari mengusap kepala putri sulungnya.
Kira tertawa, "Kalau di sini terus, aku yang kesepian, Yah."
"Kata Jen di sana ada temannya Harris, Ra? Apa itu benar?," Tanya Ibu, kali ini Ibu menoleh ke arah Kira meninggalkan dramanya.
Kira mendesis, "Mulut Jen memang harus di lakban, biar tidak banyak bicara," Batin Kira.
Kira menoleh kepada Ayah yang juga sepertinya menanti jawaban Kira.
"Benar, Bu," Kira sedikit ragu mengatakan kebenarannya, bagaimana jika kedua orang tuanya berpikir yang tidak-tidak terhadap mantunya?
"Dia teman atau mantan kekasih suamimu?," Tanya Ayah sedikit mengeras.
"Ayah, tenang dulu," Kira meraih tangan Ayahnya. "Aku bisa menjelaskan semuanya, Yah."
"Jadi, benar dia kekasih suamimu, Ra?," Ibu benar-benar mengalihkan perhatiannya kepada Kira yang hidupnya lebih drama dari ftv yang di tontonnya.
Kira menelan ludah, mereka berdua tidak tahu bahwa Kira lah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Harris dan Viona.
"Mantan Bu, jadi dia itu artis yang main sinetron kesukaan Ibu," Jawab Kira, sedikit memberi penghiburan kepada Ibunya, tetapi sepertinya, Ibu tidak peduli.
"Dia Viona, Bu. Dia di tipu asistennya, dan sekarang dia sedang mengandung-,"
"Apa?," Teriak Ayah dan Ibu berbarengan.
"Mulut sampah," Batin Kira. Dia mengigit bibir terkutuk miliknya, yang bahkan kini lebih bocor dari mulut Jen.
"Tenang dulu," Kira sedikit meringis terlebih, Nina masuk ketika mendengar Ayah dan Ibu berteriak.
"Itu bukan anak Harris, Bu. Dia anak orang lain, dan kami hanya menolongnya, dia sudah tidak punya apa-apa lagi," Jawab Kira sedikit berbohong demi menenangkan orang tuanya. Ampuni aku, Ya Allah, batinnya.
"Kau yakin tidak membohongi kami?," Cecar Ayah, sepertinya bukan hanya Kira yang trauma dengan kegagalan rumah tangga. Bahkan kedua orang tuanya, menderita lebih banyak.
"Tidak, Yah, Kira mana berani menyembunyikan masalah Kira setelah semua kejadian yang lalu," Kira berusaha tetap tenang, walapun dia sebenarnya berkeringat dingin.
"Sebaiknya, ucapanmu benar, jika tidak, tidak peduli apapun, Ayah akan membawamu pulang kembali," Ujar Ayah diiringi tatapan tajam penuh ketegasan. Dia tidak mau kesalahan terjadi lagi, pada kehidupan putrinya.
"Ayah dan Ibu tenang saja, Kira memang pernah salah dan bodoh, dulu, tapi kini, Kira akan mempertahankan apa yang Kira miliki," Ucap Kira tegas, berapi-api seolah sedang membakar semangat pejuang untuk melawan penjajah.
Mereka bertiga hanya diam saja, tetapi sorot tajam mereka, menyorot tajam ke arah Kira. Membuat Kira gemetar ketakutan.
"Astaga, harusnya aku tadi menyuruh Doni saja, kalau begini aku jadi tidak selera makan, mereka sangat menakutkan," Gumam Kira dalam hati.
"Ibu percaya sama kalian, Ibu yakin kalian punya alasan sendiri," Ucap Ibu mendinginkan suasana yang amat panas.
Kira bernapas lega, akhirnya, kalimat penghiburan Ibu membuat Ayah maupun Nina, sedikit melunak.
"Mama," Lengking Jen. Semua menoleh ke sumber suara yang ada di belakang mereka. Kira bernapas lega, Jen menyelamatkan dia dari cecaran kedua orang tuanya.
"Hai, Sayang," Kira bangkit menyambut Jen, masih di bawah tatapan tajam sang Ayah.
"Papa mana, Ma?," Jen merangkul Mamanya. Kira menyapu seluruh wajah Jen dengan ciuman. Pipi bulat yang selalu membal ketika di cium itu membuat Kira gemas. Ingin rasanya untuk mengigitnya.
"Papa kan masih kerja, Sayang. Kamu lupa?," Kira mencubit hidung mungil Jen.
"Oh, iya. Jen lupa, soalnya sekolah Jen libur, jadi Jen pikir Papa juga libur," Kira sangat gemas dengan putri semata wayangnya ini. Matanya berkedip-kedip, mengibarkan bulu matanya yang panjang dan lebat. Bibir mungilnya, merah seperti ceri, mengerut-kerut lucu.
"Papa ngga pernah libur, Sayang. Karena Papa pekerja bukan siswa seperti Jen," Bibir Jen membulat ber oh ria. Dengan kepala yang dianggukkan membuat dua ikatan rambutnya bergoyang-goyang.
"Mama," Excel menghampiri Mamanya di susul Jeje yang sepertinya bangun tidur.
"Hai, Jagoan Mama, bangun tidur ya?," Kira melebarkan sebelah tangannya yang terbebas dari Jen. Menyambut kedua putranya yang mencium pipinya.
"Jeje yang tidur, Excel tidak," Jawab Excel datar. Kira mengusap pipi putranya yang paling besar, dan yang paling kaku, tapi paling peduli dan mengerti Mamanya.
"Jeje ketiduran Ma, gara-gara Jen itu, semalam berisik sekali dengan Tante Nina." Jeje memeluk Mama sebentar, lalu bangkit lagi. Dan berdiri di samping Excel.
"Berdiri yuk, kaki Mama kram, Jen. Kamu semakin berat saja," Kira mendorong Jen agar berdiri.
"Sudah makan belum?," Tanya Kira saat dia sudah berhasil berdiri meski kakinya terasa kebas.
"Sudah, Ma." Jawab Jen. Kira menelan ludah, dia berharap anaknya belum makan siang, dan dia bisa ikut makan siang bersama. Kira masih sungkan karena sampai sekarang Ayahnya masih melayangkan tatapan tajam kepada Kira. Seolah mencoba memindai kebohongan di antara raut wajah bahagia putrinya.
"Nina belum makan, Mbak. Ayo kita makan siang bareng," Nina seolah mengerti kesulitan kakaknya. Nina melangkah ke meja makan yang berisi aneka masakan Ibu. Sayur sop, semur jengkol, sambal, sayur lodeh, dan juga tempe dan tahu. Menu harian yang sangat di sukai Kira.
"Mbak, Nina harap apa yang Mbak katakan tadi benar, kami tidak ingin Mbak sakit lagi," Ucap Nina saat mereka berdua duduk di meja makan.
"Mbak tidak bohong Nin, Mbak dan Mas Harris, hanya menolongnya saja. Lagi pula dia mengalami masalah kesehatannya Nin. Kapan-kapan mainlah ke rumah, jika melihat keadaanya, kau pasti akan iba," Jawab Kira. Tangannya yang semula akan mengambil nasi, terpaksa di urungkannya.
"Mbak, jangan terlalu baik sama orang, bisa jadi itu bibit pelakor Mbak, sama seperti saat kau memelihara Melisa," Nina masih menaruh seluruh perhatiannya pada Kakaknya. Tetapi, sepertinya kali ini, Kakaknya tidak berusaha menutup-nutupi lagi masalah dalam rumah tangganya, seperti dulu.
"Nin, ada hal-hal tertentu yang mengharuskan aku untuk melakukan semua ini. Dan, kurasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu," Kira akhirnya menyerah, dia tidak jadi mengambil nasi, malah menutup tudung saji. Lebih baik segera bergegas untuk kembali pulang.
Kira segera membantu anak-anak berkemas, meski tak banyak yang di persiapkan tapi karena dia sedikit kesal jadi terasa berat dan berkeringat.
"Ayo, Sayang," Kira mengikat rambutnya sebelum menggandeng Jen dan sebuah tas berisi buku dan mainan Jen.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Kira segera masuk ke mobil dengan Jen, sedangkan Excel dan Jeje masih di dalam. Entah apa yang masih mereka lakukan.
Kira kesal karena merasa di sudutkan, tetapi dia masih berusaha sopan dengan kedua orang tuanya. Dia tahu mereka hanya mengkhawatirkan kewarasan putrinya. Jika dengan Rian saja, Kira sudah seperti orang gila, bagaimana jika di tinggalkan Harris, pria yang membuat Kira membubung tinggi, pasti jatuhnya remuk tak berbentuk.
•
•
•
•