Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mengharapkan apa?


Rumah sakit, tempat mencari rizki bagi sebagian profesi, di kerubuti yang sakit, di hindari bagi yang berduka, tetapi ada bahagia di sana. Saksi dunia, akan lahirnya manusia baru, penerus generasi, pembawa sukacita bagi keluarganya.


Seorang pria berjalan menyusuri koridor demi koridor, menapaki anak tangga satu persatu. Dia tampak bahagia sekaligus kecewa. Wajahnya yang datar, seperti menyimpan seribu nestapa. Matanya memandang kosong ke sekelilingnya, seolah menyusun rencana. Tibalah dia, di sebuah kamar khusus Ibu bersalin. Baru saja, kakinya menjejak lantai kamar,


"Mas," Ah, suara itu, manja dan menggoda. Lembut mendayu-dayu, menghanyutkan siapa saja yang berada dalam jangkauannya.


"Iya, ada apa?," Rian mencoba mengatur emosi yang menumpuk di dalam dadanya.


"Mas, adik bayi di kasih susu formula saja, ya?," Pintanya. Matanya sayu dan terlihat lemah.


"Memangnya kenapa? Apa ASI nya bermasalah?," Rian memperhatikan setiap inci wajah istrinya. Ah, wajah ini.


"Lecet Mas, sakit. Sementara saja, Mas. Nanti kalau sudah sembuh, kembali ke ASI lagi. Ya," Melisa meraih tangan suaminya. Merayu dengan rengekan manja.


Rian menghela nafas. Dia tidak segera mengiyakan permintaan Melisa. Pun, tidak menolak. Pikirannya kacau, menahan sakit hati, amarah dan kekecewaan. Ah, andai dia tidak buta.


Rian tersenyum simpul, memandang sendu wajah penuh peluh saat berjuang melahirkan putrinya. Tidak sampai hati dia membiarkan wanita ini kesakitan lagi. Tetapi ketika melihat putri kecilnya, yang menggeliat manja di balik kain yang membalut tubuh mungilnya, dia semakin tersiksa. Kasih sayang Ibunya adalah detak jantungnya.


"Mas tanya dokter dulu ya," Rian mengusap wajah istrinya. Lalu meninggalkannya seorang diri.


Rian hanya menghibur istrinya, sebenarnya dia ingin menangis. Menangisi kebodohannya.


"Ra, kenapa kau dulu tidak pernah merengek padaku? Apa kau juga sakit saat menyusui? Apa kau juga sakit saat melahirkan anakku? Kenapa kau malah tersenyum? Apa aku terlalu lemah untukmu bergantung? Ra, maafkan aku, maafkan kebodohanku. Maaf aku telah menyia-siakanmu, maaf aku tidak ada untukmu saat kau membutuhkanku. Maaf, Ra, maaf,"


Rian menunduk, merintih, memohon di maafkan, tetapi tidak ada sahutan. Hanya suara air dari keran yang sengaja di nyalakan. Tangannya meremas dada, di mana jantungnya berada. Sakit, tanpa luka. Sakit yang tidak berdarah dan tidak ada obatnya.


Isak tangis menggema di kamar mandi sempit ini. Tenggelam bersama derasnya suara air. Lama, dia menumpahkan beban di hatinya. Mengurangi sesak di dadanya. Ah, obat itu jauh, entah ada di mana. Bisa melihatnya tanpa bisa menggenggamnya kembali.


Andai waktu bisa di putar kembali, dia ingin merubah segalanya. Ah, waktu adalah misteri, siapa yang bisa berjalan seiring dengannya, dialah pemenangnya. Dan, yang bermain-main denganya, akan hancur karenanya. Hanya penyesalan yang tersisa.


Air telah meluber kemana-mana, menyentuh tangan yang bertumpu di bibir bak mandi. Rian tersadar dari perjalanan masa lalunya. Kembali berpijak di masa kini. Masa yang tak bisa di hindari.


"Mas, kamu dari mana?," Melisa sedikit kesal karena di tinggal begitu lama.


"Aku tadi ke kamar mandi," Jawab Rian gugup. Dia memalingkan wajahnya ke arah Suster yang hendak membawa bayinya kepada Melisa untuk disusui.


"Suster, ini masih lecet, apa tidak bisa di ganti susu formula saja?," Melisa memberanikan diri bertanya kepada suster. Dia menatap suaminya dengan perasaan kesal.


Suster itu tersenyum, " Jika terluka, Nyonya bisa memompa asi anda, dan menyusui melalui botol, tanpa harus mengganti dengan susu formula. ASI anda melimpah, Nyonya, sayang jika tidak di pompa."


"Suster, bagaimana caranya biar tidak luka lagi?," Rian menimpali. Ini penting, dia takut jika Melisa akan mencari alasan untuk mengganti ASI nya.


"Pelekatan yang sempurna dan posisi yang benar saat menyusui," Suster itu memperagakan bagaimana menyusui yang benar.


Melisa mengikuti saran suster itu, tetapi sekali lagi teori lebih mudah saat di ucapkan dan sulit saat di praktekkan. Hanya sulit, bukan tidak bisa selama mau berusaha.


Susah payah, Melisa menyusui anaknya, meringis menahan sakit. Air matanya meleleh membasahi pipinya. Tetapi, ketika melihat putrinya menyusu dengan kuat, dia merasa bahagia. Dia tahu, dia harus kuat demi anaknya.


Rian sadar, dia harus menguatkan istrinya. Mendukung Melisa sepenuhnya. Sesuatu yang tidak dilakukan pada seorang wanita yang pernah di cintainya sepenuh hati. Ah, apakah itu cinta?


Tidak ada gunanya meratapi penyesalan, kini dia harus mensyukuri dan menerima apa adanya. Setiap wanita berbeda satu sama lain. Dia harus memperbaiki sikapnya, menuntun istrinya, apapun kesalahannya, dia akan mencoba memaafkan dan tetap menyayanginya.


Rian mengusap punggung istrinya yang sedang memangku putrinya. Meski air matanya tak henti mengalir tetapi dia juga tidak menyerah untuk menyusui anaknya. Rian menghujani ciuman di puncak kepala Melisa. Merasakan cinta yang mengalir di antara mereka.


.


.


.


Di lain tempat, seorang wanita juga sedang berusaha menata hidupnya yang baru. Menyesuaikan hidupnya dengan tatanan yang baru.


Kira sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga besarnya. Selain Santi, Rina dan Sari ada beberapa orang lagi yang ada di rumah ini. Mereka tampak seperti pekerja biasa, tetapi siapa yang menyangka, mereka adalah orang pilihan, yang terbaik yang di miliki Harris.


Kira hari ini pulang lebih awal seperti yang di titahkan Harris. Agus menjemputnya sesaat setelah matahari terbenam. Melihat penampilan baru Kira, Agus seperti melihat hantu. Bahkan menyangka, Kira adalah orang lain.


Padahal, Kira hanya memotong rambutnya sedikit. Kira tidak merubah apapun dari dirinya, tetapi wajahnya yang segar membuatnya tampak lebih muda.


Mereka ber empat menunggu si empunya rumah, di ruang tengah sembari melihat tayang televisi. Jeje bersandar di sisi kanan sedangkan Excel di sebelah kiri Mamanya sedang memainkan ponsel milik Mamanya. Sedangkan Jen bermain boneka di lantai


"Mama, hari ini cantik sekali," Celetuk Jaden. Dia bangkit dan menatap Mamanya.


"Oh ya? Berarti biasanya Mama tidak cantik dong?," Kira menyipitkan sebelah matanya.


"Ya, cantik sih, tapi kali ini lebih cantik," Jaden memiringkan kepalanya dengan jempol terangkat.


"Ma, hari-hari kaya gini, dong. Ceria, banyak senyum. Kan Jeje jadi seneng lihatnya,"


"Kalau kaya gini setiap hari, Mama bangkrut dong?," Kira mencubit pipi Jeje dengan gemas.


"Minta uang sama Papa baru Jen saja, Ma, pasti di kasih," Jen merangsek ke pangkuan Mamanya. Menghalau kakaknya yang bersandar di bahu Mamanya.


"Papa?," Kira mengernyit. "Sejak kapan kalian akrab dengan Paman?,"


" Hanya Jen saja, aku sama Kakak belum," Cibir Jeje.


"Jeje, apa kata Mama, tentang menghargai orang yang lebih tua?," Kira mencapit pipi Jeje dan mengarahkan kepalanya ke arah Kira.


"Iya, Ma, maaf. Tapi tidak secepat itu kan, Ma. Jeje perlu waktu," Jeje mencebik.


"Mama tahu, Anak yang sok dewasa, Mama tidak memaksa, hanya saja, Jeje harus menghargai dan menghormati orang yang lebih tua. Dan bersikap sopan terhadapnya, baik itu Kakek Dirga, Paman,-


"Papa, bukan Paman," potong Jen.


"Iya, maksud Mama, Papa Harris, dan Paman Johan, mengerti?," Kira mengusap kepala Jeje. Berharap dia mendengarkan nasehat Kira. Selama ini, Jeje lah yang paling usil, jahil dan suka sekali mengabaikan nasehat Mamanya.


"Iya, Ma," Jawab mereka bertiga serempak.


Semoga, bukan hanya iya di mulut saja, batin Kira.


Petang sudah berganti malam, tetapi si pemilik rumah belum juga menampakkan batang hidungnya. Sementara, ketiga bocah ini sudah kelaparan. Kira menghubungi Harris, namun tidak juga mendapat jawaban.


"Ma, masih lama, ya?," Jen menggoyangkan lengan Mamanya. Membuat perhatian Kira tertuju pada Jen, yang sudah lapar dan mengantuk. Kedua kakaknya masih di kamar mengerjakan tugas sekolahnya.


Kira tersenyum, mengacak rambut hitam lurus milik Jen. " Kita makan dulu saja, nanti Mama akan bilang ke Papa Harris"


"Ayo, Ma. Jen sudah lapar," Jen menggandeng tangan Mamanya menuju meja makan.


Excel dan Jeje sepertinya juga sudah tidak bisa menahan lapar lebih lama. Tanpa di panggil, mereka turun dan bergabung dengan Jen dan Mamanya.


Menjelang tengah malam, Harris baru menginjakkan kaki di rumah. Suasana sudah sangat sepi, lampu sudah banyak yang di matikan. Sehingga ruangan-ruangan ini tampak redup.


Harris terlihat lelah setelah bekerja seharian. Pakaiannya sudah tidak rapi seperti saat dia berangkat bahkan jasnya di biarkan menggantung di sebelah bahunya. Harris meregangkan otot lehernya yang kaku. Walaupun dia baru saja mengambil alih posisi Papanya, tetapi, bukan berarti dia bisa santai-santai dengan pekerjaan yang di limpahkan kepadanya. Pekerjaan menumpuk seakan berlomba untuk di sentuh.


Sayup-sayup, Harris mendengar senandung lirih dari arah dapur. Harris berhenti sejenak, menajamkan pendengarannya, rupanya dari arah dapur. Diapun mengurungkan langkahnya yang sedianya akan meniti tangga ke lantai atas.


Harris menyipitkan mata, mendapati seorang wanita tengah mengambil sesuatu di lemari atas. Dia berjinjit karena tidak mampu mencapai benda tersebut sehingga bajunya yang hanya sampai lutut itu ikut terangkat naik. Mempertontonkan kulitnya yang mulus. Melihat tinggi badannya dia mengenali wanita itu, tetapi dari belakang, dia tampak berbeda.


"Sedang apa?," Harris maju beberapa langkah semakin dekat dengannya.


Kira berbalik dengan tergesa-gesa, sehingga menabrak tubuh Harris, membuat tubuh mereka saling menempel tanpa menyisakan jarak.


"Astaga," Kira terkejut dua kali.


Belum sempat berucap apa-apa, Harris melangkah semakin mendekat, menghimpit Kira dengan meja di belakangnya. Mata hitam itu meneliti setiap inci wajah di depannya, semakin dekat dan dekat.


Kira menjauhkan wajahnya, sejauh mungkin dari jangkauan Harris. Nafas hangat itu menerpa wajah Kira, menimbulkan sensasi lain. Sedikit ketakutan, dia memejamkan matanya.


"Benar kata Ivy," Batinnya.


Namun, hingga beberapa saat, tidak terjadi apapun. Nafas itu semakin menjauh. Berganti tawa sinis penuh ejekan. Perlahan Kira membuka matanya. Rupanya, Harris mengambilkan teh yang berada di lemari paling atas. Kira tercengang beberapa saat, bahkan bibirnya sampai terbuka.


"Kamu mengharapkan apa? Kau tampak kecewa sekali?," Harris melempar jas yang sejak tadi di berada di tangannya. Harris menyandarkan tubuh indahnya di sisi kulkas setelah mengambil minuman dingin bersoda. Memandang Kira penuh ejekan.


Kira mencebik. Benar, dia mengharapkan apa? Kira kesal, antara malu, marah dan sedikit berharap. Tidak boleh kah?


"Apa? Aku hanya takut kau memukulku, karena ketahuan mengambil barang milikmu,"


Namun, wanita, lain di mulut, lain di hati. Harris paham itu, tetapi menggoda siluman satu ini memang sangat menyenangkan.


"Tunggu saja, aku akan segera menghukummu."


β€’


β€’


β€’


Hai, hai readers tercintakuh, Selamat malam, maafkan author baru bisa up sekarang.


Ayo, ayo, jangan lupa, jempolin author lagi, biar makin semangat ngetik,❀


Yang komen, monggo 😍


Yang mau vote seikhlasnya Alhamdulillah πŸ₯°


Yang sudah Vote, Arigato, Matur suwun, Kamsahamnida, semoga rezekinya lancar, sehat selalu, Aamiin.🀲 πŸ™πŸ˜˜


Maafkan Author yang maruk padahal ceritanya masih banyak kekurangan.


Salam manis


Author Halu 😘