
Kira berjalan tergesa menyusuri koridor menuju pintu utama rumah sakit. Kira sedikit ketakutan karena sudah membuat Harris menunggu terlalu lama. Namun, saat tiba di sana dia tidak menjumpai Harris maupun Johan. Kira berjalan mengelilingi area itu, hingga keluar pintu utama. Namun, dia tak menemukan mereka berdua. Karena lelah, Kira duduk di kursi besi panjang yang tersedia di sana.
Walaupun dia sudah sehat tetapi dia merasa lelah sekali, mengingat area itu sangat luas. Kira duduk dengan perasaan gelisah, matanya tak henti mengelilingi area rumah sakit. Menempatkan fokusnya pada pintu keluar area parkir. Setiap ada mobil yang keluar dari tempat parkir, Kira memperhatikannya, berharap itu mobil Harris.
“Dimana mereka? Awas saja kalau sampai aku yang di salahkan” batin Kira.
Kira hendak menuju area parkir, barangkali mereka ada di sana. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang menyapanya.
“Hai, Nona” Seorang laki-laki berbadan tegap menghampirinya. Kira mengawasi laki-laki itu, mencoba menggali ingatan tentang pria itu.
“Ingat kejadian preman beberapa waktu lalu?” Laki-laki itu mengulurkan tangannya, “ Hendra”
“Oh, iya. Saya ingat. Saya Kira” Kira menyambut uluran tangan Hendra.
“Sedang apa di sini?” Tanya Hendra sembari melepas jabatan tangan mereka. Namun, matanya tak lepas memperhatikan Kira.
“ Oh, saya sedang menunggu seseorang. Anda sendiri?” Kira tersenyum canggung, karena di pandangi oleh Hendra.
“Saya kebetulan akan menemui teman saya, tapi entahlah, dimana dia sekarang” Hendra menoleh kanan kiri, mencari-cari orang yang akan di temui. “Nona, apa Nona tahu, siapa yang anda tolong waktu itu?”
“Tidak, saya tidak tahu. Memangnya ada apa, Tuan? Apa dia mencari saya?” Tanya Kira. Kira menyipitkan matanya, sedikit keheranan bercampur khawatir, karena Kira berpikir urusan itu sudah selesai.
“Tidak apa-apa, Nona. Dia hanya ingin berterimakasih saja, kurasa. Nona jangan cemas” Hendra tersenyum. Dia mengerti kecemasan yang mengganggu wanita di hadapannya ini. “Jika anda mau, saya akan mengantar anda menemuinya sekarang”
“Tidak, Tuan. Saya rasa, tidak perlu berterima kasih. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia saling membantu” Kira tersenyum. Bukan apa-apa, Kira hanya tidak mau dianggap tidak ikhlas. Dia hanya kebetulan lewat, dan melihat orang dalam kesulitan, selagi bisa membantu, siapapun dia, Kira akan menolongnya.
“Benar, tapi dia pasti merasa berhutang budi” Hendra masih menatap lekat wanita di hadapannya ini. Kerendahan hati wanita ini, berhasil membuat Hendra terpesona.
“Tidak ada hutang budi, Tuan. Saya tidak pernah berpikir seperti itu” Kira mengalihkan pandangannya ke halaman rumah sakit yang luas. Di pandangi laki-laki seperti itu, membuatnya salah tingkah.
“Saya tidak bisa memaksa anda, rupanya. Baiklah, kalau begitu, terserah anda, jika anda kesulitan, hubungi saya saja. Oh ya, nomor yang anda berikan itu, bukan nomor anda, kurasa?” Hendra menaikkan salah satu alisnya.
“Apa anda pernah menghubungi saya?” Kira mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat lagi.
“Iya, tapi tidak ada jawaban”
“Itu nomor saya satu-satunya, Tuan. Ah, sayang sekali ponsel saya tertinggal di tempat kerja saya" Kira memegang pelipisnya, dia tidak membawa apa-apa kemari. "Apa masih membutuhkan keterangan dari saya?” Jantung Kira berdebar-debar. Dia takut jika masih harus berurusan dengan preman itu maupun orang yang ditolongnya.
“Tidak juga-“
Suara ponsel Hendra berbunyi, menghentikan obrolan mereka. Kira memalingkan wajahnya, dia tidak mau menguping pembicaraan orang lain.
“Nona, saya permisi dulu, lain waktu saya akan menghubungi anda kembali. Senang bertemu dengan anda, Nona” Hendra menjabat tangan Kira lagi. Kira tersenyum simpul dan mengangguk sebagai jawaban.
Kira menghembuskan nafas, merasa lega karena terhindar dari interogasi Hendra lebih lanjut. Sekali lagi, dia berkeliling, namun tak juga membuahkan hasil. Akhirnya, dia memutuskan ke tempat parkir.
“Dimana parkirnya? Di sini ada puluhan mobil, masa iya mau di lihat satu per satu?” pikir Kira.
Di kantor Rio,
“Kalian sejak tadi di sini? Kenapa tidak bilang?” Hendra yang baru sampai langsung mendamprat Harris dan Johan karena merasa di permainkan. Di ruangan itu sudah ada ketiga sahabatnya, Harris, Johan dan Rio.
“Memangnya ada yang salah?” Harris bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Hendra yang masih di depan pintu.
“Ya, tidak juga. Kamu bisa kan ngomong kalau sudah ada di kantor Rio” Hendra merengut kesal.
Hendra masih di kantor ketika Harris meneleponnya untuk segera menemui Harris di rumah sakit. Harris meminta Hendra untuk melewati pintu utama, tanpa memberi alasan yang jelas, mengapa harus melewati pintu utama. Seharusnya dari tempat parkir bawah tanah, dia bisa langsung naik ke kantor Rio, tanpa melewati pintu utama. Tentu saja hal ini membuat Hendra heran dan bingung. Walaupun seharusnya dia tak perlu merasa heran, karena permintaan Harris selalu aneh.
“Siapa yang kau temui di depan?” Tanya Harris. Dia hanya pura-pura bertanya, karena sejak tadi mereka berdua mengawasi Hendra melalui cctv.
“Dari mana kau tahu?” Hendra menatap Johan dan Rio bergantian. Dia menduga salah seorang dari mereka melihatnya di depan tadi.
Namun, Rio mengangkat bahu, dan Johan menunjuk laptop di hadapannya.
“Yah, itu dia, tapi aku tak berhasil membujuknya kemari” Hendra berjalan menuju sofa bergabung dengan Johan dan Rio. Diikuti Harris di belakangnya. “Dari mana kau tahu itu dia?”
“Hanya menebak saja” Jawab Harris mendahului Johan yang hendak menjawab.
“Cih” Hendra mengambil sebatang rokok dan menyalakannya
“Itu istrinya Harris, Ndra” Jawab Rio.
“Uhuk...uhuk...” Hendra tersedak asap rokoknya sendiri saking terkejutnya mendengar ucapan Rio.
"Kau bicara apa?” Tanya Hendra, dia mendelik menatap Rio. Dia masih kesulitan bicara karena asap yang di hisapnya terlalu banyak.
“Iya, dia sudah menikahi wanita itu” Jawab Rio.
“Benar, Ris?” Hendra menatap sengit ke arah Harris.
“Begitulah” Jawab Harris cuek,
“Gimana ceritanya? Aku yang nemuin kok situ yang kawinin?” Hendra masih tidak terima kenyataan.
Harris hanya mengangkat bahu, enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Jo, kita pulang sekarang!” Ajak Harris kepada Johan yang masih mengamati laptop di hadapannya.
“Baik, Tuan” Johanpun bangkit dari tempat duduknya, mengikuti Harris yang telah mencapai pintu.
“Hei, bagaiman bisa kau pergi begitu saja? Hei...” Teriak Hendra yang tak di gubris Harris sama sekali.
"Jadi, yang di tunggu Kira adalah Harris?" Tanya Hendra pada Rio.
“Jadi, yang nolong Bang Harris, dia?” Rio menjawab pertanyaan Hendra dengan pertanyaan juga.
"Iya" Jawab mereka serempak. Mereka berdua menghembuskan napas bersamaan.
“Iya, waktu itu, ketika ada laporan perampokan, aku sendiri yang datang ke lokasi, karena orang yang ku tugaskan mengawal rombongan Harris mengatakan, bahwa Harris tidak berada dalam rombongan itu. Jadi ku pikir itu serangan lain yang sudah dipersiapkan. Ketika tiba disana, tinggal preman-preman babak belur itu"
“Dan, waktu wanita itu kembali, aku meminta nomor telponnya, tapi ketika di hubungi, tidak ada jawaban. Ku kira dia memberiku nomor orang lain” Cerita Hendra panjang lebar. Rio mengangguk tanda mengerti. Di dalam pikirannya dia sedang menggabungkan semua ingatan tentang Kira.
“Kenapa dia tidak tahu siapa yang ditolongnya, padahal, waktu itu anaknya juga di rawat di sini beberapa hari?” Rio menatap kosong meja di depannya, seolah bertanya kepada dirinya sendiri.
“Menurutku,dia tidak mencari tahu, kerena dia tidak mau di bilang pamrih” Jawab Hendra yang kini menghabiskan sisa rokok di tangannya.
"Apa Paman tahu semua ini?" Tanya Rio memandang Hendra lekat-lekat.
"Mungkin saja, karena Asisten Toni yang meminta nomor telepon dan foto nomor kendaraannya" Jawab Hendra acuh.
Tidak ada yang tidak bisa diketahui oleh Asisten Toni. Rio menghela nafas, jelas saja, Pamannya akan langsung tahu siapa yang menolong anaknya.
"Pantas saja, mereka menikah mendadak, dan sepertinya mereka belum saling mengenal" Rio mengutarakan pendapatnya.
" Ku harap Harris, bisa lepas dari Viona, dan bahagia dengan Kira, setahuku dia begitu gigih mencari siapa yang menolongnya" Hendra menghela nafas. Lagi-lagi, dia harus kecewa.
"Ya, kuharap juga begitu. Lebih baik bersama wanita itu dari pada dengan Viona" Ucap Rio. Dia menatap lekat layar laptopnya, yang masih memperlihatkan gerak gerik Kira.
Kedua lelaki itu, menaruh hati pada wanita yang sama, dan melepaskannya di waktu yang sama. Berharap dia akan bahagia dengan laki-laki yang menjadi suaminya yang tak lain adalah sahabat dan saudara mereka sendiri.
.
.
.