
Harris menggelegar dari arah belakang Asta, tanpa memedulikan Asta, Harris menghampiri Kira yang terkejut sekaligus takut. Kepergok lagi dengan lelaki yang sama. Dia takut akan berakhir sama seperti terakhir kali.
Asta yang masih melongo, hanya mengerjap, tak mampu mengucap sepatah katapun. Bahkan dia tak sadar tangan Kira sudah terbebas darinya. Menyisakan tangannya menggantung di udara.
Kira membalas rangkulan di pinggangnya dengan melakukan hal yang sama pada suaminya. Dirapatkan tubuhnya pada Harris yang masih memandang Asta dengan tatapan tak ramah.
"Ini suamiku, Ta. Tentu kalian sudah saling kenal bukan?" Ucap Kira kalem, dia sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya. Tetapi, Kira tetap menegaskan setiap perkataannya dengan tindakan.
"Bang, ini Asta. Dia sekolah di SMA yang sama dengan kita. Mungkin dia seangkatan dengan Abang!" Kira menatap suaminya sambil tersenyum. Kemudian mengejek ke arah Asta. Yang kau bilang tidak selevel denganku, dia sudah dipelukanku, batin Kira. Masih teringat jelas ucapan Asta saat reuni waktu itu.
Tentu saja, Asta semakin terpuruk ke dasar jurang. Dia Bagaimana mungkin dia tidak mengenal pria yang sering menghajarnya dulu. Asta tersenyum kecut, sekali lagi dia kalah dengan dominasi Harris.
Tetapi, bukan Asta jika tidak bisa mengolah kata. Seringai licik perlahan menyisir sudut bibirnya. "Tentu kami saling kenal. Kami adalah kawan lama."
Harris tersenyum sinis, "Kawan? Kawan berkelahi maksudmu?"
"Ya, kurasa itu pas dengan situasi kita. Saat itu, kau berkelahi denganku gara-gara Princess kan?"
Bang.
Asta merasa puas sebab Harris menyambar umpannya. Tembakannya tepat sasaran. Senyum di bibirnya semakin meninggi.
Harris berdecih, "Karena kau yang selalu memancing emosiku, bukan karena Princess."
Asta terkekeh, "Kau masih melindungi dia rupanya? Seperti biasa!"
"Dengar, aku ngga ada waktu untuk meladeni tingkah konyolmu itu. Asal kau tahu, aku tak pernah menyukai Princess sejak dulu. Dan, aku sudah memiliki dia," Harris menarik Kira lebih dekat padanya, tanpa memutus kontak mata dengan Asta. "Yang jauh lebih baik segalanya dari Princess."
"Jangan ganggu istriku lagi. Ini peringatan terakhir dariku. Tentu kau masih ingat bagaimana dulu kau berakhir, dan sekarang," Harris mendekat dan berbisik di telinga Asta, "Mimpi burukpun akan terasa lebih indah, Bro."
Harris mundur, melihat ekspresi Asta yang seakan usai melihat hantu. Harris menaikkan alisnya, "Kau mengerti benar apa maksudku!"
Mereka meninggalkan Asta yang masih membeku. Setelah meminta makanannya diantar ke kamar, Harris membawa istrinya meninggalkan resto hotel.
"Abang marah padaku?" Kira menatap suaminya dengan perasaan cemas.
Harris menghentikan langkahnya, mengusap pelan kepala istrinya, "Tidak, Sayang. Abang tidak akan tega marah pada istri Abang yang manis ini." Harris menggoyangkan dagu Kira perlahan.
Kira nyengir menahan malu, "Gombal," gumamnya sambil berjalan mendahului suaminya. Pipinya terasa panas.
Harris tertawa tanpa suara dan mengikuti Kira yang masih sering bersikap malu-malu padanya.
"Bersiaplah, setelah sarapan kita akan segera berangkat ke acara resepsi Abimana," Ucap Harris sambil menutup pintu.
Kira mengangguk dan mulai mengambil perlengkapannya yang memang tak seberapa. Jika ada di rumah, Vionalah yang selalu mendadaninya setiap kali dia harus mendampingi suaminya.
****
Harris dan Kira memasuki aula hotel dimana pernikahan megah ini dihelat. Nuansa putih mendominasi dekorasi aula ini. Kira berdecak kagum melihat indahnya bunga-bunga yang menebarkan semerbak wangi.
"Bang, pengantinnya kok dua?" Bisik Kira saat mengantre untuk menyalami mempelai pengantin.
"Kata Abimana, itu kakak istrinya. Ceritanya panjang," Bisik Harris di telinga istrinya.
Kira manggut-manggut sambil terus melangkah. Hingga akhrinya sampai pada kedua pasang pengantin yang terlihat sangat bahagia.
Kira bingung sebab tak tahu mana yang Abimana. Sehingga dia hanya mengucapkan sekedarnya, takut salah menyebut nama.
"Abimana yang ini, Mbak," Ujar pengantin wanita yang terlihat ceria dan enerjik, seolah tahu apa yang dipikirkan Kira. Dia menunjuk pria di sebelahnya yang mirip sekali dengan Caesar Hito.
"Saya, Kirana, istrinya! Jangan dipandang lama-lama, Mbak! Nanti suami saya gantengnya luntur!" Sambungnya sambil mengulurkan tangan.
Kira takjub dengan kelugasan wanita ini, wanita yang tampak alami dan ceria. Dengan cepat Kira menyambut uluran tangan Kirana.
"Saya Kira, Mbak. Sakinah, mawaddah warahmah ya, Mbak. Langgeng till jannah," Ucap Kira setelah terpana beberapa saat.
Kirana tersenyum manis, "Makasih, Mbak!"
Aneka makanan khas kota ini satu persatu dicicipi Kira, hingga sampai di ujung aula, Kira baru berhenti.
"Sudah kenyang?" Harris yang sejak tadi hanya memperhatikan istrinya, akhirnya buka suara. Ya Tuhan, ini istriku atau Hulk, sih. Makannya banyak bener? Pikir Harris sambil menggaruk pelipisnya.
"Sudah, Bang!" Jawab Kira sambil meletakkan piring terakhirnya.
"Kita keluar sekarang kalau begitu, Abang harus kerja lagi, Sayang!" Ujar Harris sambil mengangkat lengannya, ditariknya sedikit ujung jasnya sehingga tampaklah arloji yang kenakannya.
***
Cuaca diluar sangat panas, meski angin bertiup semilir. Kira sudah menguap berkali-kali karena kekenyangan. Sementara Harris masih menyelesaikan pekerjaannya secara daring.
Kira bangkit dari posisi rebahannya, dilihatnya ponselnya yang sama sekali tak ada notifikasi masuk. Novel online favoritnya juga belum update lagi, sehingga dia merasa bosan. Ingin rasanya dia menelpon si penulis novel dan bertanya bagaimana akhir kisah cerita yang ditulisnya. Kira mendesah pelan.
Perlahan dia turun dari ranjang, dan menghampiri suaminya. Dia berdiri di sebrang meja, agar Harris melihat ke arahnya.
"Bang, aku keluar ya, bosan di kamar terus!" Bisik Kira, tapi nampaknya Harris tak mendengar dengan jelas.
Harris yang semula bersandar dikursi putar dengan jemari di dagunya, bangkit dan mecondongkan tubuhnya ke depan. Tanpa memedulikan rapatnya.
"Aku mau keluar, Bang! Bosan di kamar!" Kira mengulangi ucapannya, saat Harris menyodorkan telinganya.
Harris menghela napas, "Panas banget, Yang! Tunggu sebentar lagi, Abang akan menyelesaikan pekerjaan Abang!"
Kira merengut sampai wajahnya tertekuk sempurna. Dia berjalan menghentak-hentak kaki panjangnya saat berjalan, seakan lantai yang dipijaknya berbuat salah padanya. Kira akhirnya merebahkan diri di kasur lagi. Kesal.
***
Hari hampir sore, Kira menyeret paksa suaminya pasar besar di kota ini. Yang beberapa waktu lalu sempat viral karena trending disebuah laman penyiaran.
Kira memborong banyak pakaian batik terutama untuk dirinya, persiapan jika perutnya membuncit. Seragam rumahan ala bumil akan terasa sangat nyaman dikenakan suatu saat nanti.
Sesuai saran si pemilik toko, agat barang belanjaan mereka di bawa oleh Ibu-ibu yang biasa disebut Yu Gendong. Mereka terbiasa membawa barang belanjaan sampai di mobil, dengan upah yang sesuai.
Walau sebenarnya tidak berat, tapi tak apalah, sambil bersedekah. Kira merasa trenyuh melihat Yu Gendong yang tak lagi muda ini masih harus bekerja. Bahkan seperti tanpa beban, mereka melakukan pekerjaan ini diiringi canda gurau diantara sesamanya.
"Matur sembah nuwun, Yu. Niki kagem mundut sarem," Kira menyodorkan beberapa lembar uang kepada Yu Gendong yang saling pandang saat pemilik belanjaan bisa berbahasa mereka dengan halus.
(Terimakasih, Yu. Ini buat beli garam)
"Ya Allah, Den ayu, niki kekathahen," Ucap Yu gendong yang lebih tua, saat menerima lembaran uang yang lebih dari cukup untuk membeli stok garam satu tahun.
(Ya Allah, Den ayu, ini kebanyakan)
"Ngga apa-apa, Yu. Anggap saja rezeki dari Allah," Ucap Kira sambil menekuk tangan Yu gendong yang bermaksud mengembalikan uang itu.
"Matur suwun sanget, Den Ayu. Semoga rezekinya lancar," Ucap Yu Gendong berkaca-kaca, dia tak mampu membendung airmata yang tumpah kerana haru.
(Terimakasih banyak)
"Sama-sama, Yu," Ucap Kira sambil tersenyum. Dia masih memandangi Yu Gendong yang sesekali menoleh ke arahnya, hingga tak tampak lagi dimatanya.
Perbanyaklah bersyukur, sebab masih banyak orang yang hidup jauh di bawah kenyamanan dunia.
•
•
•
Special dedicate for my best friend Ayu Widia, Author Cinta Gadis Biasa dan Istri Comel Pilihan Abi.
I always stay with you😘