
Viona merapatkan jaket hitam yang dikenakannya, tangannya bergetar hebat. Tetapi, dia tidak punya pilihan. Perlahan, dia membuka pintu mobil, dan menutupnya kembali.
Viona menaikkan penutup kepala yang menyatu dengan jaket yang dikenakannya. Lalu dia mulai berjalan mengendap menuju rumahnya. Jantungnya berpacu dengan kencang, sehingga membuat tubuhnya gemetar. Takut dan juga cemas.
Viona sampai di ujung pagar rumahnya yang tertimpa cahaya temaram. Viona merambat menekan dinding pagar dengan punggungnya, untuk melihat teras rumahnya yang terlihat gelap. Viona menghela napas lega, saat melihat teras rumahnya kosong. Tak seorangpun ada di sana.
Dia menegakkan tubuhnya, dan membuka penutup kepalanya. Berulang kali dia menghembuskan napas penuh kelegaan, sesekali dia mengusap keningnya. Setidaknya malam ini bisa tidur dengan tenang, pikirnya.
Viona melangkah mundur beberapa langkah sebelum berbalik, menuju mobilnya berada. Tetapi...
"Selama aku masih hidup kau tak bisa menghindariku, Viona!"
Kelegaan di wajah Viona menyurut, seketika berganti keterkejutan dan ketakutan. Bibirnya bergetar, tubuhnya beringsut ke belakang.
"Jika hanya seperti itu kemampuanmu menghindariku, maka jangan sebut aku Martin yang mampu mengelabuhi Dirgantara," suara serak menggelegar kembali saat raut wajah tirus itu muncul di terang cahaya. Topi yang di kenakannya menutup sebagian besar wajahnya, menambah kesan misterius dan kejam.
"Berhenti menggangguku, Martin! Kita sudah lama berakhir!" Seru Viona, meski dia gentar tetapi dia mencoba untuk tetap melawan Martin.
Pria bertubuh kurus itu maju beberapa langkah, dan mencondongkan wajahnya ke arah Viona. "Aku akan berhenti mengganggumu, asal kau serahkan semua uangmu! Uang yang kau hasilkan saat bersamaku dulu!"
Viona berpaling saat merasakan hembusan napas Martin yang menguarkan aroma kuat dari alkohol yang dikonsumsinya.
"Kau tahu keberadaanku dari Dela, bukan?" Viona menarik sudut bibirnya penuh ejekan, ekor matanya melirik pria yang telah bersikap seperti pecundang dengan meninggalkannya.
"Kau masih saja bodoh, Tin. Kau memercayai Dela, yang telah menghabiskan uangku! Membebaniku dengan setumpuk hutang! Dan sekarang, dia menimpakan kesalahannya padaku? Apa kau tidak bisa melihat bagaimana keadaanku sekarang? Jika uang itu masih ada padaku, untuk apa aku hidup seperti pengiba yang harus merendahkan diri di hadapan Harris, ha?"
Dalam keremangan tatapan tajam Viona begitu menyeramkan, menghujam ke arah Martin yang terpaku mendengar penuturan Viona. Dela yang menunjukkan padanya, keberadaan Viona. Menuduh Viona telah menghabiskan harta benda yang awalnya milik Martin namun di atas namakan Viona.
"Apa kau lupa, aku Viona yang tinggi! Tidak sudi mengemis belas kasih, apalagi kepada pria yang telah mencampakkanku!"
Tanpa sadar Viona telah meluruhkan air mata, mengatakan itu, membuatnya ingat lagi dengan keterpurukannya dulu.
"Lalu semua ini, kau dapat dari mana? Kau menjual dirimu dimana, ha?" Martin masih menolak percaya, baginya, hidup Viona yang sekarang cukup layak tetap mencurigakan.
Viona meradang, "Jaga ucapanmu, Martin!" Viona melayangkan telunjuknya tepat di ujung hidung Martin. "Belas kasihan Harris lah yang membuatku seperti sekarang! Karena dialah aku bisa seperti sekarang!"
"Kau pikir aku percaya?" Martin tersenyum sinis. "Kau pasti memeras Harris dengan anak yang kau kandung dulu! Mana dia sekarang? Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu!"
Viona terkesiap, dia mendadak waspada, "Anak itu tidak ada! Dengar, Martin! Kau harus tahu, Dela sudah membohongimu! Dia sudah mengambil semua uangku dan juga seluruh aset atas namaku!"
"Baiklah, Dela membohongiku, tapi tak ada salahnya jika aku meminta sedikit uang darimu! Bagaimanapun, kau juga sudah menikmati uangku dahulu, sekarang saatnya kau membalas semuanya!"
Viona beringsut mundur beberapa langkah, namun Martin dengan cepat pula menyusulnya. Langkahnya yang panjang tak menyulitkan dia untuk menangkap lengan Viona.
"Lepaskan, Tin! Atau aku akan teriak!" Viona mengibaskan tangannya, namun sia-sia. Cengkeraman Martin begitu kuat menusuk lengannya.
"Berikan uangmu padaku, murahan!" Martin menarik paksa Viona menuju rumahnya. Tak dihiraukannya erangan kesakitan dari wanita yang pernah bersamanya itu.
"Kurang ajar kau, Martin!" Viona memukul sekenanya di bagian tangan yang memegangnya.
Johan menyaksikan dan mendengarkan semua itu, jaraknya cukup dekat untuk melihat bagaimana Viona berusaha melindungi anaknya.
Secepat kilat dia melesat menghampiri keduanya yang sudah setengah jalan menuju rumah. Sebelumnya, dia sudah menghubungi Doni, sekarang Doni dan beberapa rekannya tengah menuju kemari. Tugasnya mengulur waktu hingga mereka sampai disini.
"Lepaskan dia," Hardik Johan yang sudah sampai di ambang pintu pagar.
Sekuat tenaga Viona memutar lengannya saat dirasa Martin lengah dan melonggarkan cengkeramannya. Dia melesat ke belakang Johan yang tengah berjalan mendekat.
"Wah, rupanya Dirgantara masih memerhatikan kekasihnya yang telah di buang, ya!" Martin terkekeh garing.
"Kau sudah bosan hidup rupanya!" Johan memandang Martin penuh permusuhan. Bukan hanya karena dia telah mencelakai Harris, tapi juga Viona dan Nicky. Meski sepertinya, Martin belum mengetahui Nicky.
Martin terkekeh lagi, "Kau mau menjadi pahlawan untuk bosmu yang bodoh itu? Atau kau mau dipanggil penyelamat oleh wanita itu?"
"Terserah kau mau mengatakan apa! Kau tidak berhak mengganggu Viona! Dia bukan milikmu lagi!" Jawab Johan datar terkesan dingin.
Martin menatap Johan penuh kecurigaan, ini bukan karakter Johan. Johan tak pernah mengulur waktu untuk melumpuhkan musuhnya. Sekalipun dia hanya seorang diri, dia akan menyerbu sesegera mungkin. Pasti dia punya rencana, pikir Martin. Martin melangkah ke samping, menghindari Johan yang terus menatapnya waspada.
"Baiklah, kali ini aku akan pergi, tapi ingat aku akan datang lagi! Kau dengar itu, Viona?!"
Tanpa bisa dicegah, Martin berlari secepat kilat meninggalkan halaman rumah Viona. Johan berusaha mengejar tetapi dia sadar tak akan bisa mencapainya. Sehingga dia merogoh ponsel di sakunya untuk menghubungi Doni.
"Aku segera sampai," suara di telepon menggema di telinga Johan.
"Target lolos, dia menggunakan motor sport hitam, dan berpakaian serba hitam," balas Johan.
"Aku melihatnya, kami akan melakukan pengejaran!" Doni langsung mematikan sambungannya.
"Terimakasih, Jo!" Lirih Viona dari arah belakang.
Johan berbalik sambil memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. "Sejak kapan ini terjadi?"
Viona merapatkan bibirnya, menguatkan hati untuk berkata sejujurnya. "Sekitar satu minggu ini."
Tangan Viona saling bertaut, keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya.
"Jadi ini alasanmu menitipkan Nicky dan pulang malam?"
"Aku tak mau Martin tahu keberadaan anaknya, dia pasti akan merebutnya dariku!"
Viona menunduk, ketakutan terbesarnya adalah kehilangan putranya. Tubuhnya bergetar saat bayangan itu melintas di benaknya. "Aku takut, Jo!"
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Setidaknya aku bisa menjaga kalian berdua! Kau tidak harus menanggungnya sendiri!" Johan mengulurkan tangannya, mengguncang bahu Viona perlahan.
Viona terdiam, namun air mata wanita itu sudah membanjir disertai isakan. Jemari lentiknya mengusap kasar pipi yang basah.
Johan menghela napas, di raihnya tubuh kecil wanita itu ke dalam pelukannya. "Apa pendapatmu jika aku menikahimu?"
.
.
.
.
.
.