
Melisa menatap Johan dengan berani, lalu senyum penuh ejekan tersungging di salah satu sudut bibirnya.
"Wah, wah!" Melisa mundur dan bertepuk tangan. "Jadi begini kelakuanmu jika berjauhan dengan suamimu? Main dengan pria lain?"
Karyawan yang masih membeku di depan pintu, meringis, malu akan ucapan Melisa. Seakan kehilangan muka dan tak ingin terlibat dengan urusan orang lain, dia memilih meninggalkan tempat itu. Dia yang ngomong, kok aku yang malu ya, batin karyawan itu sambil menutup mukanya.
"Jaga ucapan anda, Nyonya! Jika anda tidak punya kepentingan, sebaiknya anda pergi! Atau, saya tidak tahu apa yang tangan saya lakukan pada anda!" Johan mengepalkan tinjunya.
Melisa mencibir, mengabaikan peringatan dari Johan.
"Kira, apa kau akan tetap bersembunyi di balik tubuh kekasihmu ini? Kau takut atau malu ketahuan olehku? Kau tenang saja, aku pandai menjaga rahasia sahabatku!" Ujar Melisa santai.
Melisa bersedekap di depan Johan, memandang Johan penuh ejekan. Sepertinya dia sangat senang melihat keadaan yang menguntungkan baginya. Meski apa yang di sangkanya adalah salah.
Johan masih membentengi Kira dengan tangan yang di rentangkan. Tetapi, Kira menurunkan salah satu lengan Johan. Dan menghadapi Melisa dengan berani.
"Ada perlu apa kau mencariku, Mel?" Tanya Kira dengan santai seolah tidak ada masalah apa-apa antara dia dengan Melisa.
"Jangan sok tidak mengerti apa-apa! Kau yang membuat suamiku turun jabatan kan? Kau menyuruh suamimu melakukan itu kan?" Tatapan tajam Melisa sama sekali tidak membuat Kira gentar. Dia malah tersenyum sinis mendengar penuturan Melisa.
Kira tertawa, "Jika aku yang menyuruh suamiku melakukan itu, pasti langsung ku minta untuk di depak saja dari sini, Mel! Kau menyangka aku akan santai menghadapi suamimu? Jangan mencari masalah di sini! Ini bukan lagi tempat untukmu berkeliaran!"
Melisa meradang, kesal karena Kira sama sekali tidak takut akannya. Dia ingat tujuannya kemari adalah untuk membuktikan desas-desus yang beredar, bahwa suaminya tak lagi menjadi orang nomor satu di kantor ini. Selain itu, dia tidak lagi menjadi Melisa yang di segani dan kehilangan banyak teman. Mereka bahkan mulai mengabaikan Melisa. Dan, kelihatannya semua itu benar.
"Dasar murahan! Kenapa kau masih mengusik kami, ha? Kau mau membalas kami?" Teriak Melisa, seraya maju lebih dekat pada Kira. Johan sudah siaga, jika wanita ini nekat, maka dia tidak punya pilihan lagi.
"Siapa yang mengusik siapa? Suamimu itu yang terus mendatangiku! Dia memintaku kembali padanya! Kenapa kau tidak bertanya saja padanya?" Ucap Kira tak kalah keras dari Melisa. Tangan Kira mengepal, ingin rasanya meremas mulut tajam milik Melisa. Sayangnya, Kira bukan lagi wanita single, sekarang dia harus menjaga nama baik suaminya. Atau, setidaknya, di sini bukan tempat yang tepat untuk mencabik wanita itu. Ah, andai saat itu tiba, Kira tidak akan menahan diri lagi.
"Tidak! Kau yang terus muncul di depan kami, hingga suamiku tergoda lagi olehmu!" Teriak Melisa frustrasi. Dia selalu takut akan kenyataan bahwa suaminya yang menginginkan kembali pada mantan istrinya itu.
"Wah, bagus dong! Kau tau? Ini jauh lebih indah dari pada saat kau merebutnya dariku! Setidaknya aku terang-terangan muncul di antara kalian! Bukan menggunakan cara kotor untuk menusukku dari belakang! Lebih parah lagi, suamimu yang terobsesi mendapatkan aku lagi, bukan aku!" Kira tersenyum penuh ejekan. Lebih bagus jika mereka hancur bersama.
"Itu karena kau bodoh!"
"Bukan! Itu karena kau takut menghadapiku secara terbuka! Dan, andai aku tahu kebusukanmu lebih awal, mungkin aku masih menjadi istrinya sampai sekarang! Tetapi, aku sungguh tidak menyesal, Mel! Ku rasa itu cara Tuhan untuk menunjukkan siapa kalian! Dan menyelamatkanku dari orang-orang tak punya hati seperti kalian!" Potong Kira dengan cepat.
Ya, Melisa bisa melihat, semua yang di ucapkan Kira adalah kebenaran. Kira memang terlihat tanpa setitikpun beban penyesalan, dia bahagia menjalani hidupnya yang berlimpah harta. Dan kasih sayang. Benar dia sudah di surga, bukan lagi setengah jalan menuju surga. Dan Melisa, dirinya enggan mengakui bahwa dia dan keluarganya berada di neraka. Hanya di atas bara. Dengan masalah yang datang silih berganti. Juga, sikap suaminya yang semakin dingin padanya, beberapa waktu terakhir. Batin Melisa menangis pilu.
"Trik apa yang kau pakai untuk menaklukkan pria kaya itu, ha?" Melisa menaikkan dagunya. Memprovokasi Kira, agar dia marah dan menyerangnya.
Kira tertawa, bahunya terguncang-guncang, "Aku tidak akan memberitahumu, Nyonya Rian. Aku takut kau akan merebut lagi priaku menggunakan caramu! Kau pasti lebih pandai dariku dalam hal menaklukan pria berkantung tebal!"
Melisa berdecih, "Kau wanita licik! Kau tidak ada bedanya denganku! Kau merebutnya juga?"
"Kau mengakui bahwa kau wanita licik? Atau kau mengakui kau merebut suamiku dengan cara kotor?"
Melisa menyerbu secara tiba-tiba, namun Johan dengan cepat menyambar tubuh Melisa dalam kungkungannya. Bahkan sebelum menyentuh Kira sehelai rambutpun. Kira melambai penuh provokasi, saat Johan menariknya ke pintu.
"Kini kau tahu bedanya aku dan kamu, Mel. Lihat saja, bahkan kau tidak bisa menyentuhku! Saranku, nikmati saja bekasku, dan semua harta yang dia miliki! Bukankah kau sudah puas menikmatinya? Bahkan kau sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku!"
"Kurang ajar! Lepaskan! Aku akan memberi pelajaran pada wanita sombong itu! Lepaskan!" Rontaan Melisa tidak berarti bagi tubuh besar seorang Johan. Kecil dan lemah.
Johan membawa Melisa keluar ruangan, melemparkan tubuh Melisa ke dalam lift dan membawanya ke bawah.
Melisa meringis kesakitan saat tubuhnya menimpa dinding lift yang dingin. Punggungnya terasa nyeri. Perlahan, Melisa menegakkan tubuhnya, membenarkan penampilannya yang kacau.
"Di bayar berapa kau olehnya, ha? Sehingga kau bertekuk lutut padanya?" Melisa mendongak menantang Johan. Tingginya yang tak seberapa, membuat dirinya tampak seperti kurcaci di depan Johan.
Johan melirik dengan malas. Lalu dia membuang muka tanpa meninggalkan kewaspadaannya. Mulut wanita ini minta di jahit rupanya, biar tidak asal jika berbicara, batin Johan.
"Hei, kau bisu?" Teriak Melisa kesal. Dia tidak suka diabaikan. Dialah pusat perhatian.
Johan meringis, telinganya seakan tuli saat suara itu menggema di ruang sempit ini. Beruntung, pintu lift segera terbuka tanda mereka sudah sampai di lantai yang di tuju. Johan kembali menarik lengan Melisa dan mencengkeramnya dengan kuat, seakan meremukkan tulang lengannya.
"Sakit, b*******! Lepaskan aku!" Lengking Melisa yang meramaikan front office, yang semula sepi, lenggang. Meski di pukul hingga tangan Melisa patah sekalipun, Johan tidak akan berhenti.
Beberapa karyawan yang kebetulan sedang berada di sana, melihat Melisa dengan penuh penghinaan. Meski mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi mereka merasa Melisa pantas mendapatkannya. Melisa sudah seperti teror di setiap kehadirannya.
Johan benar-benar melakukan tugas dengan baik. Dia menghalau Melisa hingga ke luar pintu gerbang kantor. Menghempaskannya, meski masih dengan layak, di sisi luar pagar. Dia tetap tidak bisa kasar terhadap perempuan.
"Sebaiknya, anda jangan kembali lagi kemari, Nyonya! Sekarang baik Nyonya Kira ataupun saya masih sabar kepadamu, tapi, jika sampai Tuan Harris yang turun tangan, nasibmu tidak lebih baik dari seorang pesakitan," Ujar Johan di depan Melisa yang masih menatapnya dengan sengit
***
Rian yang mendengar bahwa istrinya membuat keributan bergegas berlari ke lantai atas, melewati tangga karena hanya berjarak dua lantai. Tak lupa, dia membawa lembar pengajuan pengunduran dirinya. Sudah saatnya, dia menjauhi mantan istrinya. Rian baru menormalkan langkahnya namun tetap tergesa-gesa, ketika sampai di ujung koridor.
Dia sedikit heran saat ruangan di mana seharusnya mereka bertemu tampak sunyi. Bahkan angin pun enggan bertiup. Hanya beberapa karyawan yang sudah mulai kembali bekerja berbisik-bisik di balik tangan. Pun dengan sekretarisnya dulu, yang menatapnya bingung. Antara ingin menyambut dengan hormat atau mengacuhkannya.
Rian melangkah melewati mantan sekretarisnya begitu saja. Dengan perasaan berdebar dia memupuk nyalinya mengetuk pintu yang setengah terbuka. Perasaannya campur aduk, dulu dia berkuasa di sini. Sekarang dia harus mengetuk dan meminta di izinkan pemilik baru untuk masuk.
"Masuk," Sahut suara yang meruntuhkan seisi jiwanya.
•
•
•