
Riuh rendah suara tawa anak-anak kembali mewarnai rumah ini. Biasanya, hening. Hanya ada tiga orang dewasa yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Kira tengah duduk di ruang makan bersama Ayah dan Ibunya. Kira menunjukkan amplop cokelat yang di berikan Ayah mertua kepadanya.
"Apa ini, Ra?," Tanya Ibu sembari membolak -balik amplop itu.
"Aku juga tidak tahu, Bu. Aku belum membukanya," Jawab Kira. Kira membawanya kemari untuk meminta pertimbangan kedua orangtuannya.
"Buka saja dulu, Mbak," Nina yang baru saja masuk ikut menimpali obrolan mereka.
"Bagaimana, Yah?," Kira memandang Ayahnya, yang sepertinya juga bimbang.
"Kita lihat saja dulu, jika ini berlebihan, sebaiknya di kembalikan. Meskipun Pak Atmaja merasa bersalah kepada kalian, tak seharusnya dia yang memberikan kompensasi kepadamu. Sedangkan, Rian, dia malah tidak segera datang menemuimu dan minta maaf," Mereka berempat saling pandang, hingga Ayah meyakinkan dengan anggukan, barulah Kira membuka amplop tersebut.
"Ini sertifikat rumah, Mbak! Dan ini? Wah, Mbak Kira kaya sekarang!," Nina berbinar binar melihat saldo rekening bank yang di bungkus bersama sertifikat rumah.
"Hush, kamu ini, Nin, kalau ada duit, ijo itu matanya," Ibu menepuk pelan pundak Nina.
"Benar kan, Bu. Udah punya suami kaya, masih juga dapat rumah dan uang banyak," Nina meringis, mengusap pundaknya yang di pukul Ibu.
"Nina, jaga bicaramu," Ucap Ibu tegas.
"Maaf," Lirih Nina. Dia merengut karena ucapannya di anggap salah. Dia hanya membicarakan fakta.
"Jadi, gimana ini, Yah?," Kira masih melihat-lihat akta rumah itu. Di sana tertulis jelas alamatnya, dan itu masih satu kompleks dengan rumahnya yang sekarang. Hanya berbeda kelas saja.
"Terserah kamu saja sih Ra, Ayah setuju apapun keputusan kamu," Ayah memandang Kira yang masih kebingungan. Terlebih melihat saldo rekening itu, yang tidak sedikit jumlahnya. Meskipun Kira bukan orang tamak tapi, mengingat perlakuan keluarga mantan suaminya itu, Kira merasa bahwa itu juga ada hak anak-anak mereka. Ahli waris yang sah.
"Kira akan mengambilnya Yah, Bu. Ini hanya secuil harta keluarga mereka, dan selama di sana, kami seperti di cekik, Ibunya Mas Rian terlalu berhemat jika tidak mau ku bilang pelit," Kira menatap kosong benda-benda di depannya. Meski sudah tidak marah dan sakit hati lagi, tetapi Kira merasa, dia harus memperjuangkan hak anak-anak mereka. Dan, benar kata Ayah, harusnya Rian yang datang dan bersujud di kaki anak-anaknya. Agar mereka mau memaafkan Papanya. Atau, Rian terlalu malu untuk mengakui semua kesalahan keluarganya, yang artinya, dia juga sama bersalahnya.
Sekali lagi, Kira harus pulang sendiri. Anak-anak tidak mau pulang ke rumah bersama Kira. Suasana rumah baru kakeknya memang menyenangkan. Seperti berada di rumahnya yang lama. Hanya lebih luas dan lebih bagus pastinya.
Kira tiba di rumah ketika hari hampir petang. Sepi. Kira menghempaskan badannya ke sofa ruang keluarga, tempatnya menonton drama bersama Rina dan Sari. Ruangan itu sudah bersih dan rapi kembali, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Merebahkan badannya sebentar, kemudian matanya terpejam. Lelah sekali rasanya tubuh dan hatinya.
"Nona, apa anda ingin sesuatu?," Rina mengagetkan Kira yang memejamkan matanya. Seketika, Kira membuka mata.
"Mengagetkan saja!," Gerutu Kira. "Tidak, Rin. Aku hanya ingin rebahan sebentar," Kira sama sekali tidak merubah posisi tidurnya.
"Baik, Nona, anda bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu,"
Kira hanya mengangguk pelan. Kini, dia sudah kehilangan moodnya untuk melanjutkan rebahan. Dia beranjak menuju kamar, untuk segera membersihkan diri.
.
.
.
Harris masih berada di kantornya, karena dia terlambat datang hari ini, membuat semua jadwal mundur dari waktu yang seharusnya. Meski kesal karena tidak bisa segera pulang, namun dia tidak bisa protes atau mengeluh, ini juga karena kesalahannya sendiri.
"Anda mau kopi, Tuan?," Johan melihat Bosnya yang terlihat kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Johan tersenyum tertahan, ingin rasanya menertawakan orang yang menggajinya ini.
"Salah sendiri, mentang-mentang pengantin baru, jadi tidak ingat waktu," Bisik hati kecil Johan.
"Tidak usah, Jo. Ini hampir selesai," Jawab Harris tanpa menoleh ke arah Johan. Jari jemarinya masih menari di atas papan tombol di laptopnya. Kelihatan sekali dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Bodo amatlah, besok bisa di lanjutkan lagi. Bersegera pulang adalah hobi baru Harris. Hingga tak sampai setengah jam, Harris benar-benar meninggalkan ruang kerjanya.
Harris merasakan rumahnya terasa sepi. Kosong. Biasanya anak-anak berlarian dan tertawa saat menjelang makan malam, namun kali ini hanya terdengar suara Kira dari arah dapur.
"Kemana anak-anak?," Harris mengagetkan Kira dan dua asisten rumah tangganya.
"Kau sudah pulang?," Kira berbalik. Melihat Harris yang meletakkan jasnya di kursi ruang makan.
"Kau lihat sendiri bukan?," Harris meraih gelas dan mengisinya dengan air putih. Menenggaknya hingga tandas.
"Mau mandi atau makan?,"
"Mandi, anak-anak kemana?," Harris mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Seperti mencari-cari.
"Mereka tinggal di rumah Utinya, kenapa?," Kira menyipitkan mata, Harris selalu menanyakan anak-anak, sebelum yang lain. Dan tidak akan bertanya yang lain sebelum dia tahu dimana anak-anak Kira. Oh, bukan, anak mereka.
Harris melangkah semakin dekat dengan Kira," Kau sengaja meninggalkan mereka di sana, bukan?,"
"Maksudnya?,"
"Agar tidak ada yang mengganggumu, menggodaku," Harris berbisik di telinga Kira. Namun, Kira merasa Sari dan Rina bisa mendengarnya. Sehingga mereka berdua, mundur teratur dari sana. Membiarkan kedua majikannya menyelesaikan urusannya.
"Apa? Aku?," Kira mendelik. Kesal. Kapan dia menggoda Harris? Seingatnya tidak pernah.
"Iya, kau selalu menggodaku," Harris tersenyum licik.
"Apa aku sudah tidak waras?,"
"Iya, baru sadar?,"
Kira mencebik, Kira tahu Harris sedang menjahilinya lagi. Namun kali ini dia tidak akan termakan oleh kejahilannya.
"Mandilah, akan kusiapkan makan malam untukmu!," Perintah Kira dengan meletakkan tangannya di sisi pingggangnya.
Kira mencebik, dia segera menata menu makan malam di meja. Nasi, selalu ada di meja makan. Kira tidak tahan jika tidak makan nasi. Harris makan dengan lahap, dia benar-benar tidak pilih-pilih makanan. Apa saja asal tidak makanan manis. Dia tidak suka.
"Ra, aku belum pernah menginap di rumah mertuaku, ku rasa!,"
Kira nyaris menelan utuh makanannya. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Apa kau salah makan?,"
"Kenapa? Apa itu aneh?,"
"Tidak juga," Kira menggeleng. Aneh, ketika di ucapkan oleh seorang Harris. Apa ini seperti sebuah pengakuan? Mengakui Kira istrinya. Dan setelah itu, Kira akan memiliki Harris seutuhnya. Miliknya. Kira ingin tertawa jahat mengingat hal itu. Hatinya berbunga-bunga.
"Kenapa kau senyum seperti itu?,"
"Ah, tidak. Kalau kau tidak lembur, kita bisa menginap di sana, kurasa mereka akan senang sekali,"
"Benarkah?," Harris berbinar, bahagia. Belum pernah dia mendapat sambutan dari orang lain bahkan setelah kesan pertama yang tidak terlalu baik saat pernikahan. Bagaimana tidak, dia hanya memasang wajah masam dan menyeramkan sepanjang acara.
"Tentu saja, asal kau tidak nakal di sana," Jawab Kira acuh.
"Kau pikir aku Excel?,"
"Excel bahkan lebih dewasa dari kamu,"
"Kau," Harris mengeram tertahan. Menatap tajam Kira yang sedang menertawakannya.
Kira menenteng jas Harris, berjalan beriringan menuju kamar.
"Naiklah dulu, aku masih ada urusan dengan Johan," Kira mengangguk. Langkah nya yang ringan mengayun menaiki tangga.
Sedangkan Harris menemui Johan yang masih diluar rumah sepertinya.
"Jo," Harris memanggil Johan yang masih berbincang dengan beberapa anak buahnya yang menyaru sebagai pekerja di sini.
"Ya, Tuan," Johan setengah berlari menghampiri Tuannya.
"Kirim beberapa orang untuk menjaga rumah mertuaku. Anak-anak di sana," Perintah Harris kepada Johan.
"Baik, Tuan."
"Jangan sampai mengundang kecurigaan warga sekitar."
"Dimengerti, Tuan,"
Harris meninggalkan Johan yang segera menghubungi anak buahnya. Menuju kamar, dimana Kira sudah menunggunya.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan airnya," Ucap Kira saat Harris menutup pintu kamar.
"Kau sudah mandi?,"
"Sudah. Apa tidak ada bedanya antara mandi atau belum?,"
"Iya, tidak ada bedanya, sama saja,"
"Menyebalkan,"
Kira merebahkan dirinya di kasur saat Harris mandi. Matanya mulai berat, namun dia masih terhubung dengan Ivy, Nina dan juga Dinda di grup chat. Grup yang isinya hanya percakapan Nina dan Dinda, sedangkan Kira dan Ivy hanya sesekali bergabung.
"Sebentar lagi, ada acara akhir tahun di kantor, dan kata Papa kau harus ikut," Harris merebahkan diri di samping Kira.
"Aku tidak mau, pasti isinya karyawan kantormu," Kira menghadap Harris yang sudah wangi. Aroma yang sangat di sukai Kira, melebihi aroma terapi.
"Kau berani menolak perintah Papa?,"
Kira menggeleng. Dia harus menyiapkan nyali cadangan jika ingin melawan perintah Tuan Berkuasa.
"Hanya sampai di situ saja nyalimu? ," Harris mencibir.
"Tidurlah, jika kau mengantuk," Ucap Harris ketika melihat Kira menguap berkali-kali. "Atau mau ku bacakan dongeng?,"
"Memangnya aku bayi?,"
"Mirip sih,"
Kira mencebik, meninju pelan lengan kekar milik Harris. Yang sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit.
Harris memandangi mata redup Kira, menariknya lebih dekat, membenamkan Kira di dalam pelukannya. Selalu saja, dia yang mampu membuat Harris tenang dan nyaman.
.
.
.
.